
"AHHHH."jerit Sesil, saat sebuah jarum mengenai tangan bagian atasnya.
"Apa yang kau lakukan padaku? berengsek."ucap Sesil dengan suara lirih karna tubuhnya melemas.
"Hanya memberimu sedikit pelajaran."Jawab Rafly dengan wajah tengilnya.
"Berengsek, lepaskan aku. Kalian benar-benar biadab."Sesil menatap Ray dan juga Rafly penuh amarah.
"Jika dari awal kau mengaku salah, dan berniat meminta maaf. Aku tidak akan melakukan ini, tapi kau malah ingin membunuh istriku."Ray mendekat pada Sesil, lalu menatap wanita itu dengan tatapan yang mengerikan.
"Wanita itu memang pantas mati. Dia tidak pantas bersanding dengan mu. Cuma aku, cuma aku yang pantas bersanding dengan mu. Aku mencintaimu Ray, mengapa kau tak pernah melirik ku setiap kali aku mendekati mu. Kenapa kau lebih memilih wanita bodoh itu, kenapa Ray?"Sesil menatap Ray dengan penuh kekecewaan.
"Karna aku tidak bodoh, aku tidak mungkin lebih memilih batu kali sepertimu di bandingkan sebuah berlian."Ray menyandarkan tubuhnya di sangkar yang ditempati Sesil sambil bersidekap dada.
"Wanita bodoh seperti itu kau bilang berlian, dia itu hanyalah seongok sampah yang mencemari lingkungan."
"Yang sampah itu adalah kamu, karna setiap kata yang keluar dari mulutmu hanyalah kebusukan."sarkas Ray.
"Ahhh, pergi kau. Pergi darisini jangan ganggu aku, pergi."teriak Sesil histeris.
"Jangan mendekat, pergi. Ahhh, jangan mendekati ku."Sesil semakin histeris.
"Sudah bereaksi, bos."ucap Rafly.
"Bagus, besok lepaskan wanita ini. Kembalikan dia pada keluarganya. Jangan lupa beri dia pil yang telah aku buat waktu itu."perintah Ray.
"Asiyaaap."
Ray pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Tanpa di komando kumpulan hewan buas itu langsung saja memberi jalan untuk Ray.
"Dimana mereka?"tanya Ray pada Ragil yang tengah bersandar di sopa.
"Di ruang latihan, mereka sedang berlatih panahan dan juga menembak. Belakangan ini banyak sekali musuh yang menyerang Ray, jadi kita harus memperkuat Gangster kita."ujar Ragil sambil meneguk wine yang ada di tangannya.
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Ya, banyak sekali yang kau lewatkan Ray. Taiger Dark telah menyerang markas Black Devil, mereka memporak porandakan markas dan juga menyerang anak buah kita secara tiba-tiba. Banyak yang terluka karna serangan itu, karna mereka tidak mepunyai persiapan."jelas Ragil.
"Aku begitu sibuk, Gil. Jadi tidak sempat untuk melihat markas."
"Sibuk bercinta dengan istrimu."ledek Ragil.
"Bisa di bilang seperti itu."
"Apa istrimu tau? bahwa kau adalah ketua gangster yang paling di takuti di kota ini."tanya Ragil..
"Tidak."
"Maka dari itu, dalam waktu dekat ini aku ingin mengundurkan diri jadi ketua gangster. Aku takut dia kecewa jika dia tau bahwa aku ini tidak sebaik yang di pikir."ujar Ray sambil menghela nafas panjang.
"Lantas siapa yang akan memimpin Black Devil? bila kau mengundurkan diri?"
"Kau yang akan menggantikan ku. Aku yakin Black Devil akan semakin berjaya jika dibawah kepemimpinan mu."
__ADS_1
"Aku tidak yakin, jika aku mampu mengemban tanggung jawab ini."
"Yakinlah, kau pasti bisa. Aku percaya padamu."Ray menepuk bahu Ragil.
"Weh weh weh, ade ape nih. Gue ketinggalan info kayanya."ucap Rafly yang baru saja menghampiri mereka.
"Si Ray, mau ngundurin diri dari ketua gangster."Jawab Ragil.
"Lah, ngapa?"Rafly menundukan dirinya di samping Ragil.
"Dia takut, bininya tau. Dan kecewa sama dia."
"Wih, udah jadi micin lu, Ray."Rafly menatap Ray dengan tatapan meledek.
"Bucin Fly, bukan micin. Lu mah kayak bini gue aja, bucin juga disebut micin."ujar Ray.
"Berati gue satu server sama bini lu."Rafly cengengesan.
"Hm, gue balik dulu. Takut bini gue nyariin. Soalnya dia lagi tidur pas gue tinggal."ucap Ray, non pormal.
"Terus cewek ini pagimane, apa langsung kita lepasin besok? apa lu kagak takut dia nyakitin bini lu lagi?"ujar Rafly.
"Iya, lepasin aja. Dan soal itu, lo tenang aja. Dia kan udah gila, dan jika nanti dia kembali normal. Dia tidak akan bisa berbuat jahat pada istri gue, karna di dalam pil yang dia telan udah gue pasangkan chip yang sudah di seting agar menyambung otomatis pada otaknya. Jika dia merencanakan sesuatu hal yang jahat, maka chip itu akan bekerja dengan sendirinya. Chip itu akan membuat dia kesakitan setengah mati, dan perlahan-lahan akan memutus saraf-saraf otaknya. Jika dia terus berpikir jahat."Jelas Ray.
"Wau, rancangan lo emang selalu memukau Ray. Bahkan otak dangkal gue kagak kepikiran sampe sono. Gue pikir tu pil adalah pil KB."ujar Rafly.
"Eh, geblek. Ngapain juga si Ray ngasih tu cewek pil KB."Ragil menepuk paha Rafly.
"Kali aja mau di enak-enak."cengir Rafly.
"Selera lu kan, nyang polos-polos ya!"
"Nah, tu lo tua. Dah lah, gue balik dulu."Ray bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar.
"Heart-heart, Ray."teriak Rafly.
"Apaan Heart-heart?"Ragil melirik Rafly.
"Hati-hati, kan bahasa inggrisnya hati itu heart. Berati kalau hati-hati, heart-heart dong."ucap Rafly.
"Kagak gitu juga gebleg."Ragil menampol kepala Rafly.
"Terus apaan dong, Gil?"tanya Rafly.
"Pikir aja sendiri."Ragil berlalu dari hadapan Rafly.
"Otak gue kagak bisa mikir lagi, karna lagi bleng mikirin kenapa SpongeBob bisa tenggelem, padahalkan dia ada di dalam laut?"Rafly berjalan menyusul Ragil.
"Tanya aja, sama Squidward. Sekalian juga tanyain kenapa Clarinet bisa di tiup di dalam laut?"ucap Ragil jengah.
Disisi lain.
"Mam, kok kak Ray lama sih?"gerutu Ella, karna dari tadi dia terus menanyakan Ray pada Wina.
__ADS_1
"Laki lo, kelayapan kemana emangnya, dek?"tanya Satria, karna memang dia sedang berada disana bersama Rendi.
"Akunya gak tau abang, kak Ray gak pamit sama aku."cemberut Ella.
"Dia tadi bilang mau pergi bentaran doang, bentar lagi juga pulang. Kamu tunggu aja ya!"ujar Wina.
"Iya, Mam."
"Kak Reren, tumben kak Alang gak ikut?"tanya Ella pada Rendi, karna biasanya tiap Rendi kesini pasti dia bersama Galang.
"Gak tau tu Ell, si Galang tiap di ajak kesini gak mau mulu. Biasanya dia paling semangat kalau kesini."Jawab Rendi.
"Lagi mager kali, ya."
"Atau tu anak lagi putus cinta, perasaan tiap gue ketemu dia, mukanya kusut mulu. Kayak orang kagak semangat idup lagi."timpal Satria.
"Putus cinta ama sape, pacar aja kagak punya."ujar Rendi.
"Ah, ya juga ya."cengir Satria.
"Asalamualaikum."ucap Ray yang baru saja memasuki rumah.
"Waalaikum salam."jawab mereka serempak.
"Kak Ray darimana aja?"Ella langsung berdiri dan memeluk Ray.
"Kakak ada urusan bentar, sayang."Ray membalas pelukan Ella.
"Kenapa gak bilang sama aku?"cemberut Ella.
"Kamunya kan lagi bobo, gak tega kakak banguninnya."Ray membawa Ella untuk duduk di sopa.
"Tumben cuma berdua?"Ray melirik Satria dan juga Rendi.
"Iye, si Galang kagak mau di ajakin kemari."jawab Satria.
"Kenapa tu anak? biasanya ngintil mulu."
"Au."Satria mengedikan bahunya.
"Mam, kenapa lari-larian gitu?"tanya Ray saat melihat Wina menghampiri mereka dengan tergesa.
"Itu Ray...."Wina menarik nafas.
"Itu kenapa, Tan?"Satria penasaran.
"Itu, si Galang..."Wina kembali menarik nafasnya.
"Galang kenapa, Mam? jangan bikin kita panik."ucap Ray.
"Galang......."
Reaerku terzeyeng. Tinggalkan jejaknya yaπ
__ADS_1
Love you Alllllπππππ