Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
sehari bersama Kiana


__ADS_3

Ella tau saat ini Kiana pasti sangat sedih, dia mengerti apa yang di rasakan oleh Kiana. Maka dari itu, seusai dari pemakaman Rendi. Ella mengajak Kiana pergi ke bioskop untuk menonton sekaligus menghibur Kiana. Di sana mereka menonton filem bergenre komedi, supaya Kiana terhibur dan tidak lagi berlarut dalam ke sedihan.


"Filem nya seru ya, Ki." Ella mendudukan bokongnya di kursi restoran Jepang.


Mereka memang memutuskan untuk pergi ke restoran Jepang setelah menonton, karena perut mereka meronta meminta di isi.


"Iya, Ell. Lucu banget," sahut Kiana.


"Lain kali gue mau ngajak, Kak Ray nonton ah," ucap Ella sembari membulak balikan buku menu.


"Boleh di coba tu, Ell. Pasti seru, jangan cuma filem romantis aja yang nonton berdua. Filem komedi juga bisa," seru Kiana.


"Hooh."


"Kamu mau pesen apa sih, Ell? Dari tadi menunya di bulak-balik mulu," heran Kiana yang sedari tadi melihat Ella membulak balikan menu.


"Bingung, Ki."


"Bingung kenapa?"


"Bingung mau pilih yang mana? Tak ceboki. Hais, berati makanannya belum cebok. Su udon, berati makanannya selalu berprasangka buruk. Tak koyaki, apaan yang mau di koyak coba? Yakin iku? Yakin nggak yakin sih," tutur Ella panjang lebar.


"Caelah, bukan begitu konsep bacanya. Neng." Delik Kiana.


"Sama aja, Kia. Intinya entu."


"Terus kamu mau pesen apa?"


"Apa ya? Bingung. Em, tak ceboki aja deh," putus Ella.


"Lo mau pesen apa, Ki?" lanjutnya bertanya pada Kiana.


"Aku pesen ramen aja deh, Ell," jawab Kiana.


"Mbak!" Ella memanggil pelayan.


"Mbak, pesen tak ceboki satu. Tapi jangan lupa cebokin dulu, ya. Terus ramen satu," ucap Ella setelah pelayan menghampiri.


"Tak ceboki?" ulang pelayan bingun.


"Maksud temen saya, Teoboki. Mbak," koreksi Kiana.


"Oh teoboki, baik, Kak. Mohon di tunggu, ya."


"Jangan lupa cebokin ya, Mbak!"


"Iss, kamu malu-maluin aja sih, Ell." Sungut Kiana.


"Kenapa malu? Orang gue pake baju."

__ADS_1


"Au ah! Kesel aku."


"Oh."


"Ihh! Kamu bikin bete deh!" gerutu Kiana.


"Etdah ni bocah! Serba salah mulu prasaan. Lu maunya apasih? Permen kaki? iya? Atau kinder joy?"


"Mending main tebak-tebakan aja yuk, sembari nunggu pesanan," usul Kiana.


"Ok, mau tebak-tebakan apa?" Ella menuruti mau Kiana.


"Aku yang pertama nanya ya," pinta Kiana.


"Ok."


"Apa bahasa china nya, cewek berambut panjang?"


"Ghe Ran Dhong."


"Ihh! Yang bener dong, Ell." Kesal Kiana.


"Ok, ok."


"Pertanyaan kedua, jawab yang bener ya. Awa kalo salah!"


"Hm."


"Zhie ghong loe bao."


"Elllaaaa! Yang bener ih."


"Diem! Dah cebokin gue dateng," ujar Ella.


"Teoboki, Ell."


"Kan udah di cebokin sama si, Mbak. Jadi namanya bukan tak ceboki lagi. Jadinya dah ceboki."


"Au ah serah kamu!"


"Iyalah! Masa terserah, Pak Rt."


Mereka pun akhirnya menyantap makanan yang telah di pesan dengan sedikit tergesa karena lapar. Setelah makanan habis, Ella mengantarkan Kiana pulang ke rumah. Karena pada saat mengantar Kiana pulang. Sang ibu dari Kiana terus memintanya untuk mampir, Ella pun mampir karena tergiur oleh bronis coklat hangat yang di tawarkan oleh ibu Kiana.


"Ini bronis nya, Neng," ucap Ibu Kiana yang berjalan ke arahnya dengan membawa nampan.


"Ah, makasih, Bu. Jadi enak nih." Ella menatap ke arah Kiana dengan tersenyum manis.


"Ayok cobain, Neng. Ini Ibu bikinnya pake resep baru loh." Ibu Kiana menaruh piring berisi bronis di hadapan Ella.

__ADS_1


"Emang resep yang lama kemana, Tante? Apa udah kadaluwarsa sampe di ganti sama resep baru?" tanya Ella.


"Bukan, Neng. Ibu cuma mau nyoba rasa yang baru aja. Yang lama bosen," ujar Ibu Kiana.


"Nggak pa-pa deh, bosen sama rasa kue. Asal jangan bosen sama rasa cinta aja, Tan. Karena tanpa cinta, hidup terasa hampa. Bagai taman tanpa kang dagang. Sepii, Tan," ucap Ella.


"Ternyata kamu lucu, Neng." Ibu Kiana tertawa.


"Kok lucu? Aku ngak lagi ngelawak loh, Bu."


"Wih, ada tamu nih kayaknya," ucap Riki yang baru saja pulang.


"Eh, Abang. Iya nih, Bang. Ada temen aku mampir," jawab Dela.


"Temen kuliah?" Riki duduk di samping Kiana.


"Iya."


"Oh ya, Bang. Apa kata polisi? Abang udah dari sana 'kan?" Kiana menatap Riki lekat.


"Iya, Abang baru aja dari sana. Huhhh, tetap sama, Ki. Keputusannya, nggak bisa di ngganggu gugat." Riki terlihat menghela napas panjang.


Ella hanya menatap wajah murung Kiana, sepertinya Kiana begitu sedih. Tak hanya Kiana, ibunya dan Riki pun tampak begitu sedih. Ella menatap kasihan ke arah mereka.


"Kalian yang sabar, ya. Dan yakinlah, semua akan indah pada waktunya," ucap Ella yang memang sudah tau duduk permasalahan ini.


"Ka-mu tau, Ell?"


"Apa sih yang aku nggak tau."


"Sombong amat!"


"Bener juga ya, amat aja nggak sombong. Kenapa aku sombong?" Ella terlihat seperti orang berpikir.


"Dah ah, aku mau pamit pulang dulu. Ingat ya, Ki. Jangan sedih, karena tidak ada masalah yang tidak mempunyai jalan keluarnya. Semua ini akan cepat berlalu."


"Gue pergi ya, Ki. Bay."


"Hati-hati, Ell"


"Hati-hati, Neng."


"Siap!"


Ella pun berjalan keluar dari rumah Kiana, kemudian dia melakukan mobilnya ke arah suati tempat. Namun saat di tengah perjalanan.


sreettt!


Ella tiba-tiba mengerem mobilnya.

__ADS_1


"Gue lupa! Bronisnya belum gue makan!" pekiknya dengan tampang menyesal.


jejak😘😘


__ADS_2