Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
kedatangan Adik Galang


__ADS_3

Setelah semua kerusuhan di kampus aman terkendali. Ray membawa Ella pulang, sebelumnya dia sudah mengobati tangan Ella yang terluka di mobil. Untuk Misya, dia sepertinya masih tidak Terima dengan semua ini. Terbukti setelah Ella berbicara tadi, Misya langsung pergi begitu saja. Namun Ray tidak tingal diam, seperti biasa, dia akan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi orang yang menurutnya mencurigakan. Apakah Ray curiga dengan Misya? Tentu saja, terlihat dari gerak-geriknya saja sudah beda.


"Kamu mandi dulu, ya. Kakak mau ngambil makan dulu buat kamu," ucap Ray setelah mereka berada di kamar.


"Ok." Ella berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Ella sudah selesai mandi dan Ray sudah kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan juga segelas air putih.


"Makan dulu, ya. Kakak suapin." Ella mengangguk sebagai respon.


"Kak Ray kok bisa ada di kampus? Bukannya kakak lagi meeting?" tanya Ella dengan mulut mengunyah.


"Kakak dapat kabar dari anak buah kakak yang ngawasin kamu, katanya kamu di bully sama orang-orang kampus gara-gara video kita yang beredar. Makanya kakak buru-buru ke kampus," tutur Ray.


"Owh." Ella mengangguk samar.


"Kamu nggak pa-pa 'kan kalo hubungan kita di ketahui oleh publik?" tanya Ray sembari mengusap kotoran di bibir Ella menggunakan ibu jarinya.


"Nggak pa-pa kok," jawab Ella.


"Syukurlah, takutnya kamu keberatan dan merasa tidak nyaman." Ray mengelus lembut puncak kepala Ella.


"Dulu aku emang nggak mau kalau hubungan kita di ketahui oleh publik, karena pada saat itu aku belum siap menikah. Tapi sekarang, aku siap kok, kalo mereka tau. Dan aku juga seneng, karena aku bisa jadi istri dari dosenku sendiri. Dosen idola kampus yang super cool," ujar Ella.


"Berati, kakak boleh dong unggah poto pernikahan kita di medsos?"


"Boleh banget dong."


Cup!


"Tetaplah di samping kakak, meski rambut hitam kakak sudah memutih dan badan kakak yang atletis ini sudah keriput. Temani kakak sampai akhir hayat." Hazel pekat Ray menatap lekat ke arah Ella.


"Kak Ray juga jangan ninggalin aku, meski badan seksi ini udah kerempeng ya," ucap Ella sembari bersingut ke pangkuan Ray.


"Tidak akan pernah, Sayang. Karena kamu adalah pelangi yang memberi warna dalam kehidupan kakak yang kelabu. Kamu juga cahaya yang menerangi hidup kakak. Tanpamu hidup kakak akan gelap tak tentu arah." Ray memeluk erat pinggang Ella yang berada di pangkuannya.


"I love you istriku yang paling cantik," lanjutnya berbisik di telinga Ella.


"I love you too, suamiku yang anunya paling gede," balas Ella.


"Apanya nih?" goda Ray.


"Cintanya lah, emangnya apa lagi?"


*******************************


Sore ini Dela baru saja pulang dari rumah lamanya ke rumah Galang, dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah tak bersemangat. Pasalnya ibu mertuanya tidak ada. Dia sedang pergi ke luar kota untuk menemani sang suami. Di rumah hanya ada dirinya, Galang dan juga Bi Irah pelayan di rumah mereka. Tambah satu lagi, Bik Romlah pengasuh Gala.


"Huhh, sepi banget nggak ada, Mamah." Dela mendudukan bokongnya di sofa ruang keluarga.


"A Galang juga belum pulang, padahal udah sore," lanjutnya.


"Udah pulang, Kak?"

__ADS_1


Dela yang sedang melamun sontak terlonjak kaget saat mendengar intonasi bariton yang menyapanya. Dela langsung mendongkak untuk melihat siapa pemilik suara bariton itu. Dan, seketika Dela langsung menganga dengan mata melotot saat melihat seorang pria muda berperawakan tinggi, tegap dengan tubuh atletis dan juga wajah yang tampan bak dewa Yunani.


"Kak!" panggilnya membuat Dela tersadar.


"Kamu siapa?" tanya Dela dengan atensi yang tak lepas dari pria tampan yang sama sekali tidak ia kenali.


"Aku Adit, Kak. Adiknya, Bang Galang," ujar pria itu kemudian dia duduk di samping Dela.


"Adik Galang?"


"Iya, kak."


"Kok aku nggak pernah tau kalo, Galang punya adik?"


"Itu karena aku sekolah di New York, dan hari ini baru pulang setelah aku lulus SMA. Rencananya aku mau kuliah di indo aja," tutur Adit.


"Owh." Dela mengangguk-anggukan kepalanya.


Baru keluar SMA, tapi kok perawakannya seperti orang dewasa. Bahkan tadi Dela sempat mengira jika Adit lebih tua darinya. Pikir Dela.


"Umur kamu berapa emang, Dit?" tanya Dela.


"Baru jalan sembilan belas tahun, kak," jawab Adit yang di respon Dela dengan anggukan.


Satu tahun lebih muda darinya, lumayanlah buat teman ngobrol saat dirinya jenuh di rumah. Karena akhir-akhir ini Galang selalu sibuk, bahkan terkesan tidak punya waktu untuk dirinya dan Gala. Namun dia tidak merasa kesepian karena ada sang Mamah mertua. Tetapi, sekarang Mamah mertuanya pergi ke luar kota. Untunglah ada sang adik ipar pulang, jadi, dia tidak akan terlalu kesepian.


"Kok sepi, Bi Irah sama Bi Romlah kemana ya?" Dela nampak celingukan.


"Owh, iya. Aku belum ketemu, Gala." Dela hendak bangkit.


"Gala tidur, kak," ucap Adit.


"Tidur?"


"Iya, tadi aku ajak main Gala, eh taunya dia malah ketiduran di pangkuan aku," ujar Adit.


"Kamu suka main sama anak kecil, Dit?" Dela tidak jadi bangkit .


"Suka banget, kak. Soalnya anak kecil itu lucu." Adit tersenyum simpul.


Merekapun mengobrol panjang lebar, Adit juga menceritakan tentang kehidupan dirinya di new York sana.


"Abang kamu kok belum pulang ya, Dit? Padahal kan ini udah sore," ucap Dela cemas.


"Abang ke kantor lagi, ya?" tanya Adit.


"Ke kantor lagi? Maksudnya?" bingung Dela.


"Tadi dia jemput aku di bandara, terus setelah itu dia pergi lagi tampa masuk ke rumah. Katanya dia mau jemput kakak ke kampus," ujar Adit.


"Jemput aku? 'Kan hari ini aku nggak masuk kuliah, dia juga tau kok."


"Terus kakak darimana? Aku pikir kakak baru pulang kuliah." Adit menatap kedua netra Dela.

__ADS_1


"Aku dari rumah lamaku," jawab Dela lesu.


Dia sangat kesal pada Galang, karena dia tidak pernah memberikan kabar sehingga membuatnya selalu khawatir.


"Kakak telpon aja, Abang. Kalo kakak khawatir," saran Adit yang melihat wajah Dela di tekuk.


"Ah iya juga ya." Dela langsung membuka ponselnya lalu menelepon Galang.


"Nggak di angkat." Dela mengerucutkan bibirnya.


"Mungkin, Abang lagi sibuk. Mendingan kakak istirahat aja dulu, kakak pasti capek," ujar Adit.


"Ya udah, aku ke kamar dulu, ya," Pamit Dela yang di balas anggukan serta senyuman manis oleh Adit.


Hari sudah menjelang malam, Dela saat ini sedang duduk di tepi ranjang menunggu ke datangan sang suami.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka dan menampakkan Galang yang baru saja pulang. Dia tersenyum manis ke arah Dela kemudian berjalan menghampiri sang istri.


Cup!


"Maaf ya, pulangnya telat. Tadi di kantor ada kerjaan tambahan," ucap Galang setelah mencium kening Dela.


"Kenapa nggak ngabarin aku?" Dela terlihat begitu kesal.


"Lupa, Neng. Maaf ya." Galang menggenggam lembut tangan Dela.


"Aa emang selalu lupa sama aku. Kayaknya sekarang aku udah bukan prioritas utama kamu lagi deh," tuduh Dela.


"Siapa bilang? Kamu itu adalah prioritas utama ku, Neng," ujar Galang.


"Buktinya saat kamu ada meeting di Bandung, aku nggak tau. Dan Kiana malah lebih tau tentang ke beradaan kamu. istri kamu itu aku apa Kiana sih?" ungkap Dela kesal.


"Kamu lah, masa Kia. Waktu itu emang ke betulan Kiana nelepon aku. Dia minta tolong untuk di anterin ke makam Rendi. Aku jawab nggak bisa, karena aku lagi di Bandung. Gitu, Neng," jelas Galang.


"Kenapa harus minta tolong sama kamu, A? Kan banyak taksi onlen, ojol, bajai, angkot dll. Kenapa mesti minta tolong kamu? Apa dia segitu bokeknya sampai nggak bisa bayar kendaraan umum," cecar Dela emosi.


"Karena aku yang bilang ke dia, kalo ada apa-apa hubungin aku aja."


"Kamu nggak pernah bilang gitu ke aku? Kenapa giliran dia kamu perhatian banget? Kamu ada rasa ya, sama dia?" todong Dela.


"Kamu ngomong apa sih, Neng? Kia itu cuma sekedar teman aku. Aku perhatian sama dia karena prihatin. Aku tau dia masih terpukul atas kepergian Rendi. Jadi, aku berusaha untuk menghibur dia sebagai teman, dan juga sebagai sahabat dari pacarnya."


"Awalnya ngehibur karena prihatin, tapi lama-lama kita kan nggak tau. Mungkin aja kalian baper."


"Itu nggak mungkin, Neng. Di hati Aa kan cuma ada kamu."


"Ah, bulshit. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Kamu 'kan selalu ada di tengah ke kosongannya. Bukan tidak mungkin jika kamu yang akan mengisi ke kosongan itu!"


"Aku mau, mulai saat ini kamu nggak usah temuin Kiana lagi. Jangan jadikan amanat Rendi sebagai alasan," lanjutnya.


Dobel up😘 Jejak ya😍😍

__ADS_1


__ADS_2