Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Pesawat terbang.


__ADS_3

"Kakak, gak sakit. Ayok pipis sama kakak aja!"Ray langsung membantu Ella turun dari ranjang dan dia juga meraih tiang infusan Ella.


"Mau sama Mamih, aja."ucap Ella yang sudah turun dari ranjang.


"Udah, sama kakak aja. Ayok!"Ray menuntun Ella ke dalam kamar mandi.


"Kak Ray, madep sana."perintah Ella.


"Emang, kamu bisa buka celana?"Ray melihat tangan Ella yang satu di perban, dan yang satu lagi di infus.


"Bisa, lah!"Jawab Ella yakin.


"Ok, kalau gitu. Kakak akan madep sana."Ray langsung membalikan tubuh nya, membelakangi Ella.


Dan Ella pun langsung menggerakan tangan nya, untuk membuka celana. Tapi dia sangat ke susahan, karna tangan yang diperban terasa sakit pas dia gerakan. Dan yang satu nya susah karna ada selang infusan.


"Udah, belum?"tanya Ray, yang masih membelakangi Ella.


"Belum, tangan akunya susah di gerakin."lirih Ella.


"Makan nya, jangan ngeyel kalau mau di bantuin."Ray membalikan tubuh nya, kembali menghadap Ella.


"Iya, iya. Bawel deh, tapi nanti kak Ray, gak boleh gre..pe-gre..pe aku ya!"ucap Ella.


"Ya, enggak lah. Masa orang sakit di gre..pe-gre..pe, kakak gak se gila itu ya. Dan satu lagi, kalau kamu ngomong di depan orang, omongan nya harus di saring dulu. Jangan kayak tadi, masa bilang kalau kakak suka gre..pe-gre..pe, terus melorotin celana kamu. Lain kali gak boleh ngomong gitu lagi, ya."ujar Ray menasehati.


"Emang, gitu kan. Kak Ray suka gre..pe-gre..pe, terus suka melorotin celana aku lagi."cebik Ella.


"Iya, tapi gak boleh di omongin di depan orang lain. Cukup di depan kakak aja, kalau mau ngomong di depan orang lain, harus di saring dulu. Apakah kata itu pantas di ucapkan, atau tidak."ucap Ray lembut.


"Tapi, akunya gak punya saringan kak Ray. Berati harus beli dulu, ya?"kata Ella.


"Beli apa?"


"Beli saringan, omongan lah. Kan kata kak Ray, kalau ngomong itu harus di saring dulu. Akunya kan gak punya saringan omongan, jadi harus beli dulu."ujar Ella.


"Bukan saringan benda Ell. Maksud kakak di saring itu, di cerna dulu apakah omongan itu baik, atau tidak. Jadi kamu gak boleh sembarangan bicara, ngerti kan?"Ray menatap manik mata Ella.


"Iya, akunya akan coba mengerti."ucap Ella tersenyum.


"Hm, ayok kakak bantu bukain celana nya. Katanya mau pipis, apa lupa kalau kamu mau pipis?"


"Enggak lah, mana ada pipis lupa!"cebik Ella.


"Emang gaada, tapi waktu itu ada yang ngomong, dia itu lupa, kalau lagi kebelet."Ray membantu menurunkan celana Ella.


"Siapa?"tanya Ella.


"Ada, lah. Orang yang paling konyol pokonya."Ray menatap lembah yang ditumbuhi oleh rerumputan tipis, tidak begitu lebat.


"Oh,"Ella ber oh ria, dia tidak sadar orang konyol itu adalah dirinya.


"Duduk!"Ray menuntun Ella untuk duduk di Closet.


Setelah selesai acara buang air kecil, yang penuh Drama itu. Ray kembali membantu Ella menaikan celana nya, berkali-kali Ray menelan salivanya, saat dia memandang keindahan lembah di depan nya.


"Pelan-pelan, jalan nya!"ucap Ray saat membantu Ella berjalan keluar dari kamar mandi.


"Sudah pipisnya?"tanya Rina yang melihat putri nya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Udah, Mih."jawab Ella.


"Sekarang, Ell makan dulu ya."Wina menatap sang menantu.


"Iya, Mam."


"Kalian, lebih baik pulang aja. Biar aku yang jaga Ella, kalian pasti lelah dan butuh istirahat."ucap Ray.


"Emang, gak papa? kamu jaga Ella sendiri Ray."tanya Rina.


"Gak papa, Mih. Kalian pulang aja, istirahat."Jawab Ray.


"Yasudah, kalau gitu. Mamih sama Papih pulang ya! kami titip Ella."ucap Rina.


"Iya, Mih."


"Ray, Papih pulang ya. Titip anak nakal itu."Andi menepuk bahu Ray.


"Pih, Ella gak nakal, ya."cemberut Ella.


"Iya, anak baik. Papih pulang, ya."Andi mengecup kening sang putri.


"Mami juga."Wina mengelus kepala Ella.


"Win, Sul. Kita duluan, ya."ucap Rina kepada besan nya.


"Iya, kalian hati-hati."ucap Wina.


Setelah orang tua Ella pulanng, orang tua Ray juga berpamitan.


"Ray, Ell. Mamah sama Papah pulang, ya. Nanti baju ganti kalian, akan dikirim sopir kesini."ucap Wina.


"Cepet sembuh, ya Ell. Biar bisa cepet pulang ke rumah."Samsul mengelus kepala Ella sayang.


"Iya, Pah. Makasih kalian udah dateng kesini. Dan hati-hati ya pulang nya!"ucap Ella.


"Iya, Kami pamit, ya. Ray jaga istrimu dengan baik."Samsul menatap sang putra.


"Iya, Pah."


Setelah orang tuanya pergi, Ray langsung menundukan dirinya di kursi samping ranjang Ella.


"Makan ya, kakak suapin."Ray mengambil mangkok yang ada di nakas.


"Itu, apa?"tanya Ella.


"Ini, bubur."Jawab Ray.


"Akunya gak mau akh, kalau makan nya bubur. Itu gak enak tau, aku mau makan bakso merecon aja."ucap Ella.


"Gak boleh sayang, kamu kan belum sembuh. Nanti ya, makan bakso merecon nya, kalau kamu udah sembuh. Sekarang makan ini dulu ya!"pinta Ray lembut.


"Janji ya! kalau nanti aku sembuh, kita cari bakso merecon nya!"ucap Ella.


"Iya, janji. Sekalian diisi merecon beneran, biar sensasi meledak nya lebih terasa."ujar Ray bercanda.


"Emang bisa, bakso dimasukin merecon beneran?"


"Bisa, lah. Tinggal di jejelin aja."ucap Ray enteng.

__ADS_1


"Terus dinyalain nya pake apa? kan harus dinyalain dulu. Baru bisa meledak."Ella malah menanggapi ucapan Ray dengan serius.


"Nanti sama korek nya sekalian dimasukin, kedalam bakso. Sekarang makan ya, Aaaa."Ray menyuapkan seu sendok bubur kedalam mulut Ella.


"Gak enak, ih. Kak Ray, Rasanya kok lembek gini. Gak mau ah."tolak Ella.


"Namanya juga bubur, ya pasti lembek lah."ucap Ray.


"Ada kok, yang lembek selain bubur."ujar Ella.


"Apa?"


"Belalai, dia kan juga lembek. Hehe."ucap Ella cengengesan.


"Itu bukan lembek, tapi kenyal. Lagian kenapa pikiran kamu bisa tertuju kesana, hm, kangen ya?"Ray menatap Ella lekat.


"Kangen siapa?"


"Kangen belalai."


"Gak, tuh."ketus Ella.


"Masa."Ray mengoda Ella.


"Beneran kak Ray, akunya gak kangen ih sama si belalai, aku kangen nya sama tongkat bisbol. Ups."Ella menutup mulutnya.


"Cie, ketagihan ya? sama tongkat bisbol. Makannya, kamu harus makan dulu. Biar kamu nya cepet sembuh, nanti kamu bisa ketemu lagi sama tongkat bisbol, kalau udah sembuh."ucap Ray.


"Tapi, itu gak enak."cemberut Ella.


"Enak, gak enak. Kamu harus makan, biar cepet pulih. Aaa"Ray kembali menyuapi Ella.


"Gak, mau."Ella menutup mulut nya.


"Pesawat terbang datang. Wiu wiu wiu, Aaaa."Ray memainkan sendok berisi bubur itu layaknya bermain pesawat.


"Mana ada, pesawat bunyi nya gitu."ucap Ella menahan tawa, saat melihat Dosen dingin itu berubah jadi konyol.


"Pesawat, ingin mendarat. Ayok buka landasan nya. Aaaaa."dan hap Ella membuka mulut nya lalu dia mengunyah bubur itu.


"Hore, pesawat mendarat dengan selamat. Sekarang pesawat nya mau terbang lagi."Ray kembali menyedok bubur yang ada di mangkok.


"Wiu, wiu, wiu. Pesawat akan mendarat lagi, ayok buka landasan. Aaa."Ray menyuapi Ella layaknya anak kecil yang susah makan.


"Hore, bubur nya habis. Ella hebat."seru Ray, memuji Ella seperti memuji bocah.


Cup, cup, cup, cup, cup.


Ray mengecupi seluruh wajah Ella.


"Itu hadiah, karna kamu udah ngabisin buburnya. Sekarang kamu minum dulu."Ray menyodorkan segelas air putih, lalu membantu Ella minum.


"Kok, akunya ngerasa jadi bocah ya?"lirih Ella.


(Emang lu kayak bocah, Maemunah. Baru nyadar๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚)


Lebay gak? lebay gak?


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik. biar author nya semangat๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Like Comen and Vot ya,๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2