
"Olahraga, klub bisbol ya?"
"Kok, kamu tempe sih?"ucap Wina.
"Tahu, Mam."koreksi Ray.
"Podo wae,"bela Wina.
"Beda atuh, Mam. Tahu sama tempe, mah."ujar Ella.
"Sama Ell, sama-sama dari keledai."sarkas Wina.
"Yalah, serah Mama."pungkas Ray.
"Kak Ray, emang tahu sama tempe, di buatnya. dari keledai ya?"tanya Ella.
"Bukan sayang, tempe sama tahu itu dibuatnya dari kedelai, bukan keledai."jelas Ray.
"Tadi, kata Mama dari keledai."ucap Ella.
"Gak usah, dengerin Mama. Dia itu pembawa aliran sesat."Ray mengelus rambut Ella.
"Enak aja, masa Mama dibilang pembawa aliran sesat. Dasar anak durjana."ucap Wina melotot.
"Kutuk aja Mam, jadi teko."ujar Ella semangat.
"Nah, bener tuh. Mami kutuk kamu Ray, jadi teko."Wina menatap Ray nyalang.
"Serah."Ray berlalu pergi kekamar nya.
"Isst, kok akunya ditinggalin sih."cemberut Ella.
"Udah, kamu disini aja sama Mama."ucap Wina.
"Kan, ada Papah. Ntar akunya jadi setan, lagi."ujar Ella.
"Kenapa jadi setan?"tanya Wina.
"Kan, kata kak Ray. kalau ada orang yang lagi berduaan, yang ketiganya itu setan. akunya gak mau ah, jadi setan."Jawab Ella.
"Oalah, kamu tenang aja. Papah juga mau berangkat ke kantor kok."ucap Wina.
"Iya, Ell. Papah udah mau berangkat kok."timpal Samsul.
"Kenapa berangkat nya siang, Pah?"tanya Ella.
"Tadi ada sedikit urusan, Ell. Jadi Papah telat."Jawab Samsul.
"Oh, urusan tongkat bisbol."ujar Ella.
"Yaudah, Papah berangkat, ya. Asalamualaikum."ucap Samsul lalu pergi dengan terburu-buru.
"Waalaikum salam."ucap mereka.
"Mam, kenapa Papah buru-buru?"Ella melirik sang mertua.
"Kan udah telat Ell, jadi buru-buru."Jawab Wina.
"Oh."
"Mending kita nonton sinetron, biasanya jam segini sinetron kesukaan Mama tayang."ajak Wina.
"Sinetron, yang di ikan terbang itu kan?"
"Iya, Ell. seru tau."Wina mengambil remot dan mengganti saluran TV yang sedang nyala itu.
"Seru apanya, kumenangis mulu."cebik Ella.
__ADS_1
"Emang, maunya gimana? kutertawa gitu? kan gak banget, kutertawa membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku, begono. Masa iya dikejamin tertawa, kan kagak ada, yang ada malah menangis."ucap Wina panjang lebar.
"Ganti aja lirik nya, Mam."ujar Ella.
"Gimana?"
"Kutertawa membayangkan, dirimu tikusruk bareng selingkuhan. Harus selalu kau tau, aku bahagia kau mati dengan dia diinjek gajah betina."Ella menyanyi dengan nada absrud.
"Mana ada, lagu begitu. Laku kagak, di ketawain iya."cibir Wina.
"Adain aja lah, Mam. Lagu aku belum mandi, da untung- da untung, aja. jadi Varel geningan."ucap Ella.
"Tung tung tung, Ella. Bukan da untung."koreksi Wina sotoy.
"Da untung, Mam."kekeh Ella.
"Tung tung tung."
"Da untung."
"Ada apa sih, kenapa kalian pada ribut?"tanya Ray yang baru saja nongol, lalu mendudukan dirinya di sebelah Ella.
"Ini, kak Ray. lagu yang Varel waktu itu da untung kan, bukan Tung tung tung."Ella melirik Ray.
"Viral kali, sayang, bukan Varel."koreksi Ray..
"Gak mau akh, aku maunya Varel aja. Biar panjangnya jadi Varel bramasta. Uhuuyy."ucap Ella.
"Serah."ketus Ray.
"Jawab dulu."
"Jawab apaan?"
"Itu yang tadi, da untung kan? bukan tung tung tung."ujar Ella.
" Gini nih, aku belum mandi da untung- da untung. Yang itu kak Ray."Ella menyanyikan lagu itu.
"Yang bener tu, gini Ray. Aku belum mandi tung tung tung, begitu."Wina tak mau kalah.
"Persi aku, yang bener."ucap Ella sengit.
"Persi Mama lah, persi kamu mah, salah."balas Wina.
"Aku."
"Mama."
" Aku, ih. Titik no debat."pungkas Ella.
"Udah-udah, kenapa jadi kayak anak kecil sih. Udah debat, mana dua-duanya salah lagi, kalian ini inget umur napa. Mama juga udah tua bukan nya ngalah, malah gak mau kalah."tegur Ray, yang sudah jengah.
"Mama belum tua ya Ray. Yang harusnya ngalah itu, yang muda sama yang lebih tua."ucap Wina.
"Mama bilang katanya belum tua, tapi itu kok ngaku. Hahaha."tawa Ella pecah.
"Siapa juga, yang ngaku tua."elak Wina.
"Itu tadi, yang harusnya ngalah itu, yang muda sama yang lebih tua. Jadi Mama ngaku kalau udah tua, hahaha."Ella mentertawakan Wina.
"Ists, dasar menantu kurang asem. Masa mertuanya diledekin."kesal Wina.
"Tambahin lagi, aja Mam Kalau kurang. lagian aku itu ngomong pakta, gak kaya Mama suka hoaks."ujar Ella.
"Kapan Mama suka hoaks? gak mungkin lah tu."bela Wina.
"Mungkin kok, kak Ray yang bilang. Iya kan kak?"Ella melirik Ray'
__ADS_1
"Hm."
"Yah, dingin lagi dah."ucap Ella.
"Guyur aja, pake air panas."ujar Wina.
"Gak mau ah, ntar kak Ray nya melepuh. Kaya ayam yang mau disembelih."
"Kan biar gak dingin lagi."propokasi Wina.
"Iya, gak dingin lagi. Tapi panas dan panasnya cuma sebentar, habis itu jadi lebih dingin lagi."
"Ngapa jadi lebih dingin?"
"Karna mati, atuh Mam. Kenapa Mama jadi bloon sih? karna kebanyakan main tongkat bisbol ini mah euy."ledek Ella.
"Enak aja, kamu ngatain Mama bloon."kesal Wina.
"Terus apa dong, kurang konek gitu."cebik Ella.
"Kalian kenapa sih, hobi banget berantem. Gak bisa anteng apa?"lerai Ray yang sudah pusing dengan kelakuan mereka.
"Istri kamu, yang mulai Ray."bela Wina.
"Enak aja, Mami tau."Ella tak terima.
"Stop, aku belum mandi tak tuntuang tak tuntuang, tapi masih tampan jua. Tak tuntuang tak tuntuang. Iiihaaaa."Ray berdiri lalu berjoged ria menggoyangkan pinggulnya.
"Kak Ray kenapa? setres ya?"tanya Ella heran melihat suaminya berjoget-joged tidak jelas.
"Iya, setres ngadepin kalian berdua."sengit Ray.
"Oh."mereka berdua ber oh ria.
"Au, ah. Lama-lama disini bisa jadi penghuni RSJ gue."ucap Ray sambil berlalu pergi dari sana.
"Kak Ray kenapa, sih Mam? kok marah-marah mulu."tanya Ella.
"Lagi pms kali."ujar Wina.
Ray setres gara-gara kalian munaroh😂😂
Setelah bosen di ruang santai. Ella pergi menuju ke kamar, kalau Wina dia katanya pergi keluar untuk menemui teman-temannya.
"Udah selesai, debat nya?"tanya Ray. yang melihat Ella masuk.
"Siapa juga yang debat."kilah Ella.
"Kamu, lah. Masa kucing."
"Aku gak debat kak Ray."
"Terus apa?"
"Beradu argumen."
"Podo wae, maemunah."
Ella pun berjalan kearah ranjang, lalu dia merebahkan tubuhnya, dia memang sering debat bersama sang mertua tapi bukan berati mereka gak akur ya. mungkin itu salah satu cara mereka untuk mengakrab kan diri. Kan setiap orang berbeda-beda, dan juga punya cara tersendiri untuk saling mengenal. Contohnya seperti Wina.
Wina tau, tingkahnya tadi memang kekanak-kanakan. Tapi itu cara dia untuk mengenal sang menantu lebih dekat, karna sipat menantunya yang polos dan sidikit bloon lah. Jika dimbangi dengan sikap dewasanya, Wina tidak yakin dia bisa akrab dengan Ella.
Maaf ya, mungkin ceritanya gaje banget. mungkin pikiran authornya lagi bercabang😂
Semoga kalian suka,
And mamfir juga ya. ke my youtube chanel Susi similikity author Nt. mohon dukungan nya🙏🙏.
__ADS_1