Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Ada apa dengan Ella.


__ADS_3

"Em, sayang kita pulang yuk! ini sudah larut malam."ajak Ray buru-buru sebelum istrinya berkata sesuatu yang lebih prontal lagi.


"Ini kan belum selesai kak Ray."ucap Ella.


"Gak papa, lagian kakak udah kenyang dan juga ngantuk. Yuk pulang."ajak Ray kembali.


"Nanti yang beresin ini semua, siapa?"tanya Ella.


"Kan ada David dan juga Ragil, biar mereka saja yang membereskan semuanya. Lagian para anggota belum selesai menikmati makanannya."ujar Ray.


"Ok deh, yok kita pulang. Titip markas ya Dave, Ragil. Kalau ada apa-apa hubungi kami."ucap Ella pada kedua pria yang tengah menahan tawa.


"Asiyap."Jawab David sedangkan Ragil hanya mengangguk saja.


Ella dan Ray pun berjalan keluar setelah mereka berpamitan kepada para anggota. Mereka pulang dengan menggunakan mobil Ray, sedangkan mobil yang dibawa Ella di tinggal saja di markas.


Diperjalanan pulang Ella tidak banyak bicara dia hanya fokus saja pada ponselnya seperti sedang mengerjakan sesuatu. Sedangkan Ray dia fokus menyetir.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediaman keluarga Wardana, mereka di sambut oleh pelayan yang membukakan pintu.


"Mamah sama Papah, sudah tidur bi?"tanya Ray pada pelayan yang membuka pintu.


"Sudah Den, mereka sudah tidur sedari tadi."Jawab sang pelayan.


Ray pun mengangguk saja, lalu dia pun menggandeng Ella untuk pergi ke kamar mereka. Setelah sampai di kamar mereka langsung saja membersihkan diri.


"Em, kak Ray."panggil Ella lirih.


"Kenapa, hm?"tanya Ray sambil menghampiri Ella yang sedang duduk di tepi ranjang, mereka baru saja selesai bersih-bersih.


"Aku mau pegang belalai."Jawabnya malu-malu.


"Ini pegang aja, semua yang ada di kakak adalah milik kamu, jangan malu-malu."ucap Ray sembari membuka handuknya, karna kebetulan dia belum mengenakan baju dan masih mengenakan handuk.


Ella pun mendongkak kearah Ray yang sedang berdiri di hadapannya, lalu matanya pun ia arahkan pada belalai Ray yang nampak masih sedikit basah karna dia baru saja selesai mandi.


"Bener kak Ray, kayak sosis yang tadi. genyel-genyel."ucap Ella sembari memegang belalai Ray yang masih tertidur.


Ella terus saja memencet-mencet belalai Ray, memainkannya seperti skusy sehingga membuat sang belalai terbangun dan berubah menjadi tongkat bisbol.


"Kak Ray, jangan di bangunin. Aku maunya kayak tadi jadi belalai, bukan tongkat bisbol."rengek Ella.


"Tapi dia bangun sendiri, sayang."ucap Ray.


"Aku gak mau tau, pokonya dia harus jadi belalai lagi."cemberut Ella sembari meremas kuat tongkat bisbol Ray.

__ADS_1


"Gak bisa sayang, dia udah bangun harus di tuntaskan dulu."Ray berucap sembari meringis karna tongkat bisbolnya sedikit ngilu akibat remasan Ella.


"Suruh bobo lagi aja."dengan entengnya dia berucap.


"Mana bisa."


"Harus bisa, pokoknya aku mau belalai. Huaaaa."Tangis Ella pun pecah.


"Ok, ok. Kakak suruh dia bobo dulu ya."ucap Ray kelabakan, dia bingung kenapa istrinya jadi seperti ini. Perasaan tadi istrinya masih menjadi Ella yang tegas dan juga dewasa, tapi kenapa sekarang berubah drasrtis seperti ini.


Ray menarik nafasnya panjang, lalu dia menghembuskannya kembali. Dia terus saja melakukan itu supaya tongkat bisbolnya kembali menjadi belalai. Karna tak kunjung tertidur dia pun akhirnya melakukan olahraga ringan dengan tubuh yang masih polos.


"Akhirnya, lu tidur juga Bon."ucapnya pada tongkat bisbolnya yang sudah menjadi belalai. Ray pun berjalan kembali menghampiri Ella yang masih menangis.


"Sayang, belalai Come back."Ray langsung saja berdiri di hadapan Ella.


"Huaaa, belalai ku kembali."Ella langsung saja mengarahkan tangannya untuk menyentuh kembali belalai yang sangat menggoda itu.


Ella memainkan belalai Ray dengan sangat riang, matanya memancarkan binar kebahagiaan. Dia juga mengelus-ngelus belalai yang di tumbuhi rambut yang begitu lebat itu, dia begitu senang memainkannya sesekali dia juga menciumnya.


Berbeda dengan Ray, dia mati-matian menahan gejolak hasratnya ketika Ella bermain dibawah sana, dia memejamkan matanya guna menetralkan nafasnya yang sangat memburu menahan sesuatu. Apalagi saat Ella menciumi belalainya dan itu sontak saja membuatnya tak kuat lagi menahan hasrat itu, alhasil sang belalai berubah kembali menjadi tongkat bisbol.


"Huaa, hiks, hiks. Belalainya bangun lagi."Ella kembali menangis sembari menjatuhkan dirinya kelantai.


"Sayang, kamu mainin tongkat bisbol aja, ya."bujuk Ray.


"Gak mau, huhuhu. Aku maunya belalai, hiks."Ella malah berguling-guling di lantai.


"Kenapa jadi gini sih? Ah, gara-gara sosis ini mah."Ray menjambak rambutnya kasar sembari berjalan mondar-mandir dengan tubuh polos dan sesuatu yang berdiri tegak itu ikut berayun.


"Aku mau mainin belalai punya Papah, aja."ucap Ella sembari bangkit lalu dia hendak melangkah.


"Eh, jangan. Nanti kamu di cincang Mamah lagi."cegah Ray buru-buru.


"Tapi, akunya mau belalai. Gimana dong."ucap Ella sembari menghapus air matanya.


"Emang kamu sangat ingin sekali memainkan belalai, ya?"Ray mengelus pelan surai istrinya.


"Iya, kak Ray. Aku gak tau kenapa begini, aku gak bisa menahan keinginan ku."lirih Ella.


"Maafin aku kak Ray, pasti kak Ray kesal dengan sikap ku. Tapi aku juga gak tau kenapa aku jadi begini."sambungnya lirih.


"Gak papa, sayang. Kakak tidak kesal kok."Ray mengecup kening Ella lembut.


"Hueeek, kak Ray jangan deket-deket aku. Kak Ray bau, hueek."Ella langsung mendorong Ray, dan menjauh darinya sembari menutup hidungnya.

__ADS_1


"Kakak kan sudah mandi, masa bau."Ray mengendus badannya sendiri.


"Enggak kok, kakak wangi seperti biasa."Ray berjalan mendekati Ella.


"Jangan deket-deket, kak Ray bau. Hueekk."Ella langsung saja berlari menuju kamar mandi guna mengeluarkan isi perutnya yang terasa bergejolak.


"Apa aku sebau itu?"lirih Ray yang malah bengong, kemudian dia tersadar bahwa Ella tengan muntah di kamar mandi lalu dia pun segera berlari dengan tubuh yang masih polos.


Sesampainya disana Ray langsung saja membantu Ella yang sedang muntah, Ray memijit pelan tengkuk Ella.


"Huaa, kenapa aku muntah. Gak enak rasanya, hiks, aku juga lemes."lirih Ella yang sedang bersandar di dada Ray.


"Mungkin kamu salah makan tadi? makannya kamu mual begini."ujar Ray.


"Enggak, aku mual karna nyium bau badan kak Ray yang bau."ucap Ella lemas.


"Kakak kan udah mandi, kakak wangi sayang gak bau."Ray kembali mengendus badannya.


"Kak Ray bau, bau banget."


"Perutnya gimana? masih mual."tanya Ray hawatir.


"Iya, perut akunya gak enak."Jawab Ella manja.


"Hm, ternyata Quin AOD, cengeng juga ya. Kita periksa ke dokter besok supaya kita tau kamu mualnya. kenapa."ucap Ray lembut.


"Quin AOD juga manusia, aku emang sangar kalo lagi bertarung. Tapi aku jadi lemah kalau lagi bersama kak Ray, aku seperti menjadi diriku sendiri. Jadi aku yang dulu lagi."jelas Ella.


"Kakak suka kamu yang apa adanya, ketika bersama dengan kakak. Tapi kamu akan terlihat menakutkan di depan orang yang berniat menjahati mu."


"Kita bobo yuk, besok kita ke dokter ya."ajak Ray.


"Aku udah gak papa kok, akunya gak usah ke dokter ya."ucap Ella.


"Tetep harus periksa, takutnya kamu keracunan makanan."


"Aku bukan keracunan makanan, tapi keracunan bau badan kak Ray. Malam ini kak Ray tidur disopa aja, ya. Akunya gak mau tidur sama kakak, bau."ucap Ella sembari berlalu pergi dari hadapan Ray.


"Tidur di sopa? terus nasib si Bonar pagimane?"Ray melirik bagian tubuhnya yang masih berdiri tegak meminta keadilan.


Like👍 Comen, Vote and Fav. ya😘


Dan baca juga ya karya author yang satunya lagi, karya itu sedang mengikuti event. Mohon dukungan nya dari kakak-kakak semua🙏


Judulnya I'm a wife not a maid(aku tidak lemah). mampir ya kesana, terimakasih😘😘

__ADS_1


__ADS_2