
"Yang. Eh, kok nggak ada. Kemana dia? Perasaan tadi dia di situ deh," ucap Kiana sembari menunjuk ke arah dekat panggung.
"Emang namanya siapa? Siapa tau gue kenal," tanya Ella.
"Nggak tau, Ell. Belum kenalan, hehe." Cengir Dela.
"Caelah, dateng bareng tapi belon kenalan." Delik Ella.
"Malu dong, Ell. Masa iya ngajak kenalan duluan," ujar Kiana.
"Tapi orangnya cakep kan?"
"Emm, ganteng sih." Kiana mengingat wajah pria tadi.
"Semoga aja itu jodoh lo, biar lo bisa move on dari Rendi," ucap Ella.
Seketika wajah Kiana berubah menjadi mendung. "Kak Rendi nggak akan pernah bisa aku lupain, Ell. Dia akan selalu terkenang sampai kapanpun. Dia adalah cinta pertama aku, orang pertama yang bikin aku mengenal cinta dan juga merasa di cintai," lirih Kiana.
"Move on bukan berati melupakan. Lo masih bisa menyimpan semua kenangan indah bersama Rendi dalam lubuk hati lo. Tapi lo nggak mungkin gini terus, lo juga harus bahagia. Rendi pasti sedih kalo ngeliat lo terpuruk seperti ini. Gue harap lo bisa buka hati untuk orang yang baru," terang Ella.
"Itu nggak mudah, Ell. Hati aku udah sepenuhnya milik, Kak Rendi," lirih Kiana.
"Gue tau ini nggak mudah, tapi lo coba pelan-pelan, Ki." Galang yang berbicara.
"Bener apa kata, Galang. Rendi pasti ingin kamu bahagia di sini. Dan percayalah, Rendi juga sudah bahagia di atas sana," Ray menimpali.
"Aku akan buka hati suatu saat nanti, tapi tidak untuk saat ini."
Acara kembali di lanjut dengan berbagai ke meriahan. Banyak sekali hadiah yang di dapat oleh twins, apalagi dari sodara Ray dan Ella yang turut serta hadir. Acara baru usai setelah menjelang tengah malam, Ella dan Ray pun memutuskan untuk menginap saja di hotel karena twins sudah tertidur.
****************
"Kamu kenapa, Dek?" Riki menghampiri Kiana yang sedang termenung di teras rumah.
"Aku kangen sama Kak Rendi, Bang," jawab Kiana dengan suara yang serak menahan tangis.
"Apa kamu nggak mau buka hati untuk lelaki lain, Dek? Abang sedih liat kamu terpuruk seperti ini terus." Riki mengelus sayang kepala sang adik.
"Aku nggak mau, Bang. Aku cinta banget sama, Kak Rendi," lirih Kiana dengan air mata yang menetes tanpa bisa di tahan.
"Abang tau, tapi Rendi udah pergi, Dek. Dia nggak mungkin kembali. Dia juga pasti ingin melihat kamu bahagia di atas sana. Kamu berhak bahagia, Dek." Riki menatap lekat wajah sendu dang adik.
"Kenapa dia pergi secepat ini, Bang? Padahal baru aja aku ngerasa di cintai, di sayangi oleh pria sebaik dia. Apa Tuhan nggak ngijinin aku bahagia, Bang?" Kiana mendongkak untuk melihat wajah Riki dengan mata yang mengajak sungai.
"Takdir. Semua ini adalah takdir, Dek. Rendi juga nggak mau ninggalin kamu, tapi kenyataan tidak sesuai dengan ke inginannya. Tuhan lebih menyayangi Rendi, dia sudah mempersiapkan tempat terbaik untuk Rendi di atas sana. Abang juga yakin, Tuhan juga sudah mempersiapkan ke bahagiaan kamu di sini, meski bukan bersama Rendi," tutur Riki.
Kiana hanya terdiam sembari menatap bintang yang bertebaran. Dia menatap salah satu bintang yang paling terang, bintang itu seakan berubah menjadi wajah Rendi yang tengah tersenyum padanya.
"Masuk yuk, udah melem. Nanti kamu masuk angin," ajak Riki.
"Abang duluan aja, aku masih mau di sini," ujar Kiana.
"Ya udah, Abang masuk duluan ya. Jangan lama-lama cepat masuk tidur."
"Iya, Bang."
Selepas Riki pergi, Kiana kembali termenung seorang diri. Jujur saja, dia begitu merindukan sosok Rendi saat ini namun apa mau di kata, rindunya adalah rindu yang tak berujung. Dia tidak mungkin dapat bertemu lagi dengan sang pujaan hati kecuali dalam mimpi.
"Apa itu kamu yang sedang menatapku, Kak?" Kiana menatap nanar satu bintang yang paling terang.
"Jika iya? Aku cuma mau bilang. Aku rindu kamu, Kak." Kiana tersenyum miris.
"Bisakah kamu turun dan peluk aku, Kak? Aku sangat merindukanmu, Kak ...," lirih Kiana sembari menenggelamkan wajahnya di antara celah kedua lututnya.
__ADS_1
Kiana hanya bisa menangis dalam diam menaham kerinduan yang semakin mendalam. Rindu dengan orang yang sudah tiada terasa begitu menyakitkan. Jika boleh memilih, Kiana lebih rela di tinggal selingkuh daripada di tinggal pergi selamanya seperti ini. Jika di tinggal selingkuh, dia masih bisa melihat wajah Rendi meskipun bukan miliknya lagi. Tapi sekarang, Kiana tidak bisa melihat wajah tampan nan ceria yang selalu tersenyum itu.
**************
"Dek, lo nggak kuliah?" Satria menghampiri Ella yang tengah menjemur kedua anaknya di halaman belakang rumah.
Saat ini Ella tengah berada di rumah orang tuanya, dia sedang menginap di sana. Karena Rina meminta mereka menginap.
"Males, Bang," jawab Ella tanpa menoleh.
"Kapan pinternya kalo elo males gitu?" Satria mendudukan tubuhnya di samping Ella.
"Aku udah pinter, Bang."
"Pinter apaan? Pinter ngeles." Cibir Satria.
"Pinter bikin, Baby. Noh, sekali bunting dapet dia." Ella menoel pipi kedua anaknya.
"Haiss, mesum amat punya adek." Satria menoyor kepala Ella.
"Kayak situ enggak aja." Ella mendelik.
"Udah sono kuliah, lakik elo udah siap tuh. Biar si kembar berjemur sama gue," ucap Satria.
"Males ah, Bang."
"Masa istri dosen malas kuliah. Tak patut."
"Liat, noh Zara. Emak kalian pemalas." Satria mengecupi pipi twins secara bergantian.
"Siapa Zara?" Bingung Ella.
"Zam, Zura. Disingkat biar cepet," jawab Satria sembari mengajak main kedua ponakannya.
"Nggak usah protes, gue aja nggak protes lo manggil anak gue micin." Sarkas Satria.
"Udah kuliah sono." Satria menatap wajah sang adik.
"Ihh." Ella cemberut.
Cup!
"Jangan cemberut, jelek!" Satria mengecup kening Ella.
"Ya udah deh, aku kuliah. Jagain twins ya, awas jangan di jahilin," ancam Ella.
"Iya, iya. Sono berangkat."
"Mimom kuliah dulu, ya. Zam, Zura. Kalian yang anteng sama, Om sableng. Kalo dia jailin kalian, tinggal tendang aja ya idungnya sampe pesek," ucap Ella sembari menatap kedua anaknya.
"Iya, Emak gendeng. Udah berangkat sono berisik banget dah punya emak." Satria menirukan suara anak kecil.
"Ab---"
"Sayang! Ayok berangkat!" teriak Ray.
"Euhh! Awas lo!" Ella menatap tajam Satria kemudian dia berlalu pergi.
Di kampus.
Ella baru saja sampai, dia tidak langsung masuk ke kelas. Namun dia berdiam di parkiran, tujuannya untuk menunggu Kiana. Bukan apa-apa, dia hanya penasaran dengan pria yang di bilang oleh Dela, dia bilang Kiana selalu di antar jemput oleh seorang pria, namun Dela tidak bisa melihat jelas wajahnya. Dia hanya melihat sekilas, itupun dari balik kaca mobil hitam.
"Ngapain di sini, Ell?" Dela baru saja tiba dengan di antar oleh Galang.
__ADS_1
"Nungguin si Kia," jawab Ella.
"Pasti kamu penasaran ya, sama cowok yang sering ngantar jemput dia," tebak Dela.
"Tau aja kamu, Del. Kamu pasti juga penasaran 'kan?"
"Iya sih, aku pengen liat jelas muka tu cowok. Tapi perawakannya nggak asing menurutku," ujat Dela.
"Apa cowok itu orang yang kita kenal?" tebak Ella.
"Entahlah."
"Kalian harusnya seneng, itu artinya Kiana udah move on dari Rendi. Kalian harus dukung dia, supaya dia bisa bangkit dari keterpurukan," sahut Galang yang memang belum pergi.
"Iya, A. Pasti kita dukung kok. Kita cuma penasaran aja siapa cowoknya," ujar Dela.
"Ya udah, Aa pulang dulu ya," pamit Galang.
"Iya, A. Hati-hati."
"Ngapain nongkrong di sini, Kak?" Setelah Galang pergi Adit datang.
"Nyari kutu," jawab Ella asal.
"Kamu baru datang, Dit?" tanya Dela.
"Iya, Kak. Aku masuk duluan ya."
"Ok."
Setelah Adit pergi, tak lama kemudian Kiana pun datang dengan berjalan kaki. Dela dan Ella celingukan mencari mobil yang biasanya mengantar Kiana.
"Loh, kok jalan kaki sih, Ki?" tanya Dela setelah Kiana berada di hadapan mereka.
"Kenapa emang? Kan jalan kaki bagus, biar sehat," ucap Kiana.
"Nggak mungkin 'kan, kalo elo jalan kaki dari rumah kesini? Elo kesini naik apa, ki?" tanya Ella.
"Emm, naik mobil, Ell," jawab Kiana dengan tersenyum simpul.
"Mobil siapa?"
"Em, temen," jawab Kiana ragu.
"Temen apa temen, nih?" goda Ella.
"Teman, Ell."
"Kenapa nggak nganterin sampe sini?"
"Dia lagi buru-buru."
"Cowok 'kan?"
"A-h i-ya, Ell."
"Kenapa gugup gitu? Nggak pa-pa kali kalo cowok. Justru kita seneng, akhirnya lo bisa deket lagi sama mahluk batangan," ucap Ella.
"E-r, aku masih temenan kok sama dia."
"Masih, berati next bakal lebih dari temen nih," goda Dela.
"Apasih, ayok kita masuk nanti telat." Kiana berjalan mendahului mereka.
__ADS_1
Jejak guys😘😘😘😗