Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Sebentar lagi


__ADS_3

Ray berjalan dengan tergesa-gesa mengdedor satu-persatu pintu kamar keluarganya, dari mulai orang tua, mertua hingga Satria pun tak luput ia bangunkan. Setelah semua orang keluar, merekapun berlarian menuju kamar Ella.


"Mih... Sakit," lirih Ella yang sedang meringis sembari mengelus pelan perutnya.


"Sabar sayang, kita akan segera kerumah sakit." Rina yang panik langsung memeluk puntrinya dan mengelus lembut perut Ella.


"Sat, siapkan mobil!" teriak Wina yang juga panik.


"Mobilnya dimana Tante?" Satria mendadak bleng.


"Didalam sumur! cepat Satria jangan bercanda!" geram Wina.


"Kok bisa ya, mobil masuk sumur?" Satria malah bermonolog.


"Satria cepat!" kali ini Andi yang berteriak.


"Iya, Pih. Tapi sumurnya dimana?" rupanya dia masih bleng.


"Ngapain ke sumur, Bangsat. Mobil ada di garasi, kenapa lu jadi oon sih!" Ray ikut geram.


"Ah, iya ya." Satria pun melangkah keluar.


"Pih," panggil Satria yang kembali masuk kamar.


"Apalagi?!" teriak Andi yang begitu panik saat melihat putrinya meringis kesakitan.


"Kuncinya?" cengir Satria.


"Di atas nakas, di kamar! cepat sana Bangsat!" Andi menjadi emosi.


"Iya, Pih. Jangan marah-marah mulu, nanti darah tinngi Papih naik, terus deat dah sebelum nimang cucu," ucap Satria kemudian ngacir keluar.


"Anak kurang asem!" kesal Andi.


"Tarik napas, sayang lalu keluarkan perlahan," ucap Wina pada Ella.


Ella pun menurutinya, dia menarik napas panjang kemudian di keluarkan. Ray yang panik malah mengikuti apa yang sang istri lakukan, dia menarik napas panjang dan di keluarkan perlahan, dia terus mengulanginya mengikuti Ella.


Dutttt


Suara kentut Ray menggelegar saat dia hendak mengeluarkan napas, tapi naas angin belakang pun ikut keluar.


"Maaf kelepasan," ucap Ray menahan malu.


"Astaga Ray, kamu ini,"Wina menggeleng.


" Aw, sakit banget Mam, hiks, kenapa makin sakit, huu."Ella semakin Meringis.


"Gimana ini Mam?" panik Ray.


"Cepat gendong! kita kerumah sakit!" teriak Wina.


"Akkhh, kenapa Mama di gendong Ray?" pekik Wina kaget karna Ray mengangkat tubuhnya.


"Tadi katanya gendong," Ray kalang kabut.


"Bukan Mamah Ray! tapi Ella!" Wina menggetok kepala Ray.


BRUKK,

__ADS_1


"Rayyyy!!" teriak Wina karna Ray menjatuhkan dirinya begitu saja.


Setelah menjatuhkan Wina, Ray pun langsung menggendong Ella ala bridal style dan membawanya keluar dari dalam kamar menuju garasi.


"Buka pintunya, Sat!" teriak Ray saat dia sudah dekat mobil.


Satria pun buru-buru membuka pintu belakang dan Ray segera memasukan Ella kedalam, saat Satria hendak keluar, tangannya di tarik oleh Ella sehingga dia masuk kedalam mobil kembali.


"Aw, sakit Dek!" pekik Satria saat Ella mencengkram erat tangannya.


"Abang sakitt!"ringis Ella.


"Sabar ya, abang bingung ini harus gimana." Satria duduk di sebelah kiri Ella, sementara Ray ada di sebelah kanannya, jadi posisi Ella di tengah dia di apit oleh kedua pria tampan.


"Sat, ayok cepet jalan," ucap Andi dari luar.


"Gak bisa, Pih. Tangan aku di jadiin pegangan si Ell! Papih aja yang nyetir!"teriak Satria.


Andi pun masuk kedalam mobil, dia duduk di kursi kemudi dan Rina di sampingnya. Untuk Wina dan Samsul, mereka pisah mobil karena tidak muat.


Ditengah perjalanan, suara sahutan teriakan antara Ray dan juga Satria terdengar begitu menggema, karena tangan dan kepala mereka dijadikan sasaran pelampiasan kesakitan Ella.


" Aduhhh, aghhh! Sakit, Dek!"pekik Satria kala Ella menggigit tangannya.


"Ya alah gusti, Dek lu mau berojolin anak apa mau berubah jadi vampir si, akhh!" Ella malah semakin kuat menggigit tangan Satria.


"Aghh, sayang! jangan keras-keras jambaknya, nanti kepala kakak botak!" Ray juga kesakitan karna rambutnya di jambak oleh sang istri.


"Kalian diem ih! kalian itu gak ngerasain sakitnya gimana! akh!" Ella juga berteriak karna kesal plus menahan sakit.


"Sabar sayang, jangan marah-marah. Nanti tenaga kamu habis pas melahirkan," ucap Rina dari depan.


"Abang diem!" Ella sekarang menjambak Satria.


"Astaga Dek, botak kepala gue dah! pan gak lucu pala atas bawah sama-sama botak!" pekik Satria.


"Aww, Mih masih lama ya ini?"keringat bercucuran membasahi wajah cantik Ella.


" Sebentar lagi sayang, sabar ya,"ujar Rina lembut.


"Boy, girl. Sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai." Ray mengelus lembut perut Ella setelah dia menyeka keringatnya.


"Sabar! sabar! kak Ray gak tau apa ini tu sakit tau!"ucap Ella ngegas.


" Iya sayang, kakak tau itu sakit. Tapi jangan marah-marah ya, nanti baby nya ketakutan dan gak mau keluar gimana?"Ray mengelus lembut rambut Ella yang telah di basahi oleh kringat.


"Maaf," lirih Ella sembari menahan sakit.


"Kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa. Stela kan kuat, strong." Ray menarik Ella kedalam pelukannya.


"Dek, nasib pala gue gimana ini? lepas dong Dek, nanti abang pitak, noh jambak aja rambut lakik elu," lirih Satria karena tangan Ella masih nangkring di kepalanya.


"DIAM!" bentak Ella yang membuat Satria menciut dan memilih diam, dia pasrah walau kemungkinan rambutnya rontok satu-persatu.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dirumah sakit, Ray langsung menggendong Ella keluar dari dalam mobil diikuti Satria juga orang tuanya. Sepanjang koridor rumah sakit Ray terus berteriak memanggil suster dan juga Dokter agar segera menangani istrinya.


"Ray jangan berteriak, Dokter Vivi sudah menyiapkan ruang bersalin Ella," ucap Samsul yang baru saja datang.


"Maaf telat, ayok pak Ray Ibunya di baringkan disini."ucap Dokter Vivi yang baru saja datang bersama para suster yang membawa berangkar.

__ADS_1


" Aku bukan Ibu-Ibu,"protes Ella yang sedang di baringkan oleh Ray di berangkar.


"Iya, lu bukan Ibu-Ibu tapi emak-emak," Satria ikut mendorong berangkar Ella menuju ruangan bersalin.


"Kalian bisa tunggu di luar dan untuk Pak Ray, anda bisa ikut mendampingi," ucap Dokter Vivi saat mereka sudah berada di depan ruangan bersalin.


"Baik, Dok."


Ella pun di dorong kedalam ruangan bersalin dengan Ray yang ikut serta, Ella semakin meringis menahan sakit ditambah dengan keringan yang bercucuran deras di keningnya.


"Dok, cepat keluarkan bayinya. Kasian istri saya kesakitan!" ucap Ray ngegas.


"Sebentar ya, pak. Ibunya harus di periksa dulu," ujar Dokter Vivi.


"Aku bukan ibu, ih Dokter." Lagi-lagi Ella protes.


"Iya, Adeknya di periksa dulu ya, apakah pembukaannya sudah sempurna." Dokter Vivi hendak menurunkan celana Ella.


"Jangan di buka Dok, aku malu. Lagian kenapa ada pembukaan segala? memangnya ini mau pentas," Ella menahan tangan Dokter Vivi.


"Kalo tidak dibuka, periksa nya gimana? melahirkannya juga gimana? buka ya, jangan malu, disini tidak ada pria." bujuk Dokter Vivi.


"Dokter rabun ya? kan kak Ray kan pria, aw," ucap Ella sembari meringis.


"Dia kan suaminya Adek, jadi tidak papa. Di buka ya?" Ella pun mengangguk.


Rasa sakit itu semakin mendera, membuat Ella semakin tidak kuat, dia terus berdo'a dalam hati dengan tangan yang menjambak kuat rambut Ray. Air mata bercucuran deras dari kelopak matanya, bukan karna sakit itu, melainkan karna mengingat sikapnya selama ini yang selalu membantah dan melawan sang Mamih, ternyata perjuangan seorang ibu amatlah berat, mempertaruhkan nyawa demi sang buah hati itu ternyata benar, kini dia mengalaminya sendiri. Ella sangat menyesal dengan sikapnya selama ini yang selalu membangkang ibunya.


"Pembukaannya sudah sempurna, kita atur posisi ya." Dokter Vivi mengatur posisi Ella untuk segera melahirkan.


Kain tipis sudah menyelimuti tubuh bagian atas Ella, Dokter Vivi juga sudah siap mengomando bersama para suster yang membantunya. Ray terus menggenggam tangan Ella sembari merapalkan do'a, sesekali dia juga mengecupi kening Ella.


"Tarik napas, lalu dorong ya, Dek." perintah Dokter Vivi.


Ella pun menurutinya, dia menarik napas panjang kemudian mendorongnya untuk mengejan.


"Eeeeuuuuugghhhh!"


Duttttttt,


Tripell upp loh, mana nih suaranya?😍😍😍


Kopinya dong buat menemani otor mengetik lagi sekalian vote ye, banyak minta ya otor. Like dah kalo gitu jangan pelit jempol😘


Kepoin juga nyok cerita ini, ceritanya seru and bisa bikin kalian baper, gereget dan esmosi menjadi satu. Penasaran cuus tengok ya😎


Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.


Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.


Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."


Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.


Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?


Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau


Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?

__ADS_1



__ADS_2