
Setelah kelas selesei, Ella langsung mengajak Dela pergi ke kantin. Karena Dela terlihat begitu lesu dan ketika Ella tanya dia kenapa? Katanya dia belum sempat sarapan.
"Ki, lo ikut ke kantin juga 'kan?" Ella melirik ke arah Kiana yang berjalan di belakangnya.
"Nggak, Ell. Aku mau langsung pulang aja," jawab Kiana.
"Sama Galang lagi?" tebak Ella.
"Iya, sambil jemput Dela juga. Yuk, Del. Kak Galang udah nunggu di depan." Kiana melirik Dela yang nampak begitu pucat.
"Aku mau makan dulu bentar, nggak kuat laper banget. Bilangin sama A Galang tungguin bentar ya," ujar Dela.
"Ok." Kiana berlalu pergi dari hadapan mereka.
"Galang bilang sama lo kalo dia mau jemput?" Ella melirik sang sahabat.
"Nggak." Dela menggeleng pelan.
Sejujurnya Ella merasa aneh akan sikap Galang. Namun dia tidak mau berburuk sangka, biarlah dia memastikan dulu ke benarannya.
"Lo tunggu di sini, ya. Biar gue pesenin," ucap Ella begitu mereka sampai di kantin.
Ella berlalu pergi memesan makanan untuk Dela, saat akan kembali dengan membawa sebuah nampan, Ella berpapasan dengan Ray yang sedang berjalan menuju meja tempat dia biasa duduk bersama dengan Kevin. Namun kali ini mereka tidak berdua, melainkan bertiga dengan Sukma.
"Kamu belum pulang, Sayang?" Tanpa ragu Ray menyapa Ella meskipun masih di lingkungan kampus dan di sampingnya ada Sukma sang dosen baru.
"Kalau aku udah pulang, yang berdiri di hadapan kamu siapa? Demit?" jawab Ella sewot kemudian dia melangkah pergi.
"Lucu istri kamu, Ray," ucap Sukma.
"Lucu dan menggemaskan," tambah Kevin.
"Makannya gue nggak mau jauh sama dia, takut di embat orang," ujar Ray dengan atensi yang masih memandangi istri tercinta.
"Harus ekstra waspada, Ray. Tikungan jaman sekarang pada tajam," pringat Sukma.
"Lo bener, gue nggak boleh lengah. Karena di luaran banyak yang ngincer istri gue, bahkan orang yang gue kenal dan cukup akrab."
"Suka juga sama istri, lo?" Sukma menatap Ray.
"Hm, bukan hanya suka, tapi cinta."
"Lo nggak negur gitu?"
"Selama dia nggak ada niatan macem-macem ya, gue biarin aja. Tapi tetap di pantau."
Back to Ella.
Setelah Dela selesai makan, mereka langsung berjalan menuju parkiran. Dela menghabiskan makanannya dengan cepat karena takut sang suami menunggu lama. Namun nyatanya setelah mereka sampai parkiran, mobil Galang tidak terlihat sama sekali. Sepertinya mereka sudah pergi, akhirnya Ella pun mengantarkan Dela pulang dengan motor sport nya.
__ADS_1
"Makasih, Ell," ucap Dela begitu mereka sampai di depan rumah Dela.
"Ok, oh ya, Del. Jam segini biasanya Galang ada di mana?"
"Di kantor. Emangnya kenapa?"
"Nggak kok, cuma nanya aja. Ya udah kalo gitu gue balik dulu, bay." Ella melajukan motornya dengan kencang meninggalkan halaman rumah Dela.
Beberapa saat kemudian, Ella telah sampai di depan sebuah gedung yang *** tinggi dan juga luas. Dia pun berjalan memasuki gedung itu.
"Mbak, pak Galangnya ada 'kan?" tanya Ella pada resepsionis yang bernama tag Dita.
"Beliau baru saja kembali dari luar. Kalau boleh tau adek ini siapa? Dan ada kepentingan apa dengan Pak Galang?" tanya balik resepsionis itu.
"Em, aku temen istrinya. Aku kesini karena ada hal penting yang mesti di bicarain saat ini juga," jawab Ella.
"Tunggu sebentar ya." Resepsionis itu terlihat menghubungi seseorang.
"Adek boleh bertemu dengan Pak Galang, beliau sudah menunggu di ruanganya," ucap resepsionis itu setelah selesai menelepon.
"Baik, Terima kasih." Ella berlalu pergi darisana.
Ella terlihat menghela napas kasar karena dia lupa menanyakan kepada resepsionis itu di mana ruangan Galang. Akhirnya dia pun meminta pada seorang ofice boy untuk mengantarkannya.
Tok! Tok! Tok!
"Ada apa, Ell? Nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba lo dateng kesini?" Galang yang sedang duduk di kursi kebesarannya mendongkak menatap ke arah Ella.
"Ada hubungan apa lo sama, Kia?" tanya Ella to the point.
"Hubungan? Apa maksud lo?" Galang terlihat bingung.
"Lo nyadar nggak sih? Kalo sikap elo itu cenderung lebih peduli terhadap Kia di banding sama istri lo sendiri. Lo lebih mentingin, Kia. Bahkan lo nggak peduli lagi terhadap, Dela," ujar Ella dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Tunggu-tunggu, jadi lo nuduh gue ada main sama, Kia gitu?" tebak Galang.
"Iya, karena itu yang gue liat."
"Atas dasar apa lo nuduh gue? Lo nggak bisa nuduh gue gitu aja tanpa bukti." Galang terlihat marah.
"Gue nggak sembarangan nuduh, sikap lo udah nunjukin itu semua!"
"Sikap yang mana? Apa karena gue anter jemput, Kia? Itu wajar, Ell. Karena bagaimanapun Kia adalah pacar Rendi, sahabat gue. Dan lo tau, sebelum Rendi pergi, dia nitipin Kia sama kita. Gue cuma mau ngejalanin amanat Rendi doang nggak lebih," tutur Galang.
"Tapi nggak mesti ngelupain istri sendiri 'kan? Bagaimanapun istri adalah prioritas utama ketimbang pacar sahabat!"
"Lo kenapa si, Ell? Kok lo yang marah? Atau jangan-jangan lo cemburu ya?" Galang menatap wajah Ella intens.
"What? Cemburu? Lo keselek biji salak ya? Sampe omongan lo bisa se pede ini? Hellow! Sorry dori strawberry ya, gue nggak mungkin tertarik sama cowok modelan biji salak kayak elu!" sarkas Ella.
__ADS_1
"Kalo nggak cemburu, kenapa lo sampe segitunya marahin gue?" Tatapan Galang masih belum beralih dari wajah cantik Ella.
"Karena gue peduli dan sayang sama sahabat gue, Dela. Gue nggak akan biarin siapapun nyakitin dia termasuk elo!" Ella menatap Galang dengan begitu tajam.
"Lo tenang aja, Ell. Gue nggak akan nyakitin, Dela. Dia kan istri gue, lagian gue sama Kia cuma sekedar temen aja nggak lebih. Gue nganter jemput dia cuma sebatas kasihan dan juga nepati janji terhadap Rendi," ujar Galang.
"Tapi lo inget, menepati janji boleh. Tapi jangan sampe ngelupain istri sendiri. Bagaimanapun dia adalah prioritas utama lo. Kalo sampe lo berani nyakitin, Dela. Gue jamin, tu kepala kagak bakal nempel lagi di badan," ancam Ella dengan aura yang begitu menyeramkan, jangan lupakan wajah datarnya yang terlihat menyeringai tajam.
"O-ke," jawab Galang singkat namun tangannya terlihat bergetar.
"Omongan gue, nggak main-main!" ucap Ella dengan tangan yang dia arahkan ke leher. Kemudian dia melangkah pergi dari ruangan Galang.
Brukk!
Ellap menutup pintu ruangan Galang dengan begitu kencang.
"Ancur nggak tuh pintu?" gumam Galang sembari menatap punggung Ella yang mulai menjauh.
***"*""********""""""*******""""
"Loh, kak Ray udah pulang?" Ella menatap sang suami yang tengah berdiri di hadapannya sambil bersidekap dada.
"Kalo belum, yang berdiri di hadapan kamu siapa? Demit?" Ray kembalikan omongan Ella sewaktu di kampus.
"Ihhh." Ella mencebik.
"Kamu darimana?" Ray menatap Ella yang masih duduk di atas motornya dengan mengintimidasi.
"Kampus," jawab Ella ragu.
"Apa jalanan begitu macet? Bukannya kamu pulang dari dua jam yang lalu?" Atensi Ray masih menatap lekat hazel pekat sang istri.
"Emm, aku ke rumah Dela dulu bentar," ujar Ella.
"Oh ya?" Ray mencondongkan tubuhnya ke wajah Ella.
"I-ya." Ella begitu gugup, tidak mungkin jika dia menceritakan habis dari kantor Galang. Bisa beruntun pertanyaan yang akan di lontarkan dosen itu.
"Ya udah yuk masuk, nggak kangen sama twins?" Ray menggandeng tangan Ella untuk turun dari motor.
"Ini terakhir kalinya kamu naik motor," lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Ta-pi...," protes Ella.
"Nggak ada tapi-tapian!"
"Huaaa, Mochi. Kita udah nggak bisa sama-sama lagi." Ella menatap sendu motor kesayangannya.
Jejak😘😘😗
__ADS_1