Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Tersesat


__ADS_3

"Kenapa Ell?" tanya Dela saat melihat ekspresi panik Ella.


"Gue pergi dulu guys!" Ella langsung bangkit.


"Vid, lo ikut gue," imbuhnya melirik David.


"Siap!" David langsung bangkit dari duduknya.


"Gue gimana, Ell?" tanya Ragil.


"Lo anterin, Dela balik aja. Abis itu terserah mau ngapain. Mau pacaran juga boleh." Ella berlalu pergi dengan di ikuti oleh David.


"Sebenarnya ada apa, Ell? Kok lo panik gitu?" tanya David setelah mereka sampai di luar.


"Gue dapat laporan dari anggota AOD bayangan, mereka bilang mobil bokap gue di ikuti oleh segerombolan pembunuh bayaran," jawab Ella sembari menaiki motornya.


"Apa? Wah! Gaswat Ell, buruan kita pergi." David hendak naik ke motor Ella.


"Ngapain lo?"


"Mau naik lah, kan kita mau nyelamatin bokap lo."


"Mau di boncengin sama gue? Enak aja, bawa motor sendiri," sengit Ella.


"Elah, pelit amat lo." David berlalu mengambil motornya.


Mereka pergi dengan menggunakan motor supaya lebih cepat sampai di lokasi yang di kirimkan AAB. Bisa saja AAB mengatasi masalah itu tanpa melibatkan Ella namun Ella begitu khawatir dengan keselamatan sang ayah. Jadi dia memutuskan untuk ikut turun tangan.


Sesampainya di lokasi, Ella melihat mobil ayahnya masih melaju dengan cukup kencang di ikuti oleh 5 mobil Jeep yang berisi para pembunuh bayaran.


"Kenapa bokap gue bisa jadi sasaran mereka?" gumam Ella sembari melajukan motornya dengan begitu kencang guna menyusul mobil sangat ayah.


Ella berhasil melewati jajaran mobil Jeep itu dan kini dia sudah sejajar dengan mobil sang ayah.


"Pih! Berhenti, Pih!" teriak Ella sembari mengetok kaca mobil sang ayah.


"Ella!" Andi menurunkan kaca mobilnya.


"Berhenti, Pih!" teriak Ella kembali.


"Nggak bisa, Ell. Rem nya, blong," ucap Andi dengan wajah panik.


"Apa? Rem nya blong?!" Pekik Ella panik pula.


"Iya, Ell. Papih nggak bisa berhentuin mobilnya." Andi berusaha untuk menghentikan mobilnya dengan menginjak rem berkali-kali.


Ella terlihat berpikir, kemudian dia melirih ke arah belakang di mana ke 5 mobil Jeep itu semakin mendekat pada mobil Andi.


"Dave! Lo halangin mobil-mobil itu jangan sampai mendekat ke mobil bokap gue!" teriak Ella.


"Kalian semua juga bantu hadang mereka, guys!" teriak Ella kembali pada AAB.


AAB, adalah singkatan dari anggota AOD bayangan. Mereka yang di perintah Ella pun segera bergegas menjalankan tugas. Sementara Ella, dia terus melajukan motornya untuk mengimbangi mobil Andi.


"Buka kunci pintunya, Pih!" teriak Ella pada Andi.


"Pintu mana?" Wajah Andi terlihat semakin panik.


"Pintu sebelah sini." Ella menunjuj pintu di sebelahnya.


Tanpa basa-basi, Andi pun langsung membuka pintu itu. Setelah pintunya terbuka, Ella nampak bersiap, dia berdiri di atas motornya kemudian mengambil ancang-ancang untuk melompat ke dalam mobil Andi. Ella menarik napas panjang kemudian...


Bruk!


Dia berhasil masuk kedalam mobil Andi, setelah dirinya masuk ke dalam mobil dan membiarkan motornya melaju sendiri hingga motornya terjun bebas. Ella pun langsung menutup pintu yang terbuka tadi.


"Tukeran posisi, Pih! Biar aku yang nyetir," ucap Ella.


Tanpa menjawab, Andi pun langsung membuka seat belt dan beranjak dari kursi kemudi. Sekarang posisi Andi duduk di kursi samping kemudi dan Ella yang mengambil alih kemudi.


"Bagaimana ini, Ell? Papih belum mau mati," lirih Andi ketakutan.


"Papih tenang aja, kita akan baik-baik aja, okey." Ella berusaha untuk menenangkan Andi.


Sekilas atensi Ella menatap ke belakang, ternyata AAB dan juga David telah berhasil melumpuhkan para pembunuh bayaran itu. Sebenarnya Ella begitu penasaran, mengapa ayahnya bisa menjadi target para pembunuh bayaran, apakah dia mempunyai masalah dengan seseorang? Ingin sekali Ella bertanya, namun saat ini waktunya tidak tepat.


"Huh, bahan bakarnya masih banyak," gumam Ella.


"Kenapa, Ell? Kita bakal selamat 'kan?" tanya Andi dengan raut wajah khawatir.


"Pasti, Pih. Tapi kita harus jalan-jalan dulu keliling kota, nggak pa-pa 'kan?" Ella menatap sang ayah sekilas.


"Keliling kota?"


"Iya, Pih. Supaya bahan bakarnya abis dan mobil ini bakal berhenti dengan sendirinya. Atau Papih mau kita lompat dari mobil kayak di adegan filem action yang sering kita tonton?"


"Nggak mau, Ell. Ntar yang ada pas kita mendarat, tau-taunya udah beda alam. Mending kita keliling kota aja. Itung-itung jalan-jalan, Ell. Kita 'kan udah lama nggak ngabisin waktu bareng," ujar Andi.


"Papih bener, kita udah lama nggak ngabisin waktu bareng. Aku kangen sama masa-masa itu," terang Ella.


"Papih juga kangen, Ell. Tapi apa daya, putri kecil, Papih sekarang udah jadi milik orang," ucap Andi sendu.


"Papih jangan sedih gitu dong, aku ini kan SCTV satu untuk semua. Tapi nggak semua orang deng, semua keluarga aja. Dan Papih tenang aja, aku bakalan sempetin untuk kita berdua. Aku juga kangen sama, Papih," ujar Ella.


"Putri, Papih emang terbaik. Tapi sekarang, Papih nggak mau ngabisin waktu berdua lagi," terang Andi.


"Terus?"

__ADS_1


"Papih mau ngabisin waktu bertiga, sama kamu dan juga si kembar," tutur Andi.


"Oho, itu bisa di atur."


"Oh ya, Pih. Btw, kenapa, Papih bisa jadi target para pembunuh bayaran itu?" tanya Ella akhirnya.


Dia berpikir, bertanya sekarang juga tidak ada salahnya. Sembari menikmati suasana kota yang mereka kelilingi.


"Papih juga nggak tau, tapi Papih curiga, ini ulahnya Arga," jawab Andi.


"Arga?"


"Iya, dia itu saingan bisnis, Papih," ujar Andi.


"Papih yakin dia orangnya?" tanya Ella meyakinkan.


"Yakin, karena cuma dia yang selalu nyari gara-gara sama, Papih. Dari dulu sampai sekarang, dia memang nggak suka sama, Papih. Bisa di bilang, dia musuh bebuyutan, Papih," tutur Andi.


"Dari dulu? Berati udah lama dong?"


"Iya, dari sejak kita kuliah."


"What? Jadi dia temen kuliah, Papih?" Kaget Ella.


"Bukan temen, tapi rival. Dia itu suka sama, Mamih kamu. Bahkan cinta mati dan bisa di bilang ter-obsesi. Itu sebabnya dia benci sama, Papih. Karena dia merasa, Papih ini udah ngerebut, Mamih kamu dari dia," jelas Andi.


"Tapi dia bukan pacar, Mamih kan? Terus, Papih ngerebut, Mamih dari dia."


"Bukan, Ell. Mamih kamu nggak pernah suka sama dia."


"Hm, ternyata aku di rebutin cowok karena turunan." Ella terkekeh.


"Emang kamu pernah di rebutin?" Andi menatap ke arah sang putri.


"Pernah dong, Pih. Kan aku ini cuantik. Aku pernah di sukai sama beberapa cowok pas udah nikah sama, Kak Ray," ujar Ella.


"Masa sih? Siapa aja yang mau ngerebut kamu dari, Ray?" Andi terlihat penasaran.


"Emm, ada deh." Ella cengengesan.


"Kamu ini, bikin, Papih penasaran aja." Cebik Andi.


Ella terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan sepi, dia sengaja memilih jalanan yang sepi. Karena jika melalui jalanan yang ramai, dia akan melewati lampu merah, orang menyebrang dan semacamnya. Sedangkan mobil Papihnya tidak bisa di berhentikan. Bisa-bisa dia nabrak. Jadilah dia lebih memilih jalanan sepi sembari memikirkan cara untuk membalas perbuatan Arga yang telah berani-beraninya mengusik ketenangan keluarganya, bahkan dia hampir saja mencelakai sang ayah.


"Akhirnya berhenti juga." Ella bernapas lega setelah mobil itu tersendat-sendat dan berhenti dengan sendirinya.


"Iya sih berhenti, tapi kita di mana, Ell?" Andi menilik sekelilingnya.


"Ah iya, kita di mana, Pih?" Ella ikut mengarahkan atensinya ke arah luar mobil.


"Kamu sih, ngejalanin mobil kemana bae. Kita jadi nyasar kan. Harusnya kamu keliling kota aja tadi, nggak usah ngambil jalan pelosok," ucap Andi.


"Emangnya, Papih mau kita nabrak orang? Jalanan kota itu rame, Pih. Sedangkan jalanan yang aku ambil sepi, jadi sangat kecil kemungkinan untuk nabrak orang maupun kendaraan lain," tutur Ella.


"Iya, tapi kita jadi nyasar kan? Terus gimana pulangnya putriku tersayang?"


"Itu urusan aku, Pih." Ella terlihat membuka pintu mobil.


"Kamu mau kemana?"


"Nyari info kita ini lagi di daerah mana? Siapa tau aja di planet." Ella berlalu turun dari mobil.


"Papih tunggu di sini aja nggak usah ikut," cegah Ella saat melihat Andi hendak membuka pintu mobil pula.


"Kalo ada apa-apa sama kamu gimana? Papih khawatir, Ell."


"Papih tenang aja, aku bisa jaga diri nggak bakal ilang apalagi di gade. Udah Papih tunggu sini aja." Ella melangkah pergi.


Di sisi lain.


Saat ini Ray tengah mondar-mandir di ruang kerjanya, pasalnya dia mendapat kabar dari Ragil jika Ella pergi bersama David dengan tergesa-gesa setelah mendapat telepon. Ray begitu khawatir dengan sang istri. Di tambah ponselnya tidak dapat di hubungi.


"Kamu kemana sih, Sayang?" Ray mencoba menelepon Ella kembali namun nihil, Ella masih tidak bisa di hubungi.


"Telpon David," gumam Ray sembari mencari kontak David kemudian meneleponnya.


Nomor David aktip dan teleponnya dapat tersambung, Ray langsung saja menanyakan keberadaan sang istri. David pun menjelaskan apa yang terjadi namun dia tidak tau jika rem mobil Andi tidak berfungsi. Dia hanya tau Ella melompat ke dalam mobil Andi. Mungkin saja Ella ingin mengambil alih kendali mobil supaya lebih cepat, pikir David.


Setelah mendengar penjelasan David, Ray malah semakin kalut. Dia menelpon ke rumah mertua dan juga orang tuanya namun sang istri tidak ada, dia belum pulang begitu juga dengan Andi. Karena pikirannya tidak tenang, Ray pun segera beranjak pergi, dia memutuskan untuk mencari sang istri.


"Kamu di mana, Sayang? Semoga kamu baik-baik aja," lirih Ray cemas sembari melajukan mobilnya tak tentu arah tujuan, yang jelas dia ingin segera menemukan sang istri.


"GPS!" Pekik Ray teringan sesuatu dan seketika dia langsung menghentikan laju mobilnya.


Ray memang tidak bisa melacak keberadaan sang istri lewat ponselnya, karena mungkin ponsel istrinya saat ini mati atau tidak ada signal. Begitu juga dengan ponsel sang ayah mertua. Tetapi dia teringan akan cincin Ella yang sudah ia pasangi GPS.


"Bogor?" gumam Ray setelah dia menemukan keberadaan sang istri.


Ray pun segera melajukan mobilnya kembali mengikuti titik di mana keberadaan Ella. Dia mengemudikan mobilnya dengan begitu kencang karena begitu khawatir akan ke adaan sang istri dan juga mertuanya.


*************


"Kita di bogor, Pih." Ella kembali memasuki mobil dengan langkah gontai.


"What? Bogor? Jauh banget, Ell. Pasti ini bogor plosok," respon Andi.


"Hm, mana di sini nggak ada signal, Pih. Bengkel juga jauh banget, katanya bengkel 20 kilo meter dari sini. Masa iya kita kudu dorong mobil kesana, Pih?"

__ADS_1


"Bisa jadi talas bogor betis kita, Ell. Kalo gitu caranya. Udahlah diem bae di sini sembari nunggu bala bantuan," ucap Wbdu.


"Bala bantuan darimana coba?" Ella menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


"Suami kamu, Papih yakin dia nggak bakal diem aja pas tau kamu belum pulang-pulang."


"Iya juga sih, Pih. Semoga aja, Kak Ray dateng kesini. Kalau nggak, kita bisa lumutan di mari."


Hari sudah menjelang sore, Ella terlihat sangat bosan berdiam di mobil terus, begitu juga dengan Andi. Jadi mereka memutuskan untuk keluar saja dari mobil. Mereka duduk di atas cap mobil sembari menikmati suasana sejuk alam sekitar. Pepohonan rindang yang di tengahnya di selingi satu persatu rumah.


"Bapak, Eneng, istirahat atuh yuk, di rorompok abdi. Pasti kalian teh cape. Kalian dari kota 'kan ya?" Seorang perempuan muda menghampiri mereka.


"Tidak usah, Kak. Terimakasih, kami istirahat di sini aja," tolak Ella lembut karena takut merepotkan.


"Ih atuh jangan begitu, hayuk ke rumah saya aja. Kalian teh pasti laper dan juga haus. Tenang aja, saya teh bukan orang jahat," ucap perempuan itu.


"Gimana, Pih?" Ella melirik sang Papih.


"Ikut aja, Papih haus," jawab Andi.


"Iya atuh, Kak. Tapi nggak ngerepotin kan?" tanya Ella.


"Heunte atuh, hayuk."


Ella dan Andi pun mengikuti langkah perempuan itu sampai di depan rumah sederhana berbahan kayu, perempuan itu langsung menyurung Ella dan Andi masuk. Merekapun masuk ke dalam. Di dalam sana hanya ada ruangan kosong tanpa kursi, hanya ada sebuah karpet tipis tergelar. Merekapun duduk di atas karpet itu.


"Sakedapnya, saya teh mau ngambil minum dulu," ucap Wanita itu.


"Iya, Kak. Terimakasih dan maaf merepotkan." Ella merasa tidak enak hati.


"Ih heunte." Perempuan itu berlalu pergi ke dapur.


Beberapa saat kemudian dia telah datang kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas air teh tawar hangat dan juga satu piring singkong goreng.


"Maaf nya, Neng. Saya cuma punya ini," ucapnya setelah ia meletakan gelas dan piring itu di hadapan Ella dan Andi.


"Nggak pa-pa, Kak. Justru kita sangat berterimakasih banget," ujar Ella dengan tersenyum ramah.


"Sok atuh di minum teh nya, singkongnya oge di cobain." Dia juga tersenyum ramah.


Ella dan Andi pun langsung meminum teh nya karena haus. Mereka juga memakan singkong itu sampai habis karena perut mereka meronta meminta di isi.


"Oh ya, Kakak tinggal sendiri?" tanya Ella hati-hati takut menyinggung.


"Iya, Neng. Saya tinggal sendiri. Karena orang tua udah di panggil yang maha kuasa," jawabnya.


"Umur kamu memangnya berapa?" Kali ini Andi yang bertanya.


"21, Pak," jawabnya.


"Berati hanya beda satu tahun dengan putri saya." Andi merangkul Ella.


"Yang bener, Pak? Memangnya si Eneng umurnya berapa?" tanyanya.


"Putri saya umurnya 20 tahun," jawab Andi.


"Eleuh, saya kira masih SMP, Pak. Soalnya masih terlihat imut," ucapnya.


"Bisa aja, Kakak ini. Tapi aku emang imut sih, Hehe. Oh iya, nama Kakak siapa?" tanya Ella.


"Nama saya teh, Poky Aryanti, Neng," jawabnya.


"Poky? Poky-poky coklat asik?" Canda Ella.


"Itulah Coky-coky atuh, Neng." Dia tergelak.


"Kalo nama, Neng teh siapa?" Kali ini dia yang bertanya.


"Nama aku, Stela Anandira," jawab Ella.


"Kok mirip nama yang sering ngegantung di mobil orang kaya yah?" ujarnya.


"Tuh 'kan, Pih. Namaku sama kayak pewangi, kenapa kalian namain aku itu sih." Kesal Ella.


"Atuh maaf, Neng. Saya teh keceplosan, duh ini mulut remnya selalu blong," ucapnya tidak enak hati.


"Nggak pa-pa kok, Kapok. Soalnya bukan cuma Kapok doang yang bilang namaku kayak pewangi." Ella terkekeh.


"Oh kitu, tapi ngomong-ngomong. Kunaon nama saya jadi kapok?" bingungnya.


"Kan nama, Kakak, Poky. Jadi aku manggilnya, Kapok," ujar Ella.


"Aya-aya wae, si Neng mah." Dia terkekeh pelan.


"Sayang... Akhirnya kakak nemuin kamu," ucap Ray yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Kak Ray! Yeee, kak Ray nemuin aku!" Pekik Ella bahagia.


"Tentu saja, karena hati kita selalu menyatu. Jadi kakak pasti nemuin kamu, di mana pun itu." Ray langsung masuk dan memeluk erat tubuh sang istri.


"Ekhem, Papih bukan patung." Andi mendelik.


"Yang bilang, Papih patung siapa? Nggak ada kan?" celetuk Ella.


"Ka-mu." Poky menatap orang yang berdiri di belakang Ray dengan gugup sekaligus kaget.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, comen, fav and vote, okey😘

__ADS_1


__ADS_2