Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Ada yang kebakar.


__ADS_3

Deg!


Jantung David berdegub dengan begitu kencang kalau atensinya bersitatap dengan netra wanita yang dulu pernah menjadi pendamping hidupnya walau hanya satu jam saja.


"Kapok!" teriak Ella begitu tau yang membuka pintu ruangannya adalah Poky.


"Kamu nggak pa-pa 'kan, Ell?" Poky berjalan menghampiri Ella.


"Aku nggak pa-pa kok, Kapok. Oh ya, Kapok kesini sama siapa?" tanya Ella.


"Aku kesini sama, Di-----"


"Kamu kok ninggalin aku? Aku kan udah bilang tunggu bentar." Suara serak milik seseorang membuat atensi umat yang berada di ruangan itu teralihkan.


"Hehe, aku udah nggak sabar pengen ketemu, Ella," jawab Poky cengengesan.


"Kapok kesini bareng sama curut ini?" Ella menunjuk sosok Diego yang kini berdiri di samping Poky.


"Iya, Ell," jawab Poky santai.


"Ciee, roman-romannya ada yang jadian nih," ledek Ella.


Uhukk!


David langsung terbatuk kala mendengar ucapan Ella, entah mengapa pasokan udaranya terasa menipis hingga membuatnya sesak.


"Perasaan lo lagi kagak minum deh, Dave. Tapi kok bisa tersedak?" Ella menatap David dengan tatapan mengejek.


"Iya, Dave. Lo keselek apaan?" Ragil turut menimpali.


"Keselek jin," jawab David ketus.


"Si Dave lagi sensi kayaknya," sindir Ray membuat David mendelik.


"Gercep juga lo, Di. Semoga langgeng ya, jangan kek judul lagu. Satu jam saja," ucap Ray menyindir seseorang.


"Nggak enak satu jam saja, paling cuma nyelup doang. Belum ngebelesek," timpal Ragil.


"Wah! Mulai omes ni anak. Perlu kita kawinin cepet ini kak Ray. Buaya," ucap Ella.


"Mau dong, Ell di kawinin." Ragil malah menggoda Ella.


"Boleh, kebetulan sapi ternak bokap gue ke kurangan jantan," sahut Ella.


"Bagus, Ell. Mamam tu sapi," seru David dengan tertawa puas.

__ADS_1


"Kurang dua jantan, Dave. Jadi yang satunya elo aja," ucapan Ella seketika membuat tawa David terhenti.


"Suee lu!"


Poky duduk di samping Ella, wanita itu terlihat sangat khawatir akan kondisi Ella. Poky sangat menyayangi Ella, karena selama ini Ella sudah banyak membantunya. Dari mulai merubah penampilan hingga menarik dan enak di pandang seperti ini. Lalu merubah gaya bicara yang tadinya sangat kampung sekali sekarang sudah tidak terlalu. Poky banyak sekali belajar tentang hal yang belum pernah ia ketahui dari Ella, Poky nggak akan bisa jadi seperti ini jika bukan karena Ella.


"Pou, makan dulu yuk. Kamu belum makan dari tadi," ajak Diego lembut.


"Nanti aja, aku belum laper," tolak Poky karena dia masih ingin mengobrol dengan Ella.


"Pou, ayok," ucap Diego tak mau di bantah.


"Udah, Kapok. Makan dulu sana, nanti kalau Kapok pingsan gimana?" sahut Ella.


"Bener tuh kata, Ella. Aku nggak mau kamu sakit." Diego menarik lembut tangan Poky kemudian menggenggam nya posesif.


"Yaudah deh." Poky mengangguk.


"Kalian nyium bau gosong nggak sih?" celetuk Ella setelah Poky dan Diego pergi.


"Nggak tuh, Sayang," jawab Ray tidak konek.


"Gue nyium, Ell. Kek ada yang ke bakar gitu. Tapi apa ya?" sahut Ragi.


"Panas banget kek nya sampai ke bakar gitu," timpal Ella.


"Nestapa di depan mata... Di depan mata, mantanku bermesraan.... Mantan bermesraan memang panas hawanya..." Ella menimpali dengan nyanyian absurd nya.


"Oh, ternyata yang kebakar itu hati," celetuk Ray yang baru mengerti arah pembicaraan mereka.


"Pantes baunya nyengat banget," imbuhnya.


"Ck." David berdecak dengan wajah di tekuk.


"Lo cembukur ya, Deve?" ledek Ella.


"Siapa yang cemburu coba," sangkal David.


"Itu buktinya muka lo kusut banget kek baju belon di lindes bul doser," ujar Ella.


"Gue nggak cemburu, Ell. Lagian gue nggak punya perasaan apa-apa sama tu cewek. Suka aja enggak! Gimana mau punya perasaan cobak?" ucap David ngegas.


"Terus lo sukanya sama siapa? Perasaan lo untuk siapa?" Ella menatap David lekat sehingga membuat David salah tingkah karena di tatap seperti itu oleh Ella.


"A-pa sih, gue nggak punya perasaan," ucapnya gugup.

__ADS_1


"Lo setan dong, kalau kagak punya perasaan," sahut Ragil.


"Emang dia setan, Gil. Setan Dumes," kata Ella.


"Perasaan kok nggak di akui, di embat orang baru tau rasa, Dave." Ragil menepuk bahu David sedikit kuat.


"Cih!" David hanya berdecih dengan wajah yang tidak bersahabat.


Ella menatap pria itu bingung, banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Dia bertanya-tanya apakah David memiliki rasa terhadap Poky. Lalu kenapa David masih saja gugup dan juga salah tingkah saat Ella menatapnya. Mungkinkah David sudah memiliki rasa terhadap Poky namun rasa untuknya masih ada dan masih tersisa.


"Gue harap lo segera buka hati, Dave. Kalo perlu gue bantu dobrak kalo elo nggak mau buka," ucap Ray tiba-tiba.


"Ini hati, bukan pintu," ucap David sewot.


"Percuma punya hati, tapi nggak ada yang memiliki. Kasih aja Dave sama anak anj**ing," celetuk Ragil.


Keesokan harinya, kondisi Ella sudah kian membaik. Tubuhnya tidak selemah kemarin. Ray dengan setia mendampingi. Duo curut juga menginap di rumah sakit semalam untuk menemani Ella. Sedangkan Poky dan Diego, mereka pulang.


"Kak Ray nggak pergi ke kantor?" tanya Ella pada Ray yang tengah menyuapinya.


"Kamu pikir kakak tega ninggalin kamu, hm?" Ray mengelap bibir istrinya yang sedikit kotor.


"Kan aku udah baik-baik aja," ujar Ella.


"Belum membaik sepenuhnya."


"Terus gimana pekerjaan kak Ray, pasti terbengkalai?"


"Itu nggak penting, untuk saat ini prioritas kakak cuma kamu, Sayang." Ray mengecup bibir Ella sekilas.


"Kak Ray sosweet, deh." Ella mengecup pipi kiri Ray.


"Yang satunya belum, nanti dia iri." Ray menyodorkan pipi sebelah kanannya.


Cup!


Ella pun mengecupnya.


"Ini." Ray menunjuk bibirnya.


"Isss!" Ella mendesis namun tetap saja di turutinya.


Saat Ella mengecup bibir Ray, pria itu menahan kepala istrinya supaya kecupan mereka tidak terlepas. Saat Ella terdiam, tanpa basa-basi Ray langsung meraup bibir manis Ella. Menghis*pnya lembut. Ciuman mereka semakin dalam dan juga semakin memanas. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan itu, karena terhanyut dalam ciuman panas. Mereka tidak menyadari jika pintu ruangan terbuka.


"Astaga! Pagi-pagi udah di suguhin pemandangan hot! Woy ini rumah sakit bukan hotel!" teriak seseorang yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Satu lagi rekomendasi buat kalian, kepoin ya👇



__ADS_2