Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Maju kena mundur kena


__ADS_3

David segera turun dari mobil, dia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri rumah tersebut. David dengan tidak sabaran mengetuk pintu itu berulang kali dengan begitu keras.


Ceklek!


Pintu terbuka menampilkan Diego yang tengah merangkul wanita cantik dengan mata sipit dan hidung mancung.


Bruk!


Tanpa basa-basi David langsung memukul perut Diego dengan begitu keras sehingga membuat wanita yang di rangkul Diego memekik histeris.


"Stop! Siapa lo? Kenapa pacar gue di pukulin?" teriak wanita itu.


"Pacar?" David menatap Diego dan juga wanita itu secara bergantian.


"Apa bener dia pacar lo?" David menatap tajam dan juga menghunus ke arah Diego.


"Ya." Diego mengangguk dengan tangan memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Lalu? Bagaimana dengan Poky? Bukannya dia pacar lo? Apa lo cuma mainin dia, hah?" sentak David, dia tau Diego pacaran dengan Poky saat melihat kemesraan mereka waktu di rumah sakit menemani Ella, dia juga mendengar jelas saat Diego memanggil Poky dengan sebutan, Sayang.


"Ini nggak seperti yang lo pikir, Bang," ucap Diego.


"Terus seperti apa, hah?" bentak David marah.


"Poky bukan pacar gue. Kita cuma temen, pacar gue itu cuma satu," ujar Diego.


"Ini pacar gue, Melda." Diego merangkul kembali wanita di sampingnya.


"Bukan pacar lo? Waktu di rumah sakit, kenapa kalian mesra banget sampe lo manggil Poky sayang? Apa namanya kalau bukan pacar?" cecar David.


"Lo cemburu, Bang?" Diego terkekeh seraya menatap David.


"Kalau iya kenapa? Masalah buat lo?" Dengan lantang David mengakui kecemburuan nya saat itu.


"Baguslah, berarti Abang udah sadar. Kalau cinta Abang bukan buat Ella, tapi buat Poky," ucap Diego.


"Maksud lo apa?" David menatap heran Diego.


"Lo jangan marah dulu, Bang. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Poky. Gue perhatian dan manggil dia sayang karena ada alesan," terang Diego.


"Alesan apa maksud lo? Jelasin?" paksa David.


"Gue cuma di siruh Quin lo, Bang," jawab Diego.


"Quin gue? Ella maksud lo?" tanya David yang di balas anggukan kepala oleh Diego.


"Semua itu rencana Ella buat nyadarin elo, kalau perasaan lo itu buat Poky, bukan buat dia lagi. Ella mau elo sadar, kalo elo itu cinta sama Poky sebelum terlambat." Diego berkata dengan jujur.

__ADS_1


"Sorry, gue udah nuduh lo yang nggak-nggak. Sorry juga udah ngeganggu kalian," ucap David merasa bersalah


"It's okay, Bang. Selamat berjuang, jangan lepasin cinta dia, Bang. Dia wanita yang baik dan pantas di perjuangankan," sahut Diego.


"Thanks, gue pamit," ucap David seraya berlalu pergi.


Setelah mendapat penjelasan dari Diego, hatinya merasa lega. Ternyata wanita yang dia cintai belum menjadi milik orang lain. Dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan wanitanya kembali.


"Sekarang saatnya gue berjuang buat dapetin cinta, Poky," ucap David setelah dia berada di dalam mobil.


"Gue harus berterimakasih sama Ella, berkat dia, gue jadi sadar kalau gue cinta sama Poky," lanjutnya seraya menjalankan mobilnya berlalu pergi dari tempat itu.


Di kediaman Wardana.


Bumil cantik nampak tengah mondar-mandir di depan pintu utama, bumil itu tengah menanti ke datangan sang suami dengan tidak sabar. Berkali-kali Wina menyuruhnya untuk menunggu di sofa saja karena takut bumil itu akan pegal namun berulang kali juga bumil itu menolak.


"Mom mau ngapain si, Oma? Nungguin Pop sampe segitunya," tanya si cantik Zura penasaran.


"Entahlah, Oma juga nggak tau, Ra." Wina mengangkat bahunya pelan.


"Udah kayak bodyguard aja jagain pintu," sahut Zam.


"Kedengeran sama Mom kamu marah nanti," ucap Wina.


Zam hanya tersenyum tipis, kemudian bocah laki-laki itu berjalan menghampiri sang Mimom.


"Nggak mau, Zam. Mom mau nunggu Pop di sini aja," tolak Ella.


"Yaudah, tapi diem ya. Kasian dedek bayinya keleyengan nanti. Mana dalam perut nggak ada yang jual paramex," ucap Zam.


Ella mengangguk menanggapi ucapan putranya yang seperti orang dewasa itu. Tak lama Ray datang dengan tergesa-gesa menghampiri sang istri yang tengah menatap dirinya di ambang pintu dengan cemberut.


"Maaf, Sayang. Tadi jalanan macet, jadi pulangnya telat," ucap Ray menjelaskan mengapa dirinya datang terlambat.


"Kamu tau nggak? Aku nungguin kamu di sini lama banget, sampe pegel kaki aku. Menunggu itu ternyata nggak enak," sarkas Ella dengan kesal.


"Iya, Sayangku. Maaf ya, sekarang kamu bilang, kenapa nyuruh aku pulang cepet, hm?" Ray merangkul bahu istrinya dan membawa bumil itu duduk di sofa.


"Aku pengen naik gunung, ayok kita pergi mungpung masih siang," ucap Ella dengan semangat.


"Apa? Naik gunung?" Terkaget lah Ray mendengarnya. Masa iya ibu hamil naik gunung? Bisa brojol sebelum waktunya baby mereka.


"Iya, ayok. Aku kangen naik gunung, dulu terakhir pas SMA." Ella terlihat bahagia kala mengingat itu.


"Jangan ya, Sayang. Nanti baby kita kenapa-napa, mending aku aja yang naik gunung kamu. Gelar piknik di sana," ucap Ray membujuk.


"Huuhh, padahal aku pengen naik gunung," lirih Ella lesu.

__ADS_1


"Gini aja, kamu boleh minta apapun kecuali naik gunung. Kakak janji bakal nurutin ke inginan kamu," ucap Ray bernegosiasi.


"Beneran bakal di turutin?" tanya Ella memastikan.


"Iya, beneran, Sayang. Kamu pengen apa, hm?" tanya Ray.


"Sebenarnya, aku pengen ini dari kemarin. Tapi nggak berani ngomong," ucap Ella.


"Kenapa nggak berani? Ngomong aja, kamu mau apa, hm? Kakak bakal turutin." Ray menangkup kedua pipi Ella.


"Emm, aku pengen ketemu, Nando."


Krik!


Krik!


Krik!


Terdiam lah Pipop muda itu, menatap manik mata sang istri dengan lemas. Ini sama saja keluar dari kandang singa masuk lagi ke kandang macan. Pergi ke gunung tidak aman untuk kesehatan sang istri dan permintaan yang ini tidak baik pula untuk kesehatan hatinya. Maju kena mundur kena, sungguh Ray dilema.


"Kamu udah janji bakal nurutin permintaan aku loh," ucapan Ella membuat Ray menghmbuskan napas berat.


"Ya," jawaban singkat yang keluar dari mulut Ray.


"Zam, minta tolong Pak Amir beliin No drop," ucap Ray melirik sang putra.


"Buat apa, Pop? No drop kan cat." Zam yang sedang bermain game pun mendongak.


"Buat ngelapis hati, Pipop. Biar nggak bocor nanti," cetus Ray kemudian melangkah pergi untuk menghubungi kakak iparnya karena cuma dia yang tau dimana Nando.


"No drop, cat pelapis anti bocor. Tapi sayang, hati Pipop bukan tembok, jadi tetep bakal bocor," seloroh Zam dengan atensi yang menatap ponsel.


"Sumpel aja pake kain pel, Bang. Bial nggak bocol lagi," sahut Zura.


Selepas menelepon Satria, Ray pun menghampiri sang istri kembali.


"Udah di suruh kesini, Nando nya?" tanya Ella tanpa dosa.


"Udah," jawab Ray seraya mendudukan diri di sofa.


"Nih, Pop." Tiba-tiba sang putri menyodorkan satu lembar plaster.


"Kenapa, Ara ngasih Pop plaster?" tanya Ray dengan kening yang mengerut.


"Buat nambal hati, Pop. Takutnya nanti teluka palah, kasian pasti sakit. Sakitnya tu disini, di dalam hatiku, sakitnya tuh di sini melihat kau beltemu cogan," sahut Zura yang di akhiri dengan nyanyian sembari menepuk dada.


Ray hanya menatap jengah putrinya, bukannya menghibur malah meledek. Kemudian dia melihat ke arah sang putra yang tengah menertawakan nya.

__ADS_1


"Bener-bener ya, kalian. Seneng banget liat, Pop menderita. Awas aja, nanti uang jajan kalian, Pop potong," ancam Ray.


__ADS_2