
"What? tikus?."ucap Ray melotot.
"Iya, tikus kak Ray. Soalnya pas akunya duduk ada yang gerak-gerak ih."Jawab Ella bergidig.
"Mana ada, tikus dalam celana."ketus Ray, dia kesal karna aktipitas mereka jadi tertunda.
"Ada lah, waktu kita renang di Vila, celana kak Ray kemasukan tikus kan? sama kok gerak-geraknya kaya gini."ujar Ella yang mengingat kejadian di Vila waktu itu.
"Tuh kan, gerak lagi mana nendang-nendang lagi. Dia pengen keluar kak Ray, ayok buka celananya."sambung Ella saat melihat sesuatu dalam celana Ray bergerak ingin keluar. Iya keluar pengen disalurkan Ell😂
"Ini bukan tikus Ella, mana bisa tikus masuk celana."geram Ray.
"Waktu itu di Vila, bisa."
"Itu juga bukan tikus."
"Terus apa? kenapa juga kakak bilang tikus."Ella menatap tajam Ray.
"Dia itu, yang kamu sebut belalai Ella."kesal Ray, karna istrinya terlalu polos.
"Kenapa belalainya gerak?"tanya Ella polos.
"Karna kakak normal Ell."Jawab Ray dengan wajah yang sudah memerah menahan sesuatu.
"Emang, kalau gak gerak, kakak gak normal gitu?"mulut itu kembali bertanya.
Bukannya menjawab, tapi Ray malah menarik Ella kembali kedalam pangkuan nya. Dia langsung saja memagut bibir yang sedari tadi membuatnya kesal itu. Tangan nya juga tak tinggal diam, tangan Ray sudah menyusup kedalam baju Ella, dia mencari sesuatu disana saat sudah menemukannya dia langsung saja memberi remasan perlahan, lalu memainkan tombol yang ada disana dengan lembut, hingga membuat Ella meleguh. Ella merasakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, ingin rasanya dia menolak apa yang Ray lakukan, tapi karna rasa nikmat yang Ray berikan, Ella menginginkan sesuatu yang lebih. Entah apa itu? Ella pun tidak tau.
"Boleh kan?" tanya Ray yang sudah diliputi gairah.
"Boleh apa?"tanya balik Ella sembari menetralkan nafasnya.
"Kakak boleh kan? meminta hak kakak sekarang?"Ray menatap lekat wajah penuh kebingungan itu, mungkin Ell tidak mengerti apa yang dia ucap kan, pikir Ray.
Ella hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia tidak mengerti apa hak yang akan diminta Ray. Tapi karena dia merasakan kenikmatan yang di berikan Ray tadi, jadi dia menginginkannya lagi. Dia ingin Ray melakukan itu lagi kepadanya, mungkin inikah yang dinamakan hak yang diminta Ray, pikir Ella. Kalau iya dia akan dengan senang hati memberikannya.
Melihat Ella mengangguk, Ray pun langsung menyerang Ella kembali. Dia mulai mengecup kening, mata, pipi, lalu turun ke bibir mungil Ella, meraup bibir merah itu dengan rakus, menggigit kecil bibir itu agar dia terbuka. Setelah bibir itu terbuka Ray langsung menyusuri setiap rongga yang ada didalamnya.
puas bermain dengan bibir, dia beralih turun kebawah mengecup kuat leher jenjang Ella hingga meninggalkan bekas merah keunguan, Ella benar-benar terlena dengan permainan Ray, sampai dia tidak sadar kini tubuhnya sudah toples tanpa sehelai benang pun. Karena tangan nakal Ray berhasil membuka seluruh kain yang menempel di tubuh Ella sebelum si empunya sadar dan akan banyak pertanyaan yang keluar dari bibir mungil itu.
Ah!
Ella meleguh kenikmatan saat Ray menjilat tombol yang ada di dadanya. Tangan Ray juga ikut meremas daging yang kenyal nan lembut itu.
__ADS_1
"Kak Ray, kenapa baju aku di buka?" tanya Ella yang telah sadar bahwa dirinya sudah toples.
"Kan kakak mau minta jatah."Jawab Ray menjeda permainan nya, lalu menatap lekat mata istrinya yang nampak sayu.
"Hah, jadi yang di maksud jatah suami itu? ini.
?"Ella membalas tatapan Ray.
"Iya, Sayang." Bluss pipi Ella memerah, karena ini pertama kali nya Ray memanggil dirinya sayang.
"Bukannya, ini hak suami? kenapa jadi jatah?" tanya Ella bingung.
"Hak dan jatah itu sama aja. Intinya sama-sama nikmat."Jawab Ray tangan nya kembali bermain, kali ini dia bermain di lembah istrinya.
"Aku, malu." Ella menutup wajahnya saat Ray memandangi lembah miliknya.
"Biasanya juga malu-maluin." Canda Ray.
"Ih, kak Ray jahat. Aku mau ngambek aja." Ella merajuk dan hendak bangkit dari ranjang, karena kini posisinya sedang terlentang di atas ranjang.
"Eh, jangan-jangan. Kakak cuma bercanda tadi." Ray menahan tubuh Ella.
"Gak mau, pokonya aku mau ngambek," ucap Ella cemberut.
"Tapi, kak Ray gak boleh ngeledek aku lagi ya," pinta Ella.
"Iya, sekarang kita lanjut belah durennya ya." ucap Ray.
"Mana duren nya? aku suka banget duren kak Ray. Ayok cepetan belah, aku udah gak sabar makan duren." Ella melirik kesana kemari dengan wajah yang begitu semangat.
"Duh, salah ngomong gue." Ray menepuk jidat nya sendiri.
"Kalau gini terus, kapan kelarnya? mana si bonar udah meronta-ronta lagi."lirih Ray memandang kearah senjatanya yang masih tertutup bokser.
"Kak Ray, mana duren nya ih." Ella menepuk dada Ray.
"Durennya belum ada, nanti kita beli ya."Jawab Ray dengan memaksakan tersenyum padahal dia lagi kesel bingit.
"Gimana sih kak Ray, katanya mau belah duren. Tapi belum beli."gerutu Ella.
"Kal..." belum sempat Ella melanjutkan omongan nya, Ray sudah membungkam mulutnya, kali ini Ray tidak mau aktivitasnya tertunda lagi.
Ray kembali bermain di lembah milik sang istri. Dia memainkannya dengan lembut, dia juga mengobrak ngabrik isi di dalam lembah itu, hingga membuat Ella kembali meleguh kenikmatan.
__ADS_1
Cukup lama Ray bemain dengan gunung dan juga lembah yang begitu indah dipandang.
Hingga Ella merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam tubuhnya.
"A-ku mau pi-pis kak Ra-y, euh," ucap Ella terbata-bata.
"Keluarkan aja sayang, itu bukan pipis." ujar Ray yang mengerti apa maksud istrinya.
"Gak ma-u, ah. Aku nggak mau pipis di kasur ahhh."tubuh Ella bergetar hebat dia sudah melakukan pelepasan pertamanya.
"Hah..hah.. hah. kak Ray.. akunya.. pipis dikasur. eugh." ucapnya yang sedang berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Itu, bukan pipis." ucap Ray sambil membuka boksernya dan terpampanglah senjata yang sudah siap tempur.
"Wau, belalai nya jadi tongkat bisbol." Ella menatap lekat sesuatu yang berdiri tegak di hadapannya, lalu tangannya bergerak untuk menyentuhnya.
"Ternyata keras, tapi lucu ih, gemes juga."kini dia memainkan si bonar dengan kedua tangannya seperti bermain skusy.
"Ah!" desah Ray saat Ella mengelus-ngelus senjatanya dan juga dipencet-pencet seperti bermain sekusy.
"Kak Ray kenapa?"tanya Ella saat mendengar desah Ray.
"Kakak gak kuat!" ucapnya lalu mendorong Ella untuk berbaring.
"Ini akan sakit, tapi kamu tahan ya. Sakitnya cuma sebentar kok." sambungnya sembari memposisikan tubuhnya.
"Kenapa sakit?" tanya Ella bingung.
"Karna ini yang pertama buat kamu. Jadi akan sakit."Jawab Ray yang akan memulai ritualnya.
"Bukannya, yang sakit itu malam pertama ya? aku pernah denger dari temennya aku. Makan nya kemarin akunya gak mau tidur sama kak Ray, takut sakit."ujar Ella.
"Jadi, kemarin kamu gak mau tidur sama kakak, karna itu?"tanya Ray serius.
"Iya, tapi sekarang akunya udah gak takut lagi kok. Kan malam pertamanya udah lewat. Jadi gak bakalan sakit lagi, iya kan?"Jawabnya polos.
"Astaga maemunah, kalau tidur doang mah kagak bakalan sakit."
Maaf ya reader, author udah lama gak up. so'alnya author lagi kritis kouta. baru diisi, maklum lagi kangker😂
Jangan lupa tinggalkan jejak, like komen saran dan masukan nya ya. 💕💕
Vote juga biar authornya semangat💪
__ADS_1