Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Markas Black Wolf.


__ADS_3

Semua persiapan telah Ella kemas, dari mulai baju ganti racun dan juga senjata andalannya. Dia juga membawa busur, jaket anti peluru dan juga sarung tangan transparan yang membuat dia bisa menangkap peluru tanpa terluka.


"Stok asi udah banyak, Sayang?" tanya Ray yang sedang memakai sepatu.


"Udah," jawab Ella singkat.


"Gak ada yang ketinggalan kan?" Ray bangkit dari duduknya.


"Gak." Ella menggeleng kemudian mereka melangkah keluar dari kamar.


Sampai di luar mereka langsung berpamitan pada orang rumah, setelah itu melangkah pergi ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Satria menunggu. "Cepet amat lu, takut di tinggal ya?" Ray yang sudah masuk dan duduk di kursi kemudi menatap sekilas Satria yang duduk di kursi belakang.


"Jalan cepet, anak orang keburu mati nanti," ketus Satria.


"Abang udah izin sama Kadal kan?" tanya Ella.


"Udah, bukan hanya sama Kadal, tapi sama semut, tikus, kodok. Gue juga izin," cebik Satria.


"Baguslah, berarti keluarga Abang gak bakal nyariin kalo udah di kasih tahu," ucap Ella.


"Apa?" Satria nampak melotot.


"Maaf Bang, aku lupa. Abangkan Bangsat, jadi bukan spesies hewan. Tapi spesies maling," cengir Ella.


"Gue gak ngasih tahu keluarga gue, karna pas gue berangkat kang tahu masih pada tutup. Adanya kang bubur. Iya, gue spesies maling. Ntar lakik lo gue gondol terus ceburin ke kolam janda." Satria menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam.


"Emang ada kolam janda, Bang?"


"Abang!" Panggil Ella.


Ella menengok ke belakang. "Pantes gak nyaut, rupanya dia tidur."


"Biarin aja, Sayang. Dia pasti ngantuk, semalam kan dia kurang tidur karena hawatir sama kamu," ucap Ray yang sedang menyetir.


**********


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di markas AOD, Ella langsung turun untuk mengecek persiapan dengan di ikuti oleh Ray.


"Sudah lengkap semua?" Ella menilik barang bawaan, anggota dan juga tenaga medis.


"Sudah, penawar racun sekaligus racun pelumpuh kita bawa dalam jumlah yang banyak," ujar Ragil.


"Bagus, kita berangkat sekarang. Helikopter nya sudah di siapkan bukan?" tanya Ella.


"Sudah, kita tinggal berangkat saja dengan beberapa helikopter."


"Tolong kamu bangunkan abangku di mobil, suruh dia segera menyusul." Ella berjalan menuju halaman belakang di mana semua helikopter di siapkan.


Kenapa memakai helikopter sebagai alat transportasi? Karena medan menuju kesana sangat terjal dan juga berliku. Mobil tidak akan bisa melewati jalanan itu, selain terjal jalanan menuju kesana juga tidak ada jalan untuk kendaraan, hanya ada jalan setepak di tengah hutan belantara yang begitu lebat.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di tengah hutan penghubung ke kaki gunung di mana markas BW berada, mereka langsung turun dari helikopter dengan menggunakan se utas tali. Para anggota dan juga tim medis juga ikut turun dengan membawa ransel besar dan juga alat komunikasi.


"Berhati-hatilah, kita harus saling menjaga jangan sampai ada yang terpisah," ucap Ella sebelum mereka memulai perjalanan.

__ADS_1


"Baik Quin," jawab para anggota.


"Kenapa kita turun di sini? Kenapa gak di depan markas mereka aja si? Kan capek kudu jalan lagi," gerutu Satria.


"Eh abang yang paling pinter sejagat, kalo kita turun di depan markas langsung. Itu namanya kita bunuh diri. Kita kan gak tau jebakan apa yang mereka pasang di sana, maka dari itu kita turun agak jauh dari markas supaya kita bisa lebih berhati-hati dan juga menghindari jebakan," jelas Ella.


"Caranya?"


"AOD punya sebuah alat pendeteksi jebakan maupun racun dari jarak jauh, kita cukup menempelkan alat ini ke tanah sepanjang perjalanan. Jika alat ini mengeluarkan sinar kuning, itu artinya ada bahaya tapi belum terlalu dekat. Jika merah, bahayanya sudah semakin dekat, dan hitam. Kita berada di posisi bahaya itu," tutur Ella sembari memperlihatkan sebuah alat berbentuk tongkat berwarna silver.


"Terus, bagaimana caranya kita tau bahaya apa yang mengintai?" tanya Satria lagi.


"Jika ada racun misalnya, alat ini akan berbunyi. Racun terdeteksi. Yang lainnya juga begitu."


"Ok lah, cus kita jalan sebelum temen lo mereka jadiin santapan," ucap Satria.


"Emang mereka kanibal," delik Ella.


"Mana tau mereka kelaparan, di sini kan gak ada warung apa lagi resto."


"Kan banyak hewan buas yang bisa mereka makan."


"Yang ada mereka di makan duluan, Dek."


"Hati-hati, Sayang. Jalannya licin." Ray segera menggenggam tangan Ella.


"Itu dia markasnya sudah terlihat," ucap Ragil.


"Memang luarnya gua, tapi di dalamnya mungkin saja istana," ujar Ragil.


"Tongkatnya nyala Dek!" pekik Satria.


"Itu artinya ada bahaya, ayok kita jalan lagi."


Mereka berjalan kembali menyusuri semak belukar dan juga ilalang liar yang cukup tinggi. Untung saja mereka memakai pakaian serba panjang dan juga tebal plus anti peluru, jadi kulit mereka tidak tergores ranting maupun ilalang. Bahkan Ella sudah mengenakan sarung tangan transparan anti pelurunya sedari mereka berada di helikopter supaya pas ada tembakan tak terduga dia bisa langsung menangkapnya.


"Kita semakin dekat dengan bahaya." Ella melihat alatnya berwarna merah.


"Kalian semua berhati-hatilah, jangan memegang benda maupun tumbuhan apapun ok. Aku yakin semua tumbuhan di sini sudah mereka bubuhi racun." Peringat Ella.


"Siap Quin."


"Racun AQT terdeteksi."


"AQT, rupanya mereka sangat ahli," gumam Ella.


"AQT? Kenapa namanya begitu asing?" heran Ray.


"Aku juga tidak pernah mendengar jenis racun itu," tambah Ragil.


"AQT adalah sejenis racun yang bisa membuat kulit melepuh hanya dengan tergores sesuatu yang telah terkontaminasi racun itu. Bahkan lebih parahnya, racun itu bisa membuat daging dalam tubuh kita mengelupas," ujar Ella.


"Ngeri banget, jangan sampe gue kena. Gak lucu pulang dari sini tinggal tengkorak, auto di lempar Bebeh Lina, gue." Satria bergidig.

__ADS_1


"Hitam, artinya kita sudah berada di area beracun. Lihatlah tanaman di hadapan kalian, yang berwarna hijau tua, itu artinya bersih dari racun, yang hijau muda agak kuning. Itulah tanaman yang beracun, jadi usahakan kalian jangan menyentuh tanaman itu."


"Baik Quin."


Ella berjalan dengan mengendap-ngendap, pelan dan juga hati-hati. Begitu juga dengan yang lainnya. Hingga akhirnya mereka sampai di depan gua yang begitu kumuh dan juga kotor.


"Sepertinya ada yang mendekat, bersiaplah!" Peringat Ella.


"Siapa kalian?" teriak dua orang pria dengan di penuhi tato di tubuhnya.


Dorr!


Dorr!


Dengan cepat Ella menembak dua orang itu di bagian jantungnya hingga tewas seketika. "Mempersingkat waktu." Ella melangkah mendekati pintu gua.


"Pintu ini di aliri tenaga listrik, bila kita menyentuhnya kita akan mati terpanggang." Ella melihat ada percikan api di pintu gua itu.


"Lalu bagaimana?" tanya Ragil.


"Bukan perkara yang susah." Ella terlihat bersiap.


"Kamu mau apa, Sayang?" Ray terlihat hawatir.


"Mendobrak pintu ini, kalian mundurlah, nanti percikan api listrik ini akan mengenai tubuh kalian. Separuh anggota, berjagalah di pintu belakang, takutnya mereka melarikan diri," ucap Ella sembari memakai topengnya.


"Siap laksanakan, Quin." Beberapa orang anggota berjalan ke arah pintu belakang gua yang di tunjuk oleh Ella.


"Kamu juga mundur," ucap Ella pada Ray yang masih berada di belakangnya.


"Tapi kamu gimana? Ini bahaya?" Ray terlihat begitu cemas.


"Ini belum seberapa dengan apa yang ku lakukan dulu." Ella tersenyum misterius.


"Mundurlah!"


"Mundur Ray!" Satria menarik Ray.


Brakkk!!


Ella menendang pintu gua sampai hancur dengan percikan listrik yang kini berkobar menjadi api yang cukup besar."Padamkan Gil."Ella melirik Ragil kemudian melenggang masuk kedalam gua melewati kobaran api.


"Sumson, come back!" Pekik Satria.


"Apaan sumson?" tanya Ragil yang tengah mengeluarkan sebuah alat.


"Sumo Samson," jawab Satria, sementara Ray hanya diam mematung. Ternyata dia masih belum mengenal jauh istrinya, pikir Ray.


Jejak😘


Nih, otor gemoy punya rekomendasi cerita bagus lagi, asik dan gak kalah seru dari yang kemarin otor rekomendasiin. Gak percaya, coba aja👇


__ADS_1


__ADS_2