Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Gunung yang menempel


__ADS_3

"Iya, Neng." Galang berlalu pergi begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.


Dela hanya bisa menghela napas panjang dengan kaki yang di hentakan ke lantai.


"Mending aku ke kamar Gala aja." Dela bangkit kemudian dia melangkah keluar.


Saat dirinya sampai di kamar Gala, ternyata sang buah hati sudah terbangun dan tengah bermain bersama dengan Adit.


"Bi Romlah kemana, Dit?" Dela menghampiri mereka yang sedang duduk lesehan di karpet.


"Lagi bikin bubur tim buat, Gala, Kak," jawab Adit.


"Gala laper, ya?" Dela mengelus pelan pipi caby Gala.


"Bu-bu-bu. Mam." Gala menatap ke arah Dela.


"Bentar ya, Bibi Rom lagi buatin, Gala mam." Dela mencubit gemas hidung Gala.


"Bu-bu, tit."


"Ibu, Gala jahat, ya. Kok Gala nya di cubit. Sini sama, Om aja." Adit meraih Gala ke dalam pangkuannya kemudian Adit meniup pelan hidung Gala.


"Iss, orang pelan kok." Cebik Dela.


Gala yang di tiup hidungnya oleh Adit malah tertawa senang, dia merasa Adit sedang mengajaknya bermain.


"Padahal kamu baru dateng, Dit. Kok Gala nggak takut ya sama kamu?" heran Dela.


"Emangnya aku nyeremin apa? Pake takut segala. Kakak kali yang takut sama aku." Adit terkekeh pelan.


"Idih, ngapain juga takut sama bocah kayak kamu." Delik Dela.


"Aku bukan bocah, Kak," sangkal Adit.


"Terus apa dong? Bocil?"


"Terserah kakak aja deh. Emang di mata kakak aku masih bocah, ya?" tanya Adit.


"Hmmm, begitulah. Kamu kan baru mau masuk kuliah, berati masih bocah. Kalo udah kerja, baru itu dewasa," ujar Dela.


"Aku udah kerja kok, Kak."


"Kerja apa?" Dela menautkan kedua alisnya.


"Ada deh. Yang jelas aku udah kerja dan punya usaha sendiri," ujar Adit.


"Masa sih? Nggak percaya tuh."


"Terserah, kakak. Mau percaya atau enggak. Yang pasti, selama ini aku nggak pernah minta uang ke, Papah maupun Bang Galang. Papah memang selalu transfer aku uang, tapi aku simpan aja. Toh aku punya penghasilan sendiri. Itu pun udah lebih dari cukup," tutur Adit.


"Ya, deh." Dela manggut-manggut meski tidak percaya bocah seperti Adit sudah mempunyai penghasilan sendiri.


"Gala belum bobo?" Galang yang baru saja datang langsung duduk di samping Adit.


"Gala baru bangun, Bang." Adit yang menjawab.


"Hmm, oh ya. Neng, ini adik aku. Namanya Adit, dia baru pulang dari new York," ucap Galang sembari menatap ke arah Dela.


"Udah tau kok, A. Tadi udah kenalan," ujar Dela.


"Oh, baguslah. Semoga kalian cepat akrab."


"Kita udah akrab kok, Bang. Iya 'kan, Kak?" Adit menatap Dela.


"Hm."


"Ini, Bu. Buburnya, Den Gala," ucap Bi Romlah yang baru saja tiba di kamar.


"Terimakasih, Bi. Sini buburnya biar aku yang suapi." Dela mengambil alih nampak dari tangan Bi Romlah.


"Baik, Bu. Kalau begitu saya ke dapur dulu," pamit Bi Romlah.

__ADS_1


"Ok, Bi."


"Gala mam dulu, ya." Dela meniup bubur yang sudah ia sedok menggunakan sendok kecil.


"Mam o-om," telunjuk kecil Gala meraba wajah tampan Adit.


"Mau mam sama, Om?" tanya Adit kepada bocah kecil itu yang di balas anggukan oleh Galang.


"Ok let's Go, Om suapin," seru Adit.


"Emang kamu bisa nyuapin anak kecil, Dit?" Dela menatap Adit ragu.


"Bisa dong, masa enggak." Yakin Adit.


"Awas salah masuk," ucap Galang.


"Nggak lah, Bang. Emangnya malam pertamaan salah masuk," kelakar Adit.


"Husst, bocah kok bahas begituan," pelotot Galang.


"Elah, aku bukan bocah kali, Bang. Aku udah gede, bahkan udah pantes jadi, Ayah." Adit menaik turunkan alisnya.


"Kuliah aja dulu yang bener, nggak usah bahas begituan dulu," ultimatum Galang.


"Iya, Bang. Kalo nggak hilap tapi."


"Dittt!"


"Duttt!"


"Adit! Ikh kamu jorok!" Dela menampol lengan kekar Adit.


"Maaf, Kak. Kelepasan." Cengir Adit.


"Mau kemana, A?" Dela menatap Galang yang bangkit dari duduknya.


"Ngangkat telepon dulu bentar," jawab Galang.


"Dari klien penting. Di sini berisik. Aku ke ruang kerja dulu, ya." Galang berlalu pergi.


"Jangan cemberut gitu, Kak mukanya. Jelek tau," ledek Adit.


"Diem, kamu," ketus Dela.


"Kalo penasaran, kakak ikutin aja," usul Adit.


"Males, kamu suapin tuh yang bener ponakan kamu."


"Penasaran tapi males ngikutin, dasar cewek." Dumel Adit.


"Apa kamu bilang?!"


"Enggak, kak. Aku tadi cuma bilang ada kunti yang mati penasaran."


"Oh."


"Eh, sejak kapan kunti bisa mati? Bukannya kunti itu setan?" Dela menatap ke arah Adit.


"Nggak tau, Kak. Tanya aja sama kuntinya." Adit tersenyum pepsodent.


"Eughh! Adik sama Abang. Sama aja, Sama-sama bikin kesel!"


**********************


"Besok kamu mau kuliah, Sayang?" Ray memeluk Ella dari belakang.


"Kuliah dong, emangnya kenapa gitu?" Ella memainkan jari jemari Ray yang melingkar di perutnya.


"Takutnya kamu masih trauma dengan kejadian kemarin." Ray menciumi tengkuk Ella.


"Nggak lah, aku 'kan bukan cewek lemah. Kak Ray lupa siapa aku?"

__ADS_1


"Iya juga, ya. Masa Quin AOD mentalnya tempe."


"Mental tahu kak Ray, tempe kan agak keras. Kalo tahu lembek," koreksi Ella.


"Iya, iya. Tapi kamu tetap harus hati-hati, takutnya masih banyak haters yang nggak suka sama kamu," peringat Ray.


"Siap, Bos."


"Besok berangkatnya bareng ya," ujar Ray.


"Emang kak Ray mau ngajar gitu?"


"Iya."


Ke esokan harinya.


Seperti yang di bilang Ray semalam, hari ini mereka berangkat ke kampus bersama. Namun Ella kekeuh ingin berangkat dengan menaiki motor sport kesayangannya. Alhasil Ray pun menuruti dan mereka berdua berangkat ke kampus dengan mengenakan motor.


"Kita berasa lagi pacaran ya, Kak Ray," ucap Ella dengan memeluk erat pinggang Ray dari belakang.


"Iya, Sayang. Sepertinya mulai besok kita naik motor aja ke kampusnya," sahut Ray yang atensinya terfokus ke jalanan.


"Enakan naik motor? Bisa menikmati angin sepoi-sepoi nggak pengap kayak di mobil."


"Iya, enak. Apalagi bisa ngerasain gunung hangat yang menempel."


Ella terlihat bingung, dia menatap ke arah sekitar. Namun tidak ada satu pun gunung yang nampak, apa lagi menempel. Lagi pula mana ada gunung menempel? Pikir Ella.


"Kok diem?" tanya Ray yang tak mendengar ocehan sang istri.


"Nggak ada gunung kok, Kak Ray. Aku nggak liat, apa mataku siwer ya?" ucapnya.


"Jelas nggak keliatan lah, orang gunungnya kamu himpit." Ray terkekeh.


"Kak Ray mesum!" Ella baru sadar gunung apa yang di maksud oleh suaminya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kampus. Ray langsung memarkirkan motornya kemudian dia meraih tangan Ella saat dia dan Ella sudah turun dari motor.


"Kak Ray malu." Ella menatap sekitar, di mana orang-orang tengah memperhatikan mereka.


"Kenapa malu? Toh mereka udah tau kalau kita ini suami istri," ucap Ray.


Ella pun menatap ke arah sang suami, kemudian dia tersenyum tipis. Lalu mereka melangkah masuk ke dalam gedung kampus dengan jari jemari yang saling bertautan. Banyak pasang mata yang melihat ke mesraan mereka. Ada yang menatap nya dengan iri, tidak suka. Bahkan banyak dari mereka yang menghujat Ella secara berbisik. Namun ada juga yang suka dengan hubungan mereka dan di anggap pasangan yang sangat cocok. Satu cantik dan satu tampan.


"Aku masuk duluan, ya. Bapak dosen," ucap Ella setelah mereka sampai di depan pintu pakultas Ella. Ya, Ray mengantarkan Ella sampai di sana.


"Iya, nanti kakak nyusul pas jam matkul tiba." Ray mengecup lembut kening Ella.


"Bay." Ella masuk ke dalam.


Ray hanya menatap sang istri dengan senyuman manisnya, kemudian dia melangkah pergi menuju ke ruangannya.


"Omg! Demi apa? Tadi Pak Ray senyum guys!" teriak salah satu siswi yang memang memperhatikan mereka.


"Iya, baru kali ini gue liat Pak Ray si dosen dingin itu tersenyum. Ya ampun! Senyumnya manis banget!" sahut siswi lainnya.


"Iya manis, tapi cuma buat gue seorang," celetuk Ella kemudian duduk di kursinya.


"Iya, tau. Gue nggak nyangka. Ternyata selama ini lo itu adalah istrinya Pak Ray. Pantes aja Pak Ray nggak marah waktu lo bertanya hal absurd," ucap siswi itu.


"Iyalah, mana mungkin dia marah sama istri sendiri."


"Ini gimana maksudnya, Ell? Mereka udah tau kalo elo itu istrinya, Pak Ray?" Dela menatap Ella dengan penuh pertanyaan.


"Iya, lo sih kemarin nggak masuk. Jadi nggak tau apa yang terjadi kemarin," ujar Ella.


"Emang apa yang terjadi, Ell?" tanya Dela.


"Kemarin tu heboh banget gara-gara unggahan video Ella. Ada yang nyebarin video ke bersamaan Pak Ray sama Ella." Kiana yang menjawab.


"Aku nggak nanya sama kamu," ketus Dela.

__ADS_1


Jejak😘😘😘😘


__ADS_2