
Beberapa saat kemudian Ella telah sampai di rumah orang tuanya, dia langsung saja turun dari mobil dan masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"YUHHUUUU, Ella cantik, manis imut membahana ini datang. Mana sambutantan nya, nih."teriak Ella begitu dirinya masuk ke dalam rumah.
"Gak usah teriak-teriak, ini bukan hutan."ucap Satria yang tengah duduk di sopa sembari bermain ponsel.
"Bosen banget aku lihat muka bangsat. Perasaan tadi masih ada di apartemen kak Ray dah, ngapa sekarang udah di mari lagi."ujar Ella sembari melangkah kearah Satria lalu duduk di sampingnya.
"Sekali lagi lu panggil gue bangsat, gue lelepin tu idung dan satu lagi, gue entu di mari karna gue tinggalnya ya di mari, emangnya elu udah minggat."cebik Satria.
"Lelepin aja kalo bisa, emang berani ngelawan seorang Quin hm?"Ella menatap Satria dengan tajam.
"Ya, iyalah."Jawab Satria.
"Berani?"
"Kagak."
"Haiss, btw Mamih sama Papih di mana? kok sepi sih?"tanya Ella.
"Mereka masih betah di kamar, au lagi ngapain."Jawab Satria.
"Ngadon kali ya, panggilin gih, akunya kangen sama mereka, berudu juga kangen, iya kan berudunya Mimom?"Ella mengelus perut ratanya.
"Jadi elu beneran hamil dek?"Satria langsung menyimpan ponselnya di meja lalu dia beralih menatap kearah Ella.
"Beneran bangsat, masa aku hamil boongan sih,"cebik Ella.
"Serius? ya ampun adek kecil gue udah mau jadi ibu. Selamat ya, adek kecil ku."ucap Satria sembari memeluk Ella.
"Makasih bangsat ku, sayang."Ella membalas pelukan Satria.
"Di jaga dengan baik ya, jangan terlalu kelelahan dan juga jangan ngurusin gangster lu lagi, lu kan lagi hamil takutnya kandungan lu kenapa-napa biar aja si Ray yang ngurus tu gangster ya."ujar Satria.
"Iya, bang. Tapi untuk saat ini tidak bisa, ada suatu hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."jelas Ella.
"Selesaikan dengan cepat, supaya elu bisa fokus dengan kandungan lu."
"Siap bang,"
"Ada apa nih? tumben nie adek kakak akur, pake acara peluk-pelukan lagi."ucap Rina yang baru saja menghampiri mereka bersama dengan sang suami.
"Mamih mah, anaknya akur bukannya seneng, ini malah di komplen."cemberut Ella.
"Ya kan, biasanya kalian gak pernah akur."ujar Rina.
"Aku kan mau jadi Uncle yang baik, Mih. Masa debat mulu."ucap Satria.
"Uncle? maksudnya apa?"tanya Rina.
"Ella sekarang lagi hamil, Mih."Jawab Satria.
"Ah, benarkah sayang?"Rina menatap Ella.
"Iya, bener Mih. Di perut ku sekarang ada berudunya."ujar Ella sembari tersenyum.
"Wah, selamat ya sayang. Akhirnya Mamih bakal jadi Nenek juga."Rina terlihat begitu bahagia.
"Papih juga sangat senang sekali, Nak. Jaga kandungan mu baik-baik yah."timpal Andi.
"Iya, Pih."
Mereka pun berbincang-bincang di ruang keluarga dengan di temani berbagai cemilan dan juga minuman dingin, sedari tadi Ella tidak lepas dari Satria, dia selalu saja menempeli nya, bahkan sekarang dia tengah tiduran di paha Satria sembari bermain ponsel.
__ADS_1
Satria tidak keberatan Ella bermanja padanya, bahkan dengan senang hati Satria akan memanjakan adik kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Seperti saat ini, Ella meminta Satria untuk menyuapi nya dengan salad buah yang berada di hadapannya. Dengan sabar dan juga telaten Satria pun menyuapi Ella.
"Sekarang mau makan apa lagi?"tanya Satria.
"Udah, aku udah kenyang, bang."Jawab Ella.
"Ya sudah, abang ke kamar dulu ya. Mau mandi gerah banget."ucap Satria.
"Ikut."rengek Ella.
"Abang mandi nya sebentar kok Ell, nanti kesini lagi."ujar Satria.
"Gak mau, pokonya aku mau ikut abang."kekeh Ella.
"Kamu tunggu di sini saja ya, sama Mamih dan Papih, abang kamu mandi dulu sebentar."ucap Rina dengan lembut.
"Gak mau Mih, aku mau ikut abang Mandi."kekeh Ella sembari merengek.
"Gak boleh dong sayang, masa mau ikut abang mandi. Nanti abangnya malu."Rina berusaha membujuk sang putri supaya dia mengurungkan keinginannya.
"Pokonya aku mau ikut abang mandi, titik gak pake koma apalagi sepasi."ucap Ella tak mau di bantah.
"Kumat lagi dah, pusing gue kalo udah begini."lirih Satria.
"Abang gak jadi mandi kok Ell, sini bobo lagi."putus Satria, lebih baik nanti saja mandinya kalo Ella sudah lengah. Pikir Satria.
"Sekarang aja, ayok."Ella menarik tangan Satria paksa.
"Asalamualaikum."ucap Ray yang baru saja memasuki rumah.
"Waalaikum salam."Jawab mereka serentak.
"Lu datang di waktu yang tepat bro."ujar Satria terlihat begitu lega.
"Noh, bini elo. Masa pengen ngikut gue mandi, ntar dia liat nganu gue dong. Gue takut nganu gue sawan."ujar Satria.
"Ya ampun sayang, kenapa pengen ikut Satria mandi, hm?"Ray menatap sang istri.
"Aku pengen ikut aja, lagian aku gak bakal ganggu abang kok. Aku mau liatin aja."Jawab Ella sembari menyomot beberapa cemilan di depannya, lalu dia memasukannya kedalam mulut.
"Apalagi ngeliatin sayang, itu gak boleh. Pamali aurat,"ujar Ray.
"Kenapa gak boleh? akunya kan lihatinnya di luar gak ngikut abang masuk ke kamar mandi. Aku nungguin abang di kasur begitu."Jelas Ella tanpa dosa.
"Ngomong dong dari tadi maemunah,"kesal Satria.
Ting nong.
Sura bel berbunyi.
"Siapa noh yang bertamu? bukain sono bang."ucap Ella.
"Males ah, lu aja."
"Abang aja."
"Udah biar Mamih yang buka." Rina pun melangkah kan kakinya untuk membuka pintu.
Tak lama kemudian Rina sudah kembali bersama seorang wanita yang sepertinya lebih tua dari Satria dan juga Ray, wanita itu terus saja menatap Satria dengan tatapan kagum. Wanita itu tampil dengan begitu seksi dia mengenakan dres merah tanpa lengan yang menampilkan gunung jumbo yang hendak meletus, panjangnya juga hanya sampai di atas lutut saja, riasannya juga sangat menor, lipstik merah cabe, blus on yang sangat tebal sehingga membuat pipinya begitu merah dan juga bulu mata lima senti yang membuatnya susah untuk berkedip, jangan lupakan tompel yang menempel di pipi bagian kirinya, tompel itu cukup besar, gigi wainita itu juga menonjol ke depan membuatnya susah untuk mingkam, di tambah lagi rambutnya yang di kuncir dua. Bisa kalian bayangkan seperti apa tampilan wanita ini.
"Astaga, kenapa Mamih bawa ondel-ondel ini lagi sih."lirih Satria.
"Cakep loh, bang."ledek Ella.
__ADS_1
"Cakep dari hongkong."cebik Satria.
"Liat tuh bodinya, beuhh."
"Hai Ayang Catia, Onah teh sengaja datang kesini mau ketemu ayang Catia. Gimana penampilan Onah cantik pisan atuh ya, pasti lah cantik pari purna Onah mah, ya."ucap wanita itu sembari menghampiri Satria.
"Cantik banget tante, saking cantiknya bikin saya mau muntah."ujar Satria.
"Satria gak boleh begitu, ayok duduk Onah. Kalian Mamih tinggal ya, Mamih mau masak dulu."ucap Wina.
"Papih juga ada kerjaan, Papih keruang kerja dulu ya."timpal Andi.
"Iya, Mih, Pih."
Setelah kedua pasutri paruh baya itu pergi, Onah langsung saja duduk di samping Satria dengan mata yang di kedip kan sebelah.
"Ngapa lu? cacingan?"cebik Satria.
"Ih, enggak atuh ayang Catia. Onah mah gak pengen kencing."Jawab Onah.
"Ayang Catia, kita jalan yu."Ajak Onah dengan memanyun-manyun kan bibirnya tapi susah karna terhalang oleh giginya yang terlalu menonjol keluar.
"Ogah,"Satria langsung saja pindah ke sebelah Ella.
"Ih, ayang Catia, kenapa pindah."
"Takut gue, di sono ada demit, gue takut di gigit?"
"Abang, itu pacarnya kenapa di jauhin sih?"ucap Ella sembari menahan tawa.
"Amit-amit gue punya pacar begitu. Ntar bibir seksi gue rawing di gigitin ama entu demit."Satria bergidig ngeri.
"Tapi bodinya bagus loh bang, tu liat gunungnya aja ampe mau tumpah begono."goda Ella.
"Hooh Sat, Cupi aja kalah gedenya. Lo bisa pake noh buat maen bola, kan empuk nendangnya."timpal Ray,
"Di lihat dari ujung kaki ampe dada, beuhh mantep bener. Di lihat dari dagu ampe atas kepala, beuhh, hancurnya nauzubilah."Satria menggelengkan kepalanya.
"Eh, gak boleh gitu. Kasian anak orang, udah dan-dan habis-habisan buat ngapel malah di kacangin, di ledekin pula."ucap Ella.
"Mimpi apa gue semalem, bisa-bisanya gue di apelin sama ondel-ondel."teriak Satria perustasi.
"Ayang Catia, mau sayur lodeh. Onah masakin ya, mau?"Onah berjalan menghampiri Satria.
"Elo kayak ondel-ondel, bukan sayur lodeh."kesal Satria.
"Oh, perkedel, Onah kira sayur lodeh. Kalau itu mah Onah gak bisa bikinnya ayang Catia."cengenges Onah dengan lipstik yang menempel di gigi depannya yang keluar.
"Serah lo, lah. Gue mau mandi."ujar Satria sembari bangkit dari duduknya.
"Ayang Catia ngajakin Onah kawin, hayuk lah Onah mah siap, redo lilahita ala."ucap Onah semangat sembari memeluk Satria dari belakang.
"Oh tuhan, bisa kah kau berhenti memberiku cobaan, mengapa kau selalu membuat ku ter aniaya."lirih Satria prustasi, apalagi saat dia merasakan benda kenyal menempel di punggungnya bagaimana pun dia adalah lelaki normal.
"Sikat aja bang, dari pada jadi jones."ujar Ella.
"Bener tu Sat, daripada perkutut lu kagak dapet sarang mulu. Mending embat aja yang entu."timpal Ray.
"Ngenes amat nasib ku tuhan. Sekalinya di kejar wanita, eh bentukan nya ke ondel-ondel. Mana dia punya kuping di pake pajangan doang lagi, di pake mah kagak."gerutu Satria.
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Author juga mau ngucapin terimakasih buat yang masih setia mantengin cerita recehan author yang masih acakadul ini. Maaf ya bila ceritanya kurang memuaskan karna author masih sangat baru dan sedang proses belajar😊
__ADS_1
Love you All😘😘