
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Satria datang juga dengan membawa Nando. Awalnya Nando senang saat mengetahui Ella ingin bertemu dengannya, dia berharap hubungannya dan Ella bisa membaik lagi seperti dahulu, namun kini, kesenangan itu berubah menjadi ketakutan. Kala tatapan tajam setajam mata pisau yang siap menghunus ke dalam jantungnya, menyambut kedatangan dirinya.
"Duduk sini, Do," ucap Ella, wanita itu tidak ketus lagi seperti biasa mereka bertemu. Kini wanita itu tersenyum ceria dan juga penuh kehangatan.
"A-ku di sini aja, Ell." Nando memilih duduk di samping Satria, bukan tidak mau duduk di samping Ella. Tetapi Nando tidak mau jika dirinya pulang dari sini hanya tinggal nama.
"Ihh kamu gitu ya, nggak mau lagi ketemu aku? Sombong banget, duduk di deket aku aja nggak mau." Bumil itu merajuk dengan menatap Nando kesal.
"Bu-kan begitu, Ell. Tapi--" Nando tak melanjutkan ucapannya, karena dia sadar. Ray tengah menatapnya penuh ancaman.
"Tapi apa?" tanya Ella dengan tatapan tajamnya khas Quin AOD.
Nando di buat tak berkutik saat di tatap oleh pasangan suami istri itu, dia tak tau harus apa? Melirik pada Satria untuk meminta bantuan namun pria itu hanya diam saja sembari bermain ponsel.
"Emm, aku alergi wanita, Ell." Jawaban Nando sontak membuat Ella mengerenyit, sejak kapan pria itu alergi wanita? Perasaan saat mereka dulu dekat, biasa-biasa saja.
"Sejak kapan?" Sorot mata Ella begitu mengintimidasi, sorot mata itu seakan berkata tidak ingin di bohongi.
"Se-jak hari ini," jawabnya gugup karena sedari tadi Ray terus menatapnya dengan genderang permusuhan.
"Buahaa, lo kenapa sih, Cocodot? Ngapa gugup gitu? Biasa aja kali, si Ray kagak bakal nelen ini." Satria yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Iya, Do. Biasa aja kali, anggap aja Kak Ray itu manekin yang melotot sepanjang masa," ucap Ella santai tanpa melihat ekspresi sang suami yang sudah semakin tak bersahabat.
"Sabal, Pop. Ini ujian." Si cantik Zura yang memang berada di dekat sang Pipop bersama sang abang juga mengelus lengan kekar Ray.
"Ujian terus, kapan lulusnya," cetus Ray.
Nando kini sudah tidak segugup tadi, dia sudah bisa bercengkrama dengan santai bersama Ella. Walau pemuda itu enggan menatap Ray, pria itu tidak mau menatap Ray yang pastinya sedang memplototinya dengan tajam.
"Sekarang lo tinggal di mana?" tanya Ella yang duduk nya sudah pindah ke samping pemuda itu.
"Masih di tempat yang dulu kok, Ell," jawab Nando.
"Lo main dong ke rumah, nyokap gue selalu nanyain lo tau," lanjutnya.
"Oh ya? Jadi nyokap lo masih inget sama gue?"
__ADS_1
"Inget dong, siapa sih yang nggak inget sama cewek imut yang selalu bikin darting tapi ngangenin," Jawab Nando tanpa sadar.
"Gue jadi kangen masa dulu, Do," ucap Ella dengan pikiran yang melanglang buana ke masalalu.
"Di mana kita bebas, tertawa tanba beban. Ngelakuin apa pun hal yang kita mau," lanjutnya.
"Adedeuh! Ada yang nastar gila nih. Sampe lupa bikinin tamunya minum. Nggak tau apa kita kesini kayak di kejar setan, kudu buru-buru gpl, di pikir kita tampir yang bisa melesat!" gerutu Satria.
"Vampir kali ah, kalau tampir mah buat jemur padi," koreksi Ella.
Mereka asik berbincang tanpa mempedulikan Ray yang kini wajahnya sudah kusut seperti kain pel dan juga kumel seperti odgj di jalanan. Ternyata alasan Ella meminta Nando kemari untuk mengenang masa-masa SMA mereka, bahkan bumil itu sudah menyiapkan dua set seragam SMA untuk dirinya dan juga Nando kenakan. Dan kini kedua umat itu sudah memakai seragam layaknya anak sekolah, lengkap dengan sepatunya pula. Ella nampak bahagia, dia tidak tau saja hati sang suami sudah seperti larva dalam gunung yang siap meletus. Karena melihat kedekatan mereka.
"Jangan cembelut, Pop. Jelek tau," ucap Zura seraya mencubit pipi Ray.
"Mom kalian jahat," adu Ray dengan wajah memelas.
"Mom ndak jahat kok, dia itu lagi main sekolah-sekolahan. Pop mau main juga?"
"Nggak," tolak Ray ketus.
Melihat pop nya, hanya diam saja. Zura pun segera beranjak menuju ke dapur, tak lama ia kembali dengan menenteng satu keresek besar camilan.
"Dalipada cembelut, mending kita maem jajan aja yuk," ajak Zura sembari mengeluarkan berbagai cemilannya dari dalam kresek.
"Kamu inget nggak, Do. Waktu kita pulang telat gara-gara pergi ke sirkuit dulu nonton balapan?" tanya Ella yang sedang duduk lesehan di karpet bulu dengan Nando di hadapannya yang sedang duduk bersila.
"Ingat, waktu itu kita pulang ujan-ujanan sampe kamu besoknya sakit," sahut Nando.
"Bagus ya, tadi lo gue, sekarang aku kamu. Nanti apalagi? Bunda ayah? Kucing garong, ayam bebek," gerutu Ray sembari meremas bantal kecil yang sedang dia peluk.
"Sabal, Pop. Mending minum susu dulu, bial tenang." Zura menyodorkan susu kotak rasa strawberry yang sudah di tusuk sedotan ke hadapan Ray.
Tanpa penolakan, Ray langsung menyedot susu itu sampai tandas tak tersisa. Melihat susunya habis, Zura pun mengambil coklat batang, lalu menyuruh sang abang untuk membukanya.
"Mom kamu nggak ngerti perasaan, Pop. Dia te---" ucapan Ray terhenti karena si cantik Zura memasukan coklat berukuran sedang kedalam mulutnya.
"Ara, Pop lagi bi--" Setelah Ray menelan coklat itu dan hendak bicara, Lagi-lagi Zura menyuapkan coklat sehingga Ray terus mengunyah tanpa bisa bicara karena mulutnya penuh. Dia hanya mengomel dalam hati, merutuki putrinya yang baginya sangat menyebalkan saat ini.
__ADS_1
"Jangan ngomel mulu, Pop. Kaya emak-emak yang belum dapat jatah bulanan aja," ucap Zam yang sedari tadi memperhatikan pipopnya yang terus mengomel.
"Betul itu, Pop. Selain kaya emak-emak. Ngomel mulu bisa mempelpendek umul. Pop mau mati muda, telus Mom jadi janda muda, di embat olang. Pop dalam kubul cuma bisa gigit jali ntal," celoteh Zura.
"Anak luknut! Pop sendiri di sumpahin mati muda," gerutu Ray semakin kesal.
"Siapa yang nyumpahin, olang aku cuma ngasih tau. Iya nggak bang?" Zura menatap Zam meminta pembelaan.
"Iya, pop. Selain dapat memperpendek umur, ngomel mulu juga bisa mempercepat penuaan. Pop mau tua sebelum waktunya? Ntar Mom ninggalin pop karena pop udah aki-aki," sahut Zam.
Ray semakin menggerutu, tetapi dalam hati. Karena kalau langsung, sudah bisa di pastikan. Dia akan di semprot kembali oleh kedua anaknya. Dia melihat ke arah Ella, wanita itu masih asik berbincang tanpa menoleh ke arahnya. Ingin rasanya Ray menarik Ella saat ini juga namun dia sudah janji akan memenuhi permintaan Ella apapun itu. Sungguh Ray menyesal karena mengiakan, kalau tau permintaan Ella itu ingin bertemu mantan dambaan hati, tidak akan Ray mengiyakan permintaan konyol itu.
"Pop jangan sedih dong, nanti Ala beliin kindel joy mau?" Zura menatap wajah sang pipop yang kini terlihat murung. Dia merasa kasihan melihat sang pipop, sungguh gadis cilik itu tidak tega.
"Ala beliin kindek joy ya?" Sekali lagi gadis cilik itu bertanya.
Ray menggeleng.
"Main belbie mau?"
Ray menggeleng lagi.
"Main ulal tangga?"
Dia menggeleng.
"Nyot dodot mau?"
Ray mengangguk, karena di telinganya terdengar nonjok dodo mau? Dodo panggilan Ella untuk Nando, tentu saja dia ingin sekali menonjok pria itu, pria yang sudah mengambil perhatian Ella. Ingin sekali Ray memberi bogeman di wajah dodo yang sedang tertawa itu.
"Awas aja lo, setelah ini gu----"
Lagi-lagi ucapannya terpotong karena tanpa aba-aba, Zura memasukan dot berukuran besar yang sudah dia isi dengan susu kedalam mulut Ray.
"Nyot, Pop, nyot. Ayo!" seru Zura yang mana membuat Satria yang baru datang kembali setelah melihat kolam ikan di belakang menjadi tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Nando dan Ella yang kini ikut menatap ke arah Ray.
Jangan lupa tinggalkan jejak guys😘
__ADS_1