Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Baby bakso.


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Rafly dan juga Yuda, kini Ella tengah termenung di halaman belakang markas sembari melihat para anggota AOD berlatih.


"Hais, ingin rasanya aku membunuh si Rafia sialan itu. Tapi sayang, ada berudu yang harus aku jaga. Aku tidak mau dia kenapa-napa."ucap Ella dengan menghembuskan nafas kasar.


"Tapi untuk Yuda, kenapa aku malah menjadi kasian ya sama dia. Aku gak tega ngeliat wajah memelasnya tadi. Sepertinya dia benar-benar sudah berubah. Apa aku harus memberinya kesempatan kedua? toh, tuhan aja maha pemaaf, masa aku enggak."monolog Ella sembari menyangga dagunya.


Ella berpikir dirinya begitu jahat jika dia tidak memberi Yuda kesempatan kedua. Mungkin saat itu Yuda sedang hilap dan juga di butakan oleh cintanya yang tak terbalas, jika memang Yuda ingin berubah dan memperbaiki diri, Ella akan memberikan kesempatan itu pada Yuda.


Untuk Rafly, Ella masih melihat tatapan amarah dan juga dendam yang begitu besar dimatanya. Dia tidak ada niatan untuk berubah dan memperbaiki diri, yang dia ingin hanya membalas dendam dan membunuh dirinya guna membuat Ray hancur, Ella tau pikiran Rafly, dia ingin membuat Ray merasakan arti kehilangan, karna Ray tidak mempunyai adik, maka dirinya lah yang menjadi sasaran Rafly. Maka dari itu, Ella akan terus mengurung Rafly sampai dirinya bisa memenuhi tantangan Rafly, yaitu berduel dengannya.


"Quin, bisakah Quin mengajari kami cara menembak dengan tepat, tanpa meleset."ucap salah satu anggota menghampiri Ella.


"Hm, baiklah. Ayo kita pergi ke ruang menenbak. Setelah itu aku juga akan mengajari kalian meracik racun pelumpuh yang baru, yang lebih dasyat dari yang kemarin."ujar Ella kemudian dia melangkah pergi ke ruang menembak dengan di ikuti para anggota.


Setelah sampai disana, dia menyuruh para anak buahnya untuk mengeluarkan berbagai senjata menembak rakitannya sendiri yang sudah di beri lambang AOD,


Berbagai jenis dan juga ukuran senjata menembak atau pistol sudah berjejer rapih di sebuah meja yang cukup besar.


"Ok, aku akan mengajari kalian untuk menggunakan senjata andalan ku terlebih dahulu."Ella mengambil sebuah pistol yang lebih mirip kearah senapan. Pistol itu sudah di modip oleh Ella, supaya daya letus nya lebih kuat. Siapa pun orang yang telah terkena timah panas dari pistol itu, dia akan langsung mati seketika, karna di dalam timah panas itu mengandung zat yang dapat menghentikan daya kerja jantung meskipun timah panas itu tidak mengenai tepat kearah jantung.


"Yang paling utama, kalian harus fokus pada sasaran yang akan kalian bidik."Ella mulai menjelaskan dan juga memperagakan teknik-teknik menembak yang tepat. Dia begitu pasih dalam berbicara, dia juga kadang tersenyum di balik topengnya saat melihat para anak buahnya yang cepat tanggap. Jadi dia tidak perlu berulang-ulang dalam memberi penjelasan.


Dirasa mereka sudah paham, Ella pun membawa mereka ke ruang laboratorium untuk mengajari mereka cara meracik racun pelumpuh saraf dan juga berbagai jenis racun lainnya sekaligus dengan penawarnya.


Cukup lama Ella berada di ruang laboratorium, sampai akhirnya dia pergi dari ruangan itu menuju ke ruang gim untuk menemui David.


Disana Ella melihat David yang tengah termenung, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Lo lagi mikirin apa sih Dave?"ucapan Ella membuyarkan lamunan David.


"Gue lagi mikirin dia."Jawab David ambigu.


"Dia siapa?"tanya Ella.


"Cewek yang gue cinta."


"Wih, lu ternyata demen juga ya sama cewek. Gue pikir lu penyuka batangan."cengir Ella.


"Enak aja, gini-gini gue masih normal ya."cebik David.

__ADS_1


"Btw, sape sih cewek nyang lo cinta."Ella nampak penasaran.


"Ada deh, kepo aja lu."


"Ck,"decak Ella kemudian pergi meninggalkan David.


"Kemana lo?"teriak David.


"Balik."


Ella menuju kearah mobilnya, lalu dia menjalankan mobil itu keluar dari area markas.


"Makan bakso enak nih kayaknya."gumam Ella saat dirinya tengah. di perjalanan pulang.


Dia pun melihat kanan kirinya, siapa tau ada kedai bakso. Kebetulan sekali ada sebuah kedai yang sepertinya cukup ramai, Ella pun memarkirkan mobilnya di pinggir kedai itu, kemudian dia pun turun. Baru saja turun, aroma bakso sudah menyeruak di indra penciumannya. Sontak saja itu membuat rasa laparnya kian bergejolak.


"Ka Alang."sapa Ella kepada Galang saat dirinya baru saja memasuki kedai bakso sederhana itu, rupanya disana ada Galang yang sepertinya tengah menunggu pesanan.


"Eh, Ella. Kamu sama siapa kesini?"Galang terlihat celingukan.


"Sendiri."Jawabnya sembari duduk di sebelah Galang tanpa permisi.


"Loh, emangnya Ray kemana? kok dia gak nganterin?"tanya Galang.


"Oh, gitu. Ya sudah aku pesenin ya. kamu mau bakso apa?"ucap Galang.


"Em, bakso beranak aja deh kak Alang."ujar Ella.


"Baiklah, kamu tunggu disini ya."


"Ok."Ella mengangguk samar.


Tak lama setelah Galang pergi ponselnya berbunyi menandakan ada yang menelponenya.


"Kak Ray."gumam Ella, dia pun langsung mengangkat panggilan video call dari Ray.


"Hay."Ella melambaykan tangannya setelah dia menekan ikon hijau.


"Kamu lagi dimana sayang?"tanya Ray di sebrang sana.

__ADS_1


"Aku lagi di kedai bakso."Jawab Ella samar-samar karna disana sangat ramai jadi berisik.


"Dimana?"ulang Ray bertanya karna suara Ella tidak terdengar.


"Kedai bakso."Ella mendekatkan mulutnya kearah ponsel.


"Sama siapa?"


"Sama...."


"Ini Ell bakso beranak pesenan kamu."ucapan Ella terpotong oleh Galang.


"Ah, maacih kak Alang."ucap Ella sembari menatap kearah layar ponselnya yang masih terpampang wajah Ray yang nampak di tekuk.


"Kak ak.. Yah batrenya abis lagi."belum sempat Ella menyelesaikan omongannya ponselnya sudah mati.


"Makan dulu keburu dingin."ucap Galang.


"Oke,"Ella meraih mangkok bakso yang masih mengepul itu.


Dia memotong-motong bakso yang lumayan besar itu, kemudian dia mengeluarkan isian dari bakso beranak itu, yaitu bakso-bakso kecil mungil dan juga cincangan daging.


"Wau, baksonya ngelahirin kak Alang."seru Ella riang.


"Hah, ngelahirin?"beo Galang.


"Iya, ini anak-anaknya pada brojol. Banyak lagi. Aku yang jadi bidannya, noh aku udah berhasil ngeluarin baby baso dari ibunya."ucap Ella sembari menunjuk bakso yang telah ia belah dan ia keluarkan isinya.


"Ah, itu. Wah kamu hebat."ujar Galang tersenyum kaku.


"Nanti anak-anak baksonya mau aku bawa kerumah, ah."ucapnya lagi.


"Mau di apain?"


"Di simpan aja, siapa tau tu anak baso berubah jadi gede-gede. Terus beranak lagi dah. Nanti aku bantu berojolin lagi."cengir Ella.


"Mana bisa, emang dia mahluk idup bisa membesar. Yang ada membusuk."ucap Galang sembari mengunyah.


"Sebusuk, cinta yang tertanam di hatimu ya? eaaa."

__ADS_1


Terimakasih buat yang sudah hadir di cerita author yang gak jelas ini. 💕


Author cuma mau bilang, tap like👍 Comen tapi jangan yang pedes amat ya, hati author rapuh, asik rapuh katanya😂 jangan lupa Vote juga😘


__ADS_2