
Galang hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan Ella, dia menatap lekat gadis yang pernah singgah di hatinya itu atau mungkin masih mengisi relum hatinya.
"Kamu masih sama ternyata."ucap Galang.
"Sama gimana?"Ella menatap Galang sekilas.
"Lucu, kamu masih lucu dan juga menggemaskan."ujar Galang dengan tersenyum.
"Jangan gombalin bini orang, nanti wafer loh kak Alang. Dah ah aku mau pulang dulu, Babay kak Alang."Ella melangkah pergi meninggalkan Galang setelah dia mengeluarkan selembar uang untuk membayar baksonya dan menaruhnya di atas meja.
"Sudahlah, dia tercipta bukan untuku, lebih baik aku segera melupakannya."lirih Galang setelah Ella pergi.
**********
Di tengah perjalanan pulang kerumah, ponsel milik Ella berdering. Dia pun mengangkatnya dan ternyata yang menelponenya adalah Dela.
Terdengar suara rintih kesakitan dari Dela di sebrang sana, Ella yang panik pun langsung saja mematikan telponnya kemudian dia segera melajukan mobilnya kearah rumah Dela.
Ella berjalan tergesa keluar dari mobil setelah dia sampai di halaman rumah Dela, dia langsung saja mengetuk pintu rumah Dela dengan kasar dan tidak sabaran.
"DEL, BUKA PINTUNYA."teriak Ella dari luar tapi Dela tak kunjung membuka pintunya.
"Ais, kemana sih dia."gerutu Ella.
Prangg,
Terdengar suara seperti benda pecah dari dalam.
"Del, aduh gimana ini? dobrak aja kali ya?"ucap Ella bingung.
"Ah, dobrak ajalah takut terjadi apa-apa."
"Dedel, akunya izin dobrak pintu ya."teriak Ella.
Brakkkkk,
Ella menendang pintu rumah Dela dengan sebelah kakinya hingga pintu itu terbuka.
Ella pun langsung saja berjalan masuk kedalam rumah Dela, dia celingak-celinguk mencari keberadaan sang sahabat.
"Dedel, where are you?"teriak Ella.
"Di kamar kali ya?"Ella pun berjalan pelan menuju ke kamar Dela yang ternyata tidak di kunci, dia pun langsung saja masuk.
"DEDEL, KAMU KENAPA?"teriak Ella histeris kala melihat Dela, tergeletak di lantai tengah kesakitan.
"Pe-rut aku, sa-kit, Ell."lirih Dela dengan terbata.
"Aduh, gimana ini."bingung Ella.
"Ayok kita kerumah sakit, Dedel. Kamu kuat jalan engga?"Ella berjongkok guna membantu Dela.
"A-ku gak kuat, Ell. Sa-kit."Dela meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Sini aku papah, kamu berdiri pelan-pelan ya."Ella menuntun Dela untuk berdiri kemudian dia membawa Dela yang berjalan dengan tertatih keluar dari dalam rumah.
"Kamu duduk sini, ya."Ella memposisikan Dela untuk duduk di depan bersama dirinya.
"Tahan sebentar ya Del, aku akan membawa kamu ke rumah sakit."Ella segera melajukan mobilnya dengan kencang.
"Aw, sa-kit se-kali, Ell."rintih Dela sembari meringis.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai."Ella menjadi panik.
"Sa-kit."Dela memegangi perutnya dengan begitu erat.
"Astaga, kenapa kamu berdarah."kaget Ella saat dirinya melihat darah mengalir di kedua kaki Dela.
"Sa-kit, akh."Dela semakin histeris.
"Aduh, gimana ini? nie mobil kenapa serasa lambat banget sih."gerutu Ella yang semakin panik.
"Dedel, jangan pingsan."ucap Ella kala melihat Dela mulai kehilangan kesadarannya.
"A-ku gak kuat Ell, sa-kit."lirih Dela.
"Kamu kuat Dedel, ayok bertahan."ucap Ella hawatir.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, begitu sampai disana Ella langsung saja berteriak memanggil para suster untuk membantunya membawa Dela kedalam.
"Semoga kamu baik-baik aja Del."gumam Ella sembari mondar-mandir di hadapan ruangan tempat Dela di periksa.
Drett, dret, dret.
"Halo."
"Kamu dimana sayang?"
"Aku di rumah sakit."
"Kamu kenapa? kamu sakit?"
"Bukan aku yang sakit, tapi temen ku Dedel. Aku cuma nganterin."
"Syukurlah jika kamu tidak papa, ya sudah kakak susul kamu kesana ya, kamu di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Kasih bunda."
"Tunggu ya, kakak segera kesana."
"Hm,"Ella langsung mematikan telponenya yang ternyata dari Ray.
Cukup lama Ella menunggu Dela yang sedang di tangani oleh Dokter, dia sangat khawatir sekaligus bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Dela? mengapa dia bisa pendarahan seperti itu.
Ella duduk di kursi tunggu dengan kepala yang menyender ke belakang, dia menarik napas panjang guna mengurangi rasa cemas yang ada pada dirinya.
"Aku harus menghubungi siapa? Dela kan udah gak punya orang tua, sodaranya aku gak tau mereka siapa aja dan dimana."lirih Ella bingung.
__ADS_1
Ceklek,
Pintu ruangan terbuka dan nampaklah seorang Dokter wanita yang masih sangat cantik meskipun sudah berumur keluar dari ruangan tempat Dela di tangani.
"Dokter, bagaimana keadaan teman saya."tanya Ella cemas.
"Apa dia sudah menikah?"tanya balik Dokter yang bernama tag Dokter Risma itu.
"Belum Dok, memang ada apa ya?"
"Kita bicara di ruangan saya saja. Mari."ucap Dokter Risma dengan menarik nafas kasar.
"Baik, Dok."Ella mengikuti Dokter Risma menuju keruangannya.
*****************
"Hai Del, kamu udah mendingan?"Ella masuk kedalam ruang rawat Dela, disana Dela nampak sudah lebih baik.
"Aku udah mendingan kok Ell, Makasih ya sudah membawa ku kesini."ujar Dela dengan wajah yang pucat.
"Sama-sama, bagiku kamu adalah sahabat sekaligus saudara. Jadi jika ada apa-apa jangan pernah sungkan untuk menghubungi aku."ucap Ella tersenyum tulus sembari memandang lekat wajah Dela.
"Em, Del. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"tanya Ella ragu.
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Gak ada yang mau kamu kasih tau ke aku gitu?"
"Kamu kenapa sih Ell? aneh banget deh."heran Dela.
"Siapa?"ucap Ella ambigu.
"Siapa apanya?"bingung Dela.
"Siapa yang melakukan ini sama kamu?"Ella menatap Dela dengan tatapan mengintimidasi.
"Maksudnya apa sih Ell? aku gak ngerti."
"Jangan pura-pura gak ngerti deh, aku udah tau semuanya Del, semuanya."
Dela pun menunduk, dia mulai terisak dengan wajah memerah mencoba menahan tangis. Isakan itu terdengar begitu pilu, isakan yang dapat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Aku benci diriku sendiri Ell, hiks, hiks. Harusnya aku bisa menjaga diri, hiks."Dela tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya, dia hanya menunduk sembari terisak.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"Ella menatap sahabatnya itu dengan iba, dia menggerakan tangannya untuk mengelus kepala yang tengah tertunduk.
"Malam itu.."
Dela pun mulai menceritakan kejadian pada malam itu, kejadian yang membuat masa depannya hancur. Saat itu dia baru saja pulang bekerja sip malam, dia pulang dengan melewati jalan pintas yang cukup sepi, dia melewati jalan itu supaya lebih cepat sampai kerumah. Tapi siapa sangka, kejadian yang tidak mengenakan dan yang tidak dia inginkan menimpa dirinya. Dia di seret dengan paksa oleh seorang pemuda yang nampaknya sedang dalam keadaan tidak sadar atau mabuk, tercium dari aroma mulutnya yang sangat menyeruak bau alkohol. Pemuda itu menyeret Dela dengan paksa ke sebuah rumah kosong yang terdapat di jalanan sepi itu, disana dia merenggut kesucian Dela dengan paksa dan juga kasar. Setelah puas menyetubuhi Dela, pria itu tak sadarkan diri, Dela pun kabur dari tempat itu dengan tertatih.
"Jadi begitu Ell ceritanya."Jelas Dela yang masih terisak.
"Apa kamu masih mengingat wajah pria itu?"tanya Ella serius.
__ADS_1
"Wajahnya tidak jelas, karna saat itu begitu gelap dan aku juga tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Aku tidak mengingat jelas wajahnya Ell."
"Coba ceritakan dengan detail, tempat kejadian itu. Aku akan menyelidikinya dan aku pastikan pria itu akan bertanggung jawab."ucap Ella dingin, sesaat Dela merasa takut dengan aura sahabatnya itu, auranya begitu dingin dan mencekam.