
"Udah berapa pedagang yang kita wawancarai?" tanya Kiana setelah mereka selesai mewawancarai pedagang ketoprak.
"Empat," jawab Diego.
"Berati tinggal satu pedagang lagi." Kiana melirik Diego.
"Iya, tapi kita makan dulu yuk, laper nih gue," ucap Diego.
"Kita makan di warteg itu aja yuk?" Ella menunjuk sebuah warteg yang tidak jauh dari mereka.
"Apa? di warteg? Ih, jijik banget sih. Mending kita cari restoran aja yang jelas higenis," delik Jesika.
"Emangnya di warteg gak higenis gitu?" Ella menatap tidak suka terhadap Jesika.
"Mana ada tempat kumuh begitu higenis, yang ada jorok, kotor dan banyak kumannya, ieuuu." Jesika bergidig.
"Kalo gak mau makan di warteg, ya gak pa-pa. Tapi kamu jangan menghina tempatnya gitu dong," ucap Kiana.
"Serah gue dong, mulut-mulut gue," sewot Jesika.
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya merekapun makan di warteg saja. Jesika juga ikut, tapi dia tidak makan karena jijik. Ella terlihat begitu santai menikmati ayam bakar beserta nasi yang di pesannya, tak lupa lalapan dan juga sambel.
"Pantes aja gendut, makannya aja kayak sumo," cibir Jesika.
Ella tau Jesika menyindir dirinya, tapi dia hanya acuh. Bodo amatlah Jesika mau berbicara apa, toh dia gak gendut, hanya berisi yang membuatnya terlihat seksi.
"Dasar udik, makan kok pake tangan. Malu-maluin aja," ucap Jesika sembari menatap sinis Ella.
"Aku tu, dari dulu makan pakek tangan. Emang situ makan pake apa? Kaki?" Ella berucap dengan santai tapi penuh penekanan.
"Gue gak pernah makan pake tangan, tapi pake sendok. Emangnya elo, kampungan," delik Jesika.
"Terus tu sendok di pegang pake apa? Masa melayang sendiri, pasti kan pake tangan," ucap Ella tanpa melirik Jesika.
"Pinter banget lo, Ell," puji Diego yang kagum pada Ella kerena dia bisa santai menghadapi nyinyiran Jesika tanpa emosi.
"Caper banget jadi cewek, dasar murahan." Jesika semakin membenci Ella, karena dia berpikir Ella lah penyebab Diego menolaknya. Padahal Diego menolak Jesika sebelum dirinya kenal dengan Ella.
"Aku gak di jual ya, jadi enggak murahan. Nih liat badan aku. Ada bandrol nya egak? egak ada kan? Berati gak murahan, Murahan itu cewek yang ngejar-ngejar cowok, padahal cowoknya gak suka," ujar Ella.
"Lo nyindir gue, hah?" marah Jesika.
"Enggak, emangnya kamu ngejar siapa?" Ella bertanya dengan wajah polosnya.
"Jangan pura-pura gak tau, ini semua gara-gara elo." Jesika menatap tajam Ella.
"Udah gue bilang, ini semua gak ada sangkut pautnya sama Ella. Gue nolak elu karena gue gak suka sama kelakuan lo yang suka semena-mena terhadap orang lain," ucap Diego menyela.
"Kita pergi aja yuk, Ki. Males banget nonton orang debat, mending nonton drakor," ajak Ella.
"Hooh, yuk ah. Gak ada faedah nya nonton orang debat."
__ADS_1
Mereka berdua pergi dari sana setelah membayar makanan yang mereka pesan. Tinggal satu pedagang lagi dan tugas mereka selesai. Ella menilik beberapa pedagang, dia memilih pedagang mana yang akan menjadi target wawancaranya kali ini.
"Pempek," ucap Alvin yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Astaga kutub, bisa gak sih jangan ngagetin mulu! Udah kayak jelangkung aja," kaget Ella.
"Kamu kapan datangnya Vin? Persaan tadi kita pergi cuma berdua, deh," heran Kiana.
"Ayok." Bukannya menjawab, Alvin malah berjalan pergi menuju pedagang pempek.
"Aku gak bisa bayangin gimana nasib cewek yang bakal jadi pacar dia nanti," ucap Kiana.
"Baru sehari auto minta putus karena di kacangin mulu," sahut Ella.
Setelah itu mereka berjalan menyusul Alvin, terlihat disana Alvin sudah memulai wawancara. Dia sedang menanyakan keluh kesah menjadi pedagang dah kendala apa yang di alami selama berdagang.
"Kendalanya di tempat, kami para pedagang butuh tempat yang layak. Selain sering terkena razia satpol PP di sini juga sering kena palak para pereman. Hampir setiap hari mereka meminta uang dengan dalih uang ke amanan," ucap seorang pedagang laki-laki yang seusia Papih Ella.
"Apa preman itu sering datang?" tanya Ella.
"Hampir setiap hari," jawab bapak itu.
"Sering merusuh atau membuat ke kacauan," tanya Ella lagi.
"Mereka selalu memukuli siapa saja yang tidak membayar uang ke amanan, bahkan di antara mereka ada yang membawa senjata," tutur bapak pedagang.
"Ok, kita beralih pertanyaan ya, Pak," ucap Ella.
"Betul sekali, ikan dan juga tepung tapioka."
"Ikan apa pak? Paus? bisa juga kah?"
"Ikan tenggiri, paus tidak bisa karena paus satwa yang di lindungi."
"Di dalemnya kan ada telor, itu telor ayam apa badak, Pak?" tanya Ella dengan serius.
"Memangnya badak itu bertelur ya Neng?" tanya balik si bapak.
"Bertelur pak," jawab Ella.
"Kok saya baru tau ya, Neng."
"Ih, kudet si bapak mah. Badak itu bertelur Pak, dua."
"Oh gitu, hanya dua Neng?"
"Dua, Pak. Tapi yang jantan," cengir Ella.
"Jantan?" bingung si bapak.
"Jangan dengerin temen saya, Pak. Dia lagi oleng," ucap Kiana menimbrung.
__ADS_1
"Aku gak oleng Kia, kan bukan truk." Delik Ella.
"Truk badannya yang oleng, kamu otaknya."
Kiana pun mengambil alih sesi wawancara yang tinggal beberapa list lagi. Sementara Ella, dia sedang menggoreng pempek punya si bapak. Dia menggoreng sepuluh pempek sekaligus, lalu dia menunggu sampai matang dan wawancara pun selesai.
"Udah mateng, Ell?" tanya Kiana menghampiri Ella.
"Udah, tinggal nunggu timun nya," ujar Ella.
"Nunggu timun? Emang timunya kemana?" bingung Kiana.
"Lagi di goreng," jawab Ella.
"What? di goreng? Sejak kapan timun buat pempek di goreng Ella?" pekik Kiana sementara Alvin, dia hanya tersenyum tipis yang nyaris tidak terlihat.
"Oh, berati salah dong?"
"Salah lah, masa enggak," delik Kiana.
"Ya mangaf, aku kan gak tua, aku masih muda," cengir Ella.
"Maaf ya, Pak." Ella melirik si bapak yang tengah menyedok timun yang telah matang dari wajan.
"Tidak pa-pa Neng." Bapak itu tersenyum ramah.
Setelah pempek pesanan Ella siap, Ella pun langsung membayar pempeknya dengan segepok uang yang di perkirakan jumlahnya sekitar sepuluh juta. Bapak itu awalnya menolak karena terlalu banyak, tapi Ella memaksa bapak itu untuk menerima uangnya. Akhirnya bapak itu menerima dengan bahagia karena dia bisa membiayai pengobatan sang istri yang sedang sakit keras.
"Mau?" Ella menawari Alvin pempek.
"Tidak," tolak Alvin dengan wajah dinginnya.
"Udah selesai?" tanya Diego yang baru saja datang.
"Udah," jawab Kia.
"Kampungan banget, jajannya makanan murahan. Gak punya uang ya? Kasian, makannya miskin jangan di pelihara," cibir Jesika ketika melihat Ella menenteng keresek pempek.
"Aku gak melihara miskin kok, aku tu meliharanya ikan koi, kucing sama kelinci," ucap Ella dengan wajah sok imut.
"Gak jelas," sinis Jesika.
"Jelasin aja, tuh kayak alis kamu yang tebel kek ulat bulu, udah tebel, item lagi kayak ketek."
Brakkkk!
Jejak๐๐
Penyuka kisah cinta yang rumit, penuh tantangan dan juga air mata. Kepoin yuk novel temen otor yang satu ini, cek detail di bawah ini๐
__ADS_1