Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
para pria yang murka


__ADS_3

"Ok, kalo elo nggak mau ngasih tau. Gue bakal cari tau sendiri." Ella menatap sengit David yang hanya terdiam membisu.


"Po-ky itu." David terlihat ragu untuk berkata.


"Poky itu apa?" Ella terlihat tidak sabaran.


"Dia cuma sebuah kesalahan, Ell," jawab David akhirnya.


"Maksud lo? Cerita yang jelas," todong Ella.


"Lo nggak perlu tau, biarin semua ini jadi rahasia di antara gue dan dia," ucap David.


"Cih, katanya sahabat. Tapi mana? Buktinya lo main rahasia-rahasiaan sama gue." Ella berdecih.


"Ok, kalo itu mau lo. Mulai detik ini, gue nggak akan peduli lagi sama lo. Mungkin kita nggak cocok jadi sahabat." Ella berlalu pergi.


"Ell, tunggu. Bukan gitu maksud gue. Argh!" David mengerang frustasi.


"Nggak mungkin gue ceritain ini semua ke elo," lirih David.


********************


Hari demi hari Ella lalui seperti biasanya. Di sibukan dengan tugas kuliah dan juga tugas-tugas di dunia bawah. Yang mana membuat otak dan juga tenaga terkuras. Di tambah lagi sekarang Ray jarang sekali aktip di kampus. Dia sibuk menghendel perusahaan yang sudah beralih ke tangan nya.


Untuk masalah David dan Poky, Ella sudah mencari tau apa yang terjadi dan hasilnya cukup mencengangkan. Dia merasa kasihan terhadap Poky, di sini dia yang menjadi korban namun mengapa seolah David yang di rugikan. David terlihat sangat benci sekali terhadap Poky. Untuk urusan itu, biarlah menjadi urusan mereka berdua, dia tidak mau ikut campur. Tetapi jika di ingat kembali, semua ini terjadi karena dirinya. Meski bukan keinginannya juga namun tetap saja dia merasa bersalah.


"Pusing gue, ah! Kenapa banyak banget sih masalah? Nggak bisa apa gue tenang dikit. Ini juga si Arga, nggak ada henti-hentinya gangguin bokap gue. Gue bunuh aja kali ya langsung, biar masalah gue berkurang," seloroh Ella sembari menatap tumpukan tugas yang ada di hadapannya.


"Belum lagi elo. Bisa pecah otak gue." Ella menatap jengah tumpukan tugas itu.


"Kapan sih gue lulus kuliah, bosen gue mainnya ama tugas mulu," gerutunya kesal.


Saat ini Ella sedang berada di rumah, memang akhir-akhir ini dia jarang masuk kampus karena ini sudah menjelang akhir perkuliahannya. Tetapi tetap saja tugas-tugas nya menumpuk. Belum lagi dirinya harus magang sebagai tugas akhir dari kampus. Ya, satu tahun telah berlalu semenjak kejadian dia menanyakan tentang Poky pada David dan kini hubungan dia dengan David tidak sedekat dulu. Alasannya karena Ella kesal pada David yang tidak mau jujur.


"Mom, agi apa?" Si cantik Zura yang kini usianya sudah memasuki 3 tahun datang menghampiri Ella.


"Lagi ngerjain tugas kuliah, Sayang. Tapi Mom pusing, ribet tugasnya," jawab Ella.


"Ugas olah, Mom?" tanya Zura.


"Tugas kuliah." Ella menghela napas sepenuh dada.


"Ape ya, Mom?"


"Hm, abang kamu kemana?" tanya Ella.


"Ada, di aman aen etop," jawab Zura.


"Zura nggak main?"


"Ua unggu, Gagal, Mom."


"Emangnya Gala mau kesini?"


"Iya, ama Omanya."


"Oh." Ella manggut-manggut.


"Zura, Sayang. Gala udah dateng tuh!" teriak Wina dari luar.


"Hoee, Gagal ateng. Ua uan ulu ya, Mom." Bocah itu langsung berlari keluar.


Setelah putrinya pergi, Ella kembali menatap tugas kuliahnya dengan jengah. Lalu dia teringan dia hari lagi dirinya akan magang di perusahaan Ray. Mana dia tidak punya baju pormal. Terpaksa setelah ini dia harus belanja.


"Di tatap doang nggak akan kelar, Mom." Suara Zam membuat atensi Ella teralih padanya.


"Zam, kamu ngagetin aja," ucap Ella sembari mengelus kepala putranya.


"Mau aku bantu?" tawar Zam.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Ella.


"Enggak, cuma bisa bantu do'a," jawab Zam kemudian berlalu pergi.


"Anak itu." Ella menggeleng.


Kemudian dengan malas dia pun mengerjakan tumpukan tugas itu sampai selesai. Setelah itu dia menghubungi Kiana dan Dela untuk mengajaknya belanja keperluan magang. Mereka setuju dengan syarat Ella yang harus menjemput. Ella pun segera bersiap, setelah itu dia meraih kunci mobilnya kemudian melangkah keluar.


"Mam, aku keluar dulu ya, mau beli perlengkapan buat magang," pamit Ella pada sang ibu mertua.


"Iya, Ell. Hati-hati." Wina yang sedang mengobrol dengan ibunya Galang menoleh sekilas.


Menyalakan mesin mobil kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi membuat Ella terlepas dari kepenatan walau sedikit. Kebut-kebutan seperti ini membuat suasana hatinya lumayan membaik. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya namun kali ini dia tampak mengikat seluruh rambutnya. Tetapi tetap saja Ella terlihat imut dan juga cantik meski dengan tampilan seperti apapun.


"Sumpah, tugas-tugas kuliah membuat aku setres," ucap Kiana yang sudah di jemput oleh Ella begitu juga dengan Dela.


"Sama, rasanya otak aku mau meledak," timpal Dela.


"Gue juga," sahut Ella yang atensinya terfokus ke jalanan.


"Kirain Quin nggak pernah ngerasa setres," kelakar Kiana.


"Quin juga manusia, bukan robot," respon Ella.


"Gimana kalau kita happy-happy, ngilangin setres," usul Dela.


"Ok, gue mah hayuk aja. Tapi kemana?" Ella melirik Dela sekilas.


"Club." Satu kata itu membuat Ella dan juga Kiana kaget.


"Yang bener aja lu, masa Club?" Pekik Ella.


"Kali-kali lah, nggak usah minum. Joget-joget doang. Gimana?"


"Bener tu, Ell. Pasti seru, ngilangin setres dan juga penat," tambah Kiana.


"Hm, okelah. Terus costum nya? Masa begini?"

__ADS_1


"Ya, beli dong. Sekalian beli peralatan buat magang. Baru deh kita kesaha."


"Ok, kita let's Go!"


Begitu sampai di mall, mereka langsung berburu baju dan perlengkapan untuk magang. Setelah itu, barulah mereka memilih mini dress untuk pergi ke tempat yang di bilang Dela tadi.


"Ya ampun, nakal banget kita." Ella menatap pantulan dirinya di cermin.


Yap, mereka kini sudah berada di mobil kembali dan juga sudah berganti pakaian dengan dress yang mereka beli tadi.


"Seksoy, Ell. Nggak apalah. Kali-kali jadi siswi nakal. Toh, kita nggak akan mengulang masa-masa ini lagi," ujar Dela.


"Jadi, mari kita bersenang-senang hari ini," Seru Kiana.


"GO!"


Ella melajukan mobilnya ke arah tempat yang di tunjukan oleh Dela, sepanjang perjalanan mereka heboh bernyanyi ria mengikuti alunan musik yang di putar oleh Dela. Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung turun dan berjalan memasuki tempat terkutuk itu.


"Loh, Vino!" Pekik Ella saat melihat seorang pria yang tengah berdiri di dekat meja bartender.


"Kalian? Ngapain kalian di sini?" Vino menatap ke arah tiga wanita itu.


"Kita mau seneng-seneng, Vin," jawab Ella cengengesan.


"Astaga! Inget lakik woy!" Vino menggeleng apa lagi saat melihat penampilan mereka yang sudah pasti akan menjadi incaran para pria hidung belang.


"Disini bahaya, banyak buaya. Lebih baik kalian pulang," ucap Vino.


"Sekali doang, Vin. Lagian kita bisa jaga diri kok," ujar Ella.


"Ok, tapi kalian harus di awasi anak buah gue. Takutnya terjadi hal yang tidak di inginkan," putus Vino akhirnya.


"Yeeyy, ok. Eh, btw, lo pemilik tempat ini?" tanya Ella.


"Iya. Gue kesana dulu ya, mau ngurus sesuatu," ucap Vino.


"Dri, jagain 3 cewek ini. Mereka temen gue," ucap Vino pada anak buahnya sebelum dia pergi.


"Ok."


"Kalian duduk di table itu ya, karena yang setelahnya udah ada yang boking," kata Andri pada ketiga wanita itu.


"Siap, kak," sahut Ella kemudian dia mengajak kedua temannya menuju ke table yang di tunjuk oleh Andri.


Suara dentuman musik menggema dengan begitu keras sehingga terdengar memekik di telinga. Kerumunan orang nampak asik berjoged ria melenggak-lenggokan tubuhnya. Banyak juga para wanita berpakaian seksi berkeliaran dengan melenggok menggoda para pria yang sedang duduk santai di table sembari menikmati wine.


"Pesen minum nggak nih?" tanya Ella.


"Eh nggak boleh mabok, ntar lakik gue marah," sergah Dela.


"Siapa juga yang mau mabuk? Gue itu mau pesen jus, bukan wine." Delik Ella.


"Yodah, gue mau deh kalo jus," kata Dela.


"Gue juga," sahut Kiana.


"Kenapa pada ngikut gaul kek gue? Biasanya juga aku." Ella terkekeh.


"Haiss, serah lo pada aja dah."


Ella pun memanggil Andri untuk memesan tiga jus untuk mereka, setelah itu dia membuka ponselnya yang ternyata sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari sang suami. Pastilah, soalnya ini sudah menjelang malam dan Ella belum juga pulang.


"Kak Ray nelepon, gimana ini?" ucap Ella dengan sedikit kencang karena suaranya tertimpa musik.


"Galang juga dari tadi nelponin mulu, gimana ya? Masa balik? Nanggung," ujar Dela.


"Kalian chat aja, bilang kalo kalian lagi ada di rumah gue. Nemenin gue karena abang dan orang tua gue lagi di luar kota. Dan kemungkinan pulangnya malem," usul Kiana.


"Boleh juga, tuh." Ella segera mengirimkan chat pada Ray begitu juga dengan Dela.


"Beres, sekarang kita bersenang-senang," Kata Ella.


"Joget nih kita?"


"Yo'i, lets go."


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke depan kerumunan orang yang sedang asik berjoged melepas penat. Setelah sampai di depan, mereka mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik yang menggema. Ella nampak cantik dan juga seksi dengan balutan gaun merah maron setengah paha tanpa lengan dan juga pas body hingga menampilkan lekuk tubuh indahnya. Sementara Dela, dia menggunakan drees hitam juga setengah paha ketat dengan lengan sesiku. Untuk Kiana, dia lebih memilih mengenakan hotpants setengah paha dan juga tangtop putih di lapisi jaket jens sesiku yang di biarkan terbuka.


"Yuhuuu, asik banget!" teriak Kiana.


"Gasss goyang lagiiii." Dela menimpali.


"Tarikkk siisss!"


"Strawberry!"


Sementara itu, kini Ray tengah berada di depan rumah Galang. Dia hendak menanyakan apakah Dela ada di rumah atau tidak?


"Bini gue katanya lagi di rumah si Kia, nemenin si Kia," ujar Galang.


"Bini gue juga, tapi kok gue ngerasa ganjel ya," kata Ray.


"Maksud lo?" tanya Galang dengan kening yang sedikit mengerenyit.


"Lo ngerasa, mereka bohong nggak sih?"


"Boong gimana maksud lo?"


"Bini gue bilang di chat, dia lagi nemenin Kiana, karena orang tua dan abangnya lagi pergi ke luar kota. Tapi, tadi gue lihat si Riki ada kok, gue ketemu dia di minimarket," ujar Ray.


"Wah, kayaknya mereka bohong nih. Gimana kalo kita susulin ke rumahnya si, Kia?" usul Galang.


"Ayok cabut!"


Mereka pun berangkat ke rumah Kiana dengan menggunakan satu mobil, sampai di halaman rumah Kiana. Mereka bertemu dengan Ragil yang baru saja keluar dari rumah Kiana.


"Bini gue ada di dalem kan, Gil?" tanya Ray to the point.

__ADS_1


"Bini lo apaan? Orang cewek gue aja nggak ada," jawab Ragil.


"Apa? Nggak ada? Bukannya bini gue nemenin cewek lo, karena keluarganya lagi ke luar kota," bingung Ray.


"Keluar kota apanya? Mereka ada kok di dalem," terang Ragil yang membuat Ray dan Galang seketika emosi.


"Terus mereka kemana?" Wajah Ray tampak memerah menahan amarah.


"Mana gue tau, ini juga, gue mau nyari Kia," tutur Ragil.


"Kita cari barengan," usul Ray.


"Ok, pake mobil lo aja," ucap Ragil.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil Ray, di tengah perjalan mereka terus menerka-nerka kemana kira-kira perginya ke tiga wanita itu.


"Apa mungkin ke markas?" tebak Galang.


"Eh dodol! Kan gue dari markas." Ragil menoyor kepala Galang.


"Bener juga, terus mereka kemana dong?"


"Tempat yang biasa mereka datengin kemana kira-kira?" kata Galang.


"Mall, tapi nggak mungkin mereka di mall malam-malam begini," ujar Ray.


"Ray!" Pekik Ragil mengagetkan Ray yang tengah menyetir.


"Apaan? Ngagetin gue lo. Gimana kalo nabrak!" Omel Ray.


"Palingan mati," sahur Ragil enteng.


"Si Ell kan make cin-cin yang ada GPS ny, kenapa lo nggak lacak darisana? Soalnya gue udah lacak lewat ponsel mereka, tapi nggak bisa. Kayaknya ponsel mereka di matiin," imbuhnya.


"Kenapa gue nggak kepikiran." Ray langsung mengambil ponselnya dan melacak ke beradaan sang istri.


"Sial!" Peliknya murka kemudian membanting ponselnya sendiri.


"Kenapa Ray?" tanya Ragil penasaran.


"Mereka di club," jawab Ray emosi.


"Apa?! Di club?! Yang bener aja lo Ray, masa di club?" Pekik Galang kaget.


"Beneran," kata Ray dingin.


"Buruan kesana, Ray. Ngebut," titah Galang yang wajahnya sudah di liputi amarah.


"Gadis nakal." Ragil meremas tangannya geram.


"Istri nakal," timpal Galang.


"Siswi nakal," sambung Ray.


Kemudian mereka menarik napas sepenuh dada bersama guna mengurangi rasa kesal dan amarah yang menguasai relung hati mereka.


***************


"Hay manis." Pria berkumis tipis menggoda Ella.


"Apasih, Om kumis klimis." Kesal Ella.


"Main sama, Om yuk," ajaknya.


"Sorry dory semangka ya, Om. A


Aku tu nggak suka bandot tua kayak, Om. Mana bau lagi," ucap Ella.


"Tapi uang saya banyak. Saya bisa membelikan apapun yang kamu mau," ujarnya angkuh.


"Gue nggak tertarik." Ella melengos kesal.


"Jangan ganggu dia." Andri menarik pergelangan tangan pria itu kasar.


Tanpa basa-basi, Andri langsung mendorong pria itu keluar.


"Maaf atas ke tidak nyamanannya. Nona-nona," ucap Andri sebelum berlalu pergi dan di balas anggukan oleh Ella.


"Gasss, goyang lagi, guys!" teriak Ella.


Merekapun kembali bergoyang melepas penat, melenggak-lenggok mengikuti irama musik yang berdentum. Tatapan lapar dari para pria terus tertuju pada mereka, apa lagi kepada Ella yang tibuhnya paling wow di antara ketiganya. Namun mereka tidak berani mendekat di karenakan meraka takut dengan anak buah Vino yang terkenal kejam dan juga membunuh tanpa segan jika mereka berani berbuat macam-macam.


"Haus, minum dulu guys." Mereka kembali ke table.


Ella duduk dengan begitu manis dan juga seksi. Kaki di silangkan sehingga membut setengah paha polosnya terekspos. Bibir semerah cerinya menyeruput jus dengan anggun dan elegan. Membuat para pria yang memandangnya menelan saliva mereka kasar.


"Ekhem!" Suara deheman yang begitu pamiliar membuat Ella seketika menyemburkan jus yang sudah berada dalam mulutnya, kemudian dengan perlahan dia mendongkak untuk melihat ke asal deheman tersebut.


"Eh, kak Ray." Ella menatap wajah murka Ray dengan cengiran khasnya.


"Sedang apa di sini?" tanya Ray pelan namun penuh penekanan dan juga mengintimidasi.


"Er, aku la-gi." Ella terlihat gugup begitu juga dengan kedua sahabatnya yang kini menunduk karena terciduk oleh pasangan masing-masing.


"Pulang!" Satu kata itu mampu membuat Ella membeku karena raut wajah Ray berubah 180 drajat dari biasanya.


"I-ya." Ella langsung menurunkan kakinya yang bertumpu kemudian dia berdiri.


"Kamu!" Ray semakin murka kala melihat penampilan Ella.


"Mampus gue," lirihnya.


Ray pun langsung membuka jaket yang tengah ia pakai menyisakan kaos putih tipis, lalu dia membalutkan jaket itu ke tubuh seksi Ella. Kemudian dia menarik Ella keluar dari tempat bising itu.


Sementara Galang, dia hanya menatap Dela tajam tanpa suara. Dela hanya bisa menunduk hingga ia terkaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang dan ternyata pelakunya adalah Galang yang menggendongnya seperti karung beras. Dalam hati Dela menggerutu atas ke bodohannya yang mengajak Ella ke tempat ini. Pastilah besok dia tidak akan bisa berjalan karena hukuman Galang.


Ragil? Dia berbanding terbalik dengan ke dua sahabatnya. Dia malah menatap Kiana dengan senyuman termanisnya. Namun justru senyuman itu membuat Kiana bergidig ngeri sekaligus takut. Detik berikutnya, Kiana merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Rupanya Ragil mencium bibir Kiana, dia menciumnya dengan rakus kemudian Ragil menggendong tubuh Kiana ala bridal style dengan wajah yang berubah datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Huhu, dia jadi vampir," lirih Kiana.


Jejak😘😘😘😘


__ADS_2