Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Black Rose


__ADS_3

"Kenapa kalian menghadang kami?" tanya Ray setelah dirinya dan Ella keluar dari mobil.


"Karena kami menginginkan nyawa kalian!" jawab salah satu dari mereka yang di perkirakan adalah ketua komplotan itu.


"Siapa kalian?" Kali ini Ella yang bertanya.


"Kalian tidak perlu tau siapa kami." Orang itu menatap Ella dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Ella mengamati orang itu dengan begitu lekat, di tatapnya wajah yang tertutup topeng itu lamat.


'Black Rose' gumam Ella dalam hati.


Kenapa gangster itu menghadangnya, dia merasa tidak pernah mempunyai urusan ataupun masalah dengan Black Rose. Tapi tunggu, bukankah leader Black Rose adalah seorang wanita? Lalu pria di hadapannya? Ah! Pasti ini tangan kanan dari black Rose. Pikir Ella.


"Tangkap mereka! Dan bawa mereka ke markas sesuai dengan perintah, Ketua!" teriak Pria yang Ella perkirakan adalah tangan kanan dari black Rose.


Para pria bertopeng yang berjumlah lima belas orang pun langsung saja mendekati Ella dan juga Ray, mereka hendak menangkap pasutri itu.


Bughh!


Bugghh!


Dugghhh!


Ella dan Ray langsung menyerang para pria itu, sontak saja mereka langsung membalas serangan Ella dan Ray. Sehingga perkelahian tak dapat ter-elakan lagi. Wina dan Samsul yang melihat itu pun menjadi cemas, mereka takut terjadi sesuatu pada Ella dan juga Ray. Apa lagi Ella adalah seorang wanita.


"Papah harus bantu mereka, Mah," ucap Samsul dengan wajah cemas.


"Jangan, Pah. Mama takut Papah kenapa-napa. Papah 'kan nggak bisa berantem," ujar Wina.


"Tapi mereka."


"Papah liat, mereka bisa melawan, Pah. Bahkan Ella membuat para pria bertopeng itu K,O. Pah, menantu kita hebat, Pah. Coba, Papah liat deh!" seru Wina dengan atensi yang menatap ke arah di mana Ella dan Ray berkelahi.


"Wah! Mamah benar. Ella hebat. Bahkan dia lebih jago dari, Ray." Samsul melihat Ella melompat kemudian menendang dan juga memukul para pria itu.


"Mereka tumbang, Pah!" Heboh Wina.


"Ella sadis juga ternyata."


Di sana Ella terlihat menginjak dada tangan kanan dari black Rose yang sudah terkapar lemah. Ya, tangan kanan black Rose turun tangan karena para anak buahnya tak bisa di andalkan. Namun tetap saja dirinya juga kalah telak. Setelah Ella menginjak dadanya, dia terlihat mengancam pria itu kemudian memukulnya dengan keras.


"Kalian hebat!" puji Wina setelah Ella dan Ray kembali ke mobil.


Mereka memang hanya membuat para pria itu terkapar tanpa membunuhnya. Tidak mungkin jika mereka membunuh di hadapan Wina dan Samsul. Bisa-bisa mereka jantungan.


"Biasa aja, Mam. Kita cuma terdesak," ujar Ella.


"Kamu hebat banget, Ell. Nanti ajarin Mamah bela diri kayak gitu ya," pinta Wina.


"Mamah mau belajar beladiri?" tanya Ella.

__ADS_1


"Iya, Ell. Biar, Mamah kuat kayak kamu."


"Kuat enggak, encok iya." Cibir Ella.


"Kurang asem kamu, gini-gini Mamah masih kuat ya." Delik Wina.


"Mamah itu udah tua, jangan sok-soan mau belajar bela diri. Entar keseleo baru nyaho! Mending Mamah belajar belai belalai aja," saran Ella.


"Tanpa belajar pun Mamah udah jago, Ell kalo itu."


"Yodah, praktek aja kalo gitu tiap malem biar mahir. Nggak usah pake mau belajar bela diri segala, ribet! Aku nggak mau ngajarin emak-emak rempong kayak Mamah."


"Dasar menantu nggak ada ahlak! Mamah kutuk kamu jadi, centong baru tau rasa!"


********************"*"


Saat ini mereka sudah berada di rumah. Ella sedang di kamar twins bersama dengan Ray.


"kamu tau siapa mereka, Sayang?" tanya Ray yang sedang memangku Zura.


"Ya," jawab Ella singkat.


"Siapa?" tanya Ray lagi.


"Mereka adalah anggota gangster Black Rose."


"Black Rose?"


"Kok kamu bisa tau?"


"Setiap gangster itu mempunyai ciri khas tanda anggota. Mungkin sebagian orang tidak tau dan tidak akan menemukan tanda itu. Aku sempat mengamati pria yang di perkirakan adalah tangan kanan Black Rose. Di sana aku menemukan tanda itu," tutur Ella.


"Ternyata kamu lebih tau banyak hal ketimbang, Kakak. Padahal kita sama-sama ketua gangster." Ray terkekeh.


"Tapi, apa tujuan mereka menghadang kita ya? Apa mereka tau kita ketua gangster? Atau ada hal yang lainnya?" sambung Ray.


"Sepertinya ini bukan menyangkut gangster, aku liat mereka hanya memandang kita orang biasa. Aku akan cari tau ini semua lebih lanjut lagi," ujar Ella yang kini sedang membaringkan Zam di tempat tidur.


"Cepet banget, Zam tidurnya." Ray menatap lamat wajah sang putra.


"Dia kecapean, jadi cepet tidurnya."


"Sini Zura nya." Ella meraih Zura dari dalam pangkuan Ray.


Setelah kedua anaknya tertidur, merekapun kembali ke kamar. Namun tidak langsung tidur. Untuk Ray, dia membuka tas yang selalu dia bawa ke kampus lalu mengambil tugas yang di kerjakan oleh siswa/siswinya tadi. Ray mengoreksi tugas-tugas itu dan membuat tugas baru untuk besok.


"Apa motipnya?" gumam Ella dengan jari jemari yang menari di atas keyboard laptopnya.


Dia mencari tahu lebih dalam tentang black Rose, dia juga membobol data dari para anggota black rose. Saat ini dia tengah memeriksa data dari tangan kanannya yang tadi siang berkelahi dengan Ella.


"Rifki," gumam Ella yang atensinya terpokus ke laptop.

__ADS_1


"Jadi namanya Rifki. Ok, sekarang tinggal mencari tau tentang ketuanya." Jari jemari Ella kembali menari.


"Tidak ada data tentang ketua black Rose. Hm, sepertinya dia sama sepertiku. Merahasiakan identitasnya. Tapi it's okey, aku bakal cari tau sampe ke akarnya. Karena dia telah berani bermain-main denganku." Ella menyeringai tajam, kemudian dia menaruh laptopnya di atas nakas.


"Kak Ray udah selesai?" Ella duduk di pangkuan Ray.


"Sebentar lagi, Sayang." Ray menciumi gemas kedua pipi Ella.


"Kalo gitu aku bobo duluan, ya." Ella hendak bersingut turun dari pangkuan Ray.


"Temani, Kakak di sini." Ray memeluk erat tubuh mungil Ella.


"Ya udah deh." Ella menyandarkan kepalanya di dada bidang Ray.


Beberapa saat kemudian, Ray telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menunduk untuk melihat sang istri yang sedari tadi ngoceh tetapi kini hanya diam saja, mulut mungil itu tak lagi mengoceh.


"Pantes diem, rupanya kamu tidur, Sayang," gumam Ray dengan senyuman yang tersungging di bibir seksinya.


"Cantik." Ray menatap lekat paras wajah sang istri, dari mulai mata, hidung lalu turun ke bibir.


Cup!


"I love you, siswi paling menyebalkan."


Ray pun menggendong Ella dan memindahkannya ke atas ranjang, setelah sang istri di baringkan. Dia pun menyusul berbaring di samping Ella.


"Nggak jadi lembur deh. Kamunya tidur, Sayang." Ray mendekap erat tubuh sang istri dari samping.


***********************


"Ya ampun! Gue kesiangan!" Pekik Ella setelah dia membuka mata.


"Kak Ray kemana lagi? Apa dia udah berangkat? Kenapa dia nggak bangunin aku coba?," gerutu Ella kemudian dia melangkah ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Beberapa saat kemudian dia telah keluar dari kamar mandi. Ella pun langsung mengambil pakaian yang akan dia kenakan. Kaos polos putih ketat lengan pendek dan juga jeans navy yang juga begitu ketat. Ella pun memakainya dengan baju yang dia masukan kedalam jeans sehingga lekukan tubuhnya tercetak sempurna.


"Tas mana tas?" Ella panik sendiri.


Tampilannya memang sederhana, namun karena tubuh Ella berisi dan juga seksi. Membuat kesan sederhana itu hilang dan tergantikan dengan tampilan modis nan seksi apalagi leher jenjan mulus Ella terekspos karena rambutnya di kuncir kuda.


"Naik motor aja deh." Ella meraih kunci motor dan hendak melangkah keluar dari kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka menampilkan Ray yang sepertinya baru pulang joging jika di lihat dari tampilan dan juga keringat yang bercucuran sehingga membuat ketampanannya semakin pari purna dan membuat Ella terpana.


"Mau kemana?" Intonasi bariton Ray terdengar mengintimidasi.


"Ku-liah," jawab Ella gugup karena dia merasa tatapan suaminya begitu nyalang.


Ray menatap Ella dari atas sampai bawah, sehingga membuat Ella menjadi was-was. Namun dia berpikir tidak ada yang salah dengan penampilannya jadi dia berusaha untuk tenang.

__ADS_1


__ADS_2