
Tubuh Ella sudah kembali fit, seperti sedia kala. Hari ini adalah hari weekend, Ella dan Dela rencananya akan menemani Kiana Fiting baju pengantin, ya. Pernikahan Kiana dan Ragil akan berlangsung satu bulan mendatang. Pernikahannya di gelar setelah Ella dkk lulus kuliah.
"Kamu beneran udah nggak pa-pa, Ell?" tanya Kiana memastikan, pasalnya dia takut Ella masih belum sembuh total.
"Tenang aja, gue udah nggak pa-pa kok," sahut Ella dengan senyum cerianya.
"Yaudah kamu masuk mobil Ragil, gih. Biar aku sama Ella," ucap Dela pada Kiana sembari menunjuk Ragil yang tengah bersandar di pintu depan mobil hitam miliknya.
"Yaudah kalau gitu, nanti kita ketemu di butik." Kiana berlalu menghampiri Ragil.
"Yuk Ell," ajak Dela kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
Ella duduk bersandar sembari bermain ponsel di kursi samping kemudi, sementara yang mengemudikan mobil adalah Dela. Sampai di butik mereka langsung turun. Senyuman kebahagiaan menghiasi wajah cantik Kiana, dia tidak menyangka hubungannya dengan Ragil akan sampai di tahap ini.
"Kalian bantu pilihin gaun yang cocok buat aku ya, guys," pinta Kiana dengan ceria.
"Ok," sahut Ella.
Ragil duduk di sofa sembari memperhatikan calon istrinya yang nampak heboh memilih gaun bersama kedua temannya. Ragil tersenyum, dia sudah tidak sabar menanti saat itu, saat di mana dirinya dan sang pujaan hati akan terikat dalam sebuah ikatan suci.
"Mbak nya, mau model yang seperti apa? Kami punya banyak rekomendasi gaun yang cantik dan juga elegan. Mungkin mbak menyukai salah satunya," ucap pemilik butik menghampiri.
"Aku pengen gaun yang desainya sederhana, tapi elegan dan nggak banyak pernak-pernik yang menempel," jawab Kiana.
"Sebentar, Mbak. Saya ambilkan dulu gaun yang mbak inginkan," ucap pemilik butik kemudian dia berlalu pergi.
Tak lama pemilik butik datang kembali bersama 2 karyawan yang membawa beberapa gaun sesuai rikuesan Kiana.
"Silahkan di lihat-lihat dulu, Mbak," ucapnya.
"Mana yang cocok untuk aku guys?" Kiana mengambil gaun yang di bawa karyawan butik kemudian dia tempelkan ke badannya secara bergantian.
"Ini cocok buat kamu, cobain gih." Ella menunjuk gaun berwarna putih gading dengan dada sedikit rendah dan bagian bahu terbuka sedikit namun bagian tangannya panjang begitupun bagian bawahnya menjuntai.
"Ok deh, aku coba yang ini." Kiana pergi ke ruang ganti dengan di antar salah satu karyawan.
Beberapa saat kemudian Kiana keluar dari ruang ganti, Kiana nampak begitu cantik dan juga seksi. Bahu mulusnya terekpos dengan gaun fres body yang mana membuat lekuk tubuhnya tercetak sempurna.
"Sumpah, lo cantik banget, Ki," seru Ella heboh.
"Wau! Cantik dan juga elegan. Seksi lagi," timpal Dela tak kalah heboh.
"Woy, Gil! Liat nih calon bini lo, cantik kagak!" teriak Ella pada Ragil yang sedang fokus bermain ponsel.
Mendengar teriakan Ella, Ragil langsung mendongkak dan atensinya tertuju pada sangat calon istri. Cantik! Itulah satu kata yang keluar dari mulutnya namun beberapa detik kemudian dia bangkit.
__ADS_1
"Ganti," ucapnya dingin.
"Loh kenapa, Yang? Ini bagus kok," sahut Kiana sembari menatap Ragil yang wajahnya tidak bersahabat.
"Pokonya ganti," ucapnya tak mau di bantah.
"Iya, tapi kenapa?" bingung Kiana.
"Mbak, carikan gaun yang indah tapi tertutup." Bukannya menjawab pertanyaan Kiana, Ragil malah berbicara pada sang pemilik butik.
"Baik, Pak."
"Carikan beberapa gaun," ujarnya.
"Baik."
"Oh, gue baru tau. Ternyata lo posesif juga, Gil," ledek Ella yang kini mengerti kenapa Ragil menyuruh Kiana mengganti bajunya.
"Gue bukan posesif, gue cuma nggak mau milik gue di pandang orang lain," jawab Ragil.
"Sama aja, itu posesif." Cebik Ella.
Gaun yang di pinta Ragil sudah datang, bukan hanya satu namun ada beberapa gaun. Kiana pun memilh nya, walupun gapunya tertutup namun dia menyukainya karena gaunnya indah dan juga cantik. Setelah memilih untuk dirinya, Kiana membantu Ragil memilih jas yang senada dengan gaunya.
"Ki, kita balik duluan ya, si Ell laper katanya. Maklum bumil, makan mulu," ucap Dela berpamitan.
Ella mengacungkan jempolnya kemudian mereka berlalu pergi ke luar dari butik. Akhir-akhir ini Ella menjadi sering lapar, padahal sebelum berangkat ke butik dia sudah makan terlebih dahulu.
.
.
.
Di tempat lain, seorang wanita yang bukan gadis lagi sedang termenung di taman seorang diri. Sesekali gadis itu menghembuskan napas kasar.
"Di kota enak sih, tapi berasa sendirian," gumamnya.
"Andai aja udah punya suami, pasti aku nggak ngerasa sendirian lagi," sambungnya lirih.
Saat sedang melamun, dia mendengar suara keributan dari depan sana. Dia pun berjalan untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa, Pak?" tanyanya pada seorang pria paruh baya
"Itu, Neng. Ada orang keserempet motor," jawab Pria itu.
__ADS_1
Karena penasaran, Kiana pun menerobos membelah kerumunan. Di sana terlihat seorang pria sedang berjongkok sembari mengelap darah yang mengalir di sikutnya. Entah mendapat dorongan darimana, wanita itu berjalan menghampiri.
"Da-vid," ucapnya pelan membuat pria yang tengah berjongkok mendongkak.
"Poky," lirih David sembari menatap wanita yang akhir-akhir ini selalu menguasai pikirannya.
"Tangan kamu berdarah, aku antar ke rumah sakit ya," ucap Poky panik.
"Nggak usah, aku nggak pa-pa kok," tolak David.
"Antar aku ke mobil aja," lanjutnya.
Poky pun mengangguk, dia memapah David menuju ke mobilnya yang tak jauh dari sana. Mendudukan David di kursi samping kemudi lalu dia berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
"Kenapa kamu bisa ke serempet?" tanya Poky ragu pasalnya pria itu selalu mengabaikannya bahkan setiap mereka bertemu David selalu cuek dan seperti tidak mengenalnya.
"Tadi aku mau nyebrang buru-buru, jadi nggak liat kanan kiri," jawab Pria itu sembari tersenyum tipis.
Senyuman David membuat Poky tergugu, dia terpesona akan senyuman manis David. Aneh juga, mengapa sikap David seakan berubah, dia sudah tidak cuek lagi dan mendiaminya. Apa itu artinya David sudah tidak membencinya dan menyalahkan nya atas kejadian yang menimpa mereka saat itu.
"Hey." David melambaikan sebelah tangannya di hadapan wajah Poky yang masih terbenging.
"Ah, maaf. Aku melamun tadi." Poky menjadi salah tingkah apalagi David kini menatapnya dengan intens.
"Em, ada kotak p3k nggak?" tanya Poky yang berusaha mati-matian menyembunyikan ke gugupannya.
"Ada, sebentar." David sedikit membungkukan badannya untuk meraih kotak p3k di bawah sana.
"Ini." David memberikan kotak p3k itu kepada Poky yang langsung di ambil oleh Poky.
"Sini tangannya," pinta Poky.
David pun mengulurkan tangannya yang terluka, Poky segera mengobati tangan David. Jarak mereka sangat dekat, bahkan hembusan napas Poky sangat terasa oleh David. Berada dalam jarak dekat seperti itu dengan Poky. Membuat jantung David berdetak lebih kencang.
'Semoga dia nggak denger detak jantung gue,' gumam David dalam hati.
Entah sadar atau tidak, sedari tadi David menyebut dirinya aku. Bukan gue seperti biasanya. Padahal kepada Ella saja, dia menyebut dirinya gue. Apakah Poky adalah orang yang sepesial dalam hati David kini? Entahlah hanya Tuhan dan David yang tau jawabannya.
"Kamu." Mereka berucap bersamaan.
"Kamu aja dulu," ucap David.
"Kamu aja," ujar Poky.
David mendongkak untuk melihat wajah Poky, mata mereka bertemu dan saling menyilang pandang dengan begitu dalam. Debaran jantung masing-masing berdisko ria seakan ingin melompat dari tempatnya.
__ADS_1
'Sadar, Dav. Lo udah terlambat. Dia milik orang lain saat ini.' David bergumam dalam hati dengan antensi yang tak lepas menatap Poky.