
Dorrr!
Seseorang terlebih dahulu menembak pria yang sedang menodongkan pistolnya itu kepada Ray, orang itu tertembak di bagian kepala dan tepat mengenai otaknya, sehingga darah segar bercucuran begitu deras dan menewaskan pria itu.
Tak hanya sampai disitu, orang itu juga mengerahkan anak buahnya untuk membantu Ray yang mulai kewalahan, dan benar saja Ray luruh terduduk di lantai dengan tubuh yang begitu lemas, tapi dia masih sadar.
Ray menyandarkan tubuhnya di dinding sembari menyaksikan perkelahian dua kubu itu, sepertinya Ray sangat pamiliar dengan kostum pasukan yang membantunya itu.
"Angel of Death."gumam Ray saat sudah mengenali pasukan itu.
Siapa yang tidak mengenali Angel of Death Gangster yang terkenal akan pemimpinnya yang sadis dan juga brutal dalam membunuh musuhnya itu, dia tidak akan pernah memberi ampun kepada siapa saja yang bersalah dan juga telah berhianat padanya, kekejaman dan juga kesadisan pemimpin AOD itu sudah terkenal di kota ini, bahkan sampai ke manca negara pun gangster itu begitu terkenal. Hanya saja mereka tidak tau rupa dari pemimpin AOD itu, karna setiap kali beraksi dia selalu menggunakan topeng yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya.
"Angel of Death, berani sekali kau mencampuri urusan ku."Beni datang menghampiri pemimpin AOD dengan wajah sangarnya.
"Jelas saja aku sangat berani, kenapa harus takut pada pecundang sepertimu."ujar orang itu santai.
"Kau sudah mencampuri urusan ku, berarti kau sudah mengantarkan nyawamu. Jadi bersiaplah untuk mati di tangan ku."ucap Beni dengan eksfresi wajah yang masih sama.
"Bukan aku yang akan mati, tapi kau."orang itu menyeringai di balik topengnya.
"Bocah ingusan sepertimu ingin melenyapkan ku? Mimpi."Beni melangkah menghampiri orang itu.
"Kita lihat saja nanti."dengan santainya orang itu bersidekap dada sambil menatap kearah Beni yang menghampirinya dengan mengayunkan katana.
Tanpa takut maupun gentar, orang itu masih saja tetap berada di posisinya.
Beni mulai menyerang dengan sangat brutal seperti menyerang Ray tadi, tapi dengan lihainya orang itu berhasil menghindari serangan Beni, cukup lama Beni menyerang tapi tiada satupun serangannya yang melukai tubuh orang itu.
"Cih, membosankan."
Orang itu langsung saja menangkap pergelangan tangan Beni yang sedang memegang katana, dia menangkap tangan itu tanpa terkena goresan katana sedikit pun. Dia memiting tangan Beni lalu memutarnya kebelakang dicengkramnya erat tangan itu.
Kretek,
Terdengar bunyi retakan dari tangan Beni, karna orang itu mencengkramnya dengan begitu kuat tanpa ampun.
"Ahhhh, sakiit."teriak Beni.
"Ck, lemah."
Bugh.
Bugh.
Orang itu langsung saja menendang perut Beni hingga terjungkal.
"Hanya segini saja kah? kemampuan pemimpin dari Black Sky. Ck ck ck, memalukan sekali."cibir orang itu sambil bersidekap dada, saat melihat Beni terkapar lemah..
"Tutup mulutmu, bajingan kecil."Beni berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ia punya.
Beni mulai menyerang orang itu kembali dengan hanya menggunakan tangan kosong, Beni memukul, dan juga menendang orang itu secara berutal dan juga tak beraturan, orang itu pun dengan santainya menangkis setiap pukulan Beni. Dia terlihat begitu elegan saat bertarung, sangat terlihat sekali jika pemimpin AOD itu sangat anggun dan juga berwibawa, tak hanya itu, dia juga sangat kuat dan lihai dalam menangkis serangan, bela dirinya juga sangat jago. Pantas saja semua orang begitu mengagumi pemimpin dari AOD, ternyata dia memang benar-benar hebat, pikir Ray yang sedang menyaksikan perkelahian itu dengan badan yang sangat lemas.
"Katanya pemimpin, tapi menyerang saja tidak becus."orang itu langsung mengambil alih penyerangan.
Kini giliran dia yang menyerang, dia mulai mengambil ancang-ancang.
Bugh,
Bugh,
__ADS_1
Bugh,
Dugh,
Pakh,
Kretek,
Tek,
Orang itu memukul dan juga menendang Beni, di bagian titik yang telah dia perhitungkan, setelah itu dia memilin kembali tangan Beni, memutar kedua tangan itu kearah belakang, lalu dia mematahkannya seperti mematahkan sapu lidi.
"AHHHHH, SAKIT BANGSAT."umpat Beni kesakitan.
Mendengat teriakan Beni, orang itu menyeringai di balik topengnya.
Bugh,
Dia menendang Beni dari belakang hingga Beni terjungkal kedepan dengan posisi tengkurap, dia mendekati Beni lalu menginjakan sebelah kakinya secarara kasar di punggung Beni,
"Hekk,"Dada Beni terasa begitu sesak.
"Bangun bodoh, lawan aku, tadi katanya ingin membunuhku tapi malah rebahan."orang itu mendelikan matanya.
Beni tidak menjawab, karna badannya begitu lemas, tenaganya pun sudah terkuras habis, ditambah lagi sekarang orang itu menginjak punggungnya secara kuat hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Woy, lu mau bertarung apa tidur sih? Ah dia ngorok nih kayaknya makannya kagak nyaut."orang itu terlihat kesal, dan Beni sedang mengumpat di dalam hatinya.
"Kalau mau tidur entu di rumah napa, jangan dimari. Bangun woy, lanjut gak nih tarungnya?"ucap orang itu berkacak pinggang,
Ray yang melihat itu menjadi tersenyum tipis, ternyata di balik julukan kejamnya, pemimpin AOD juga sangat kocak menurutnya.
"A, elah, ni orang tidur apa mati sih. Gue tembak aja kali ya, palanya biar bangun."
Orang itu mengeluarkan pistol khusus yang di rancang oleh dirinya sendiri dan di modip dengan begitu elegan.
"Ekh, le.pas."ucap Beni terbata.
"Ngomong apa sih, lu?"
"Le..pas, be..de..bah."
"Di mana sarang lebah?"tanya orang itu dengan wajah tengilnya yang tersembunyi di balik topeng.
"Akh."Beni mengerang kesakitan, saat sepatu yang begitu keras itu semakin menginjak kuat punggungnya.
"Bangun, woy. Ayok lawan aku yang kau bilang bocah ini, sialan."geram orang itu.
"Ah, iya. Gimana dia mau bangun, orang gue injak ya."orang itu menepuk jidat nya sendiri.
Lalu dia menurunkan kakinya dari punggung Beni, dan membalikan tubuh Beni kasar dengan menggunakan sebelah tangannya.
"Makannya, jangan sombong yang di dahulukan. Kalah malu sendiri kan?"orang itu berjalan secara perlahan memutari tubuh Beni yang terlentang tak berdaya itu dengan memainkan sebuah pistol di tangannya, dia memutar-mutar pistol itu seperti mainan.
"Dimana ya, enaknya?"
Dia memperhatikan tubuh beni dari atas sampai bawah,
"Ah, aku tau."
__ADS_1
Dorr.
Dorr.
"Akkhhhhhhh."
"AKHHHHH."
Orang itu menembak sebelah tangan dan juga kaki beni,
"Karya gue bagus juga."dia tersenyum puas saat melihat darah yang bercucuran.
"Hm, wajah mu terlalu bagus untuk kelakuan mu yang minus."ucapnya menyeringai.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan ternyata adalah pisau lipat yang begitu runcing, dia mulai mendekati wajah Beni.
"Apa yang ingin kau lakukan? iblis sialan, Ahhk."teriak Beni di sela kesakitannya.
"Aku hanya ingin melukis wajahmu."dia mulai menggerakan tangannya untuk menyayat pipi Beni, dia membuat pola abstrak disana sehingga membut Beni menjerit kesakitan.
"Iblis kau, sialan kau bedebah. Akkhhhh."teriak beni.
"Makannya, jangan berani menantangku."dia membuat sentuhan terakhir di wajah Beni, dia membuat tulisan entah apa itu di jidat Beni.
"Sempurna."dia tertawa puas.
Ray begitu terbelak melihat kesadisan orang itu,
"ternyata memang dia sangat kejam."lirih Ray dalam hati.
"Bawa pecundang ini ke markas."perintah orang itu pada jejeran anak buahnya yang sedang berbaris memperhatikan dirinya, setelah mereka selesai membasmi seluruh anak buah Beni.
"Siap laksanakan,"orang-orang itu membungkuk hormat.
"Bereskan kekacauan ini juga."
"Baik."
Orang-orang itu pun melaksanakan perintah pemimpinnya.
"Are you okey?"orang itu berjalan menghampiri Ray.
"Terimakasih."lirih Ray lemah, pandangannya juga mulai kabur dan perlahan-lahan dia tak sadarkan diri.
***************
"Kak Ray udah sadar hiks?"ucap Ella sambil menghapus air matanya.
"Kakak ada dimana?"Ray melihat sekelilingnya..
"Kak Ray dirumah sakit, tadi kak Ray pingsan, hiks."jawab Ella yang masih menangis.
"Pingsan?"Ray mengingat-ngingat kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Ah dia ingat dia sedang berada di markas saat itu, dan dia di tolong oleh AOD saat dirinya tengah diserang.
"Siapa yang membawa kakak kesini?"tanya Ray lemah.
"Akunya gak tau, cuma tadi ada orang yang nelphone aku kalau kak Ray ada di rumah sakit."jelas Ella.
__ADS_1
Mungkinkah pemimpin AOD yang membawanya kesini? karna sebelum dia tak sadarkan diri, hanya dia lah yang sedang bersamanya. Pikir Ray.
"Kak Ray kenapa bisa jadi kayak gini?"