
David benar-benar membuktikan ucapannya, satu bulan ini dia terus berjuang untuk mendapatkan hati Poky sang mantan istri, berbagai cara David lakukan supaya bisa memenangkan hati Poky bahkan nyaris membahayakan nyawanya sendiri.
Namun seperti kata pepatah, tiada usaha yang menghianati hasil, kini David bisa mendapatkan kembali hati dan juga kepercayaan Poky yang tidak boleh dia sia-siakan.
"Udah siap?" David menatap Poky yang baru saja keluar dari rumahnya.
Poky terlihat sangat cantik hari ini dengan dress coksu polos namun elegan yang membalut tubuhnya. Hari ini adalah hari dimana Kiana dan juga Ragil akan melangsungkan pernikahan dan David hendak pergi keacara tersebut bersama Poky sang tambatan hati yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Udah, A. Ayok berangkat," sahut Poky yang di angguki oleh David.
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah Poky untuk menuju ketempat tujuan.
kiana dan juga Ragil melangsungkan acara pernikahan di gedung Wardana karena itu perintah dari Ray, acaranya cukup mewah dan dihari banyak tamu undangan mulai dari kalangan pembisnis hingga teman-teman dan kerabat mereka. Anggota Aod juga hadir untuk berjaga karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Selamat ya, Ki. Semoga kalian tak terpisahkan sampai akhir hayat," ucap Poky yang sudah berdiri di hadapan Kiana dan juga Ragil, dia langsung memeluk Kiana.
Kedua mempelai sudah melakukan ikrar janji suci sebelum Poky dan David datang, jadi kini hanya tingal resepsi saja.
"Makasih, Poky," sahut Kiana seraya membalas pelukan Poky.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya burung lo bisa masuk sangkar." David menyalami lengan kekar Ragil.
"Thanks, cepet nyusul lo. Jangan kelamaan pacaran, ntar di embat orang," ujar Ragil yang dibalas kekehan oleh David.
"Pasti dong, gue nggan bakal biarin doi di embat orang," kata David.
Setelah memberi selamat dan juga kado pada kedua mempelai, Poky dan juga David langsung menghampiri meja Ella dkk. Disana ada Satria, Galang, Ray, Dela, Dalina, Gala, Diego, Alvin dan juga sikembar plus Sasa. Sementara para orang tua duduk di meja pojok.
"Baru dateng, Vid?" tanya Ray saat Poky dan David sudah duduk.
"Iya," jawab David singkat.
"Kalian kemana aja jam segini baru dateng? Jadi nggak liat prosesi akadnya deh," ujar Ella.
"Tadi ada urusan bentar," kata David.
"Kalian kapan nyusul naik pelaminan?" Kini Ray yang bertanya pada sejoli itu.
__ADS_1
"Lo buta, Ray," ujar Satria.
"Ck! Nyamber ae lo kayak geledek." Ray mendelik kearah Satria.
"Orang gue nanya mereka juga," lanjutnya sewot.
"Gue cuma bantu jawab, Samuray. Takutnya mata lo buta atau tuli gitu, tadi si Dapok udah naik pelaminan pas nyalamin si Raki masa lo kagak liat sih," tutur Satria.
"Dahlah, Sat. Gue lagi nggak bercanda," ketus Ray yang sudah jengah menghadapi kakak iparnya itu yang selalu saja bertingkah.
Yang lainnya hanya tertawa mendengar perdebatan Ray dan juga Satria, kedua orang itu memang selalu saja berdebat dan hal yang di debatkanpun hanya hal spele atau guyonan semata.
Mereka pun asik berbincang membicarakan hal yang serius sampai ke hal yang unfaedah, sudah banyak sekali hidangan yang mereka santap dan juga juice sampai gelasny pun berjejer di atas meja mereka.
"Gagal, au ini ndak?" Zura mengangkat tangannya yang berisi kek pandan kehadapan Gala.
"Nggak suka yang manis-manis," sahut Gala ketus membuat Zura merengut kesal.
"Pates aja Gagal nggak suka Ula, telnyata Gagal nggak suka yang manis-manis," gumam Zura yang masih terdengar oleh semuanya.
"Emang apa hubungannya Gala nggak suka sama kamu dan Gala nggak suka yang manis-manis, Sayang?" tanya Ella penasaran akan jawaban putri kecilnya itu.
"Yaudah besok abang masak kamu sama pare, Ra. Biar kamunya pahit, sekalian tambahin jeruk nipis buar kecut. 'Kan enak pahit kecut," timpal Zam yang dengan wajah datarnya.
"Abang luknut," cebik Zura gang menirukan gaya bicara Ella saat mengumpati Satria.
"Ada-ada aja kamu, Cantik." Dela terkekeh saat mendengar ucapan putri sahabatnya itu.
"Ate, Gagal kenapa nggak suka, Ula?" Kini Zura beralih menatap Dela.
"Siapa bilang, hm? Gala suka kok sama, Ara. Buktinya Gala mau berteman sama, Zura," ujar Dela seraya mencubit gemas pipi Zura.
"Belati ndak suka, Ate. Kalo suka nggak dijadiin temen aja tapi dijadiin pacal juga, ini Ula nggak Gagal pacalin mulu," keluh Zura yang memancing gelak tawa mereka yang ada di meja itu karena melihat ekspresi Zura yang menggemaskan saat mengucapkan kata-kata itu.
Sementara Ray hanya bisa menghela napas kasar saat melihat sikap putrinya yang masih bocah sudah membahas pacaran dan putrinya itu tak kenal lelah untuk mengejar Gala yang selalu cuek padanya.
. . .
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, kini usia kandungan Ella sudah memasuki bulan kelima. Perutnya sudah membuncit namun tak sebesar saat mengandung si kembar, Ella juga masih bisa melakukan aktivitasnya dan wanita itu kini sudah lulus kuliah bersama yang lainnya juga. Jadi dia bisa fokus mengurus anak dan suami tanpa harus membagi pikiran dengan tugas kuliah.
"Ell, rujakan yuk. Kayaknya enak nih seger," ucap Dela yang tengah merebahkan tubuhnya di karpet bulu yang ada di ruang santai kediaman wardana.
Saat ini Dela dan juga Kiana sedang berada dirumah Ella karena si bumil itu meminta mereka untuk menemaninya, sang mertua dan juga si kembar sedang pergi ke mall dan Ella malas ikut.
"Perasaan gue yang bunting dah, Del. Tapi kenapa elo yang pengen rujakan deh," heran Ella seraya menatap Dela yang tengah nyengir tanpa dosa.
"Orang gue bunting juga, hehe," sahut Dela dengan cengiran khasnya.
"What?!" pekik Ella dan juga Kiana secara bersamaan.
"Kompak bener dah," ledek Dela.
"Serius lo bunting lagi, Del?" Ella menatap Dela penasaran.
"Ya, dan gue baru tau dua hari yang lalu," tutur Dela.
"Berati anak kita nggak bakal jauh beda lagi dong umurnya, kayak si kembar sama Gala," saru Ella.
"Yups!"
"Lo gimana, Ki? Udah ngisi belum?" Ella melirik Kiana yang tengah fokus bermain ponsel.
"Ngisi apaan?" Kiana menaruh ponselnya setelah membalas pesan dari sang suami.
"Ngisi orok lah, Ki. Masa iya ngisi pulsa." Ella memutar bola matanya jengah.
"Oh itu, belum, Ell. Soalnya gue sama Ragil mau ngabisin waktu berdua dulu, pacaran setelah nikah gitu," ujar Kiana.
"Oh, yaudah kalau itu keputusan kalian. Tapi ngadonnya mah tetep ya walau nunda ngebentuknya," kata Ella.
"Tetep dong, malahan tiap malem kita ngadon." Kini Kiana sudah tidak malu lagi jika membahas urusan ranjang dan sudah tak sepolos dulu lagi karena sering dipolosin sama Ragil.
"Wah, udah jago ngadon aja nih sahabat kita, Del," ledek Ella.
"Yoyoy! Tinggal nyetaknya doang yang belum pro," sahut Dela.
__ADS_1
"Bukan belum pro tapi belum mau nyetak, maunya ngadon doang." Ella dan juga Dela tertawa bersamaan sampai melupakan niat awal Dela yang ingin rujakan karena fokus gibah.