
"Apa-apaan ini?!" bentak Ray murka karena dia melihat Ella sedang berada di dalam pelukan Alvin.
"Kak Ray." Ella langsung mendorong Alvin.
"Aku pikir kamu wanita baik-baik, ternyata aku salah besar." Ray tidak dapat membendung emosinya lagi.
"Ini gak seperti yang kak Ray pikir, tadi aku mau jatuh dan Alvin nolongin aku." Ella berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Sudah tertangkap basah masih saja mengelak, aku tidak menyangka kamu ternyata adalah wanita yang picik," maki Ray.
"Tuh kan apa aku bilang, dia itu gak sebaik yang pak Ray pikir. Dia itu rubah yang pandai bersandiwara," sahut Zela yang tiba-tiba saja datang.
"Jaga ucapanmu wanita murahan, kamu sengaja kan ngejebak aku supaya Ray marah, hah?" todong Ella.
"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan kamu sendiri. Aku benar-benar menyesal karena telah mempercayaimu yang ternyata hanyalah seorang wanita hina, dan juga murahan." Ray menatap Ella dengan sorot amarah yang begitu meluap.
"Tega kamu berkata seperti itu, aku gak nyangka, kamu benar-benar percaya akan hasutan wanita iblis itu. Kamu kenal aku bukan cuma sehari dua hari, pasti kamu tau bagaimana sipatku, aku tidak pernah berani berhianat walau seujung kuku pun," ucap Ella dengan perasaan yang hancur.
"Aku berkata seperti itu sesuai pakta, aku tidak akan menuduh tanpa bukti," ujar Ray.
"Maaf, Pak. Ini hanyalah salah paham. Kami tidak melakukan apa pun dan juga tidak mempunyai hubungan apa pun. Saya tadi hanya menolong Ella yang akan jatuh karena terpeleset, Pak," tutur Alvin menjelaskan apa yang terjadi.
"Bisa aja mereka bersekongkol untuk menutupi hubungannya, pak Ray jangan percaya gitu aja. Bapak gak tau selicik apa istri bapak." Zela terus berusaha memprovokasi Ray.
"Diam kamu wanita iblis! Kamu kan yang sengaja membuat drama murahan ini supaya kamu bisa merebut Ray dari aku? Iya kan? ngaku kamu?" Ella mendorong Zela dengan kasar.
"Jangan melibatkan orang lain dalam masalah kita, kita selesaikan ini berdua." Ray menarik tangan Ella yang hendak menyerang Zela.
"Selesaikan? Maksud kamu apa, Hah? Kamu mau kita selesai?" Ella berucap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa mempertahankan wanita yang telah berhianat, sekalinya kepercayaanku di rusak. Maka selamanya aku tidak akan pernah percaya lagi." Ray berucap dengan bersungguh-sungguh.
"Tega, kamu Ray... Semudah itu kamu berucap tanpa berpikir dahulu. Bagaimana nasibku? Nasib anak kita?" luruh sudah air mata Ella membanjiri pipi mulusnya.
"Yes sebentar lagi mereka akan pisah dan aku akan segera mendapatkan Ray," batin Zela bersorak gembira.
"Sudahlah Terima saja nasib kamu yang sebentar lagi akan menjadi janda, Ray itu terlalu baik untuk wanita rendahan seperti kamu," ucap Zela bahagia karena dia sudah menang, sebentar lagi Ray akan menjadi miliknya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu!" Ella menyerang Zela dengan brutal, dia memukul Zela dengan kilatan amarah yang memuncak.
"Stela hentikan! Dia bisa terluka!" teriak Ray.
"Kamu peduli jika dia terluka, tapi sama sekali gak peduli terhadapku, aku juga terluka Ray. Hati aku sakit... Sakit sekali...," lirih Ella disertai air mata yang mengalir deras.
"Pak tolong percaya pada saya, ini gak seperti yang bapak pikir." Alvin masih mencoba menjelaskan.
"Saya tidak sudi mendengar penjelasanmu," sinis Ray kemudian dia menarik tangan Ella.
"Kamu ikut aku," ucapnya tajam pada Ella, Ray menarik paksa tangan Ella sehingga membuat Ella meringis.
Setelah Ray membawa Ella pergi, Alvin pun juga keluar dari gudang meninggalkan Zela seorang diri yang sedang bersorak gembira.
"Rasain kamu wanita angkuh, sebentar lagi Ray akan membuangmu. Dan aku akan menjadi ratu di hatinya dan juga di dalam hidupnya." Zela tersenyum sendiri, dia merasa sedang di atas awan saat ini.
"Nikmatilah tangisan kesedihanmu, semoga saja kamu depresi lalu mati bunuh diri. Hahaha," tawa Zela menggelegar di dalam gudang itu.
***""""""
Ray membawa Ella kedalam ruangannya, setelah mereka sampai disana. Ray menatap Ella tajam, sedangkan Ella, dia hanya berwajah datar dengan ekspresi yang sulit di tebak. Dia juga membalas tatapan tajam Ray.
"Apa acting kakak bagus?" tanya Ray serius.
"Bagus sekali, kak Ray udah cocok jadi pemain sinetron antagonis," ucap Ella.
"Kok antagonis?"
"Kan yang marah-marah mulu itu antagonis."
"Kamu pinter, Sayang. Kamu bisa membuat drama ini seakan nyata," puji Ray.
"Uh, siapa dulu dong? Ella gituloh. Dia pikir dia bisa mengalahkan aku dengan rencana murahannya? Cih, jebak menjebak, lagu lama. Lihat saja nanti, aku akan membuat permainan yang lebih spektakuler, di mana dia akan terjebak dalam permainannya sendiri," ujar Ella dengan tersenyum misterius.
Cup!
"Kamu memang tiada duanya." Ray menarik Ella kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Ya, Kerena aku tidak punya duplikat." Ella membenamkan wajahnya pada dada bidang Ray.
"Sekarang kasih kakak hadiah," pinta Ray.
"Hadiah?" Ella mendongkak.
Cup!
"Hm, karena ber acting itu butuh tenaga. Apalagi harus marah-marah. Itu membutuhkan energi, Sayang. Sekarang energiku sudah habis, perlu di isi lagi." Tangan Ray mulai berkelana mencari kesukaannya.
"Baiklah, karena kamu ber acting dengan baik, maka istrimu yang cantik ini akan memberi hadiah."
Cup!
Ella mengecup bibir tebal Ray, Ella menempelkan bibirnya kemudian dia gerakan dengan lembut sampai berakhir dengan lumataan rakus. Ella meraup bibir Ray dengan tangan yang berkelana di dada bidang Ray. Tangan itu terus berkelana menyusuri tiap lekukan dada Ray hingga sampai ke perut dengan bibir yang masih bertaut.
"Aku akan membuat hadiah ini terasa begitu istimewa," bisik Ella tepat di telinga Ray yang mana membuat si empunya merinding...
Emh!
Ray merasakan tubuhnya memanas dengan belalai yang semakin mengeras manakala Ella membuka kemejanya kemudian bermain di dada bidangnya dengan menggunakan lidah. Ella memainkan lidahnya di tombol kecil yang berada disana. Satu dengan lidah, satu dengan tangan.
Ah!
Kenikmatan semakin mendera, kala tangan Ella mulai bermain kebawah mencari sesuatu yang bisa dia genggam. Setelah dapat, dia segera membuka dua pembungkus sesuatu yang di genggamnya.
"Sayang, Ah!" Ray tampak menggeliat kenikmatan saat Ella memainkan si Bonar yang sudah di banjiri air liurnya sendiri.
"Emh! Terus, Sayang. Ah!" racau Ray, dia begitu meresapi nikmatnya permainan Ella.
"Aku sudah tidak kuat, Sayang. Ah!" napas Ray kian memburu kala Ella bermain dengan lidah dan juga tangannya sekaligus. Lidah memberi rangsangan dan tangan yang memacu.
Sementara di luar sana, di balik pintu ruangan Ray. Zela sedang berusaha menguping, tetapi sayang dia tidak mendengar apa pun karena ruangan Ray kedap suara.
"Pasti mereka ribut besar, atau malah Ray menyiksa wanita itu. Baguslah, sebentar lagi aku akan menjadi pemenangnya," gumam Zela dengan wajah penuh kemenangan.
Jejak ya jangan lupa😘😘
__ADS_1
Mampir kesini yuk, novelnya seru dan juga penuh perjuangan demi bertahan hidup😍