Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Tantangan Misya


__ADS_3

"Loh kok udah pulang, Ell?" tegur Wina yang sedang bermain bersama si kembar.


"Aku telat, Mam. Jadi pulang lagi aja, hehe." Ella terlihat cengengesan.


"Loh kok telat? Emangnya kamu kemana dulu?" heran Wina.


"Em, ada urusan dikit, Mam," jawab Ella.


Ella pun mendudukan tubuhnya di samping si kembar yang sedang bermain balon, Ella nampak begitu gemas pada kedua anaknya. Dia mengecupi seluruh wajah anaknya satu persatu.


"El, sebentar lagi, Mamah mau pergi kondangan sama, Papah. Tapi si kembar mau, Mamah bawa," ucap Wina.


"Bawa si kembar? Emang mau kondangan kemana sih, Mam?" tanya Ella.


"Deket kok, Mamah pengen ajak cucu, Mamah senang-senang," ujar Wina.


"Emang nanti, Mamah nggak bakal kerepotan?" Ella mengingat putra putrinya yang super aktip.


"Nggak dong, kan ada, Papah sama, Bibi."


"Bibi ikut juga?"


"Iya, Ell."


"Dua-duanya?"


"Iya."


"Terus aku sendirian dong di rumah?" melas Ella.


"Kan Ray bentar lagi pulang, dah ah. Mama sama si kembar mau siap-siap dulu. Kamu mandi gih, kucel banget. Habis itu makan," ucap Wina.


"Iya, Mam." Ella menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian dia menyalakan televisi.


Beberapa saat kemudian, Samsul datang menjemput. Wina, para Bibi dan juga si kembar pun berangkat ke kondangan dan kini tinggalah Ella seorang diri di rumah. Dia sangat bosan, berkali-kali dia mengganti chanel televisi sampai akhirnya dia ketiduran.


"Ini nih, siswi yang bolos tadi. Malah enak-enakan tidur rupanya." Ray yang baru saja datang langsung menghampiri Ella, kemudian dia menatap Ella sembari menggeleng.


"Kevin bilang dia sempat ke kampus, tapi kenapa nggak masuk kuliah?" Ray mendudukan tubuhnya di sofa yang di tiduri oleh Ella, sebelumnya dia mengangkat kaki Ella terlebih dahulu, baru dia duduk dengan memangku kaki sang istri.


"Siswi bandel." Ray menatap lekat wajah Ella yang sedang tertidur pulas.


Atensi Ray seketika berpusat pada paha mulus Ella yang terekspos, karena rok yang Ella kenakan tak sengaja tersingkap.


Glek!


Ray menelan salivanya kasar, baru saja pulang mengajar. Matanya sudah di suguhi ke indahan yang begitu menyegarkan. Perlahan tangan ramahnya mulai menyusuri betis Ella hingga naik merambat ke paha. Ray mengelus lembut paha mulus bagian dalam Ella sehingga membuat si empunya meleguh dan langsung membuka mata.


"Kak Ray." Suara Ella seketika membuat atensi Ray beralih yang tadinya menatap paha Ella, kini menatap wajah bantal Ella yang masih tetap terlihat begitu cantik.


"Enak ya, tidur?" sindir Ray.


"Enak banget... Apa lagi tadi aku mimpiin cowok tampan." Ella tersenyum simpul.


"Ck, pasti lebih tampan kakak." Decak Ray.


"Em, sama sih."


"Siapa cowok itu?" Ray menatap tajam Ella.


"Pokonya cowok itu tampan banget, terus dia itu dingin tapi mesum," ujar Ella.


"Dia ngapain kamu?" Seketika Ray langsung melotot.


"Dia, ngapain ya? Ah iya, tangan cowok itu ngelus-ngelus paha aku, Kak Ray."


Ucapan Ella membuat Ray langsung mendengus, kemudian tangannya kembali menyusuri paha mulus sang istri. Tidak hanya sampai di situ, Ray juga menyerang bibir Ella dengan bringas. Tangannya mulai merembet ke mana-mana.


"Eh, kak Ray mau ngapain?" Ella menahan tangan Ray yang hendak membuka pakaiannya.


"Mau ngasih hukuman siswi yang bolos," jawab Ray dengan napas yang sudah tak beraturan.


"Tapi jangan di sini," ucap Ella.


Tampa ba, bi, bu. Ray langsung menggendong tubuh Ella menuju ke kamar mereka. Dan terjadilah hukuman di siang terik untuk Ella, hukuman yang begitu nikmat.


*************


Satu tahun berlalu dengan begitu cepat, kini si kembar sudah bisa berjalan dengan lancar dan juga pandai berbicara. Zura begitu bawel, persis seperti Ella. Namun tidak untuk Zam, dia terkesan lebih kalem seperti Ray. Hari-hari yang Ella jalani sangat menyenangkan, menjalani aktipitas perkuliahan sembari membagi waktu untuk Ray dan juga si kembar tidak lah sesusah ekspetasi nya. Nyatanya jika di jalani dengan enjoy, semuanya terasa begitu mudah.


"Gagal ana, Mom?" Zura bergelayut manja pada lengan Ella.


"Masih di jalan, Sayang. Kamu udah nggak sabar ya? Pengen ketemu, Gala." Ella menggoda sang putri, pasalnya Zura selalu menanyakan kapan Gala main ke rumah mereka.


"Ndak, Mom." Zura meraih remot, kemudian menyalakan televisi.


"Ngaku aja." Ella terus menggoda sang putri.


"Ih, nda, Mom. Ula cuma mau main sama, Gagal." Kilah Zura.


"Abang kamu kemana?" Ella menanyakan Zam sang putra.


"Itut Opa, acing di belalang," jawab Zura yang atensinya terfokus pada sebuah filem kartun.


"Mimom liat abang dulu bentar, ya. Zura jangan kemana-mana," ucap Ella.


"Iya, Mom."

__ADS_1


Ella pun berjalan ke arah halaman belakang rumah, di sana memang terdapat sebuah kolam ikan. Ray sengaja membuat kolam ikan di belakang rumah karena Zam sangat suka sekali memancing.


"Zam, udahan yuk mancingnya. Gala udah di jalan, cepet mandi," ucap Ella setelah sampai di kolam ikan, dia mendapati putranya sedang serius memancing.


"Bentar lagi, Mom," jawab Zam tanpa ekspresi.


"Sekarang, Zam," titah Ella.


"Iya." Zam berlalu pergi begitu saja.


"Aku bingung, Pah. Kok Zam lain sama Zura ya? Dia bersikap seperti orang dewasa, kelakuannya, gaya bicaranya," ujar Ella.


"Setiap anak itu punya sipat dan karakter yang berbeda, Zam itu persis seperti Ray waktu kecil. Dan Zura, mungkin juga mirip kamu waktu kecil dulu," tutur Samsul.


"Emang kak Ray kayak, Zam pas kecilnya?" tanya Ella.


"Iya, Ell. Terus waktu dia beranjak dewasa, sikapnya begitu dingin, datar tanpa ekspresi. Bahkan tersenyum saja bisa di itung dengan jari," ungkap Samsul.


"Wah, gaswat dong, Pah," pekik Ella.


"Gawat kenapa, Ell?"


"Zam besarnya bakal kayak, Kak Ray dong? Jadi kulkas berjalan," jawab Ella.


"Nggak pa-pa, karena terkadang cowok cool itu lebih mempesona dan juga menantang. Dan dia bakal menghangat ketika bertemu dengan orang yang tepat. Contohnya seperti Ray, dia berubah 180 derajat pas udah nikah sama kamu," ucap Samsul.


"Hm. Iya juga sih. Ya udah, Pah. Aku kedalam dulu," ucap Ella yang di angguki oleh Samsul.


Begitu sampai di dalam, ternyata Dela dan Gala sudah sampai. Terlihat Zura begitu senang dengan kedatangan Gala, bahkan Zura terus menempel pada Gala. Sedangkan Zam, dia terlihat acuh seperti biasa, dia lebih memilih bermain sendiri.


"Kamu udah dateng, Del? Sorry ya, gue dari belakang tadi," ucap Ella yang langsung duduk di samping Dela.


"Nggak pa-pa, santai aja, Ell." Dela tersenyum tipis.


"Si Kia nggak ikut?" tanya Ella.


"Tadinya sih dia mau ikut, tapi nggak jadi," ujar Dela.


"Loh, kenapa?"


"Katanya temennya mendadak ngajakin jalan."


"Gue curiga, kayaknya yang di maksud Kia temen itu pacarnya deh," tebak Ella.


"Aku juga mikir gitu, karena dia sering banget nelponin Kiana pas, Kia lagi maen di rumah aku," ungkap Dela.


"Tapi kenapa si Kia nggak cerita, kalo dia punya pacar?" bingung Ella.


"Mungkin dia perlu waktu untuk cerita ke kita," ujar Dela.


"Iya juga sih, tapi gue seneng. Kalo emang bener si Kia punya pacar, itu artinya dia udah bisa move on dari alm Rendi."


"Zam, kenapa nggak ikut main sama Zura dan Gala?" Dela melirik Zam yang sedang bermain sendiri.


"Nggak, Tan," jawab Zam singkat.


"Dingin banget, persis bapaknya," ucap Dela.


"Bener, Del. Zam mirip banget sikapnya sama kak Ray. Makanan kesukaannya juga," ujar Ella.


"Aku yakin, gedenya pasti jadi rebutan cewek-cewek. Tampan, cool, tapi mempesona dengan sejuta karisma yang membuat cewek-cewek pada klepek-klepek," tebak Dela.


"Kayak bapaknya juga, kan kak Ray juga begitu. Dingin, tapi banyak cewek yang suka. Bahkan siswi-siswinya pada naksir," ujar Ella.


"Mom, hp Mimom ana?" Zura datang menghampiri Ella.


"Ada, memangnya kenapa?" tanya Ella.


"Ula ijem, ya. Mom," ucap bocah imut itu.


"Buat apa Zura minjem HP?" tanya Ella lagi.


"Oto dua-dua, cama Gagal," jawab Zura.


"Oh, kamu mau poto berdua sama, Gala?"


"Iya, Mom."


"Gimana kalo, Tante yang potoin," usul Dela.


"Oce, Ante."


"Gala sini, Nak. Poto berdua sama Zura." Dela memanggil putranya.


"Iya, Mah." Gala berjalan menghampiri mereka.


"Kalian duduk berdua di sini, ya." Dela mengatur posisi dan kedua bocah itu menurut.


"Siap ya, 1, 2, 3. Cis."


Kedua bocah itu pun bergaya selayaknya orang dewasa. Zura begitu antusias berpoto dengan Gala. Bahkan jari-jari mungilnya terus menggenggam tangan mungil Gala.


Selesai berpoto, Ella pun mengajak mereka untuk makan siang dengan ikan bakar hasil tangkapan Samsul. Ray dan Galang yang baru saja datang juga ikut makan siang bersama.


***************


Pagi ini Ella sudah siap untuk berangkat ke kampus. Dia berangkat dengan mengendap-ngendap, pasalnya jika ketahuan Zura, bocah itu selalu merengek ingin ikut. Dengan bernapas lega Ella pun tersenyum, karena dia bisa sampai di luar dengan selamat. Buru-buru dia menyalakan mesin motornya, kemudian melajukannya dengan sedikit ngebut.

__ADS_1


"Ck, apa lagi sih?" Kesal Ella, karena baru saja sampai di kampus, dia sudah di hadang oleh Misya.


"Gue nggak bakal berhenti gangguin lo, sebelum elo Terima tantangan dari gue," ucap Misya.


"Punya nyawa berapa, Bu? Berani banget nantangin gue," cibir Ella.


"Lo belum tau siapa gue, dalam sekejap, gue bisa bikin lo berpindah alam." Misya terlihat menyeringai.


"Lo salah, justru gue udah tau siapa elo." Ella tersenyum mengejek.


"Oh ya? Emangnya gue siapa?" Misya menatap Ella remeh.


"Mawar busuk, hitam, jelek, dekil lagi," jawab Ella yang membuat Misya tergugu.


"Pokonya lo harus Terima tantangan gue." Misya menarik tangan Ella paksa.


"Ok, tapi jangan salahin gue kalau setelahnya lo nggak bakal ngerasain indahnya dunia ini lagi." Ella menepis kasar tangan Misya.


"Justru itu yang akan terjadi sama lo. Gue tunggu di bukit deket danau besok pagi. Datang kalo bukan pengecut." Misya berlalu pergi.


"Ck, gue bukan pecut. Jadi lo nggak usah khawatir, gue pasti dateng! Siap-siap aja untuk pindah alam!" teriak Ella.


Kemudian dia juga ikut melangkah pergi menuju kelasnya. Di sana nampak sudah ada Dela, Alvin dan juga Diego.


"Si Kia nggak masuk?" tanya Ella setelah mendudukan tubuhnya di kursi biasa.


"Nggak, aku udah telepon barusan. Dan ternyata dia masih tidur," jawab Dela.


"Tu anak kesiangan?"


"Iya, mungkin sekarang lagi mandi."


"Gue yakin dia nggak bakalan dateng, karena udah telat banget. Sebentar lagi, Busuk juga dateng," ucap Ella.


Beberapa saat kemudian, Sukma datang dan langsung memulai materi hari ini. Untuk Ray, dia saat ini jarang aktip di kampus. Karena dia sudah mengambil alih perusahaan sang ayah.


Mata kuliah hari ini selesai, mereka langsung bubar karena tidak ada mata kuliah kedua. Ya, hari ini hanya satu mata kuliah, karena Sukma hendak ada urusan.


"Ciee, pasangan baru makin lengket aja," goda Ella saat melewati Adit dan juga Siska.


"Apasih, Ell." Siska tersipu malu.


"Sensasi baru ya, Sis. Pacaran sama berondong," timpal Dela.


"Jangan godain calon adik ipar," ucap Adit pada Dela.


"Ah iya, kita bakal jadi ipar nih, Sis," seru Dela.


"Wah, seneng banget tuh. Sayang, kak Ray nggak punya sodara, jadi gue nggak punya ipar." Ella terlihat sedih.


"Eh dodol, kamu kan punya ipar dari, Bang Satria." Dela menoyor kepala Ella.


"Hehe, gue lupa. Gue kan punya, Kadal ya." Cengir Ella.


"Aku pamit duluan, ya. Kak." Adit bersiap melajukan motornya.


"Ok, Hati-hati," ujar Dela.


"Kamu mau langsung pulang, Ell?" tanya Dela.


"Nggak, Del. Gue mau ke markas dulu," jawab Ella.


"Mau ngapain?" tanya Dela lagi.


"Mau ngambil sesuatu."


"Aku ikut ya," pinta Dela.


"Emangnya Gala nggak bakal nyariin?"


"Nggak, ada Mamah sama Papah kok di rumah," ujar Dela.


"Ok, kalo gitu ayok kita let's Go!"


"Serasa devaju," ungkap Dela.


"Iya ya, itu kan yang gue ucapin pas kita pertama kali ketemu dan gue ngajak lo pulang bareng," ujar Ella sembari menaiki motornya.


"Iya kamu bener, aku nggak nyangka kita masih bersama sampai saat ini." Dela naik ke motor Ella setelah Ella menyalakan mesin motornya.


"Gue harap kita akan selalu jadi sahabat sampai kapanpun," ucap Ella sembari melajukan motornya.


"Aku juga berharap seperti itu."


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di markas AOD, setelah turun dari motor, mereka langsung saja berjalan memasuki markas.


"Loh, lo kok ada di sini, Ki?" Kaget Ella saat mendapati Kiana sedang duduk di sofa seorang diri.


"Hai, Quin." Kiana tersenyum canggung, dia juga kaget saat melihat Ella dan Dela datang.


"Kamu lagi ngapain di sini, Ki?" Kali ini Dela yang bertanya.


"A-ku lagi itu, anu." Kiana terlihat gugup.


"Maaf ya, Sayang lama. Tadi ada masalah dikit di belakang."


"Jadi, kalian? Oh my god! Gue kaget banget sumpah!" Pekik Ella.

__ADS_1


Jejak ya guyss😘😘😘


__ADS_2