Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
kelakuan Zura


__ADS_3

Tanpa terasa lima bulan sudah Ella menjalani magang di kantor Ray, itu artinya tinggal satu bulan lagi dia akan menyelesaikan tugas mangnya. Ella dkk menjalani hari seperti biasanya, bekerja, jalan-jalan kadang juga Ella dan Dela turut serta membawa anak mereka.


"Hari ini kakak ada peninjauan proyek di luar, Sayang," ucap Ray saat mereka memasuki gedung perusahaan.


"Kemungkinan makan siang nanti, Kakak makan di luar," sambung nya.


"Berati nanti makan siangnya nggak bareng aku?" Ella bergelayut manja di lengan Ray yang berbalut jas, Ella sudah tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraan di depan para karyawan.


"Iya, Sayang. Maaf ya, nanti kakak nggak bisa nemenin kamu makan siang," kata Ray dengan rasa bersalah.


"Nggak pa-pa kok. Aku kan bisa makan bareng Dedel dan Kia."


Ray mengusak pelan pucuk kepala Ella saat mereka sudah sampai di depan ruang divisi.


"Masuk sana."


"Iya."


"Jangan nakal." Ray mengecup lembut kening sang istri.


"Mana ada aku nakal? Udah ah sana masuk ke ruangan." Ella mendorong tubuh kekar Ray.


Setelah Ray pergi, Ella bergegas masuk ke dalam ruangan divisi. Bekerja seperti biasanya namun kali ini tubuhnya terasa tidak enak, mungkin masuk angin pikirnya.


"Kamu kenapa, Ell?" tanya Rafa teman satu divisi Ella saat melihat Ella menyandarkan tubuhnya di kursi sembari memijat tengkuknya.


"Nggak pa-pa kok, Raf," jawab Ella yang kembali meneruskan pekerjaannya.


"Yakin? Kalau kamu sakit istirahat aja, nanti pak bos marah," ucap Rafa.


"Aku nggak pa-pa, Raf. Ciusan deh." Ella berusaha untuk kembali ceria.


"Ya udah, kalo ada apa-apa bilang ya."


"Ok."


Waktu terasa berjalan denga begitu lambat, Ella terus menggeruru karena sudah tak sabar ingin menuju kantin. Sampai jam makan siang tiba, dia segara berjalan menuju ke kantin dengan tergesa-gesa.


"Wiss! Tumben nih ibu bos udah ngejogrog di mari," tegur Dela saat dirinya baru memasuki kantin dan mendapati Ella sedang menikmati satu mangkuk soto panas.


"Laper gue," jawab Ella tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tumben pesen soto?" Kiana mendudukan tubuhnya di samping Ella.


"Lagi pengen aja."


"Biasanya juga bakso," ujar Kiana.


"Bosen bakso mulu, gue juga takut bulet kek baksonya. Ntar nge gelinding gimana?" Ella yang sudah selesai makan pun mendongkak.


"Bagus lah, biar pas Zam gede, terus di pengen main bola. Dia nggak perlu beli bola lagi, kan ada mimomnya yang bulet," ucap Dela.


"Zam jarang maen bola, dia lebih suka mancing," terang Ella.


"Mancing apaan nih?" tanya Dela.


"Ya, mancing ikan lah. Mancing apa lagi?" Sewot Ella.

__ADS_1


"Kali aja mancing keributan kayak emaknya." Dela terkekeh.


"Asem bat lo, Del." Ella menepuk pelan bahu Dela.


"Oh ya, Ell. Waktu itu pas temen SMA lo ngasih undangan reuni, lo dateng nggak?" tanya Kiana.


"Nggak, males," Jawab Ella.


"Males apa karena ada, Nando?" goda Dela.


"Apaan sih, gaje." Delik Ella.


"Gue penasaran deh, Ell. Sebenarnya, lo sama, Nando itu ada masalah apasih? Keliatannya lo benci banget ya, sama Nando?" tanya Dela penasaran.


"Nggak ada apa-apa kok, itu perasaan lo aja," jawab Ella namun terlihat meragukan.


"Lo nggak mau jujur sama gue?" Dela sedikit sewot.


"Nggak pantes banget lo pake elo gue. Udah aku kamu aja." Ella mengalihkan pembicaraan.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, gue juga pengen gaul kali. Mumpung masih anak kuliahan," ucap Dela.


"Ella tu pinter ngeles kayak bajai," sahut Kiana.


"Bener, Ki. Padahal dia nggak pernah ikut les. Tapi kenapa kerjaannya ngeles mulu ya?" Dela terlihat seperti orang berpikir.


"Ok, ok. Besok kan weekend. Jadi besok kalian dateng ke rumah gue dan gue bakalan ceritain semuanya," putus Ella.


"Ok, besok gue ke rumah lo bawa, Gala," seru Dela semangat.


"Wkwkwk, biarin aja, Ell. Siapa tau anak kita beneran jodoh." Dela malah tertawa senang.


"Kalo anak elo yang ngejar sih nggak pa-pa, ini masalahnya anak gue. Ya Tuhan, kenapa anak gue jadi kecentilan gini dah? Perasaan dulu emaknya kalem." Ella menarik napas panjang.


"Kalem apanya? Eh oneng! Lo juga centil ya," sarkas Dela.


"Kapan gue centil coba?" Cebik Ella.


"Pas pertama masuk kampus, pak Ray kan nyuruh nanya tentang pelajaran. Eh elu malah maen tanya nama dia. Omg! Kalo inget itu gue pen ketawa. Nama bapak dosen siapa?" Dela menirukan gaya bicara Ella sewaktu belagak pilon.


"Diem deh! Lo kesini mau makan apa mau ngerecokin gue si?" kesal Ella.


"Dua-duanya!"


*****""""****"*********


Ke esokan harinya, Kina dan Dela benar-benar datang ke rumah Ella. Bahkan mereka datang sangat pagi sekali dan berakhir numpang sarapan. Galau pun turut serta di bawa oleh Dela sehingga membuat Zura senang tidak kepalang. Sedari tadi Zura terus saja menempel pada Galau, bocah centil berusia 3 setengah itu terus saja menggoda Gala yang usianya lebih tua sedikit dari Zura.


"Gagal, mau ini ndak?" Zura memperlihatkan satu buah permen dari saku celananya.


"Nggak," jawab Gala singkat.


"Napa? Kan ini enak," ucap Zura sedih.


"Permennya keriput," ujar Gala.


"Endak iput, Gagal. Ini bagus kok." Zura memandangi permen yang sepertinya dalamnya sudah lengket.

__ADS_1


"Itu, bungkusnya udah jelek. Nggak layak konsumsi, mending kamu buang deh," ujar Gala.


"Sayang Gagal, ndak boleh buang. Mubadil," ucap Zura.


"Ya udah, biar nggak mubazir, kamu makan aja sendiri," kata Gala.


"Ndak mau." Zura menggeleng.


"Kenapa?"


"Pemennya udah lama, ini kayaknya ke cuci mulu di saku, jadi gini. Zua ndak mau mam. Atut akit," ujar Zura.


"Terus kenapa kamu kasih ke aku?" Gala memutar bola matanya jengah.


"Kan kalo Gagal yang makan, yang sakitna Gagal bukan aku. Jadi ndak pa-pa," ucap Zura tanpa dosa.


"Anak ini." Ella menggeleng kan kepalanya saat mendengar obrolan kedua bocah itu.


"Nggak mau rugi," timpal Dela.


"Biar nggak mubazir katanya? Iya sih permen nya kemakan, tapi tetep kalo berujung di rumah sakit nggak lucu. Demi makanan biar nggak ke buang, sampe ngorbanin kesehatan," ucap Kiana.


"Pemen bukan makanan, Ate. Kan pemen nggak di kunyah," celetuk Zura yang ternyata menyimak obrolan mereka.


"Kalo bukan makanan, terus apa dong? Kan minuman juga bukan?" bingung Kiana.


"Emutan, Ate. Kan pemen di **** bukan di kunyah," ujar Zura.


"Tapi kan masuk ke perut juga, itu artinya termasuk makanan," kekeh Kiana.


"Munum juga masuk ke peut, tapi ndak di sebut makanan tuh," kata Zura.


"Iya juga ya, terus eskrim juga apaan dong? Kan eskrim nggak di kunyah juga, di minum juga enggak."


"Ekim jilatan, Ate. Pemen emutan, Ate. Kalo Ate Kia, kalatan," jawab Zura polos.


"Kok karatan?" heran Kiana.


"Buahaha, lo karatan katanya Ki." Dela tertawa puas.


"Soalnya Ate, nggak di alalin mulu sama, Om Gigil. Jadi kalatan deh," celetuk bocah bawel itu.


"Buahaha, makannya buruan halalin biar nggak karatan, Ki." Kali ini Ella yang tertawa.


"Zuraaa! Nggak emaknya nggak anaknya. Sama aja bikin kesel," gerutu Kiana.


"Gosok aja, Tan. Biar karatnya ilang," sahut Zam si bocah pendiam.


"Di pikir Tante cantik ini pantaatt wajan apa? Pake di gosok segala. Ni bocil jarang ngomong, sekalinya ngomong bikin darting," dumel Kiana semakin kesal.


Jejak 😘


Otor punya rekomendasi novel bagus nih, ceritanya seru nih, nggak bikin bosen lagi. Jangan lupa kepoin, ceritanya keren abis, di jamin bakal betah😍



__ADS_1


__ADS_2