
"Seenak jidat? Emang jidat itu ada rasanya ya? Setau gue jidat itu hambar. Kalo keringetan baru berasa asin. Oh, gue tau! Menurut lo jidat asin itu enak ya? Ok, kalo gitu pas jidat gue keringetan. Gue bakal nyuruh lo jilatin."
"Kurang ajar! Gue ini senior lo. Jangan mentang-mentang istri dosen, lo jadi semena-mena gini ya sama gue!" bentak Misya tidak terima.
"Yang bilang elo tukang jamu siapa? Kalo situ ngerasa senior, jaga sikap dong. Yang sopan dikit gitu, kasih contoh buat juniornya," ucap Ella dengan wajah santainya.
"Ada apa ini?" Intonasi bariton Ray membuat atensi mereka teralihkan padanya.
"Nggak ada apa-apa kok, Pak. Saya hanya menyapa, Stela." Misya yang menjawab.
"Bener, Sayang?" Ray menatap ke arah sang istri.
"Iya," jawab Ella ketus.
"Ya udah, masuk yuk." Ray merangkul bahu Ella.
"Kami masuk dulu." Ray menatap Misya sekilas.
"Iya, Pak." Misya tersenyum ramah.
"Sekarang lo boleh menang, tapi liat aja. Gue bakalan bikin hidup lo sengsara, mulai detik ini juga." Misya menyeringai setelah Ray dan Ella masuk ke dalam.
****************
"Wajahnya kenapa di tekuk, hm?" Ray menarik Ella ke dalam pangkuannya.
"Aku bingung, Kak Ray," lirih Ella.
"Bingung kenapa?" Ray menyelipkan anak rambut Ella yang ter-uray ke depan.
"Kenapa sih? Selalu aja ada orang yang nggak suka sama aku. Padahal aku nggak pernah berbuat hal yang bikin mereka sakit hati," adu Ella.
"Kamu jangan pikirin orang-orang yang nggak suka sama kamu. Toh, kamu nggak ngerugiin mereka, nggak minta makan sama mereka. Cuekin aja orang kayak gitu, mereka hanya iri sama kamu. Iri itu tanda tak mampu. Artinya mereka tidak mampu menjadi seperti kamu," turut Ray.
"Tapi aku suka sedih aja, dari dulu sampai sekarang. Hidupku selalu di kelilingi orang-orang yang tidak menyukaiku." Ella menyandarkan kepalanya di dada bidang Ray.
"Kakak baru tau, ternyata Quin AOD yang terkenal sadis dan juga kejam. Bisa sedih juga. Ah, apa jangan-jangan Quin nya beralih Frovesi, ya?" ujar Ray sembari menatap wajah lesu Ella.
"Apaan beralih Frovesi?" Ella mendelik.
"Kakak kira kamu lagi beralih Frovesi, jadi pemain sinetron. Ku menangis.... Membayangkan....," ucap Ray dengan di akhiri oleh nyanyian.
"Isss, nggak lucu." Cebik Ella.
"Nggak lucu lah, orang kakak nggak lagi ngelawak." Ray terkekeh.
"Au ah! Aku sebel sama, Kak Ray." Ella bangkit dari pangkuan Ray.
"Eits, mau kemana?" Ray menarik Ella ke dalam pangkuannya kembali dan memeluknya erat.
"Lepas! Aku nggak mau bicara sama, Kak Ray lagi. Aku bete sama, Kak Ray! Aku sebel sama, Kak Ray." Ella berontak dari dalam pelukan Ray.
"Si keki nya nggak di bawa nih?" Ray menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Apasih? Gaje banget."
"Bukannya kamu lagi nyanyi? Aku bete sama kamu, aku sebel sama kamu. Aku keki sama kamu. Aku bete, bete, bete. Ah!" Ray menggeleng-gelengkan kepalanya di hadapan wajah Ella.
"Kak Ray mulai oleng nih." Ella berusaha membuka tangan Ray yang melingkat di perutnya.
"Sayang.... Dengerin, Kakak. Kamu jangan peduliin orang-orang yang benc sama kamu. Yang nggak suka sama kamu. Biarin aja, itu urusan mereka. Buat apa di pikirin, bikin kamu stres aja. Yang paling penting, keluarga kamu, suami kamu menyayangi kamu. Orang lain urusan belakangan. Tunjukin Ella Quin AOD yang tak gentar oleh apapun, kuat dan juga pemberani," ucap Ray panjang lebar.
"Iya, Kak Ray. Huh, aku akan buktiin. Kalo aku itu kuat dan nggak kalah sama mereka yang benci sama aku." Senyuman cerah kembali terbit dari wajah cantik Ella.
"Nah, gitu dong. Ini baru Quin. Bukan drama Quin." Ray mengecupi seluruh wajah Ella.
Krucuk!
"Sampai lupa, kita belum makan siang ya?" Ray menatap wajah sang istri.
"Iya, perut aku sampe bunyi minta di isi." Ella mengerucutkan bibirnya.
"Kasiannya istri aku sampe kelaparan. Ya udah, kita makan siang dulu yuk."
"Asiap, Bos. Aku siapin dulu makanannya ya." Ella turun dari pangkuan Ray.
Ella meraih kotak makan yang dia bawa dari rumah. Kemudian dia membuka dan menatanya di meja. Merekapun makan siang bersama dengan saling menyuapi dengan Ray yang melontatkan berbagai gombalan nyeleneh sehingga membuat Ella tertawa bukan tersipu.
"Kak Ray, aku mau ke perpus dulu ya," pamit Ella setelah mereka selesai makan siang.
"Iya, Sayang. Nanti jangan telat di matkul kedua ya," ucap Ray.
Suasana kampus nampak begitu ramai, mungkin karena ini jam istirahat. Atensi Ella menatap sekelilingnya, melihat orang-orang yang berlalu lalang. Langkahnya terhenti kala melihat orang yang ia kenali, tanpa pikir panjang Ella pun langsung menghampiri orang itu yang nampak sedang menyandar di tembok seorang diri.
"Lo ngapain di sini, Dit?" tegur Ella pada Adit yang tengah menyandar di tembok dengan atensi yang terfokus ke ponsel.
"Eh, kak Ella. Bikin kaget aja, Kak." Adit mendongkak.
"Ngapain di sini?" tanya Ella kembali.
"Aku lagi liat-liat kampus, Kak," jawab Adit.
"Ngapain kampus di liatin? Kampus itu di pake buat kuliah."
"Maksudnya aku mau kuliah di sini, Kak. Tapi mau liat-liat dulu kampusnya gitu," ujar Adit.
"Oh. Yodah, sono lanjut lagi liatin kampusnya." Ella hendak beranjak.
"Kak Ella mau kemana?" tanya Adit membuat Ella yang hendak pergi menoleh.
"Perpus," jawab Ella singkat.
"Aku boleh ikut?"
"Ayok."
Merekapun pergi ke perpustakaan dengan langkah yang ber-iringan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, dalam hati bertanya-tanya siapa pria tampan yang berjalan di samping Ella. Apakah itu gebetan Ella? Atau mungkin pacar baru Ella? Banyak sekali yang beranggapan negatif tentang Ella. Namun Ella tidak peduli meskipun samar-samar dia mendengar mereka menggunjingkan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa, Kak Ell nggak tegur mereka," tanya Adit yang juga mendengar krasak-krusuk mereka menggunjingkan Ella.
"Biarin aja, kalo udah bosen pasti berhenti sendiri."
"Udah kebal, ya. Kak Ell?"
"Banget!"
"Kak Ell, nggak pernah ngelawan mereka gitu?"
"Ngelawan kalau mereka udah ke terlaluan."
Sampai di perpustakaan, Ella langsung mengambil buku yang ingin di bacanya. Sementara Adit, dia hanya berkeliling saja menganamati buku-buku yang berjejer dan juga orang-orang yang nampak serius membaca buku.
Brukk!
"Ck, kamu punya mata nggak sih?" teriak Kiana kesal. Rupanya Adit menabrak Kiana, untung dia tidak jatuh.
"Maaf, Kak. Aku nggak sengaja," ucap Adit.
"Ah! Ternyata kamu bocah tengil." Kiana menatap sinis Adit.
"Aku bukan bocah, Kak," bantah Adit.
"Serah!" Kiana berlalu pergi dari hadapan Adit.
"Selalu aja sensi kalau ketemu aku. Apa aku sengeselin itu?" gumam Adit.
*************************
Tak terasa hari minggu sudah tiba, minggu ini Ella sudah berjanji pada Kiana. Dia akan menemani Kiana pergi ke makam Rendi. Dan di sinilah mereka sekarang, di makam Rendi. Kiana berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Rasa sakit masih menyeruk kala melihat gundukan tanah itu. Gundukan yang membuat dirinya tersadar, jika dia dan sang kekasih telah beda dunia.
"Hai, Kak. Aku datang... Kak Ren liat, sekarang aku udah bisa senyum saat mengunjungi makam kamu, Kak. Sesuai permintaan kamu malam itu di mimpiku." Kiana berjongkok kemudian mengusap pelan nisan Rendi.
"Kak Ren apa kabar di sana? Pasti kak Ren udah bahagia 'kan di sana? Kak Ren kangen sama aku nggak?" Kiana menaburkan bunga yang dia bawa ke gundukan makam Rendi.
"Aku kangen banget sama kamu, Kak.... Aku kangen di gombalin kamu... Aku rindu semua tentang kamu, Kak..." Kiana berucap dengan suara yang parau.
"Hai, Kak Reren. Masih inget sama aku nggak? Pasti inget dong ya. Aku Stela cantik pari purna, tapi bukan Stela pengharum ruangan apalagi Stela yang suka ngegantung di atas dasbor mobil, Kak Reren dulu." Ella yang sedari tadi diam kini bersuara.
"Kak Reren tau nggak, tanpa kamu hidup aku jadi sepi. Nggak ada lagi yang bisa aku jailin, aku kerjain. Nggak ada lagi yang ngerusuh di rumah, yang bikin suasana jadi hidup. Setelah Kak Reren pergi, rumah jadi sepi. Galang dan Bangsat juga jarang main." Curhat Ella.
"Ella bener, Kak. Tanpa kamu hidup kami sepi..." sahut Kiana.
"Semoga kamu tenang di sana ya, bahagia di sisi-Nya. Aku di sini akan berusaha untuk tersenyum seperti yang kamu mau, walau rasanya sakit... Kehilangan kamu begitu menyakitkan, Kak. Sakit...," lirih Kiana.
"Kamu pasti bisa, Ki. Kak Rendi juga pasti ingin kamu bahagia di sini. Meskipun tanpanya." Ella merangkul Kiana.
"Aku kangen dia, Ell. Hiks. Aku pengen peluk dia kayak dulu lagi...." Air mata yang sedari tadi di tahannya luruh juga.
Mengikhlaskan seseorang yang di cintai memanglah tidak mudah. Apa lagi mengikhlaskan dia pergi untuk selamanya. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menghilangkan rasa sakit dari kehilangan itu. Melupakan rasa sakit, bukan berarti melupakan semua kenangan bersamanya pula. Karena kenangan itu akan tetap ada dan selalu tersimpan di relum hati sanubari.
Jangan lupa like, comen and vote ya guys😘😘
__ADS_1