
Setelah acara selesai, para keluarga dan juga sanak saudara pun kini berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang membicarakan perihal pernikahan Satria yang akan di laksanakan satu minggu lagi. Semuanya sudah di persiapkan, dari mulai gedung, dan juga berbagai rangkaian acara lainya. Saat ini gedung Wirawan yang akan di gunakan untuk acara pernikahan Satria sudah mulai di dekorasi, Ella juga mengerahkan anggotanya untuk membantu mengurus persiapan acara pernikahan sang abang sekaligus menjaga keamanannya.
"Ell, kamu gak mau resepsi gitu? Kan dulu pas kamu nikah sederhana," tanya Rina sambil melirik Ella yang sedang menggendong Zura.
"Gak Mih, males ah di pakein gaun yang beratnya nauzubilah kayak dosanya Bangsat," ujar Ella.
"Dosa lu tuh yang bejibun kek kotoran sapi, udah numpuk, bau lagi." Delik Satria.
"Ya sudah kalau gak mau," ucap Rina kemudian dia bangkit untuk mengambil Zam dari gendongan Wina.
"Aku males resepsi yang kayak ngulang nikah lagi itu, mendingan ngulang malam pertamanya doang," celetuk Ella di sertai cengiran khasnya.
"Maunya yang enak mulu lo mah, Dek," cibir Satria.
"Iyalah, siapapun gak bakalan nolak kalo di kasih ke nikmatan," ujar Ella.
"Berati malam ini Ray bakalan menjelajah gue kembali nih," ledek Wina sembari menatap sang putra yang wajahnya berseri.
"Pasti dong, senang ni Ray setelah sekian lama menunggu akhirnya bisa menjelajah kembali." Andi sang mertua pun ikut menggoda Ray.
"Hati-hati Ray, pelan-pelan guanya baru selesai proses perbaikan," peringat Samsul.
"Jangan kenceng-kenceng juga Ray, nanti guanya ambruk." Rina pun ikut menimbrung.
"Kokohin dulu gua lu, Dek. Biar gak ambruk di tubruk belalai kehausan. Kalo perlu dempul pake sementara," tambah Satria.
"Iss, di pikir ini beton apa? Di pakein semen segala," cebik Ella.
"Cie yang guanya mau opening kembali," ledek Satria.
"Siapa bilang? Orang masih lama kok opening nya," ujar Ella dengan mendelik.
"Jangan lama-lama, Ell. Nanti belalai si Ray bulukan," ucap Satria.
"Di pikir tempe, bulukan," ketus Ray.
"Cie yang gak jadi menjelajah gua sewot bener," ledek Satria.
"Diem lo, Bangsat. Gue do'ain semoga malam pertama lo bakalan gagal karena tamu gak di undang," sinis Ray.
"Apaan tamu kagak di undang? Jelangkung?" bingung Satria.
"Ntar lo juga ngerti, semoga aja lo ngalamin itu di malam pertama lo," ucap Ray.
"Aminn! Gue gak takut blee, tinggal usir aja tu tamu kagak di undang. Mau demit, jelangkung, apapun itu gue kagak takut. Gak bakal ada yang mampu ngerusak malam pertama gue." Satria bersidekap dada dengan angkuhnya.
"Sekarang ngomong gitu, pas ngalamin bakalan mewek guling-guling lu, Bang," tawa Ella pecah.
"Udah-udah ledek-ledekannya. Sekarang kalian tidur udah malem, besok lanjut lagi," lerai Wina.
"Ok, Mam." Ella bangkit dari duduknya.
"Twins biar bobo sama, Mamah aja," pinta Wina.
Ella pun menyerahkan Zura yang sedang di gendongnya pada Wina, pastilah mertuanya akan menguasai twins, apalagi ada Mamihnya di sini, Ella auto santai lagi seperti waktu gadis.
__ADS_1
"Kamu sama Zura, aku sama Zam ya, tidurnya," ucap Rina.
"Baiklah." Wina tampak lesu karena dia biasa tidur dengan dua-duanya.
***********************
Ke esokan harinya Ella tidak cuti kuliah lagi, dia langsung masuk karena twins banyak yang jaga di rumah. Yang harus dia jaga sekarang adalah Ray, dia harus menjauhkan Ray dari para pelakor yang tak tau malu. Ella juga sangat bersemangat berangkat kuliah, karena hari ini Dela akan masuk kuliah kembali.
"Thank Ell, udah di jemput," ucap Dela saat dia memasuki mobil Ella.
"Santai aja, Dedel. Kayak sama siapa aja." Ella langsung melajukan mobilnya.
"Aku pikir kamu gak bakal masuk kuliah, Ell," ujar Dela.
"Kenapa emang?"
"Iya, karena kamu pasti abis opening kembali nih. Pasti kan susah jalan, karena rasanya kayak pas pertama kali lagi," cengir Dela.
"Belum," jawab Ella singkat.
"Loh, kok belum? Kasian loh, Pak Ray. Dia kan udah nunggu lama, Ell. Masa gak di kasih," ucap Dela.
"Pasti aku kasih, kok. Malahan dengan servis yang terbaik. Tapi aku harus menyingkirkan hama dulu, Del." Ella terlihat menyeringai.
"Hama?"
"Yes, hama yang menggangu ketentraman rumah tangga ku."
"Bisa kamu jelaskan?"
"Ya ampun, duplikatan si Sesil muncul lagi, Ell. Eh, btw anak itu kemana ya?" Dela jadi teringat pada Sesil.
"Entahlah, mungkin dia mati," jawab Ella enteng.
"Terus apa yang bakal kamu lakuin untuk menghadapi wanita kalajengking itu?" tanya Dela.
"Yang pasti, aku akan membuat dia termakan oleh permainannya sendiri. Hahaha," tawa Ella terdengar begitu mengerikan.
"Jangan bilang kamu mau membunuhnya?" tebak Dela.
"Untuk itu lihat saja nanti, sekarang aku ingin membuat dia merasakan neraka dunia terlebih dahulu sebelum dia merasakan neraka yang sesungguhnya," tutur Ella sembari menambah laju kecepatan mobilnya.
"Mengerikan."
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketentraman rumah tanggaku ataupun keluargaku. Jika ada yang berani, berati dia telah mengantarkan nyawanya padaku."
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di halaman kampus, Ella dan juga Dela langsung turun dari mobil, kemudian mereka berjalan masuk kedalam gedung itu.
"Hai guys," sapa Ella pada Diego, Alvin dan juga Kiana.
"Hai Ell," balas mereka kecuali Alvin yang akan bersikap dingin saat di hadapan banyak orang.
"Kenalin, dia temen aku. Namanya, Dedel," ucap Ella sembari melirik Dela.
"Dedel?" Diego nampak bingung.
__ADS_1
"Dela maksudnya, dia emang gitu suka ganti nama orang sembarangan." Dela langsung menyahut.
"Haha, kalo itu udah gak aneh lagi. Kita juga namanya dia ubah semaunya. Mending jadi bagus, nah ini jadi aneh," ujar Diego tertawa.
"Oh ya, kenalin nama gue Diego." Dia mengulururkan tangannya.
"Dela." menyambut uluran tangan Diego.
"Aku Kiana." Mengulurkan tangan dengan tersenyum manis.
"Dela." Menyambut dengan senyuman tak kalah manis.
"Yang ini siapa?" Dela menatap Alvin.
"Kulkas berjalan."
"Es balok."
Diego dan Kiana menjawab bersamaan. "Jadi namanya siapa?" bingung Dela.
"Vivin," ucap Ella.
"Oh, Vivin. Panjangnya Vin vin vom, ya?" kelakar Dela.
"Vin vin itu suara kelakson mobil, Vin, vin. Vin, vin," ucap Kiana.
"Bukan, Vivin itu yang suka kebelet," timpal Diego.
"Apaan tuh?" bingung Ella.
"Aduh, kebelet Vivin." Diego menirukan ekspresi orang kebelet sembari memegangi burungnya.
"Pipis, geblek. Lagian itu ngapain coba di pegang," delik Kiana.
"Serah gue dong, lo mau megang ya?" goda Diego.
"Ogahhh!"
Sementara Ella, dia tengah mengamati sekitar dengan mata yang memberi kode pada Alvin. Kenapa Ella bisa bekerja sama dengan Alvin? Karena Alvin ingin belajar bela diri pada Ella, dia saat itu melihat bela diri Ella begitu hebat dan juga paseh. Dia yakin Ella bukanlah orang biasa jiga di lihat dari cara bertarungnga. Ella menyetujui asalkan Alvin mau bekerja sama dengannya dan juga Ray untuk membuat Zela, terjebak dalam permainannya sendiri. Alvin setuju dan dia mau bekerja sama, tapi dia sama sekali belum tau siapa Ella yang sebenarnya dia hanya tau Ray dan Ella adalah pasangan suami istri.
💬
Target mulai beraksi.
Sebuah pesan singkat Ella kirimkan kepada Alvin.
💬
Rencana satu di mulai.
Balasan Alvin.
Jejak ya😘😘😘😗😗
Punya rekomendasi novel lagi nih, jangan lupa di baca banernya lalu kepoin novelnya ya,😍
__ADS_1