Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Kepala copot


__ADS_3

"Oho! Tidak semudah itu. Agar-agar basi!" Ella menangkis katana Arga dengan katana miliknya.


"Punya nyali juga kau, Bocah!" Arga menatap Ella sinis.


"Udah gue bilang! Gue bukan bocah!" sentak Ella yang mana membuat Arga terkesiap.


"Hiyaaa!" Arga yang emosinya sudah memuncak pun langsung saja menyerang Ella kembali.


Sementara itu, Ray juga melawan seorang pria yang Tiba-tiba menyerang nya. Sepertinya pria itu adalah pemimpin dari para pembunuh bayaran itu. Pasutri itu berjibaku melawan musuh masing-masing dengan gerakan yang hampir sama lincah nya. Perbedaan nya hanya pada raut wajah, jika Ray cenderung dingin dan datar saat bertarung. Berbeda dengan Ella yang nampak pecicilan dan sesekali mengeluarkan gurauan nyeleneh nya.


"Akhhh! Sialann kau bocah tengik!" teriak Arga murka karena Ella berhasil menyayatt lengan kanannya.


"Ups! Sorry, gue sengaja!" Ella menutup mulutnya kemudian menatap Arga dengan senyuman mengejek.


"Aku akan membalasmu bocah tengik!" Arga menyerang Ella dengan membabi buta.


Seperti biasa, Ella hanya menangkis serangan itu sembari mencari celah di saat Arga lengah. Ella terus mengawasi pergerakan Arga dengan wajah santainya seolah lawannya tidak lah berbahaya.


Blass!


Ella menebas tangan kiri Arga di saat Arga mulai kelelahan yang mana membuatnya lengah. Arga berteriak kesakitan dengan berbagai umpatan kasar yang terlontar dari mulutnya. Darah segar mengucur deras dari pangkal tangannya, membuat Arga lemas namun tetap saja ia angkuh dan terus memaki Ella.


"Bagaimana, Om? Apa kau masih ingin menyebutku bocah?" Ella menatap remeh ke arah Arga.


"Jangan senang dulu bocah! aku belum kalah!" Arga masih tetap berusaha untuk menyerang Ella dengan tangan sebelah kanannya.


"Ups! Nggak kena! Wleee!" Ella menjulurkan lidahnya saat Arga mengerang prustasi karena dirinya selalu gagal menyerang Ella.


"Cih! Permainan mu sangat membosankan, Om tua tapi jomblo!" Ella mendelik kesal sembari menatap Arga yang terhuyung di lantai akibat lemas karena kehabisan darah.


"Hahaha! Biarlah aku mati. Tapi setidaknya aku telah berhasil melenyapkan musuh bebuyutan ku." Arga tertawa penuh kemenangan meski badannya lunglai tak berdaya soklin dan juga ekonomi.


"Siapa yang berhasil kamu lenyapkan?" Andi datang bersama Satria dengan angkuh.


"Ka-u... Bukankah?" Arga menunjuk kedua mayat berkepala buntung yang tak jauh dari sisinya.


"Ternyata kau tidak secerdas yang aku kira, Arga." Andi berjalan mendekat pada Arga.


"Ke-napa bisa?" Arga masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kedua orang ini masih hidup? Lalu siapa orang yang ia lenyapkan tadi?


"Tentu bisa dong, Om tua. Apasih yang Stela nggak bisa," sahut Ella bangga.


Arga hanya terdiam merasakan sakit di sekujur tubuhnya apa lagi di bagian tangan. Dia masih bertanya-tanya dalam benaknya tentang apa yang terjadi? Banyak skali spekulasi yang ia simpulkan sendiri di antaranya, dia menebak jika yang di bunuhnya adalah saudara kembar Andi dan juga Satria. Tetapi itu tidak mungkin.


"Jujur aku sungguh kasian sama, Om. Udah tua, renta. Jomblo lagi. Tapi sayangnya, Om agar busuk jahat. Jadi, dengan sangat terpaksa aku akan membuat, Om jadi Joti. Jomblo sampai mati," ucap Ella dengan atensi yang menatap ke arah Arga.

__ADS_1


"Tapi sebelum, Om mati. Sebaiknya aku obati dulu rasa penasaran, Om deh." Ella mengkode salah satu karyawan yang tersisa untuk menghampirinya.


"Om pasti seneng kan? Karena, Om udah berhasil ngebunuh para karyawan, Papih aku." Ella menunjuk para karyawan yang tergeletak di lantai bercampur dengan anggota musuh yang mati.


"Tapi asal, Om tau. Om itu kena tipu. Hahaha." Ella tertawa puas.


"Kasian banget cape-cape ngabisin tenaga bahkan sampai pada mati pula. Tapi yang di lawan cuma manusia buatan alias manusia tiruan, wkwkwk." Ella semakin tertawa puas.


"A-pa?" Arga terkesiap mendengar penuturan Ella. Apa katanya tadi? Manusia buatan? Mengapa otak cerdasnya tidak pernah terpikirkan akan hal itu.


"Mereka semua yang udah lo bunuh cuma manusia buatan, Om. Sian deh lu ketipu," imbuhnya dengan bersidekap dada.


Ya, para karyawan yang tewas itu hanyalah manusia buatan saja yang di buat seratus persen menyerupai manusia aslinya karena Ella telah memprogram para manusia buatannya semirip mungkin dengan orang yang akan ia tiru. Mereka juga terbuat dari DNA manusia. Sungguh otak Ella begitu cerdas sampai terpikirkan hal seperti ini. Rupanya sedari dia tau Arga hendak melakukan penyerangan pada perusahaan papihnya. Dengan siaga Ella mempersiapkan semua ini dengan begitu matang.


Arga tidak bisa berkata-kata lagi. Sungguh ia terlalu memandang remeh wanita yang ia sebut bocah tengil itu. Arga yakin, Ella bukanlah wanita biasa jika di lihat dari cara bertarung dan juga kemampuan yang di milikinya.


"Siapa tau papih ingin membunuhnya." Ella menyerahkan katana yang ia pegang kepada Andi.


"Ti-dak, Ell." Andi menatap katana itu dengan takut.


Kemudian dia menatap lekat putrinya. Benar kata Satria, setelah dia melihat ini. Dia tidak akan menganggap Ella sebagai putri polosnya lagi. Dia terlihat sangat mengerikan ketika menghapi musuh. Aura yang di keluarkan nya pun sangat berbeda dari biasa. Aura yang Ella keluarkan seperti mengandung makna yang tidak biasa.


"Abang?" Kini Ella beralih menatap sang Abang.


"Kalo gitu, aku aja yang bunuh manusia pengganggu ini." Ella menatap Arga dengan seringai tajam.


"Ell...," lirih Andi gemetar, dia tidak menyangka putri polosnya bisa sekejam ini.


"Apa, Papih ingin membiarkan nya hidup?" Ella beralih menatap Andi.


"Bunuh saja aku! Aku tidak sudi hidup dengan kondisi cacat seperti ini!" teriak Arga yang terkulai lemas.


"Tuh! Dia aja mau di bunuh, Pih," ucap Ella.


"Apa kamu tidak ingin menikmati indahnya dunia ini lagi, Arga? Aku bisa memberimu kesempatan kedua. Asal kau mau berubah." Andi berjongkok di hadapan Arga.


"Aku ingin hidup jika kamu menyerahkan, Rina padaku," tutur Arga dengan menatap Andi sengit.


"Wah! Ngelunjak ini si Agar-agar, udah di kasih gula minta susu," celetuk Ella.


"Aku tidak akan membiarkan istriku jatuh ke tangan bedebah sepertimu," ucap Andi tegas.


"Awas Pih!"


Bugh!

__ADS_1


Ella menarik Andi kemudian menendang Arga kuat saat melihat lengan sebelah kanan Arga mengeluarkan sebuah belatii tajam dan hendak ia tusukan kepada Andi yang tengah berjongkok di hadapannya.


"Sekalinya sampah tetaplah sampah! Nggak akan pernah bisa berubah!" Ella menatap Arga penuh kebencian. Hampir saja papihnya terluka, untung saja atensinya tidak pernah lengah memperhatikan gerak-gerik Arga.


Dugh!


Ella kembali menendang Arga hingga dia terlentang, kemudian seperti biasa, kakinya akan menginjak kuat dada musuh sampai napas musuhnya tersendat.


"Lo akan berakhir di tangan gue!" Ella menyeringai kemudian..


Bless!


Belati milik Arga menancap di jantungnya sendiri. Ya, Ella mengambil belati Arga yang hendak di gunakannya untuk menusuk Andi tadi.


"Senjata makan Agar-agar basi." Ella mencabut belati itu dan menusukannya berulang kali sampai Arga tak bernyawa.


"Yah, mati. Nggak seru!" Ella melemparkan belatii yang di penuhi darah Arga itu.


Blassss!


Satu kali tebasan katananya, kepala Arga telah terlepas dari tempatnya dengan kondisi mengenaskan. Sehingga membuat Andi dan juga Satria mematung, ngeri, mual syok. Itu yang di rasakan Andi. Jika Satria, dia tidak terlalu syok karena dia tau kebiasaan membunuh sang adik. Tentulah, orang adiknya ketua gangster yang slalu berhadapan dengan musuh.


"Yah! Copot, Pih pala temen papih. Gimana dong? Apa mau di lem biar nyambung lagi kayak kepala barbie nya, Zura?" Ella menatap sang papih yang masih terbengong dengan mulut menganga.


"Tutup mulutnya, Pih. Ntar kodok masuk," lanjutnya yang di turuti oleh Andi namun ia masih terbengong syok.


"Kak Ray, Papih sawan ya." Beralih menatap sang suami.


"Atau kena ayan?" sambungnya pula.


Jangan lupa tinggalkan jejak😘


Oh ya, otor punya rekomendasi cerita bagus nih. Di baca di amati jangan skip. Cerita nya seru di jamin klean pada suka. Cuss kepoin deh😍



Cinta Sendiri


Blurb :


Mencintai tanpa dicintai... Kedekatannya selama ini dengan sahabat abangnya hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.


Anggita Nur Anggraini, biasa disapa Gita telah jatuh cinta pada sahabat almarhum abangnya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan dia sampai merelakan kehormatannya, sayangnya lelaki itu tetap tidak melihatnya.


Apakah cintanya akan berbalas?

__ADS_1


__ADS_2