Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Panik,


__ADS_3

Tak terasa kini usia kandungan Ella sudah memasuki usia kesembilan bulan, langkahnya kian tertatih karena perutnya semakin membesar. Ray juga semakin over protektip dia tidak memperbolehkan Ella melakukan aktipitas apapun selain makan, mandi dan juga berolahraga. Ray selalu siap siaga menemani sang istri karena takutnya Ella mengalami kontraksi saat dia di tinggal sendiri. Dokter kandungan Ella mengatakan Hpl Ella tinggal menghitung hari saja, maka dari itu keluarga Ray maupun Ella selalu siap siaga berjaga, bahkan Satria dan juga kedua orang tuanya pun kini tinggal di rumah Ray karena mereka juga ingin menjaga Ella.


"Huaaa, kenapa kaki aku makin gede sih? gimana ini? kenapa kakinya jadi endut begini?" pekik Ella saat dirinya sedang berkumpul bersama keluarganya di taman belakang.


"Nanti bakal kecil lagi kok, kalo udah ngelahirin," hibur Ray.


"Iya, Ell. Sebagian ibu hamil memang mengalami hal seperti itu, Mamih juga pas hamil kamu kakinya juga bengkak sama," ucap Rina.


"Tapi kaki aku jadi jelek, Mih. Endut lagi," rengek Ella.


"Lu pikir kaki lu doang yang gendut, noh liat badan lu juga gede kayak ikan buntal menggelembung. Apalagi pipi lu, kek sumo tau kagak, begini nih." Satria menggelembungkan pipinya supaya tembem menyerupai pipi Ella.


"Mihh, liat tuh Abang! masa dia ngeledekin aku mulu," adu Ella pada sang Mamih.


"Dasar kang ngadu," cibir Satria.


"Dasar Abang jomblo," balas Ella.


"Eits, gue gak jomblo lagi ya, gue udah punya ayang. Blee." Satria merangkul Dalina yang berada disampingnya.


"Belum juga nikah, di embat orang baru tau rasa," cebik Ella.


"Lu, ya. Dasar adek luknut. Do'ain abangnya yang bener napa," gerutu Satria.


"Sudah-sudah, kalian ini ribut mulu kayak anak kecil aja. Kamu juga Sat, udah dewasa masih aja suka jailin adek kamu!" lerai Rina dengan menatap tajam kedua anaknya.


"Abang yang mulai, Mih," bela Ella.


"Apasih, kenapa nyalahin gue coba?" Satria tidak Terima.


"Sat, Ell. Sudah jangan berantem terus. Gak malu apa banyak orang." Andi ikut angkat bicara.


"Gak papa Ndi, mereka lucu loh meskipun ya gitu suka ribut. Tapi membuat suasana rame, Ray juga kalo punya adik mungkin gitu kali ya," ucap Wina.


"Pusing Win, kalo setiap hari denger mereka ribut. Apalagi dulu pas masih satu rumah, ya ampun telinga rasanya udah kek mau pecah," ujar Rina.


"Itu 'kan karna suara cemprengnya si Markonah, bukan karna aku," delik Satria.

__ADS_1


"Aw," suara ringisan Ella membuat perhatian mereka tertuju padanya.


"Kenapa sayang?" Ray langsung melihat sang istri dengan wajah yang panik.


"Perut kamu sakit 'Nak?" Andi menjadi ikutan panik.


"Perut kamu kontraksi, sayang?"Wina juga tak kalah panik.


" Apa kamu mau melahirkan? ayok sekarang kita kerumah sakit."Rina menjadi kalang kabut.


"Bayi nya mau berojol ya, Dek? cepet dah abang gendong sini keburu brojol disini." Satria berjongkok di hadapan Ella.


"Eh, Bangsat. Mana ada orang mau ngelahirin di gendong belakang, tu perutnya gimana ngeganjel, bayi gue juga kejepit dodol!" gerak Ray.


"Ah, salah ya. Terus di gendong dimana?" Satria jadi gagal fokus.


"Di dengkul!"ucap Ray yang hendang menggendong sang istri.


" Kalian kenapa sih? kak Ray juga, kenapa aku mau di gendong?"heran Ella yang tengah memperhatikan orang-orang yang tengah panik itu.


"Tadi perut kamu sakit 'kan, Ell?" Rina menatap lekat sang putri.


"Enggak, orang tadi aku meringis karna kaki aku kesemutan," ucap Ella polos.


"Jadi, lu bukan mau ngelahirin, Dek?"


"Bukan." Ella menggeleng.


"Sia-sia gue pasang punggung, eh taunya cuma kesemutan. Sekalian aja kegajahan, atau gak ke ontaan kek," gerutu Satria sembari melangkah pergi.


"Mama pikir kamu mau ngelahirin, Ell. Kita udah panik setengah mati, Ell." Wina kembali mendudukan bokongnya disopa.


"Belum waktunya, Mam. Nanti juga kalau sudah waktunya pasti melahirkan," ucap Samsul.


"Mama udah gak sabar pengen nimang cucu kita," Wina bersandar di bahu Samsul.


"Papa juga." Samsul mengelus pelan surai sang istri.

__ADS_1


"Kak Ray, aku laper," rengek Ella.


"Kamu mau makan apa, hm?" Ray mengecup kening Ella sekilas.


"Aku mau ayam goreng krispi, tapi dimasakin sama Papih dan juga Papah ya," ucap Ella.


"Papih masak, Ell?" tanya Andi memastikan.


"Papa, juga?"ucap Samsul yang di balas anggukan kepala oleh Ella.


" Papih gak bisa masak, Ell."Andi memelas.


"Papih kamu bisanya ngadon, sayang. Mamih aja ya, yang masak. Nanti kamu keracunan lagi," tawar Rina.


"Gak mau, berudunya pengen masakan Papih sama Papah. kalo enggak, kalian gak bakal di anggap kakek sama mereka!" ancam Ella.


"Eh, jangan. Iya Papih masakin, ya." Andi langsung ngacir ke dapur.


"Papah juga, Ndi tunggu!" Samsul berlari menyusul Andi.


Tripel, up. Mana nih suaranya biar otor up lagi😘😘😘😘


Mampir sini yuk, cerita ini bagi penyuka genre horor. Dijamin ceritanya bagus, seram dan juga penuh misteri, buat penyuka tantangan, yuk kepoin, di jamin seram abis dan juga penuh teka-teki.


Judul : Misteri kematian Renata.


Napen : Anisa mufida.


Renata adalah hantu yang ingin menuntut balas akan kasus kematian tragis yang di alaminya setelah di bully dan di lecehkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia meminta bantuan kepada seorang gadis indigo penakut bernama Fanya.


Akan kah Fanya berhasil membantu nya?


Ikuti terus kisah mereka hanya di


*Misteri Kematian Renata*


__ADS_1


__ADS_2