
"Gemoy banget si." Satria mencoel pipi baby Zura yang sedang berbaring di dalam box.
Saat ini mereka tengah berkumpul di kamar twins A, mereka masih belum puas bermain dengan si twins. Apalagi kedua kakek muda yang belum sempat menggendong cucu mereka karena twins A selalu di kuasai oleh para istri.
"Aku boleh gendong ya, Mih," pinta Satria sambil melirik Rina.
"Boleh, tapi pelan-pelan ya, Sat," ucap Rina.
"Loh, kok Satria boleh gendong sementara Papih belum, si Mih." Andi protes tidak Terima karena dia belum menggendong cucunya sama sekali.
"Papih kan suka encok, nanti pas gendong encoknya kambuh gimana? kan bahaya baby nya bisa jatuh," delik Rina.
"Enggak lah Mih, Papih juga hati-hati kok. Boleh ya gendong?" pinta Andi memelas.
"Ok, tapi pelan-pelan. Hati-hati jangan sampai lecet, apalagi kecengklak! kalau sampe terjadi Mamih patahin leher Papih!" ancam Rina.
"Iya, iya. Punya bini galak bener sih, kayak nenek sihir aja," gerutu Andi sembari mengambil baby Zura dari gendongan Rina.
"Lah, aku kapan gendong nya, Mih?" seloroh Satria.
"Nanti habis, Papih," ujar Rina sembari meluruskan tangannya yang terasa pegal.
"Ck,"
Andi terlihat begitu bersemangat kala mengajak bermain baby Zura, senyuman tak pernah pudar dari wajah tua yang masih terlihat segar itu. Andi begitu bahagia akan kehadiran cucuk pertama yang di beri dua sekaligus.
"Tayang kakek, cantiknya kakek. Emes, emes, emes." Andi menciumi pipi caby Zura.
"Jangan diciumin, Pih. Papih kan bau kambing conge," ucap Ella pelan tapi menusuk.
"Papih wangi, Ell. Coba deh cium," sergah Andi.
__ADS_1
"Gak mau, nanti kak Ray cemburu lagi." Ella melirik kearah sang suami.
"Papih di cium Mamih aja, biar kamu nyium kakak." Ray berjalan mendekati Ella yang tengah berbaring.
"Jangan mulai, inget lu masih puasa!"teriak Satria.
" Pelan, Sat. Jangan teriak, nanti baby nya nangis,"ucap Wina.
"Tuh dengerin, diem." pelotot Ella.
Oek, oek, oek,
Baby Zam dan baby Zura menangis.
"Tuh 'kan... Mereka nangis!" kesal Ella.
"Kayaknya mereka haus deh, Ell. Kasih nen dulu gih," ucap Wina.
"Sini adek dulu nen nya." Ella meraih Zura kedalam gendongannya.
"Tuh, gendong aja baby Zam."Ella menunjuk baby Zam yang berada di gendongan Samsul.
" Gak, Papah belum puas gendong Zam, ntar dia nen terus bobo. Lama lagi Papah gendong, Ell,"tolak Samsul.
"Bentar aja, Om. Masa aku belum gendong baby nya sama sekali," gerutu Satria kesal.
"Jangan kasih, kecengklak entar kalo di gendong si sableng," ucap Wina.
"Tega! kalian!" Satria beranjak dari duduknya.
"Kemana, Sat?" tanya Ray saat Satria hendak melangkah keluar.
__ADS_1
"Mau bikin, baby!" teriak Satria sambil melangkah pergi.
"Jangan macem-macem lu, Bangsat!" teriak Ray.
Satrial kini tengah berada di teras rumah Ray, dia mengutak-ngatik ponselnya untuk menghubungi Dalina yang konon katanya sedang berada di depan komplek untuk membeli makanan yang dia lihat sewaktu dia datang kesini.
"Cepet pulang, Beb." Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan oleh Satria.
"Udah di depan gerbang!" Dalina langsung menatikan telponnya.
Tak lama Dalina pun datang dari arah gerbang, dia menenteng beberapa kantong keresek hitam berukuran cukup besar, dengan sigap Satria segera menghampiri Dalina dan mengambil alih barang bawaannya. Mereka pun berjalan beriringan menuju ke meja makan untuk membuka bawaan Dalina.
"Ya ampun, Beb. Bejibun bener ni makanan, emang ini muat apa di perut kamu?" Satria menggeleng kalal Dalina mengeluarkan berbagai jenis jajanan yang di belinya.
"Ini buat kita semua."
Dalina membeli aneka jenis makanan, dari mulai cilok, cimol, sempol, beragam kue basah, sosis bakar, baso merecon dll. Dia memang sengaja keluar untuk membeli makanan yang sejak tadi dia inginkan. Awalnya Satria ingin mengantarnya tapi Dalina tidak mau, dia bilang tempatnya juga dekat, jadi tidak perlu di antar.
"Makan duluan aja, mereka masih sibuk sama twins, sampe-sampe aku pengen gendong aja gak dikasih," ucap Satria saat Dalina hendak memanggil yang lain.
"Oh, lagian bagus deh kalo gak dikasih," Dalina kembali duduk.
"Loh, kok bagus sih, Beb?" Satria menatap kearah Dalina.
"Ya, bagus. Kalo kamu dikasih gendong, yang ada twins A pada sawan pas denger celotehan kamu. Gak cuma sawan, badan mereka juga pasti sakit karna di gendong sama tangan kamu yang keras, sekeras biji salak," ujar Dalina.
"Gitu amat sih, Beb. Jahat kamu, mana tangan aku di samain ama biji salak lagi," cemberut Satria dengan memonyongkan bibirnya.
"Jangan di jelek-jelekin tu muka, udah jelek, malah tambah jelek! tikus aja di jamin lari pas liat muka jelek kamu," ucap Dalina yang mana membuat wajah Satria semakin ditekuk.
__ADS_1
"Ngenes banget gue, disana dibuli. Disini pun juga di buli pacar sendiri. Apa salah dan dosaku Tuhan?"ucap Satria mendramatis.
"Banyak!!!"