Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Welcome to the world


__ADS_3

Duttttttt,


Lagi-lagi suara bom Ray menggelegar kala Ella berusaha untuk mengejan, Ella ingin sekali tertawa melihat kelakuan konyol suaminya, tetapi karena rasa sakit yang saat ini dirasakannya merubah rasa ingin tertawanya menjadi sebuah ringisan.


"Pak Ray tidak usah ikut mengejan, biar Adeknya saja ya," ucap Dokter Vivi karna dia menjadi tidak fokus akibat suara ledakan bom Ray setiap kali Ella mengejan.


"Ah, iya Dok. Maaf saya kelepasan," Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal karna gugup sekaligus malu.


"Ulangi lagi ya, Dek. Saat saya memberi aba-aba Adek dorong ya. Untuk pak Ray, ingat jangan ikut mengejan." perintah Dokter Vivi kepada Ella yang berakhir melirik Ray.


Ray pun mengangguk samar, perasaan gugup, panik, hawatir dan juga malu menjadi satu. Bagaimana reaksi para anak didiknya jika mereka tau Dosen dinginnya ternyata sekonyol ini, bisa malu tujuh turunan, pikir Ray.


Setelah situasi aman terkendali, Dokter Vivi pun kembali mengomando Ella untuk mengejan kembali. Ella bersiap, dia menarik napas panjang sembari merapalkan do'a dalam hati, Ray juga tak hentinya memberi semangat pada sang istri yang akan berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kedua buah hati mereka.


"Kamu bisa, sayang. I love you, semangat demi buah hati kita." Ray mengecupi kening Ella yang dipenuhi oleh keringat yang bercucuran.


"I love you too, terimakasih karna selama ini kak Ray selalu ada untuku dan selalu sabar menghadapi ku." Ella tersenyum tipis sembari menggenggam erat tangan Ray.


"Aku ingin ketemu Mamih," sambungnya.


"Boleh Dok?" Ray menatap Dokter Vivi.


"Boleh, Sus, tolong panggilkan ibu dari pasien ya." Dokter melirik Suster yang ada di sampingnya.


"Baik, Dok." Suster itupun melangkah keluar dari ruang bersalin untuk memanggil Rina.


Tak lama Suster itupun telah kembali dengan diikuti oleh Rina. Rina langsung menghampiri lalu dia memeluk erat putri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Mih, maafin aku ya. Selama ini aku selalu membantah ucapan Mamih, melawan Mamih. Maaf juga jika ada kata-kata aku yang di sengaja ataupun tidak disengaja telah melukai hati Mamih. Sekarang aku tau bagaimana perjuangan seorang ibu, yang rela mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hatinya. Aku baru sadar, menjadi seorang ibu itu tidaklah mudah, banyak sekali perjuangan dan juga rintangan. Sekali lagi maafin aku ya, Mih."Ella menggenggam erat tangan Rina sembari berderai air mata.


"Tanpa diminta pun, Mamih sudah memaafkan kamu sayang. Putri kecil Mamih sudah dewasa ya, sekarang kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa, putri Mamih hebat dan juga kuat. Ingat, mereka sebentar lagi akan lahir, kamu harus berjuang untuk mereka, ayok kamu pasti bisa." Rina menghapus air mata Ella dengan jemarinya, kemudian dia mengecup sayang puncak kepala Ella dan menggenggam erat tangan sebelah kiri Ella.


"Ayo, Dek. Adek harus kuat dan juga semangat, ingat bukankah adek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka?" ucap Dokter Vivi menyemangati.


"Kamu pasti bisa." Ray menggenggam begitu erat tangan sebelah kanan Ella.


"Ayok sayang, Mamih disini." Rina juga ikut menyemangati.


Ella pun mengangguk dengan keringat yang sudah bercucuran, dengan aba-aba sang Dokter, dia pun kembali mengejan.


"Euuughhhhhhhhhhhhhhhhh!"

__ADS_1


"Ayo Dek, bayinya sudah mulai kelihatan."


"Euugggggghhhhhhhhhhhhhhhh!"


"Euuughhhhhhhhhhhhh!"


"Oek, oek, oek."


"Alhamdulilah, bayi pertama sudah keluar dengan selamat." Dokter Vivi menyerahkan bayi pertama Ella yang berjenis kelamin laki-laki kepada Suster.


"Ayok Dek semangat, satu lagi ingin segera keluar."


Ella mengangguk, kemudian dia mengumpulkan sisa tenaganya untuk kembali mengenan. Ray dan juga Rina terus menyemangati Ella, tak lupa juga dalam hati mereka terus merapalkan do'a utuk keselamatan Ella dan anaknya.


"Euuuugghhhhhhhhhh!"


"Eeeuuuuugghhhhhhh!"


"Aaeeeeeughhhhhhh!"


"Alhamdulilah, bayi kedua telah lahir dengan selamat," ucap Dokter Vivi yang sudah menimang bayi perempuan Ella.


"Tapi kenapa anak kedua saya tidak langsung menangis seperti kakaknya?" tanya Ray hawatir.


"Oek, oek, oek,"


"Alhamdulihah," ucap Ray lega karna bayi keduanya bersuara juga.


"Ini Sus, di bersihkan ya." Dokter memberikan bayi keduanya kepada Suster untuk di bersihkan.


Setelah itu dia lanjut untuk menangani Ella, dia membersihkan seluruh kotoran yang tertinggal dirahimnya.


"Sayang, terimakasih." Ray mengecup lembut kening Ella.


Ella hanya membalas dengan senyum samar, karena badannya terasa begitu lemas, tenaganya sudah terkuras habis.


"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu." Rina nampak berkaca-kaca.


Ella membalas dengan tersenyum tipis, setelah Ella selesai di tangani, dia pun di pindahkan keruang perawatan. Ray dan juga Rina ikut serta mendorong brangkar Ella.


Ruang rawat Ella terlihat begitu luas dan juga mewah, ranjang yang di tempatinya juga cukup luas muat untuk tiga orang, disana juga di lengkapi oleh sopa, karpet bulu tebal yang tergelar untuk beristirahat keluarga. Samsul memang sudah mempersiapkan semua ini dari awal kehamilan Ella, dia ingin melakukan yang terbaik untuk menantu dan juga cucunya.

__ADS_1


"Selamat ya, sayang. Sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang ibu," ucap Wina dengan berkaca-kaca.


"Terimakasih, Mam." Ella sekarang sudah merasa lebih baik setelah mendapat perawatan.


"Anak Papih sekarang udah jadi ibu, jadi jangan cengeng lagi, ya." Andi mengecup kening Ella lembut.


"Iya Pih, tapi gak janji," cengir Ella.


"Terimakasih, Nak. Papah sangat bahagia, kamu telah memberi Papah dua cucu sekaligus, terimakasih sayang." Samsul mengusap lembut kepala Ella dengan berkaca-kaca karena dia begitu bahagia.


"Sama-sama, Pah. Terimakasih juga karna Papah telah menyiapkan semua ini." Ella tersenyum dengan begitu manis.


"Apapun untuk mu dan cucu-cucu Papah."


"Selamat ya, Dek. Abang ikut bahagia, maafin abang ya karna sering jahilin kamu."Satria mengecup puncak kepala Ella.


" Makasih Bang, abang gak usah minta maaf karna abang pasti mengulanginya lagi,"ujar Ella.


"Tau aja, oh iya. Ponakan gue mana Dek?"tanya Satria.


" Lagi di bersihin dulu,"jawab Ella.


"Halo semua, Bayi-bayi gemoy datang," ucap Dokter Vivi yang menggendong salah satu bayi Ella dengan diikuti Suster yang juga menggendong satu bayi.


"Wahh, cucu omah dateng sini omah gendong." Pekik Wina bahagia.


"Enak aja, itu cucuku ya," delik Rina.


"Gak usah berantem, itu cucu kita bersama. Lagian kan bayinya ada dua, jadi bisa gendong satu-satu," ucap Samsul.


"Nanti ya gendongnya, Nek. Sekarang Bayi-bayinya mau Nen dulu." Dokter Vivi membawa bayi itu kearah Ella.


"Sebelumnya di adzanin dulu ya, Pak Ray," ucap Dokter Vivi.


"Baik Dok, tapi gendongnya gimana?"bingung Ray.


" Begini."Dokter Vivi menyerahkan bayi pertama kepada Ray.


Ray pun menerimanya dengan mata yang berkaca-kaca, dia sangat bahagia. Kebahagiaan ini tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata, sekarang dia telah resmi menjadi seorang ayah, dia telah mempunyai dua buah hati sekaligus. Ray mengadzani bayi pertamanya dengan bibir yang bergetar karena menahan tangis haru. setelah selesai mengadzani bayi pertamanya Ray pun lanjut mengadzani bayi kedua.


Yeyyy, Berudunya udah lahir. Mana nih kadonya buat para berudu gemoy😍😍😍

__ADS_1


Jangan lupa like, comen and Vote dong😊😊😊


__ADS_2