
Kediaman Wardana sudah terlihat ramai sekali, tamu undangan sudah berdatangan karna hari sudah mulai sore, Ray juga sudah pulang sedari siang tadi, begitu juga dengan Samsul dan Andi.
"Kamu cantik sekali sayang." Ray memandangi wajah sang istri yang mengenakan hijab biru muda yang senada dengan gamisnya.
"Kak Ray juga tampan." Ella menatap Ray yang juga mengenakan koko biru muda dan celana hitam.
"Kakak udah gak sabar pengen ketemu sama buah hati kita, pasti mukanya mirip kakak." Ray berjongkok dihadapan Ella yang tengah duduk dihadapan meja rias.
"Mirip aku dong, kan aku yang ngandung."Cebik Ella.
"Tapi kakak yang ngadon." Ucap Ray.
"Tetep aja aku yang ngandung dan juga ngelahirin kak Ray mah cuma ngadon doangan." Keukeh Ella.
"Ada apa ini? bukannya turun malah ribut disini." Wina memasuki kamar mereka.
"Ini Mam, masa tadi kak Ray bilang kalo Baby kita bakalan mirip dia. Harusnya mirip aku dong, kan aku yang ngandung." Cemberut Ella.
"Pasti mirip kakak, kan kakak yang buat." Ray tak mau kalah.
"Kalian ini, tamu pada nungguin dibawah kalian malah debat unfaedah. Hais, dasar. Ayok turun gak usah debat mulu." Wina geleng-geleng kepala.
"Tapi baby nya bakalan mirip aku kan Mam?" Ella tetap saja membahas itu.
"Bakalan mirip tetangga, ya mirip kalian lah, pan kalian yang ngadon gimana si. Masa mirip Tukul."Wina terlihat nampak kesal.
" Ayok cepat turun, acara mau di mulai."Wina menatap mereka berdua jengah.
Merekapun turun kebawah dengan Ella berada ditengah, di apit oleh Wina dan juga Ray. Setelah mereka sampai dibawah, sesi acara tujuh bulanan pun segera di mulai. Mereka melakukan acara itu sesuai adat dan juga tradisi keluarga Wardana. Semua anggota keluarga Wardana maupun Wirawan yang hadir begitu antusias mengikuti rangkaian acara itu, mereka sangat senang dengan kehamilan Ella. Kakak dari Rina yang dari bandung pun turut serta hadir, tapi dia datang tidak bersama sang suami melainkan bersama anak sulungnya yang seumuran dengan Satria.
"Aduduh suami kamu teh mani kasep, ganteng gitu geningan ih."Ucap Uwa Dodoh kakak Rina.
" Ganteng atuh Wa, kan akunya juga cantik."Ella tersenyum begitu manis.
"Enya atuh si Neng mah cantik pisan, kalo di kampung Uwa mah ya, udah jadi Parimona kamu teh Neng."Seru Uwa.
"Primadona Bu, bukan Parimona."Koreksi Bian, anak sulung Uwa Dodoh.
" Sarua wae lah."Delik Uwa.
(Sama aja lah)
"Ih ari si ibu, di kasih tau te suka gitu." Cebik bian.
"Biarin ajalah Abi, suka-suka Uwa yang penting dia seneng."Sahut Ella.
" Tuh dengerin kata si Eneng."
"Oh iya, Abi kenalin ini suaminya aku. Kak Ray juga kenalin ini Aa Bian sepupu aku." Ella melirik Ray dan juga Bian.
"Rayen, suaminya Ella." Ray mengulurkan tangannya.
"Bian, sepupunya Ella." Bian menyambut uluran tangan Ray.
"Cie ada yang kenalan." Satria tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Ih, tukang rusuh datang lagi."Cebik Ella.
" Ngapa si lu Dek, dendam amat kek nya ama gue."Satria mendudukan dirinya disamping Bian.
__ADS_1
"Abang tau gak sih, tiap kali aku liat abang bawaannya tuh kesel mulu." Ujar Ella.
"Ulah kitu atuh Neng heg keur kakanungan, kumaha mun orokna jiga si Sableng." Ucap Uwa.
(Jangan gitu Neng, mana kamu lagi hamil. Gimana kalau bayinya mirip si Sableng)
"Jangan atuh Wa, aku gak mau punya baby Sableng kek abang." Ella mengerucutkan bibirnya.
"Makannya baek-baek lu sama gue, ntar anak lu mirip gua lagi."Goda Satria.
" Gak akan."Ketus Ella.
Merekapun mengobrol dengan diselingi candaan, karna acara juga sudah selesai dan tamu undangan sudah pada pulang.
Acara itu memang berlangsung cukup lama, karna ada sesi acara tambahan untuk menyambut para tamu undangan, hingga membuat Ella menjadi sedikit lelah. Meskipun begitu, tapi dia tetap meminta untuk nonton Drakor di ruang keluarga dengan di temani oleh sang abang, Rendi, Ragil dan juga David. Untuk Galang dia sudah pulang tentunya karna kandungan Dela yang hendak memasuki usia kesembilan menjadi gampang lelah.
Kini di ruang keluarga yang sudah di bereskan dan juga dibersihkan dari sisa-sisa acara tadi, sudah ramai sekali oleh kehadiran para pria sableng dan juga Ella tentunya yang mengajak nonton. Ray sendiri belum hadir, karna dia masih mengerjakan urusan kantor bersama sang Papah di ruang kerja.
"Abang, itu cemilan aku gak boleh dimakan ih."Rengek Ella kala Satria mengambil satu cemilannya yang ada di keranjang.
" Pelit amat si lu Dek, pan entu cemilan belinya juga pake duit gua."Satria mengambil kembali satu batang coklat.
"BANGSAT, cemilan aku abis ih nanti."Kesal Ella.
" Ibu hamil kagak boleh makan coklat, ntar anaknya item mao."Ujar Satria sembari mengunyah coklat yang telah di bukanya.
"Iyakah?"Ella menatap sang abang.
" Hooh, baru tau lu ya."Satria berucap dengan serius.
"Aku gak mau makan coklat lagi ah, ntar anak aku item, kan gak lucu ibunya putih bapaknya putih, eh anaknya item. Ntar orang nyangka entu anak hasil nyolong." Ella langsung mengeluarkan beberapa batang coklat dari dalam keranjang cemilannya.
"Bagos, sini biar abang aja yang makan." Satria langsung mengambil coklat yang di keluarkan Ella tadi.
"Lagi diet."David.
"Gak suka coklat."Ragil.
"Gue udah manis, takut kemanisan kalo makan coklat." Rendi.
Karna mereka tidak mau, Satria pun memakannya sendiri. Selama Drama korea alias Drakor berlangsung para pria sableng itu begitu serius menonton, bahkan mereka lebih serius daripada Ella yang mengajaknya.
"OMG, kissing. Bikin gue ngiler aja." Rendi menutup wajahnya dengan tangan kala melihat adegan dua insan yang tengah berciuman panas di dalam Derama itu.
"Percuma lu nutup muka, kalo lo tetep liat dari celah jari." Cibir David.
"Ngintip dikit doangan."Cengir Rendi.
" Sama aja liat bego."Ragil menepuk kuat bahu Rendi.
"Sakit ngab." Pekik Rendi.
"Diem ih, berisik banget kalian."Ella menatap mereka tajam.
" Hooh, diem lu pada."Timpal Satria.
"Abang juga." Ella kembali fokus ke layar TV.
"Abang, pegel ih." Ucap Ella yang duduknya bersila lesehan dikarpet, karna memang mereka semua duduk di karpet tidak disopa.
__ADS_1
"Yodah di sopa aja sono duduknya." Ujar Satria.
"Gak mau," Cemberut Ella.
"Terus elu maunya gimana?" Satria menatap sang adik.
"Aku mau duduknya di pangkuan abang."Jawab Ella enteng.
" Lu kagak serius kan Dek?"Satria menatap badan bulet sang adik.
"Aku serius ih abang."
"Remuk dong gue Dek, kalo di dudukin ama gajah." Melas Satria.
"Abang jahat." Ella sudah berkaca-kaca.
"Turutin aja ngapa Sat, sian bumil pan sensitip ama banyak maunya." Ucap David.
"Hooh, dia pan adek elu. Masa tega sih kagak nurutin kemauan adek sendiri." Timpal Rendi.
"Kalo kagak mau, ganti abang aja Ell. Yang entu lempar aja ke kali." Ragil ikut nimbrung.
"Ck, lu pada kagak setia kawan amat si. Yodah dek sini duduk, gepeng-gepeng dah gue di tiban buntelan." Ucap Satria.
"Yee."
Ella langsung saja bangkit, kemudian dia duduk di pangkuan Satria dengan kepala yang menyandar di dadanya.
"Hekk, dek lu makan batu ya? berat bener, bisa isdeat gua kalok begini." Satria memegang bahu Ella.
"Daging semua nih Dek, enak nih kalo di pake kurban." Sambungnya.
"Hekk, Astaga Dek. Kejem amat sih lu." Pekik Satria saat Ella menekan kuat tubuhnya hingga di bawah sana terhimpit.
"Makanya diem, jangan ngoceh mulu kek beo." Ketus Ella dengan mata yang terfokus kedepan.
"Gepeng dah perkutut gue, telurnya juga pasti pecah kalo terus di tiban gajah butel beginimah." lirih Satria.
"Sabar ya Sat, orang sabar panntatnya lebar." Ledek Rendi sementara David dan Ragil hanya tertawa meledek saat melihat penderitaan Satria.
Jejak guys😘😘
And mampir juga ya ke novel baru otor yang baru aja netas dari kandang, Judulnya Sekretaris Somplak Milik Ceo Sableng. Cerita ini juga lucu dan menghibur.
Mampir juga ke sini, novelnya temen otor ini juga gak kalah seru.😍
Judul: Stuck Marriage (Season 1&2)
Karya; Tyatul
Season 1
Rencana menyelamatkan diri dari musuh keluarganya membuat Ariana Delta terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang sopir taksi bernama Alex Bara.
Setelah terbiasa hidup bersama membuat benih benih cinta diantara mereka tumbuh.
Ariana dan Alex memiliki rahasia yang tak diketahui masing masing. Hingga kebenaran terungkap, apakah keduanya tetap bisa saling mencintai?
Season 2
__ADS_1
Menceritakan kisah anak pertama Ariana dan Alex siapa lagi kalau bukan Albian Ivander Bara dengan segala pesonanya.