Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Ganti gelar


__ADS_3

"Sama, Ell. Aku juga kaget banget," timpal Dela sembari menatap Kiana dan Ragil secara bergantian.


"Kalian pacaran? Oh my god! Ini seriusan?" Heboh Ella yang masih tidak percaya.


"Iya, Ell. Kita pacaran." Ragil yang menjawab.


"Sumpah Demi apa?" Ella masih bertanya.


"Demi demit yang bertebaran," jawab Ragil asal.


"Gue seneng banget tau nggak, akhirnya, Kia nggak jomblo lagi. Selamat ya, kenapa kalian ngerahasiain ini dari gue sih?"


"Bukan ngerahasiain, Ell. Cuma belum cerita aja. Aku belum punya waktu yang tepat untuk cerita ke kalian," koreksi Kiana.


"Ok nggak pa-pa, intinya gue seneng banget. Semoga cinta kalian bisa bersatu dalam ikatan yang sakral. Gue yakin, ini adalah rencana indah Tuhan, dia manggil Rendi dari hidup lo dan ngirim Ragil sebagai gantinya. Rendi pasti bahagia di atas sana, saat tau lo jatuh di tangan sahabatnya sendiri," ucap Ella.


"Iya, Ell. Aku berharap kak Rendi juga bahagia di atas sana." Kiana tersenyum tulus.


"Apa cowok yang dateng bareng lo ke pesta ultah si kembar waktu itu, juga Ragil?" tanya Ella.


"Iya, Ell," jawab Kiana.


"Dunia begitu sempit, dari sekian banyaknya pria. Kenapa si curut ini yang jadi cowok lo. Meskipun ni curut suka nyebelin, tapi gue seneng kok. Setidaknya penumpukan jomblo di markas ini berkurang satu." Ella menepuk kuat bahu Ragil.


"Btw si David kemana?" Imbuhnya bertanya.


"Nggak tau, tadi dia pergi tanpa pamit," jawab Ragil.


"Kia... Selamat ya." Dela memeluk erat Kiana.


"Iya, Del. Makasih." Kiana membalas pelukan Dela.


Mereka pun berbincang, lebih tepatnya menginterogasi Kiana, karena sedari tadi Ella dan juga Dela terus memberondong Kiana dengan berbagai pertanyaan. Hingga Ella teringat sesuatu.


"Tunggu-tunggu, tadi elo manggil gue Quin 'kan? Apa lo udah tau siapa gue?" Ella bertanya pada Kiana.


"Kamu Quin dari gangster terkuat no 1 'kan? Awalnya aku sempet kaget sih pas tau. Ternyata Ella yang selama ini aku kenal lucu, adalah seorang Quin yang paling di takuti di dunia bawah. Aku sempet nggak percaya, jika kamu itu keji, sadis dan juga mengerikan," ungkap Ella.


"Sekarang percaya?"


"Percaya, karena aku udah ngeliat kesadisan kamu. Dengan mata kepalaku sendiri," tutur Kiana.


"Kapan kamu liat?" tanya Ella penasaran.


"Aku nggak liat secara langsung si, tapi aku liat dari rekaman yang Kak Ragil tunjukin pas kamu bunuh, Rafly," jawab Kiana.


"Oh, gue kira liat langsung."


"Oh iya, besok gue mau duel sama, si Misya," ucap Ella.


"Duel?" Ragil yang bertanya.


"Iya, dia nantangin gue duel. Dan dengan sangat terpaksa gue Terima."


"Misya ketua Black Rose?" tanya Ragil lagi.


"Yup, lo benar. Besok pagi kalian semua dateng ke bukit Aspira yang deket danau. Siapa tau kalian pengen nonton," ujar Ella.


"Gue pasti dateng buat suport lo, kamu mau ikut, Sayang?" Ragil melirik ke arah sang kekasih.


"Mau dong, Kak. 'Kan aku mau liat Ella duel secara langsung," jawab Kiana antusias.


"Kalau gitu, besok aku jemput ya," ujar Ragil.


"Ok, Kak."


"Lo mau liat nggak, Del?" Ella bertanya pada Dela.


"Mau dong, tapi aku dateng sama siapa?" bingung Dela.


"Sendiri aja, atau nggak gue jemput, kita bareng kesananya," tawar Ella.


"Ok deh, aku bareng kamu aja."


"Eh iya, sampe lupa. Gue mau ngambil sesuatu." Ella melangkah pergi menuju ke sebuah ruangan.


Di sana dia mengambil beberapa senjata yang sekiranya di perlukan saat duel besok pagi. Setelah lengkap semua, Ella memasukannya ke dalam tas hitam kemudian melangkah keluar.


"Yuk, Del balik," ajak Ella.


"Ok."


"Kita balik duluan ya, Ki. Kalian lanjutin aja pacarannya, awas jangan sampe ke balasan," ucap Ella.


"Nggak dong, Ell. Kita pacarannya sehat," jawab Kiana.


"Kita pamit ya." Dela yang berpamitan.


"Ok, Hati-hati di jalan."


Ella dan Dela pun melangkah keluar dari markas dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan menunggangi motor. Sebelum Ella pulang ke rumah, dia mengantarkan Dela terlebih dahulu, baru setelah itu pulang ke rumah.


Saat baru tiba di rumah, ponsel miliknya berdering. Ternyata itu dari Ray yang mengabarkan jika siang ini dia tidak akan makan siang di rumah, di karenakan pekerjaannya begitu menumpuk dan tidak akan sempat pulang.


"Kamu lagi apa, Ell?" tanya Wina saat melihat Ella sedang berkutat di dapur.


"Lagi main prosotan," jawab Ella ngasal.


"Bukannya kamu lagi masak?"


"Nah itu tau, kenapa pake nanya lagi." Delik Ella.


"Basa-basi, Ell." Cebik Wina.


"Btw tumben kamu masak?" imbuhnya.


"Aku mau ke kantor, Mam. Soalnya Kak Ray nggak bakal pulang pas jam makan siang. Jadi aku masak deh, spesial buat suami tercinta," ujar Ella.


"Jadi ceritanya mau nganterin makan siang nih?" goda Wina.

__ADS_1


"Bukan cerita, Mam. Tapi sungguhan," koreksi Ella.


"Iya iya, Mamah saranin kamu siap-siap deh," ucap Wina ambigu.


"Siap-siap apa, Mam?" bingung Ella.


"Mandi yang bersih, terus dan-dan yang cuantik nan menggoda," usul Wina.


"Kok gitu sih, Mam? Kan cuma nganter makan siang doang," heran Ella.


"Mamah udah pengalaman, Ell. Dulu Mamah juga sering nganterin makan siang buat, Papah. Dan yang terjadi bukan hanya makan siang, tapi kita juga di makan," tutur Wina.


"Ih, ternyata Papah Carnivora, serem." Ella bergidig.


"Nggak usah belaga pilon deh, kamu pasti ngerti maksud, Mamah." Delik Wina.


"Muehehe, iya, Mam. Tapi kenapa akunya harus dandan cuantik menarik dan seksoy?" tanya Ella.


"Kamu tau nggak, para karyawan kantor itu dan-danannya beuh! Super cetar membahana dan juga seksoy abis. Mamah juga bingung sih, mereka itu mau kerja atau menggoda. Nah, maka dari itu, Mamah saranin kamu dan-dan yang cuantik. Supaya istri ceo terlihat lebih wow gitu," ujar Wina.


"Wih, ganti gelar aku, Mam," seru Ella.


"Ganti gelar apaan?"


"Dari istri dosen, jadi istri ceo." Ella berlagak songong.


"Nggak pa-pa lah, asal jangan jadi istri kang somay aja," ucap Wina.


"Kenapa emang kalo jadi istri kang somay, 'kan enak bisa makan somay tiap hari. Apa lagi kang cilok. Beuh! Aku suka banget cilok, Mam," ujar Ella.


"Iya, tiap hari makan cilok. Lama-lama kamu jadi bulat kek cilok. Jalannya bukan ngelangkah. Tapi ngegelinding."


"Kayak bola aja ngegelinding, dah ah. Aku mau lanjut masak lagi. Supaya bisa cepet ketemu ceo tampan," ucap Ella.


"Yalah, lanjutkan. Mamah mau bosing dulu sama my twins." Wina melangkah pergi.


"Perasaan gue, Mimomnya. Tapi ngapa tu emak-emak yang nguasain." Delik Ella setelah Wina pergi.


"Nggak boleh gitu, di mertua lo." Ella berucap pada dirinya sendiri.


"Mending lanjut masak lagi, lah. Biar cepet ketemu babang ceo tampan." Ella kembali melanjutkan aktivitas nya.


Beberapa saat kemudian, Ella sudah selesai masak. Dia langsung meminta, Bibi untuk menata makanan yang ia masak ke dalam wadah. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk siap-siap. Sebelumnya dia mandi terlebih dahulu dan juga berendam sebentar, baru deh Ella bersolek setelah memilih baju yang modis plus mengenakannya.


Setelah semuanya beres, Ella pun melangkah keluar dengan menenteng tas berukuran sedang berisi makanan. Kali ini dia tidak mengenakan motor, melainkan mengenakan mobil sport hitam kesayangannya.


"Udah cantik belom si?" Ella kembali bercermin saat hendak keluar dari mobil.


"Cantik lah, ya." Ella membuka pintu mobil kemudian turun dan melangkah ke dalam gedung yang menjulang tinggi dengan begitu anggun.


Jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya dengan rambut tergerai indah dan juga dres modis pas body. Tampilan Ella saat ini begitu memukau membuat setiap pasang mata yang melihat terpana.


"Siang, Bu," sapa para karyawan yang memang sudah mengetahui siapa Ella.


"Siang." Ella membalas sapaan mereka dengan ramah.


"Pak Rayen ada?" tanya Ella pada resepsionis.


"Ok, kalau gitu saya ke ruangan, Pak Ray dulu."


"Silahkan, Bu."


"Duh gusti, istrinya Pak Bos cuantik bener ya," bisik salah satu karyawan.


"Iya, udah cuantik, baik, ramah lagi. Pantes aja pak bos yang dinginnya minta ampun bisa klepek-klepek begitu," timpal karyawan lainnya.


"Shutt! Kerja jangan pada gosip," lerai salah satu karyawan.


"Enggeh, Bu."


Ella yang mendengar bisik-bisik mereka samar, hanya menanggapi dengan tersenyum tipis. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan sang suami.


"Pak Rayen lagi ngapain, Wat?" tanya Ella pada Wati sekretaris Ray.


"Eh, Ibu. Pak Rayen sedang memeriksa beberapa laporan dari kantor cabang, Bu," jawab Wati dengan ramah.


"Oh gitu, baiklah, aku masuk dulu."


"Iya, Bu bos cantik. Silahkan."


Perlahan-lahan Ella membuka pintu ruangan Ray tanpa suara, setelah pintu terbuka sedikit. Dia pun langsung saja masuk. Rupanya Ray tidak menyadari kedatangannya, terlihat Ray masih terfokus pada laptop dan juga tumpukan berkas tanpa mengalihkan pandangan. Tanpa bersuara, Ella langsung memeluk Ray dari belakang. Dia memeluk erat tubuh sang suami.


"Lepas! Apa-apaan ini?!" bentak Ray tanpa melihat siapa yang memeluknya.


Namun Ella malah mempererat pelukan itu dengan bibir yang mengecupi cuping telinga Ray.


"Kurang ajar! Lepas atau----"


"Atau apa?" Ella melepaskan pelukannya kemudian dia beralih duduk di pangkuan Ray.


"Sayang.... Aku pikir siapa?" Ray langsung mengecupi wajah Ella.


"Emang siapa yang suka peluk kamu selain aku?" Ella menatap Ray dengan tatapan mengintimidasi.


"Nggak ada, makannya kakak kaget pas kamu peluk," jawab Ray.


"Yakin?" Ella menatap dalam manik mata sang suami.


"Iya, baru kali ini ada yang meluk kakak di kantor. Itupun istri kakak sendiri." Ray mendekap erat tubuh sang istri.


"Kamu kok nggak bilang-bilang mau kesini, hm?" Imbuhnya.


"Kan surprise."


"Dan kamu berhasil membuat, Kakak terkejut."


"Oh iya, aku bawain makan siang buat, Kak Ray," ucap Ella.


"Oh ya?" Ray nampak bahagia.

__ADS_1


"Iya, aku yang masak sendiri loh," bangga Ella.


"Benarkah?"


"Iya, spesial buat suami tercinta."


"Wah, Kakak jadi terharu. Terimakasih, Sayang. Cup." Ray mengecup lembut bibir Ella.


"Ya udah, kak Ray makan dulu, ya."


"Kita makan bersama, habis itu kakak pengen makan kamu," ucap Ray dengan nakal.


Ella hanya tersenyum tipis sembari menata makanan yang ia bawa di meja. Dugaan ibu mertuanya sangat tepat. Ternyata Ray juga ingin memakan dirinya.


"Aaaa." Ray sendok berisi makanan ke hadapan Ella.


"Kak Ray aja, aku masih kenyang," tolak Ella.


"Aaa dulu, kamu juga harus makan," paksa Ray.


"Iya iya." Dengan terpaksa Ella membuka mulutnya dan menerima suapan Ray.


Setelah makan siang selesai dan makanan yang Ella bawa tandas. Ray langsung menarik sang istri kedalam pangkuannya. Tanpa ba, bi, bu. Ray pun menyerang Ella dengan begitu beringas bagai tikus kelaparan.


Eugh!


Eumh!


Suara erangan dan juga leguhan terdengar mendominasi memenuhi ruangan itu. Jadi lah siang ini Ella mengantarkan makan siang sekaligus di jadikan menu makan siang oleh suaminya. Anggaplah itu sebagai makanan penutup untuk Ray, dia membuat sang istri lemah tak berdaya sampai tertidur karna kelelahan. Untunglah di sana terdapat sebuah kamar tempat Ray beristirahat, jadilah Ella bisa tidur dengan nyaman di sana.


Hari sudah menjelang sore, namun Ella masih tak kunjung bangun. Dia masih terlelap di alam mimpi yang indah. Karena tidak tega membangunkan sang istri, akhirnya Ray pun menggendongnya keluar dari kantor menuju mobil. Sepanjang langkah Ray, banyak sekali para karyawan yang menatap ke arahnya. Banyak juga yang iri dan ingin berada di posisi Ella.


"Capek banget ya, Sayang? Sampe nggak kerasa aku gendong." Ray mendudukan Ella di kursi depan samping kemudi.


Setelah itu, dia pun masuk dan menyalakan mesin mobil, melaju pergi meninggalkan halaman kantor. Untuk mobil Ella, biarlah di simpan di kantor saja, Ray sudah menitipkan ya pada satpam yang berjaga.


Sesampainya di rumah, Ray kembali menggendong Ella. Dia berjalan menuju kamar dengan melewati Wina dan Samsul yang tengah bermain bersama si kembar.


"Mimom kelapa, Pop?" tanya Zura yang melihat ibunya di gendong.


"Mimom tidur, Sayang," jawab Ray dengan tersenyum.


"Pipop ke kamar dulu ya," pamit Ray kepada sang putri.


"Iya, Pop."


"Ella pasti ke lelahan," ujar Wina.


"Kelelahan kenapa, Mah?" tanya Samsul.


"Kelelahan karena di jadiin menu makan siang sama Ray," jawab Wina dengan terkekeh.


"Mimom di mam, Pipop Oma?" celetuk Zura.


"Eh, maksud Oma tuh." Wina lupa jika di sini ada bocah kepo.


"Emang na, Mimom enak di mam? Ula au dong mam, Mimom." Bocah itu kembali berceloteh.


"Jangan, nggak enak pahit." Ujar Wina yang ke bingungan.


"Api apa, Pop ua uka, Oma?" Bocah itu masih bertanya.


"Karena, Pipop kamu aneh," jawab Wina ngasal.


"Pop ane?"


"Iya, Pipop kamu aneh. Udah ah jangan nanya lagi. Mending kita bobo yu, udah malem," ajak Wina.


"Oce bobo, aban bobo yuk." Zura mengajak Zam.


"Iya." Hanya itulah jawaban si bocah dingin.


"Aban angan ingin-ingin, anti akunya betu," ucap Zura.


"Iya," jawab Zam dengan ekspresi datar.


"Kenapa harus mirip Ray si, Pah," keluh Wina.


"Kan si Ray bapaknya, masa iya mirip kang sayur depan komplek." Delik Samsul.


******************"


Ke esokan harinya Ella sudah bersiap dengan mengenakan baju serba hitam anti peluru dan juga sarung tangan transparan anti peluru. Dia juga menyelipkan beberapa senjata di balik jaket yang ia kenakan. Untung saja Ray berangkat sangat pagi sekali, jadi dia tidak ke bingungan mencari alasan pada Ray mengapa dirinya berpenampilan seperti ini.


"Ell, kamu mau kemana? Kok tampilannya kayak gitu?" Wina menilik penampilan Ella dari atas sampai bawah.


"Er, ke kampus, Mam," jawab Ella.


"Ke kampus? Pagi-pagi begini? Dengan tampilan seperti ini?" Wina tampak mengernyit.


"Itu, Mam. Aku ada acara dulu sama temen-temen. Dan mengharuskan kita tampil seperti ini. Makannya aku berangkat pagi banget." Ella mencari alasan.


"Oh, ya udah kamu berangkat sana. Nanti telat."


"Ok, Mam. Aku pergi dulu ya," pamit Ella yang di balas anggukan kepala oleh Wina.


Ella berangkat dengan menaiki motor sport nya yang berwarna hitam. Tak lupa dia menjemput Dela terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi duelnya dengan Misya.


"Serem banget, Ell. Liat tampilan kamu," ucap Dela setelah dia menaiki motor Ella.


"Ini keren, Del. Serba hitam." Ella menjalankan motornya kembali.


"Kayak geng begal tau nggak, Ell."


"Mana ada begal se keren ini? Ada-ada aja kamu, Del." Ella terkekeh.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di lokasi. Terlihat di sana sudah ada Misya menunggu dengan para anggotanya. David, Ragil dan Kiana pun juga sudah ada di sana untuk menyaksikan ke sadisan Ella.


"Akhirnya lo datang juga, gue udah nggak sabar pengen ngabisin lo." Misya langsung menghampiri Ella begitu dia datang.

__ADS_1


"Abisin aja kalo elo mampu!" Ella tersenyum menyeringai.


Jangan lupa jejak guys 😘 Supaya otor semangat ngetik lagi😍


__ADS_2