
Hari ini Satria dan juga Dalina sedang melakukan piting baju pengantin, memang acaranya sangat mendadak. Tadinya piting akan di lakukan tiga hari lagi, namun di hari itu akan sangat sibuk mengurus gedung dll. Belum lagi acara syukuran empat puluh hari twins yang akan di laksanakan seminggu sebelum acara pernikahan mereka.
"Ganti."
Lagi-lagi Satria tidak menyukai gaun yang di kenakan oleh Dalina, ini adalah gaun keempat yang Dalina coba. Tetapi lagi dan lagi Satria menyuruh untuk menggantinya dengan alasan tertentu.
"Dadanya terlalu terbuka."
"Bawahnya terlalu minim."
"Terlalu transparan."
Itulah yang di dengar Dalina saat dia menunjukan baju yang telah dia pilih. Beberapa saat kemudian Dalina sudah keluar dengan gaun ke lima. Gaunnya tidak terlalu terbuka, bahkan untuk yang kali ini sangatlah sopan, dengan tangan panjang sesiku, bawahan menjuntai tanpa belahan.
"Jangan nyuruh ganti lagi, aku cape tau," ketus Dalina dengan wajah ditekuk.
Satria langsung menatap kearah Dalina begitu dia mendengar suara sang kekasih. Dia menatap Dalina lekat dari atas sampai bawah. Glek, Satria menelan salivanya kasar kala dia melihat lekukan tubuh calon istrinya terpampang dengan sempurna. Apalagi di dua bagian tertentu yang sangat menonjol, karena meskipun gaunnya panjang dan tertutup, tetapi gaun itu sangatlah ketat sehingga lekukan tubuh Dalina terekspos sempurna.
"Ganti," perintah Satria penuh penekanan..
"Ganti lagi? kamu gak salah? ini udah gaun kelima, Sat," ucap Dalina kesal.
"Pokonya ganti." Satria tidak mau dibantah.
"Apa yang salah coba sama gaun ini? perasaan gaunnya sopan kok, tertutup lagi." Dalina memutar tubuhnya di hadapan Satria.
"Salahnya bemper sama balon kamu terekspos, nyetak banget tau gak? aku gak rela apa yang menjadi miliku di pandang oleh orang lain," ujar Satria.
"Lalu aku harus pake apa, hah?" kesal Dalina.
"Apa aja, yang penting tertutup dan juga gak ngetat. Pokonya aku gak mau lekukan tubuh kamu dilihat orang," sarkas Satria.
Dalina pun langsung saja berbalik dengan wajah yang kesal, pasalnya dia sudah lelah sekali karena terus saja mencoba gaun yang sangatlah berat sampai lima kali. Dalina kesal, dia benar-benar kesal pada Satria yang ternyata sama posesif nya dengan Ray, dia pikir Satria akan biasa saja dan tidak memperdulikan apa yang dipakai olehnya.
Tap! tap! tap!
Suara langkah kaki Dalina terdengar nyaring mendekat kearah Satria, otomatis Satria yang tengah bermain ponsel pun langsung saja mendongkak.
"Ini kan yang kamu mau, bagaimana? sudah tertutup bukan?" ucap Dalina sembari berpose.
"Beb... Kita mau nikah, loh. Bukan mau tarawih." Satria menatap Dalina cengo, pasalnya Dalina kini sedang mengenakan mukena berwarna putih gombrang plus bawahannya yang menjuntai ke lantai.
"Kamu mau yang tertutup, kan? nah, ini udah tertutup sempurna. Bahkan hanya wajahku saja yang terlihat," ujar Dalina sembari memutar-mutar tubuhnya sehingga mukena yang dia kenakan menggelembung.
"Tapi jangan mukena juga kali, Beb," protes Satria.
"Terus apa dong? aku capek tau gak dari tadi nyoba gaun di protes mulu. Kamu pikir mudah apa ganti gaun yang beratnya nauzubilah itu? capek, Sat, capek." Dalina terlihat sangat murka.
"Atau kalo perlu, kamu perban seluruh tubuhku seperti mumy. Supaya gaada yang bisa melihat tubuhku, kulitku, bahkan wajahku!" amarah Dalina kian memuncak.
"Maaf, Beb. Aku gak bermaksud kayak gitu," sesal Satria.
"Apa kamu bilang? maaf? gak semudah itu, aku capek, Sat. Capek kamu suruh gunta-ganti gaun melulu." Dalina kini mendudukan tubuhnya yang masih berbalut mukena di sopa.
__ADS_1
"Mending kita batalin aja deh pernikahan ini, aku gak mau nikah sama orang banyak aturan seperti kamu." Dalina berucap nampak serius.
"Jangan dong, Beb. Masa aku gak jadi kawin, plis, Beb. Jangan ya, kesianan perkutut pengen punya sarang," mohon Satria memelas.
"Kamu mau nikah apa kawin sih? kenapa pake bawa-bawa perkutut segala?" tanya Dalina kesal sekaligus ingin tertawa karena di saat seperti ini Satria masih mengingat dan membawa perkutut dalam perdebatan mereka.
"Dua-duanya, aku dan kamu nikah. Perkutut sama apem kawin," jawab Satria yang masih lesu.
"Pilis... Maafin aku ya," lanjutnya sembari memegang tangan Dalina.
"Ok, tapi dengan satu syarat,"
"Apa?"
"Nanti kamu juga tau." Dalina terlihat menyeringai.
Sementara para pegawai butik yang memperhatikan perdebatan mereka hanya bisa, menahan senyum karena menurut mereka Satria dan Dalina pasangan yang sangat lucu. Apalagi saat melihat Satria tidak bisa berkutik pas Dalina hendak membatalkan pernikahan, salah satu pegawai sampai ada yang tertawa melihat ekpresi Satria.
"Jangan ketawa, Mbak. Kita lagi berantem, bukan kontes komedi." Satria menatap sengit pegawai itu.
Disisi lain,
"Jangan itu, Del. Cari yang kalem napa. Kalo itu mah udah kayak tampilan kunang-kunang malem," ujar Ella.
"Apaan tuh kunang-kunang malem?" Dela tidak mengerti.
"Itu loh, wanita yang suka keluar malem," jawab Ella.
"Kupu-kupu malam kali, El," delik Dela.
"Gak pa-pa lah, Sama-sama suka keluar malem ini," ucap Ella yang sedang menilik jejeran lingerie yang berada di hadapannya.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah mall yang tak jauh dari rumah Ray, Ella dan juga Dela sudah janjian membeli lingerie bersama untuk mempersiapkan pembukaan gua kembali, karena Dela pun belum melakukan pembukaan meskipun usia Gara sudah melewati empat puluh hari. Dia masih takut untuk melakukan itu, jadi dia memutuskan untuk melakukan pembukaan gua barengan saja bersama Ella pas twins berusia empat puluh hari.
__ADS_1
"Ya ampun, pada tipis gini. Nanti masuk angin gimana?" gumam Dela yang masih terdengar oleh Ella.
"Iyalah, namanya juga lingerie. Kalo tebel namanya bukan lingerie tapi mantel," sahut Ella.
"Aduh, malu gak ya, nanti pas di lihat Aa Galang aku pake beginian." Dela menatap lingerie berwarna biru muda yang ada di tangannya.
"Giliran pake lingerie aja, malu. Kemana aja tuh pas di polosin? malu gak? gak lah ya, ke enakan yang ada." Dia yang nanya dia yang jawab, dasar Ella.
"Malu lah, Ell. Tapikan lampunya di matiin," cengir Dela.
"Untung aja anak kamu gak item, Del," ucap Ella.
"Kenapa emangnya?"
"Ya, pan kalian suka main gelap-gelapan. Biasanya anaknya pasti item," tutur Ella.
"Ya, gak gitu juga kali, Ell. Kalo emak bapaknya putih ya, pasti anaknya putih. Kalo anaknya item, kan patut di pertanyakan itu anak siapa, masa iya, anak lutung," cebik Dela.
"Mana bisa lutung ngehamilin orang? emang dia tau dimana letak guanya?" tanya Ella.
"Istilah Ell, bukan beneran. Aku kan udah bilang, masa iya anak lutung. Masa, Ell, masa," kesal Dela.
"Lagian, kamu tu. Lutung gak salah kok dibawa-bawa, ntar dia denger, dia bingung loh. Kapan gue ngehamilin manusia? kenal aja enggak."
"Au, ah. Serah kamu ajalah."
Jejak😘😘😘😘
__ADS_1