
"Kak Ray darimana? Kok lama?" Suara mengintimidasi sang istri langsung menyambutnya ketika Ray baru saja tiba di rumah sakit.
"Kakak ada urusan sebentar." Ray mendudukan tubuhnya di tepi ranjang perawatan sang istri.
"Urusan apa? Kenapa bajunya sampe di ganti? Perasaan pas pergi kak Ray bukan pake baju yang ini deh," cerocos Ella menginterogasi.
"Kan di baju kakak banyak darah kamu, Sayang. Jadi kakak ganti," jawab Ray.
Memang ketika pergi tadi bajunya terdapat banyak sekali darah Ella, Ray menggunakan alasan itu bukan tidak mau jujur terhadap istrinya namun untuk berbicara padanya saat ini tidak mungkin karena di sana ada orangtuanya.
"Oh gituh, iya deh. Em, kak Ray, kapan aku pulang?" tanya Ella sedikit merengek.
"Kondisi kamu belum pulih betul, Sayang. Jadi kamu harus di rawat beberapa hari dulu di sini," ujar Ray.
"Si kembar gimana? Kasian mereka di tinggal," ucap Ella murung.
"Si kembar biar, Mamah sama Papah yang jaga. Kamu fokus aja sama kesehatan kamu dan juga calon cucu baru, Mamah ya," sahut Wina yang berada di samping kiri Ella.
"Bener itu, biar kami pulang jagain si kembar. Kamu istirahat di sini. Jaga calon cucu baru, Papah," tambah Samsul.
"Yaudah deh, nitih mereka ya, Mah, Pah. Jangan sampe lecet," peringat Ella.
"Iya iya, yaudah kami pulang dulu ya, Sayang," pamit Wina mengusap lembut kepala Ella.
"Iya, Hati-hati di jalan."
Setelah orang tua Ray pergi. Ella langsung melayangkan tatapan tajamnya kepada sang suami. Ray yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Ia tau istrinya itu tidak bisa di bohongi.
"Kenapa, hm?" Ray pura-pura tidak mengerti.
"Jelaskan semuanya jangan ada yang terlewat," ucapnya penuh penekanan.
"Iya, Sayang. Jadi----"
"Aduh Ell, kenapa lo bisa sampe kayak gini. Mana yang sakit. Jalannya nggak pa-pa 'kan tadi? Nggak retak 'kan?" suara menggelegar David membuat ucapan Ray terhenti.
Duo curut itu memang ikut ke rumah sakit bersama Ray namun begitu sampai mereka berdua pergi ke kantin terlebih dahulu.
"Eh, Bage! Ngomongnya bisa pelan kagak? Ini rumah sakit bukan lapangan!" sentak Ray.
"Iya iya, gue tau ini rumah sakit. Tapi mau gimana lagi? Gue ini cemas Ray cemas. Lo tau nggak cemas?" David menarik kursi bekas Wina duduk tadi kemudian dia duduk di sana.
"Iya tau, kang pecel depan komplek," jawab Ray asal.
"Itu ceu Imas! Dodol."
"Ngganggu aja kalian ini," ucap Ella kesal.
"Waduh! Kayaknya kita datang di waktu yang tepat ini. Kalian mau nganu ya," tebak David.
"Dasar Dumes! Masa iya nganu di rumah sakit." Delik Ella.
"Apaan Dumes?" Kening David mengerenyit.
__ADS_1
"Duda omes!" jawab Ella.
"Nama panggilan yang bagus, Ell. Jadi mulai sekarang kita panggil lo, Dumes," sahut Ragil.
"Serah!" David memutar bola matanya malas.
"Ngomong-ngomong si bangsat kok nggak kesini? Apa dia nggak tau lo di rawat?" tanya Ragil.
"Dia emang nggak tau dan nggak usah di kasih tau," ujar Ella.
"Lah kenapa? Dia kan abang lo."
"Gue udah nggak pa-pa ini."
"Kak Ray, lanjutin." Ella menatap ke arah Ray.
"Astaga! Kita ini orang loh, Quin cantik. Masa kalian mau lanjutin nganu? Nggak kasian sama kita yang jones ini," ucap David memelas.
"Lo aja kali, gue kan bukan jones," koreksi Ragil.
"Ya, ya, ya. Hanya gue yang jones."
"Jones dan omes lo mah, Dave. Orang gue mau nanyain darimana kak Ray? Dan apa yang terjadi? Gue yakin kalian juga tau dan mungkin turut serta," ucap Ella dengan tatapan tajamnya.
"Jelaskan!" lanjutnya tak ada bantahan.
"Lo jelasin, Dave," pinta Ray.
"Yaudah, lo, Gil."
"Kenapa gue?" Ragil protes juga.
"Yaudah, lo aja, Bok." Ray menghadap ke tembok.
"Ide bagus," seru Ragil dan David bersamaan.
"Jelasin nggak!" Suara Ella begitu menggema.
"Eh, iya, Ell. Kita jelasin," ucap David cepat.
"Buruan sebelum kepala lo lepas!"
"Iya, lagi sakit masih aja galak! Dasar ratu singa," gerutu David.
"Dave!"
"Iya, jadi kita itu habis bertarung sama si Langit mendung," ujar David.
"Siapa Langit?" Ella mengerenyit kan keningnya.
"Kakaknya si Sesil, temen kampus lo dulu," jawab David.
"Sesil Gautama?"
__ADS_1
"Iya."
"Terus kenapa kalian berantem sama dia?"
"Karena dia entu dalang di balik ke celakaan lo ini. Sebenarnya yang dia incer itu sih, si Ray. Karena si Ray eni penyebab kematian adeknya. Semacam balas dendam gitu lah," jelas David.
"Bukan semacam lagi, emang dia balas dendam," sahut Ragil.
"Tapi kan ini nggak sepenuhnya salah Kak Ray, Sesil juga salah. Andai aja dia nggak punya niat jahat mulu, pasti dia masih hidup," ucap Ella.
"Kamu tau?" tanya Ray seketika.
Ella terlihat menarik napas panjang.
"Ya, aku tau. Kamu ngasih pil yang di dalamnya udah di tanam chip kan? Dan chip itu bisa merusak seluruh saraf Sesil kalau dia terus berpikir ingin menyakitiku," jawab Ella.
"Iya, kakak pikir kamu nggak tau."
"Stela selalu tau. Dan aku juga tau, kalau sebenarnya Sesil itu anak tunggal Gautama," ucap Ella.
"Anak tunggal? Bukannya si Langit itu abangnya?" tanya David kaget.
"Cuma abang angkat. Jadi dulu itu ayah dan ibunya Sesil susah punya anak. Mereka memutuskan untuk mengadopsi anak saja, tepat saat usia Langit 10 tahun, barulah mereka di karuniai keturunan yaitu Sesil. Tapi sayang, setelah mereka tumbuh dewasa, lebih tepatnya saat Sesil remaja. Langit berulah, entah kenapa dia sampai hati memperk**sa Sesil? Sampai Sesil hamil. Dari sanalah orang tua Sesil membenci Langit dan mengusirnya dan Langit pindah ke New York. Dia membangun gangster di sana untuk satu tujuan," tutur Ella panjang lebar.
"Satu tujuan? Apa itu? Kenapa lo yang lebih banyak tau tentang mereka. Padahal gue udah mati-matian jadi detektif abal-abal," kata David.
"Tujuannya yaitu merebut Sesil dari keluarganya dan membawanya pergi jauh. Langit mencintai Sesil. Tapi sayang, saat dia kembali ke indo. Ternyata Sesil udah metong," jelas Ella.
" Kok dari penelusuran gue dia tau dari 3 tahun lalu dan nyari tau tentang siapa pembunuh si Seli? Lalu bayinya? Bukannya Sesil hamil?" tanya Ragil.
"Lo nggak bakat jadi detektif, orang dia taunya baru-baru ini pas dia balik ke indo. Kalo Bayinya nggak ada, karena kan pas hamil di gugurin," jawab Ella.
"Sumpah gue bingung, lo kok bisa tau semuanya? Berarti ke datangan Langit dan rencananya buat ngelenyapin si Ray. Lo tau juga dong?" tebak David.
"Ya, gue tau. Dan saat kejadian di kantor itu gue udah memperhitungkan dengan baik. Tapi yang terjadi tak sesuai ekspetasi. Gue nggak tau kalo gue lagi hamil. Kalo nggak hamil nggak akan jadi kayak gini. Biasanya gue lompat dari atap juga nggak pa-pa," ujar Ella.
"Iya, lo nendang pintu aja sekali gebrakan roboh. Tapi kondisi lo udah beda. Sekarang lemah," ejek Ragil.
"Enak aja, gue masih kuat ya. Kalo nggak percaya, sini gue patahin pala kalian berdua," perotes Ella.
Ceklek!
Pintu ruangan Ella terbuka, membuat obrolan mereka terhenti.
"Ell, kamu nggak pa-pa?"
Deg!
Hayoo, jantung siapa itu???
Cerita ini menarik deh guys, alurnya nggak bertele-tele jadi nggak ngebosenin. Bikin betah dan bikin nagih. Coba aja kalo nggak percaya 👇
__ADS_1