Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Membuntuti Kiana


__ADS_3

"Kamu kenapa sih, Del? Perasaan akhir-akhir ini kamu selalu sewot sama aku?" tanya Kiana heran.


"Kamu tu yang kenapa?" sewot Dela.


"Kok aku?" Kiana menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu ngerasa punya salah nggak sama aku?" Dela menatap Kiana sinis.


"Aku nggak ngerti apa maksud kamu," ucap Kiana.


"Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya," sindir Dela.


"Apa maksud kamu?" bentak Kiana.


"Pikir aja sendiri, situ punya otak 'kan?"


"Kamu tu..."


"Udah udah jangan ribut, lakik gue dateng tuh," sela Ella.


"Urusan kita belum selesai." Dela menatap nyalang Kiana.


"Selamat pagi semua," ucap Ray setelah dia masuk.


"Pagi, Pak!" jawab mereka serentak.


"Materi yang harus kalian pelajari hari ini adalah lanjutan dari materi yang di kasih oleh, Bu Sukma kemarin." Ray membagikan tugas yang sudah ia rangkum.


"Kalau ada yang tidak di mengerti boleh di tanyakan kepada, Saya."


"Baik, Pak."


********************


Saat ini Ella, Dela dan juga Kiana sedang berada di kantin. Dengan wajah Dela yang masih muram dan enggan berbicara dengan Kiana.


"Diam-diam, bae. Lagi pada latihan jadi patung, ya?" celetuk Ella di tengah keheningan.


"Nggak!" jawab Kiana dan Dela secara bersamaan.


"Cieee, kompak bener," ledek Ella.


"Diem kamu!" Mereka berucap secara bersamaan kembali.


"Ok, ok. Karena aku cantik, jadi aku diem." Ella akhirnya lebih memilih menyantap bakso yang telah di pesannya.


Hening... Itulah situasi saat ini. Dela sibuk memainkan jus dengan menguceknya asal. Sedangkan Kiana sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang dia lakukan. Dela yang curiga pun, langsung membuka ponsel dan mengecek apakah sang suami online. Dan benar saja, Galang sedang online. Reflek saja Dela langsung menggebrak meja.


Brak!


"Monyet gundul!" teriak Ella kaget.


"Astaga, Dedel! Kalo mau gebrak meja bilang dulu dong!" Ella menatap Dela yang wajahnya sudah memerah.


"Kenapa? Masalah?" sewot Dela.

__ADS_1


"Enggak sih, gue cuma mau bantu gebrak doang biar patah mejanya," ucap Ella enteng.


"Kamu kenapa bengong, Ki?" Ella beralih menatap Kiana.


"Jantung aku copot deh kayaknya, Ell." Kiana memegangi dadanya.


Reflek, atensi Ella langsung menatap kebawah. Lalu jari jemarinya meraih ujung meja kemudian dia angkat dan berjongkok untuk melihat bawah kolong meja.


"Kamu ngapain, Ell?" Kiana terlihat bingung.


"Nyari jantung kamu, katanya tadi copot kan? Takutnya ngegelinding ke kolong meja," jawabnya serius.


Kiana sontak saja menggeleng kemudian menepuk pelan keningnya, dia merasa lucu sendiri saat melihat tingkah konyol Ella. Bahkan Dela yang tadinya berwajah masam, kini wajahnya berubah memerah. Bukan menahan amarah, melainkan menahan tawa yang hendak meledak.


"Guys, aku pamit duluan, ya," ucap Kiana.


"Mau kemana, Ki? Buru-buru amat," tanya Ella.


"Ada urusan." Kiana nampak mengulum senyuman.


"Yodah, Hati-hati ya." Ella melambaikan tangannya.


"Ok." Kiana berlalu pergi.


"Kita ikutin dia, Ell." Dela menarik lengan Ella.


"Etdah mau kemana, Del? Jangan tarik-tarik dong, entar tangan gue copot. Ini bukan tangan barbie kalo copot bisa di pasang lagi," gerutu Ella.


"Temenin aku ngikutin, Kiana," ujar Dela.


"Ngapain di ikutin si? Kita pan bukan detektif," ucap Ella yang masih di tarik oleh Dela.


"Koncinya nggak ada, Udel." Cengir Ella.


"Dimana?! Cepet ambil sana!" bentak Dela.


"Bentar napa, berasa jadi anak tiri gue. Di bentak mulu," dumel Ella sembari melangkah pergi ke ruangan Ray.


Beberapa saat kemudian dia telah kembali dengan mengulum senyuman, entah apa yang di lakukan Ray sehingga membuat wajah Ella nampak berseri. Saat melihat Ella datang, Dela langsung menariknya, merekapun segera pergi untuk membuntuti Kiana. Ella mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena Dela terus menyuruhnya ngebut.


"Cepet, Ell. Ikuti taksi itu! Lebih ngebut lagi," teriak Dela sambil menunjuk taksi yang di tumpangi oleh Kiana.


"Ini udah ngebut, Dedel! Kalo tambal lagi kecepatan, kita nggak bakalan nyampe tujuan. Tapi nyampe akherat, Del," teriak Ella.


"Aku nggak peduli, pokonya kamu harus ngebut!" Dela menepuk pundak Ella dengan begitu keras.


"Astaga! Kenapa gue di tampol? Dasar mak tiri kejam!" teriak Ella.


"Ngebut, Ell."


"Ok ok, siap-siap ya. Palentini rongsok mau ngebut, nih!" Ella menaikan kecepatan motornya.


"Jangan salahin gue ya, kalo kita berakhir di TPU. Ini lo yang minta," lanjutnya.


"Jangan ngoceh mulu, fokus aja kejar Si Kia!" kesal Dela.

__ADS_1


"Mana di suruh, di gaplok! Di marahin lagi. Nasib-nasib!" gerutu Ella.


"Berhenti, Ell." Dela mencubit keras pundak Ella.


Srett!


"Ela dalah! Bisa mati beneran gue!" Dumel Ella setelah mengerem motornya dengan mendadak.


"Itu mobil, Galang!" tunjuk Dela pada mobil sport berwarna hitam.


"Ah iya, itu mobil si Alang-Alang liar." Atensi Ella mengikuti arah telunjuk Dela.


"Jadi beneran, Ell. Mereka selingkuh, hiks. Huaa!" Dela memukul-mukul punggung Ella dengan kedua tangannya.


"Yang selingkuh si Alang-Alang, Udel! Kenapa gue yang di gaplok," teriak Ella.


"Kamu jahat, Ell!" teriak Dela dengan tatapan yang masih mengarah ke arah mobil Galang. Terlihat Kiana masuk ke dalam mobil Galang dengan begitu santai.


"Eh, kok gue yang jahat? Gue kan nggak nyelingkuhin elo, Dedel!" Pekik Ella karena Dela mencubit pinggangnya.


"Hikss! Kamu malah bikin aku kesel. Kamu sama sekali nggak prihatin sama aku. Aku tu lagi di selingkuhin, Ell. Setidaknya kamu ber-empati dikit, kek," gerutu Dela.


"Ok ok, gue turut prihatin ya, Del. Gue turut sedih karena ternyata si Alang-Alang segar dingin. Main sorong sama si Bakiak."


"Cepet ikutin mereka lagi, mobil si Galang mulai melaju, jangan banyak cingcong!"


"Etdah, serba benar gue. Tadi di bilang jahat karena nggak prihatin. Udah prihatin malah di bilang banyak cingcang lagi." Dumel Ella kemudian melajukan motornya kembali.


Ella melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan Dela. Mobil Galang terlihat mengarahkan ke jalan yang begitu asing untuk Dela, sepanjang jalan, Dela terus menangis, marah-marah dan juga teriak sembari memukuli punggung Ella.


"Aku nggak nyangka, Ell. Ternyata benar dugaanku. Galang main serong sama si Kia." Dela terisak di punggung Ella.


"Sabar ya, Dedel. Nanti gue janji deh. Gue bakalan bikin burung si Alang-Alang jadi sosis panggang. Terus gue mau cincang tu burung, gue mau kasih sama para buaya di markas," ujar Ella yang sedang fokus mengemudi.


"Telurnya jangan ya, Ell. Siapa tau nanti telurnya bakal netas lagi dan jadi burung baru, hiks."


"Telurnya mau gue goreng, Del. 'Kan lumayan bisa jadi santapan pagi. Telur mata belalai."


"Ini di mana, Ell?" Dela melihat bangunan yang cukup besar, bangunan itu di kelilingi oleh pagar hitam yang menjulang tinggi.


"Mana gue tahu, gue 'kan bukan tempe sodara kembar tak se-irasnya si tahu," jawab Ella ngasal.


Dela mengamati mobil Galang dari tempat yang lumayan jauh dari tempat mobil Galang berhenti. Ya, mereka juga sudah berhenti sesaat sesudah Galang berhenti di depan gerbang bangunan itu.


"Ell ...," lirih Dela.


"Kamu kok malah diem? Mereka udah masuk ke dalam. Ayok kita masuk, Ell. Cepetan!"


"Gue lagi mikir, Del. Kira-kira motong burungnya si Alang-Alang liar pake apa ya? Gergaji? Bul doser? Apa senso?"


"Ellllaaaaa!"


"Iya, iya. Ayok kita masuk, gue udah nemuin benda yang tepat buat motong burungnya si Alang-Alang liar."


"Apa?"

__ADS_1


"Gunting kuku."


Jejak😘😘


__ADS_2