
"Ngapain kamu berdiri di situ?" suara Kevin membuat Zela Terlonjak kaget.
"Eh, Pak Kevin. Bapak ngagetin aja, Pak." Zela langsung berbalik dan menatap kearah Kevin.
"Jawab dulu ngapain disini?" Kevin menatap Zela curiga.
"Em, itu. Anu, pak. Saya lagi nyari anting, tadi jatuh di sekitaran sini," ujar Zela kelabakan.
"Nyari anting? Aneh, kamu. Harusnya nyari anting itu ke bawah natapnya, nah kamu. Ke pintu mulu, emangnya tu anting nyangkut di pintu?" delik Kevin.
"Enggak pak, tadi saya cuma pegel aja. Jadi lurusin badan dulu, eh gak sengaja natap ke pintu," dalih Zela.
"Badan udah lurus, pake di lurus-lurusin segala. Lama-lama bakalan jadi kayak tiang listrik kamu." Kevin berlalu pergi dari sana.
"Dosen gak ada ahlak, body bagus gini di bilang lurus." Zela ngedumel sembari menatap punggung Kevin kesal.
"Tapi gak pa-pa, yang penting hari ini gue happy karena rencana gue berhasil," lanjutnya dengan bersorak gembira.
Yups, Zela merencanakan penjebakan ini dengan begitu matang dan juga yakin akan berhasil. Dia yang menyuruh salah satu mahasiswi untuk memberitahu pada Ella bahwa dekan menyuruh dia membereskan gudang kampus, begitu juga pada Alvin. Di gudang dia juga menumpahkan minyak goreng supaya mereka terpeleset dan terjadi adegan yang cukup intim.
Akan tetapi rencananya sudah terlebih dahulu di ketahui oleh sang Quin yang konon katanya mata dan juga telinganya ada di mana-mana. Maka dari itu Ella membuat rencana yang melibatkan Ray dan juga Alvin, Ella menyuruh mereka untuk ber acting supaya Zela merasa rencananya berhasil dan dia merasa di atas awan.
Dua minggu berlalu, kini tiba saatnya acara syukuran empat puluh harian twins. Acara empat puluh harian di lakukan dengan adat dari keluarga Wirawan. Acaranya berlangsung dengan aman damai tanpa kendala apapun. Banyak kolega bisnis Andi dan juga Samsul yang berdatangan, tak lupa juga sanak saudara keluarga Wirawan dan juga Wardana yang turut serta hadir semakin menambah ramai suasana.
"Empat puluh harian twins kan udah terlaksana, berarti sebentar lagi lo bakal kawin dong, Sat?" Galang yang turut serta hadir bersama sang istri kini tengah berkumpul bersama Satria, Dalina dan juga si jones Rendi.
"Yo'i, seminggu lagi gue kawin. Bay, bay jones. Selamat menikmati masa tersuram hidup lo ya." Satria berkata sembari melirik kearah Rendi.
"Ah, iya. Sahabat kita masih ada yang jomblo ya. Nyari cewek dong Ren, biar bisa cepet nyusul ke pelaminan," ucap Galang.
"Jodoh gue lagi otw," ucap Rendi ketus.
"Masih otw? Kapan nyampe nya tu jodoh? Keburu aki-aki lo, Ren." Ledek Satria.
"Kalian ini, ngeledek mulu bisanya. Kasian tau A Rendi, harusnya sebagai sahabat yang baik, kalian harus mensupport nya, bukannya malah di ledekin," sahut Dela yang sedang menggendong Gala.
"Tuh dengerin si Lala ngomong. Support bukannya di ledek." Rendi menatap mereka sembari mendelik.
__ADS_1
"Hais, kenapa sih? Gak ada satu orang pun yang manggil nama aku dengan sebutan yang benar. Dedel, Udel, Lala. Besoknya apa lagi, hah? Gak sekalian aja panggil perkedel," ucap Dela kesal.
"Mendingan kamu, Del. Nah aku di panggil sama Ella apa coba? Kadal." Dalina menimbrung.
"Adik kakak yang satu ini memang gak ada ahlak, sukanya main ganti nama orang sembarangan aja. Mending jadi bagus, nah ini." Rendi mendelik.
"Kesel banget kayaknya lo Ren, emang lo di panggil apa sama si Ell?" tanya Galang.
"Bukannya Ella manggil kak Rendi, Reren ya?" tambah Dela.
"Mending Reren, nah sekarang dia manggil gue Ririn. Bisa kalian bayangkan, mau di taruh di mana jiwa perkasa gue yang tampan dan gagah ini kala sebuah panggilan itu melengking." Rendi terlihat menghela napas kasar.
"Orang sekitar auto mikir lo cowok jadi-jadian, hahaha." tawa Galang pecah.
"Hay, apa gue boleh gabung," ucap seorang wanita berpakaian seksi menghampiri mereka.
"Boleh, silahkan." Dalina yang menjawab.
"Thank." wanita itu mendudukan diri di samping Dela.
Satria dkk saling melirik, mereka heran siapa wanita ini? Kenapa tiba-tiba menghampiri? Dari tampilannya terlihat seperti tante-tante girang dengan belahan dada terekspos dan juga paha yang di biarkan terbuka. Bibir merah merona dengan rambut yang di sanggul sehingga menampilkan leher jenjangnya.
"Oh, muridnya si Ray." Satria manggut-manggut.
"Lo mahasiswi?" lanjutnya.
"Iya, gue mahasiswi paling cantik," jawabnya bangga.
"Paling cantik? Lo udah ngaca kan?" delik Satria.
"Kenapa memang? Ada yang salah?" Zela menatap kearah Satria.
"Yang salah mata lo mungkin," ujar Satria sinis.
"Sat!" Dalina menatap tajam Satria.
"Kenapa, Beb?"
"Gak boleh gitu ih, ngomongnya."
__ADS_1
"Aku kan cuma ngomong pakta, Beb."
"Sepertinya kehadiran gue ngeganggu kalian, kalo gitu gue pergi ajalah." Zela bangkit kemudian dia berjalan ke halaman belakang rumah Ray.
Acara empat puluh harian twins memang di adakan di rumah besar keluarga Wardana yang di dekor se cantik mungkin. Meskipun hanya di rumah, akan tetapi acara itu terbilang cukup mewah dengan hidangan yang melimpah ruah.
"Lo liat kan siapa di sini pemenangnya?" Zela menghampiri Ella yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah seorang diri.
"Lo lagi." Ella menatap kearah Zela.
"Lo pasti galau banget kan? Iyalah galau, orang mau di tendang sama suami tercinta." Zela berucap dengan nada mengejek.
"Gue gak bakal di tendang, karena gue bukan bola." Ella berucap dengan santainya.
"Selamat atas ke kalahan lo, sebentar lagi Ray akan menjadi milik gue," ucap Zela dengan bersidekap dada.
"Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti jatuh sakit. Asal lo tau Darat, Ray gak akan pernah tertarik sama cewek modelan lo. Dia itu sukanya cewek kayak gue, yang wow dan spektakuler." Ella bangkit dari duduknya lalu dia berdiri sejajar dengan Zela dan menatapnya mengejek.
"Penghianat aja bangga," cibir Zela.
"Ck, gue tau itu adalah rencana murahan lo. Segitu gak lakunya ya, sampe laki orang lo embat. Lain kali kalo bikin rencana yang elit dikit dong, jangan kampungan," ucap Ella yang masih bersikap santai.
"Wow, ternyata gue ketauan. Tapi gak pa-pa lah, yang penting Ray percaya bahwa lo itu penghianat."
"Yakin banget sih Ray percaya."
"Gue yakin karena gue lihat pake mata kepala gue sendiri Ray begitu kecewa sama lo."
"Kadang yang kita lihat belum tentu itu adalah kenyataannya." Ella berbalik hendak melangkah pergi.
"Kalaupun cara gue yang kemarin gak berhasil, tapi gue masih punya cara buat misahin kalian. Termasuk membunuh lo kalau perlu!" ucap Zela dengan tersulut emosi.
"Lebih baik lo mundur, sebelum kepala lo lepas dari tempatnya." Ella menatap Zela dengan tatapan yang sulit di artikan, kemudian dia melangkah pergi untuk menghampiri twins yang tengah menjadi rebutan keluarganya dan juga keluarga Ray.
"Sialann, beraninya dia ngancem gue. Gak bisa di biarin, gue harus segera menyingkirkan wanita itu." Zela terlihat mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas, kemudian dia menelepon seseorang.
Jejak😘😘
Author punya rekomendasi novel bagus nih😍 Coba deh kepoin, pasti gak bakal nyesel👇
__ADS_1