Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Sasa Maharani Putri Wirawan.


__ADS_3

Satria sempat panik setengah mati, saat Dalina menutup matanya. Ya, Dalina memang sempat tak sadarkan diri, namun tidak ada hal serius yang menimpanya, dia hanya kelelahan saja. Jadi tidak perlu ada yang di hawatirkan. Kini Dalina sudah sadar kembali setelah dokter Vivi memberikan beberapa tindakan untuk menyadarkannya.


"Aku panik banget, Sayang. Aku takut kamu kenapa-napa." Satria menggenggam tangan Dalina yang kini sudah membuka matanya kembali.


"Aku nggak pa-pa, kok. Aku cuma ke lelahan, tenagaku abis... Jadi lemes deh," ujar Dalina yang sudah tidak se pucat tadi.


"Aku seneng banget pas tau kamu baik-baik aja dan nggak ada hal serius yang menimpa kamu. Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya hidup aku tanpa kamu," ucap Satria.


Dalina hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Satria, dia sangat bersukur karena bisa bertemu dengan pria sebaik Satria. Dia juga bersyukur karena telah di cintai olehnya. Dulu dia sempat berpikir, bahwa dia tidak akan mendapatkan cinta tulus. Mengingat jika dirinya bukanlah wanita sempurna, jangankan harta, tahta, keluarga saja tidak punya. Namun kini pikiran itu telah terbantahkan, ternyata dirinya yang tidak sempurna bisa juga mendapatkan pria yang begitu mencintainya dengan apa adanya.


"Terimakasih, Terima kasih karena kamu telah mencintai aku dengan tulus. Tanpa memandang siapa aku, Terima kasih karena kamu telah menerimaku apa adanya." Dalina menatap lekat wajah tampan Satria.


"Bagiku, kamu adalah wanita yang paling sempurna. Kamu adalah penerang dalam gelapnya hidupku. Pemberi warna pada kehidupanku yang kelabu, kelam tanpa sinaran kebahagiaan. Berkat hadirmu, hidupku serasa berarti, berkatmu, aku jadi tau apa itu bahagia yang sebenarnya." Satria membalas tatapan Dalina dengan begitu dalam.


"Ekhem! Cie yang lagi gimbal-gimbalan." Suara lengkingan yang tidak asing mengganggu momen romantis mereka sehingga membuat pandangan mereka terputus.


"Ck, ganggu aja lu." Satria melirik ke arah orang yang baru saja memasuki ruang rawat Dalina.


"Kudunya bersyukur aku dateng, Bang. Kalo nggak, bisa-bisa kalian ke bablasan. Pan gaswat kalo gua yang baru aja ambruk udah terkena tembakan meriam. Bisa hancur lebur tu gua kek beras yang di bubur," ujar Ella kemudian dia duduk di kursi yang di duduki oleh Satria setelah dia menarik paksa sang Abang untuk menyingkir darisana.


"Gue nggak segila itu, Dek." Cebik Satria.


"Baby nya mana, Kadal?" Ella mmenatap ke arah Dalina.


"Bisa nggak sih, Dek. Lo manggil kakak ipar lo yang sopan," ucap Satria.


"Bisa kok," jawab Ella.


"Yang sopan, Baby nya mana?" tanya Ella.


"Dek, bisa nggak, sekali aja lo jangan bikin gue naik darah pas ketemu," kesal Satria.


"Bagus dong kalo naik darah, jadi, Abang bisa donorin ke PMI. Daripada kurang darah, ntar, Abang jadi melehoy kaya zombie, pucet kayak vampire. Eh, tapi Abang nggak pantes jadi vampire, ke jelekan," oceh Ella.

__ADS_1


"Huuh, kenapa ada beo nyasar kesini si? Mana nggak bawa senapan lagi." Satria menghela napas se penuh dada.


"Kadal, mana, Baby nya?"


"Ada di ruang bayi, Ell. Bentar lagi di bawa kesini, kok," ujar Dalina.


"Ah, aku udah nggak sabar pengen liat wajah baby nya. Pasti imut dan lucu deh," ucap Ella antusias.


"Ngomong-ngomong kamu sama siapa kesini, Ell?" tanya Dalina.


"Sendiri," jawab Ella.


"Loh, Ray kenapa nggak nganterin?"


"Soalnya dia nggak tau aku kesini," cengir Ella.


"Loh, kok bisa?"


"Jadi, akutuh tadi lagi di dapur ngambil minum pas dapet telepon dari, Mamih. Ya udah, aku langsung kesini aja," ujar Ella.


"Enggak, aku kan langsung kesini. Hehe, nih liat, sandal sama baju aja nggak di ganti."


Dalina pun seketika menatap ke arah Ella, rasanya ingin sekali tertawa melihat kelakuan konyol adik iparnya. Bagaimana tidak? Dia datang ke rumah sakit dengan masih mengenakan baju tidur kuning selutut yang bergambar SpongeBob dan juga sandal kelinci berbulu yang berwarna coklat. Tak hanya itu, di kepalanya juga bertengger bondu berwarna pink dengan gambar hello kitty.


"Parah lo, Dek. Untung lo nggak di tangkep satpol pp," sahut Satria.


"Di pikir aku ini gembel apa?" Delik Ella.


"Bukan gembel, tapi anak mabur."


"Suee!"


Beberapa saat kemudian, bayi yang di tunggu-tunggu datang juga. "Baby nya laki-laki apa cowok, Kak?" tanya Ella.

__ADS_1


"Beneran geser otak lo, Dek. Perlu di bawa ke bengkel ini sebelum parah." Satria terlihat panik.


"Mau, Bang. Bawa aku ke bengkel dong. Tapi bengkel mulut ya," ucap Ella dengan mata genitnya.


"Mata lo kelilipan gajah ya, Dek?"


"Permisi, adek bayinya mau nen nih. Ngobrolnya di pending dulu ya." Dokter Vivi datang bersama seorang suster yang menggendong bayi mereka.


"Cantiknya, Bunda. Sini, Sayang." Dalina langsung merentangkan kedua tangannya.


"Jadi bayinya cewek ya, Kadal?"


"Iya, Ell. Cantikan?" Dalina menatap buah hatinya yang kini sudah berada dalam gendongannya.


"Cantik, imut lagi," puji Ella.


"Iya dong. Anak siapa dulu," bangga Satria.


"Udah di kasih nama belum?" tanya Ella lagi.


"Udah, dong," jawab Satria cepat.


"Dih, gercep amat. Siapa namanya, Bang?"


"Sasa Maharani Putri Wirawan. Cakep kan?" ujar Satria dengan senyum yang mengembang.


"Bagus namanya," ucap Ella.


"Iya, dong. Emangnya elu. Nama kok sama kayak pewangi ruangan. " Cibir Satria.


"Wah, Micin nen nya rakus banget ya, Kadal. Kayak cowok aja," ucap Ella dengan atensi yang menatap lekat wajah bayi mungil itu.


"Lo manggil anak gue apa tadi?" Satria berkacak pinggang.

__ADS_1


"Micin, bukannya Sasa itu merek micin ya? Temennya ajina moto."


Jejak😘😘


__ADS_2