
Orang yang berada di belakang Ray pun tak kalah terkejutnya dengan Poky. Dia menatap Poky dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kalian saling kenal?" Ella langsung melepaskan pelukan Ray kemudian dia menatap Poky dan juga David secara bergantian. Ya, orang itu adalah David.
"Nggak!"
"Tidak!"
Mereka menjawab secara bersamaan namun bisa Ella tangkap, di wajah mereka terdapat raut kebohongan. Ella hanya mengangguk saja, dia tidak mau ikut campur urusan mereka.
"Kita pulang." Ray menatap manik mata sang istri.
"Iya, ayok." Ella langsung berdiri.
"Poky, kamu kan tinggal sendiri di sini. Lebih baik kamu ikut kami saja, kamu bekerja di kota. Apa kamu mau?" tawar Andi.
"Tidak usah, Pak. Saya tinggal di lampung saja," tolak Poky.
"Loh kenapa? Kamu kan bisa mencari pengalaman di kota," tanya Andi.
"Saya hanya keluaran SD, Pak. Saya mau bekerja apa atuh di kota? Saya teh tidak bisa apa-apa," ujar Poky.
"Soal itu kamu tenang saja, nanti biar saya bantu," ucap Andi.
"Benar itu, Kapok. Lebih baik, Kapok ikut kami. Nanti biar, Kapok kerja di perusahaan, Papihnya aku aja," timpal Ella.
"Bener 'kan, Vid?" Ella melirik David.
"Lah, kenapa jadi gue?" David mendelik.
"Ya, nanya aja." Ella terkekeh saat melihat ekspresi David.
"Tapi, nanti tinggalnya saya boleh ngekost 'kan?" tanya Poky.
"Kenapa nggak tinggal di rumah saya aja?" tanya Andi.
"Saya pengen mandiri, Pak. Kalo boleh ngekost, saya ikut, Pak," tutur Poky.
"Baiklah jika itu mau kamu, nanti biar David bantu carikan kosannya. Iya kan, David?" Andi melirik David.
"Kenapa saya, Om?" David menunjuk dirinya sendiri.
"Ya siapa lagi? Masa Ray? Ntar Ella cemburu, kan di sini cuma kamu yang jomblo," jawab Andi.
__ADS_1
"Kata jomblonya nggak usah di pertegas juga kali, Om," kesal David.
"Terima aja, Vid. Kan emang kenyataannya lo jomblo," ledek Ella.
"Hais, anak sama bapak. Sama aja." Delik David.
"Ya udah, Poky. Kamu siap-siap gih, bawa barang yang sekiranya di perlukan saja," titah Andi.
"Baik, Om." Poky melangkah menuju kamarnya.
Setelah Poky bersiap dan juga mengemas barangnya, Poky pun berpamitan kepada para tetangga di sana. Barulah mereka pergi ke kota dengan Ella dah Andi pulang bersama Ray. Sedangkan Poky ikut dengan mobil David. Itu usul Ella, entah apa rencananya.
**************
"Papih nggak usah pikiran apa yang terjadi tadi ya, aku pulang dulu," ucap Ella setelah Andi turun dari mobil.
"Iya, Ell. Kamu nggak mampir dulu?"
"Enggak, Pih. Lain kali aja, aku udah kangen sama si kembar," ujar Ella.
"Ya sudah, kalau begitu kalian hati-hati, ya."
"Iya, Pih. Kami pamit." Ray tersenyum tipis kemudian dia melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Wirawan.
Sesampainya di rumah, Ella langsung di sambut dengan ocehan si mungil Zura. Zam juga, tapi tidak se bawel Zura, Zam hanya bertanya seperlunya saja.
"Maaf ya, Sayang. Mimom ada urusan dulu tadi." Ella menggendong tubuh mungil Zura kemudian dia menecupi seluruh wajah sang putri.
"Urusan apa, Mom?" Kali ini Zam yang bertanya dengan wajah datarnya.
"Em, urusan orang dewasa," jawab Ella yang hendak menggendonh Zam pula.
"Zam, bukan anak kecil." Bocah itu malah menjauh.
"Ya ya, Zam anak dewasa." Ella mendelik melihat kelakuan putranya.
"Hey, Boy." Ray merangkul bahu mungil Zam kemudian duduk di sampingnya.
"Urusan orang dewasa apa, Pop?" Zam langsung bertanya pada Ray.
"Urusan orng dewasa itu, hal yang nggak boleh di ketahui sama anak kecil," jawab Ray.
"Aku udah dewasa, jadi aku boleh tau?" Zam menatap netra ayahnya.
__ADS_1
"Nggak boleh, Zam masih kecil. Tubuhnya aja masih pendek," ujar Ray.
"Nanti juga tinggi." Zam berlalu pergi ke dalam kamarnya.
"Anak itu." Ray menggelengkan kepalanya.
"Sini sama, Pop dulu, Sayang. Mom nya mandi dulu." Ray meraih Zura dari dalam gendongan Ella.
"Mom, mandi dulu ya, Sayang." Ella mengusak rambut Zura pelan.
"Ya, Mom."
"Pop au acem," ucap Zura setelah Ella pergi.
"Pop 'kan belum mandi, Sayang. Jadi bau acem." Ray mengecup lembut kening putrinya.
"Angan ium-ium, Pop au." Zura memalingkan wajahnya.
"Wangi kok." Ray mengendus badannya sendiri.
"Angi ingat." Delik Zura.
Ray hanya menyengir saja, bukan karena perkataan Zura. Tetapi karena dia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Zura.
"Zura, ikut, Omah yuk, Sayang. Ada yang mau, Omah tunjukin," ucap Wina yang baru saja datang.
"Oce Oma, Pop, ua ikut Oma ulu ya." Zura masuk kedalam gendongan Wina.
"Iya, Sayang. Pop juga mau mandi dulu." Ray ikut beranjak.
Sementara itu, kini David masih berkeliling bersama dengan Poky. Mereka tengah mencari kos-kosan untuk Poky sesuai perintah Andi.
"Em, kalau ka-mu teh capek. Bi-ar saya aja yang nyari kosannya sendiri." Poky membuka suara di tengah ke heningan yang tercipta.
"Gue harus pastiin lo dapet kosan, sesuai perintah, Om Andi," respon David dingin.
Poky tidak menyahut lagi, dia hanya diam sembari sesekali mencuri pandang ke arah David. Ingin sekali ia bertanya namun saat melihat ekspresi David membuat dia mengurungkan niatnya. Hingga mobil David pun berhenti di halaman kos-kosan yang berjejer. Dia pun turun tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Poky.
Beberapa saat kemudian David telah kembali. "Turun." Satu kata yang keluar dari mulut David.
"I-ya." Poky langsung turun dari mobil.
"Kunci kosan, nomor 28. Udah gue bayar." David menyerahkan sebuah kunci pada Poky kemudian dia berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Huhhh, kenapa jadi dia yang marah?" gumam Poky kemudian dia melangkah masuk ke dalam kosan.
Jejak😘😘