
Sejenak Ray terdiam, apa pendengaran nya bermasalah? tidak mungkin kan jika orang yang berada di hadapannya ini adalah istrinya. Ella begitu polos dan kekanak-kanakan, sedangkan orang yang berada di hadapannya, dia begitu kejam, sadis dan juga sangat mengerikan.
"Kak Ray kok gak nolongin aku, sih."
Suara itu? benar suara itu adalah suara cempreng istrinya, bagaimana bisa, dalam sekejap Ella bisa merubah kepribadiannya. Tadi dia terlihat sangat tegas dan juga berwibawa, bahkan dia terkesan sangat menakutkan. Tapi sekarang dia berubah kembali menjadi manja dengan suara khas cemprengnya.
"Ini tidak mungkin."lirih Ray yang masih terdengar oleh Ella.
"Apanya yang tidak mungkin, kak Ray?"tanya Ella setelah dia bangkit dan diduk di samping Ray.
"Ini beneran Stela? Stela istriku yang polos itu?"ucap Ray yang masih tidak percaya.
"Apa kau masih tidak percaya? jika ini adalah aku."Ella kembali berucap dengan nada khas Quin AOD, sembari membuka topengnya.
"Ini benar kamu, Ell. Tapi kenapa bisa? apa kamu mempunyai keperibadian ganda."tanya Ray sembari menatap lekat Ella.
"Ya, ini aku. Dan aku tidak mempuyai keperibadian ganda atau pun Alter ego. Ini adalah aku Stela Anandira, istrimu."Ella membalas tatapan Ray.
"Bisa kamu jelaskan? kamu itu sebenarnya memang polos, atau hanya berpura-pura polos untuk menutupi identitas mu?"tanya Ray serius.
"Boleh aku bercerita?"
"Tentu saja."
"Baiklah, jadi dulu itu aku memang sangat polos, bahkan bisa di bilang oon. Aku juga sangat lemah, hingga dari pertama aku bersekolah, aku selalu di buly dan juga dihina oleh teman-teman kelasku. Aku sempat terpuruk akan hal itu, hingga aku tidak mau lagi untuk bersekolah. Sampai suatu hari, aku mendengar kasak kusuk tentang sebuah gangster yang paling di takuti pada masa itu. Mereka sangat tunduk dan sopan pada seluruh anggota gangster itu. Dari situ aku berpikir, jika menjadi seorang gangster mungkin orang-orang yang sering membuly dan juga menghinaku, akan tunduk kepadaku. Aku pun mulai berencana untuk membentuk sebuah gangster, dari mulai berlatih berbagai jenis bela diri hingga senjata. Setelah aku menguasainya, aku pun mengumpulkan anak-anak jalanan lalu melatih mereka hingga mereka pandai. Dan barulah aku membentuk sebuah gangster dari nol hingga sampai seperti ini."Jelas Ella panjang lebar.
"Lalu, tingkah polosmu selama ini hanyalah sandiwara semata saja?"
"Ah, sebenarnya itu real kepolosanku sih. Meskipun aku sudah menjadi ketua gangster, tapi tetap saja otak polos ku masih mendominan. Kadang saat aku menyerang musuh saja, ketelmian juga ke oonan ku tetap saja ada, dan itu memancing gelak tawa para anggota ku."
"Aku lebih suka dirimu yang apa adanya, polos, manja dan juga ceria. Bukan sadis, keji dan juga menyeramkan seperti ini. Mulai sekarang jadilah dirimu sendiri, jangan memaksakan untuk menjadi kuat bila kamu tak mampu. Buatlah dirimu menjadi nyaman dalam hal apa pun, jangan melakukan apa yang tidak membuat mu menjadi nyaman. Apa kamu suka menjadi seperti ini? kejam, keji dan tak berperasaan."Ray menatap Ella serius.
"Sebenarnya aku lebih suka menjadi diriku sendiri yang polos tanpa beban apapun, tapi aku tidak mau terus-terusan di tindas oleh orang lain. Ada kalanya kita harus keluar dari pase yang nyaman untuk menjelajahi dunia baru yang mungkin tidak kita ketahui di pase yang nyaman itu. Aku tidak menyesal berubah seperti ini, karna aku mempunyai kepuasan tersendiri karna bisa membuat orang-orang yang dulu selalu menghina ku, kini menjadi tunduk kepadaku. Dan aku juga bisa membantu orang yang lemah dan juga tertindas. Jika aku masih berada di dalam pase nyaman ku, apa aku bisa membantu mereka? tidak. Yang ada bukan membantu, tapi malah merepotkan."
"Jika itu inginmu, aku bisa apa. Aku hanya berpesan, jagalah dirimu dengan baik, karna dengan menjadi seorang ketua gangster, banyak sekali bahaya diluar sana yang tengah mengintaimu."
__ADS_1
"Aku tau, dan aku tidak takut, karna kau akan selalu bersamaku. Kau tidak mungkin membiarkan istrimu yang cantik ini menghadapi marah bahaya sendirian bukan?"ucap Ella sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tentu saja tidak, aku akan selalu berada di dekat mu. Susah senang kita akan jalani bersama, dan semoga secepatnya kau dan aku bisa fakum dari dunia gangster ini."Ray mengelus lembut surai Ella.
"Semoga saja, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karna masih banyak yang harus aku selesai kan."Ella tersenyum begitu manis.
"Aku ngerti kok, em btw sejak kapan kamu tau jika aku adalah ketua Black Devil?"tanya Ray penasaran.
"Sejak pertama kali aku melihat mu dikampus, sejak saat itu juga aku tau bahwa kau adalah ketua BD."Jawab Ella.
"Serius bagaimana bisa?"ucap Ray tidak percaya.
"Tentu saja bisa, sebenarnya sudah sejak lama aku mengetahui siapa ketua BD dan bagaimana rupa aslinya. Hanya saja untuk kau adalah seorang dosen, aku baru mengetahuinya saat aku baru masuk kuliah dan bertemu dengan mu. Awalnya aku biasa saja, tapi saat aku mengetahui kau adalah orang yang ingin di jodohkan denganku, dari situlah aku memulai aksiku dengan bertingkah konyol supaya kau mau membatalkan perjodohan ini."ujar Ella serius.
"Kenapa kita jadi kaku gini, biasa aja yuk ngomongnya, kalau begini berasa gimana gitu."ucap Ray.
"Kan kak Ray yang mulai, akumah ngikutin ajah."
"Ok, kembali ke topik. Sejak kapan kamu tau, kakak adalah orang yang akan di jodohkan dengan kamu?"tanya Ray.
"Jadi? kamu sudah tau bahwa kakak adalah calon suami kamu pada saat itu?"
"Ya, seperti itu."
"Jangan-jangan pas kamu muntah itu hanya ngerjain kakak saja, ya?"tebak Ray.
"Bisa dibilang seperti itu, tapi muntahnya gak setingan loh, ya. Aku memang beneran suka mual jika naik kora-kora, makannya aku sengaja naik itu rencananya aku ingin membuat kak Ray ilfil saat aku muntah. Eh, rencana kagak sesuai ekspetasi, ternyata kak Ray kagak kena muntahannya aku. Malah yang kena aku sendiri."ujar Ella, tersenyum sendiri saat mengingat kejadian itu.
"Bener-bener kamu ya, terus tangisan kamu juga palsu, begitu?"ucap Ray sembari menjawil hidung Ella.
"Itu sih, real. Karna jujur aku gak kuat saat muntah, rasanya pengen nangis karna gak enak banget di perut. Aku juga emang jijik banget sama muntah. Yang dari muntah itu, real ya. Gak ada setingan."
"Satria tau, tentang semua ini?"
"Sejak awal memang dia sudah mengetahuinya."Jawab Ella.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua bersekongkol untuk mengerjai kakak, hm?"Ray menggelitiki pinggang Ella.
"Iya, tapi kita hanya ingin tau sebesar apa kesabaran seorang bapak dosen."ucap Ella sembari menahan geli.
"Disini ada kamar gak? Yang?"tanya Ray.
"Ada."
"Disebelah mana?"
"Yang pintunya warna Gold. Itu tempat istirahat aku."
Tanpa basa-basi Ray langsung saja menggendong Ella ala bridal style menuju kamar yang ditunjuk oleh Ella.
Sesampainya disana Ray langsung saja membaringkan Ella di tempat tidur, tak lupa juga dia mengunci pintu terlebih dahulu. Setelah itu dia langsung saja membuka seluruh pakaiannya tanpa sisa.
"Wow, tongkat bisbol."pekik Ella.
"Bukankah kamu meminta balas budi dengan cinta dan juga bercinta. Maka sekarang aku akan melakukannya sampai kamu puas."Bisik Ray tepat di telinga Ella.
"Owh, aku sangat menantikan itu, cepatlah puaskan aku bapak dosen."ucap Ella dengan suara erotis.
"Dengan senang hati, my Quin."
Ray langsung saja memulai aksinya, dari mulai mengecup bibir mungil Ella hingga meraupnya perlahan. Dia juga mulai menggerakan tangannya untuk mencari benda kenyal favoritnya dengan bibir yang masih terpaut. Setelah dia menemukan benda itu, dia langsung saja melepas apa saja yang menghalangi pandangannya dari benda itu hingga benda kenyal itu terpampang nyata di hadapannya, dia pun langsung saja melepas tautan bibirnya lalu dia mulai beralih menyusuri leher jenjang Ella, kemudian dia turun ke gunung himalaya yang begitu menggoda itu.
Cukup lama dia mendaki gunung hingga dia pun memutuskan untuk menyusuri lembah yang begitu indah di pandang. Ray berpiknik ria di lembah yang di tumbuhi dengan rerumputan tipis itu. Setelah puas berpiknik di lembah, Ray pun mulai menjelajahi gua, di mulai dari depan gua, dinding hingga masuk kedalam gua itu' Dia mengeksplor bagian dalam gua itu dengan lidahnya hingga terdengar suara mendayu-dayu yang begitu indah dan juga membangkitkan gairah dari si pemilik gua.
Dirasa gua yang dijelajahinya telah banjir bandang dengan cairan kental dan juga putih bak susu, Ray pun langsung saja memasukan sebuah tongkat bisbol yang begitu keras kedalam mulut gua, dia memaju mundurkan tongkat itu secara perlahan, tapi semakin lama pacuan itu semakin cepat.
Satu jam berlalu, tapi Ray masih saja stay memacu hingga dia merasakan tubuhnya bergetar hebat, itu tandanya dia sudah mencapai puncak pendakiannya. Dia merasakan nikmat yang tiada tara dan susah di deskripsikan dengan kata-kata.
Mana nih suaranya readerku terzeyeng😘
Yok yo ayok, ayok tekan jempolnya, dan bersuara juga di komen. Supaya author kembali semangat😍
__ADS_1
Salam hangat dari Kitty, untuk semua readerku tersayang😘😙😙😘,