Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Pindah kerumah Ray.


__ADS_3

"Tapi gak bisa sekarang, Ella."ucap Ray bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Ella.


"Kenapa gak bisa?"tanya Ella cemberut.


"Kamu mau? telanjang disini."Ray to the point, karna dia sudah bingung menjelaskannya pada Ella.


"Gak mau lah, kenapa harus telanjang coba? kaya mau mandi aja."ucap Ella melirik Ray.


"Makannya, nanti aja dirumah prakteknya."ujar Ray melirik sekilas istrinya itu lalu pandangannya fokus kembali kejalanan.


Sampailah mereka dirumah Ella, mereka pun turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah bersama. Saat sampai didalam Ray pun langsung pergi menuju ke dapur untuk mengambil minum karna dia haus, sedangkan Ella dia langsung menuju kamarnya.


"Loh, kenapa bajunya aku dimasukin koper?"ucap Ella heran.


Ella hendak keluar untuk menemui Mamihnya, tapi Ray keburu masuk jadi Ella pun menghentikan langkahnya.


"Mau kemana?"tanya Ray yang melihat Ella hendak keluar.


"Ke Mamih."Jawab Ella.


"Ngapain?"


"Aku mau tanya ke Mamih, kenapa baju akunya pada dimasukin koper."


"Kan kamu mau pindah, jadi bajunya dimasukin koper"ujar Ray.


"Hah, pindah? pindah kemana?"tanya Ella cengo.


"Kerumah kakak, kamu kan sekarang udah jadi istri kakak, jadi kamu harus ikut sama kakak."jelas Ray.


"Jadi, nanti akunya tinggal dirumah kak Ray gitu?"tanya Ella.


"Iya, sekarang kamu siap-siap. Kita berangkat sebentar lagi."ucap Ray.


"Pindahnya sekarang? kenapa kak Ray gak bilang dari tadi, sih."kesal Ella.


"Lupa, yaudah sana siap-siap."titah Ray.


"Iya."Ella berjalan kekamar mandi sambil menggerutu.


Setelah Ella selesai bersiap, kini gantian giliran Ray. Setelah mereka berdua selesai, mereka pun turun kebawah dengan Ray membawa koper Ella, sedangkan Ella hanya membawa tas kecil saja.


"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Rina yang sedang berada diruang keluarga.


"Iya, Mih. Kami pamit, ya."Jawab Ray lalu mendekat pada Rina.


"Titip Ella, ya Ray. Maafin dia jika selalu membuat kamu repot, tegur dia bila dia salah. Semoga setelah menikah, Ella menjadi lebih dewasa."ucap Rina.


"Baik, Mih."


"Ella, jadilah istri yang baik. Nurut sama suami, jangan membantahnya. Belajarlah untuk menjadi dewasa, jangan merepotkan mertua dab juga suami kamu disana, ya."Rina menasihati putrinya sambil mengelus kepalannya.


"Iya, Mih. Ella pamit ya. Jangan kangen ya, sama Ella yang cantik dan juga imut ini."ujar Ella tersenyum manis.

__ADS_1


"Mamih, gak akan kangen sama kamu. Justru rumah ini gak bakalan berisik lagi, kalau kamu gak ada."ucap Rina bercanda.


"Ih, Mamih mah gitu."ketus Ella sambil berlalu pergi darisana.


"Katanya mau belajar dewasa, tapi di bercadain gitu aja ngambek."Rina menggelengkan kepalanya.


"Aku sama Ella pamit ya mih. Titip salam buat Papih dan juga kak Satria, maaf kita gak nungguin mereka takut kemaleman."ucap Ray menyalami tangan Rina.


"Iya, nanti Mamih sampein. Kalian hati-hati dijalan, ya."ujar Rina.


"Baik Mih, Asalamualaikum."Ray berjalan keluar dari rumah.


"Waalaikum salam."Rina memandang menantunya sampai hilang dari pandangan.


Sesampainya diluar, Ray langsung masuk kedalam mobil. Ternyata Ella sudah menunggu didalam.


"Kamu tu, main nyelonong aja."ucap Ray saat dia sudah duduk disamping Ella.


"Abisnya aku kesel sama Mamih, masa dia malah seneng aku pergi dari rumah. Bukannya sedih."grutu Ella


"Mamih cuma bercanda."


"Gak, percaya tuh."ketus nya.


"Serah."


Ray pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, selama perjalanan tidak ada yang berbicara sama sekali. Ella masih cemberut sedangkan Ray dia fokus menyetir.


Sesampainya dirumah Ray, mereka langsung saja turun lalu masuk kedalam rumah.


"Mama seneng banget, akhirnya Mama punya anak perempuan."sambung Wina bahagia.


"Aku juga seneng kok Mam, punya mertua yang baik kayak Mama. Gak kaya di sinetron ikan terbang yang sering di tonton sama Mamihnya aku, mertuanya jahat-jahat."ucap Ella membalas pelukan sang mertua.


"Itukan hanya di sinetron, sayang."ujar Wina.


"Kalau di dunia nyata, emang gak ada ya Mam?"tanya Ella.


"Mungkin ada juga sih, tapi gak sejahat di sinetron."Jawab Wina.


"Oh, gitu."Ella manggut-manggut.


"Kalau udah punya menantu, anak sendiri dilupain."celetuk Ray yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Uluh uluh, kasian anak Mama dilupain. Sini-sini Mama peluk."ucap Wina merentangkan tangannya.


"Males, emang aku anak kecil apa."ketus Ray lalu dia melangkah pergi menuju kekamarnya sambil membawa koper Ella.


"Mam, aku seneng gak dapet mertua kaya di sinetron yang Mamih aku tonton. Tapi kok aku dapet suami kaya di Novel yang sering aku baca sih? inimah keberuntungan dan kesialan yang menjadi satu."ucap Ella tanpa dosa.


"Emangnya Ray suka jahatin kamu ya? kalau iya bilang sama Mama. Biar Mamah marahin dia."ujar Wina.


"Gak, kok Mam. Kak Ray gak jahat, tapi dia itu dingin datar juga kaku. Kaya cowok di tokoh Novel yang sering aku baca."tutur Ella.

__ADS_1


"Oh, gitu. Kirain Mama, Ray jahat. Kalau soal itu, nanti dia juga gak bakalan dingin lagi, dia bakal meleleh. Kamu harus membuat dia jatuh cinta sama kamu, buat dia jadi bucin. Dengan begitu dia gak bakalan dingin dan juga datar, saat bersama kamu sayang."ujar Wina.


"Gitu ya, Mam?"tanya Ella.


"Iya, kamu harus bikin dia bucin pokonya."ucap Wina semangat dia juga penasaran bagaimana jika anaknya menjadi bucin. Yang Wina tau anaknya itu memang dingin datar dan super cuek, bahkan tersenyum pun jarang, apalagi ketawa.


"Siap Mih, laksanakan."ujar Ella semangat.


"Oh ya, Mih. Dapur di sebelah mana ya?"tanya Ella.


"Kamu lurus aja dari sini, terus belok kiri"Jawab Wina.


Ella pun melangkah sesuai arahan Wina.


"Ell, ngapain kedapur ya? atau dia mau buat minuman kali ya untuk Ray. Supaya Ray cepet jatuh cinta, baguslah biar Ray cepet jadi bucin."gumam Wina.


Beberapa saat kemudian, Ella keluar dari dapur dengan membawa sebuah toples ditangannya.


"Itu apa sayang?"tanya Wina saat melihat Ella membawa toples, dia pikir Ella akan membuat minuman.


"Ini buat kak Ray Mam."Jawab Ella tersenyum.


"Kenapa Ray dikasih toples?"tanya Wina heran.


"Bukan toplesnya Mam, tapi isinya. Kan tadi Mama yang nyuruh aku buat bikin kak Ray.. jadi apa tadi lupa?"Ella cengengesan.


"Mama kan, nyuruh kamu buat bikin Ray jadi bucin. Kenapa malah bawa-bawa toples?"ucap Wina bingung.


"Nah, ini kan bucin itu Mam? Kalau dikasih kak Ray dia gak bakal dingin lagi kan?"Wina pun mendekat pada Ella.


"Astaga Ell, ini bukan bucin tapi micin."Wina menepuk jidatnya sendiri.


"Tapi sama ada cin nya kan Mam, yaudah pake ini aja biar kak Ray nya gak dingin lagi, sama akunya."Ella hendak melangkah pergi.


"Eh, jangan. Maksud Mama bukan kaya gitu!!"cegah Wina, Ella pun berhenti lalu menatap Wina.


"Terus gimana Mam? akunya jadi bingung ini."cemberut Ella.


"Aduh, gimana jelasin nya ini? kok malah jadi gini sih."lirih Wina.


"Mam."panggil Ella karna Wina tidak menjawab pertanyaannya.


"Maksud Mama, bucin itu bukan barang, apalagi bumbu dapur. Bucin itu apa ya?"Wina terlihat berpikir.


"Apa Mam?"Ella tak sabaran.


"Jatuh cinta lah gitu, kamu harus bikin Ray jatuh cinta sejatuh-jatuhnya gitu. Sampei dia bucin, nah gitu."ujar Wina.


"Kasian dong Mam kak Ray nya, kalo dia jatuh. Sakit nanti dianya."ucap Ella polos atau kelewat bloon sih.


"Hufzz."Wina menghela nafas panjang. ternyata ngomong sama menantunya itu harus punya kesabaran ekstra.


"Udah, lupain aja. Sekarang kamu masuk kamar istirahat."ujar Wina yang malah jadi pusing sendiri.

__ADS_1


"Terus, ini micinnya gimana Mam?"


Jangan lupa jejaknya, biar author semangat nulisnya. biara rajin up juga😊


__ADS_2