
"Jangan dengarkan apa kata mereka, bagi kakak, kamu itu sangat sempurna."ucap Ray sambil memper'erat pelukannya.
"Apa kak Ray malu? mempunyai istri seperti aku?"tanya Ella.
"Tidak, bagi kakak kamu itu adalah anugrah terindah yang telah tuhan berikan. Kamu telah memberi warna pada kehidupan kakak yang kelabu."Ray membalikan tubuh Ella agar menghadap kearahnya.
"Terimakasih, aku bahagia banget mempunyai suami seperti kak Ray. Maafin aku yah, kalau selama ini aku selalu bikin kakak kesal."ujar Ella sembari menatap manik mata Ray.
"Kakak juga bahagia, mempunyai istri sepertimu. Kamu gak perlu minta maaf, kakak sudah memutuskan jika kamu yang akan menjadi istri kakak. Berati kakak juga harus siap menerima semua kekurangan maupun kelebihan kamu."Ray mengelus surai panjang Ella.
"Makasih kak Ray, aku sayang banget sama kakak."Ela berhambur memeluk Ray.
"Kakak juga sayang sama kamu."Ray membalas pelukan Ella.
"Aku janji, aku akan berubah menjadi lebih dewasa."ucap Ella bersungguh-sungguh.
"Pelan-pelan saja, jangan di paksakan."ujar Ray.
Setelah Ella tenang, Ray pun membawa Ella turun kebawah lalu masuk kedalam ruangannya.
"Mau makan?"tanya Ray saat mereka sudah duduk di sopa yang berada di ruangan Ray.
"Gak, nanti aja. Akunya belum laper."Jawab Ella.
"Ya sudah, kamu tunggu disini. Kakak mau memeriksa tugas yang akan di berikan besok, takutnya masih ada yang kurang."ucap Ray.
Ella pun mengangguk, setelah itu Ray berjalan kemeja kerjanya untuk memeriksa tugas.
Tok, tok, tok.
Suara pintu ruangan Ray di ketok.
Ray pun meraih sebuah remot yang ada di sampingnya lalu dia tekan untuk membuka kunci.
"Masuk."ucap Ray saat pintunya sudah tidak terkunci.
"Tumben amat, pintu lo kunci?"ucap Kevin yang baru saja masuk.
"Hm."
"Eh, ada orang lain ternyata. Gue pikir lu cuma sendiri, pantes pintunya di kunci."ujar Revan yang baru menyadari jika ada orang lain disana.
"Ngapain lo kesini?"tanya Ray.
"Mau ngasih tugas yang tadi dikumpulin dari anak-anak pakultas elu."Jawab Kevin.
"Yang ngasih tugas itu siapa?"
__ADS_1
"Gue, karna kemarin kan elu belom masuk."
"kenapa jadi gue yang meriksa?"
"Kan entu anak didik elu, bukan gua."jawab Kevin.
"Lo aja dah, yang meriksa. Gue sibuk, lagi bikin tugas buat besok."uja Ray.
"Ck, gue lagi, gue lagi. Seenak jidat bae lo, tadi lu nyuruh gue gantiin lu ngajar. Belum gue iyain lu udah pergi, sekarang yang meriksa ini juga mesti, gue lagi."gerutu Kevin.
"Udah gak usah menggerutu, kerjain aja."ucap Ray.
"Iya iya, btw tu cewek cakep sape Ray?"tanya Kevin sambil melirik kearah Ella.
"Bini gue."Jawab Ray jujur, karna Kevin adalah sahabatnya.
"Sa ae lu, berjandanya. Gue nanya serius bego."ucap Kevin.
"Gue serius."ujar Ray bersungguh-sungguh.
"Sumpah demi apa? beneran dia bini elu?"Kevin masih tidak percaya.
"Bener lah, ngapain gue bohong."
"Ray, apa yang kamu lakukan padaku itu, jahaatt."ucap Kevin dramatis.
"Teganya kamu tidak memberi tahuku, jika kamu sudah kawin Ray."Kevin menatap tajam Ray.
"Dua-duanya Ray, nikah plus kawin. Masa lo nikah doang kagak kawin, rugi dong."
"Serah lu dah."
"Cantik, namanya siapa?"Kevin berjalan mendekati Ella.
"Aku Stela, pak Kevin."Jawab Ella ramah.
"Kok kamu tau, kalau nama saya Kevin?"ucap Kevin.
"Tau lah, pak. Kan pak Kevin terkenal dosen yang paling tengil di kampus ini."ujar Ella tanpa dosa.
"Pefz,"Ray menahan tawanya saat mendengar ucapan sang istri.
"Ketawa aja Ray, ketawa. Kagak usah di tahan."ucap Kevin.
"Hahaha, ngakak gue. Baru denger dosen terkenal karna tengil, biasanya kan dosen itu terkenal kiler, galak, tegas. Atau karna sikapnya yang dingin. Gak elit banget sih, dosen tengil. Hahaha."tawa Ray pecah.
"Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang. Lagian julukan dosen tengil gak jelek amat kok, dari pada elu di borong kabeh. Udah dingin, kiler, galak, kaku lagi."cibir Kevin.
__ADS_1
"Jadiin novel bagus tuh pak kevin, judulnya kepentok cinta dosen tengil."sahut Ella.
"Siapa juga yang bakal mentok sama nie orang, sayang."ucap Ray.
"Ada lah, nanti jodohnya pak Kevin."ujar Ella.
"Kalau ada yang mau, sampe sekarang aja dia masih jomblo."cibir Ray.
"Gue itu jomblo karna pilihan Ray, bukan karna gue gak mampu cari kekasih."ujar Kevin.
"Biar jadi kayak judul lagu yak, pak Kevin. Jomblo happy."ucap Ella.
"Hooh."
"Mana ada jomblo happy, yang ada jomblo itu ngenes."sahut Ray,
"Pengalaman lu nih, kayaknya."ledek Kevin.
"Dah lah, pergi sono. Udah selesaikan urusannya."usir Ray.
"Ngusir bang, pengen mojok ya? tapi sorry bro, gue kagak bisa pergi. Soalnya masih ada yang mau gue bicarain sama lo."ucap Kevin.
"Ya udah, kalo gitu akunya keluar dulu ya. Takutnya kalian mau bicara penting."ujar Ella.
"Gak papa sayang, kamu disini aja."pinta Ray.
"Akunya bosen kak Ray, akunya juga haus mau cari minuman dingin ke kantin."ujar Ella.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa telphone kakak."
"Iya, kak Ray."Ella mengangguk sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ray.
Kini Ella tengah berjalan di koridor kampus, banyak pasang mata yang mrnatapnya sinis. Samar-samar Ella mendengar mereka sedang menggunjingkan dirinya, Ella bingung dia salah apalagi? kenapa anak-anak kampus menatapnya sinis dan penuh kebencian.
"Heh, cewek oon. Gara-gara elo gue jadi di keluarin dari kampus ini. Gue bakalan bikin perhitungan sama lo, elo harus membayar atas apa yang gue alamin hari ini."Sinta menarik pergelangan tangan Ella saat dirinya sedang melangkah.
"Kamu di keluarin, bukan karna aku. Tapi karna omongan kamu sendiri yang gak bisa dijaga. Harusnya kamu saring dulu sebelum berbicara, apakah kata yang kamu ucapkan akan menyakiti orang lain atau tidak? aku akui, aku memang oon dan juga telmi, aku sadar itu kok. Tapi aku tau bagaimana caranya menghargai orang lain, aku gak akan pernah mengeluarkan kata yang bisa menyakiti orang itu, karna aku tau bagaimana sakitnya di hina apalagi di cemooh. Aku hanya minta pada kamu, jika suatu saat kamu bertemu orang sepertiku siapapun itu, jangan pernah kamu menghinanya. Karna setiap orang memiliki kekurangan masing-masing, gak ada manusia yang sempurna. Karna kesempurnaan cuma milik yang di atas."ujar Ella panjang lebar sambil menatap Sinta yang terlihat begitu marah.
"Gue gak peduli terhadap orang lain, gak ada gunanya juga mikirin perasaan orang. Prioritas hidup gue, yang penting gue bahagia dan gue harus dapetin apa yang gue mau, meskipun itu harus menyakiti orang lain."ucap Sinta dengan kilatan amarah.
"Jika kamu tidak peduli terhadap orang lain, peduli lah, terhadap diri kamu sendiri. Jangan terus mengunakan diri kamu untuk hal yang buruk dan tidak berfaedah. Gunakan lah diri kamu untuk sesuatu yang baik dan juga berguna, agar kamu punya tabungan untuk kau bawa kelak, bukan hanya membawa tumpukan dosa."tutur Ella sambil menatap Sinta dengan senyuman tulus.
"Ingat, jangan terlena dengan dunia yang pana ini, sehingga kamu ber'ambisi untuk mendapatkan keinginan mu. Dunia ini hanya sementara Sin, tapi di akhirat selamanya. Lebih baik perbanyak bekal untuk disana nanti, bukan menumpuk dosa yang harus kita pertanggung jawabkan."sambung Ella sebelum dia melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Sinta yang sedang mematung.
Bagaimana? lebih suka Ella yang polos, atau yang dewasa?
Jangan lupa tinggalkan jejak,
__ADS_1
Like👍 Comennya juga. biar authornya semangat😘😘😘
..