
Brakk!
"Happy birthday too you, happy birthday too you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday
... Rayen....!"
"Happy birthday, Kak Rayen, Dosenku, suamiku yang paling tampan." Ella tersenyum begitu manis dengan kedua tangan menompang kue ulang tahun yang lumayan besar.
Jangan lupakan tampilannya yang begitu cantik dengan dress merah marun yang panjangnya di atas lutut dan juga dada terbuka. Dia begitu cantik, seksi dan juga mempesona, riasannya juga tidak terlalu tebal, tapi cukup membuat tampilan Ella berbeda dari biasanya.
Ray yang tadinya di liputi amarah yang begitu besar, kini dadanya mulai menghangat. Dia begitu terharu, ternyata sang istri dan juga keluarga nya telah menyiapkan pesta ulang tahun yang bahkan sama sekali tidak dia ingat. Disana juga ada Dela, Rendi dll.
"Sayang..." Ray nampak berkaca-kaca.
"Tiup lilinnya, tapi sebelum itu. Make wis dulu," ucap Ella.
Ray pun menurut, dia memejamkan matanya. Kemudian dia meniup lilin di kue yang dia bawa. "Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur sehat selalu dan selalu menyayangi aku dan twins." Ella menatap Ray lekat.
"Terima kasih, Sayang. I love you." Ray mengecup kening Ella.
"Love you too. Sekarang potong kuenya."
Ray memotong kue itu, kemudian memberikan suapan pertama pada Ella, setelah itu baru pada orang tua dan juga mertuanya. Selesai acara tiup lilin dan juga potong kue, kini giliran para sahabat dan keluarga memberi ucapan selamat pada Ray. Dia begitu terharu dan juga bahagia. Baginya, ini adalah ulang tahun yang paling berkesan dalam hidupnya, karena kini telah hadir istri tercinta dan juga buah hati mereka.
"Selamat ulang tahun, Bro. Semoga panjang umur dan sehat selalu," ucap seorang pria menghampiri Ray yang tengah duduk berdua dengan Ella, sedangkan yang lain kini mereka sedang menyantap hidangan yang telah Ella siapkan.
"Ini?" Ray tampak mengingat-ngingat sosok yang berada di hadapannya.
"Dia, Aa Bian. Sepupunya aku." Ella yang menjawab.
"Oh, yang dari bandung itu ya?" Ray baru ingat karena mereka pernah bertemu saat acara tujuh bulanan Ella.
"Iya, kak Ray. Dia juga yang bantuin aku nyiapin semua ini." Lagi-lagi Ella yang menjawab.
Yups, pria yang tadi bersama Ella itu adalah Bian, sepupunya. Mereka memang sangat dekat sedari dulu. Sama halnya dengan Satria.
"Thanks bro, lo udah repot-repot bantuin istri gue," ucap Ray tulus.
"Sante aja, lagian gue seneng kok bantuin adek tercinta gue ini." Bian mencubit kedua pipi Ella.
"Kak Ray... Liat nih Abi, dari tadi dia nyubitin aku mulu," Adu Ella.
"Lagian sipa suruh kamu begitu menggemaskan, Sayang." Ray menjawil hidung Ella.
"Kak Ray sama aja," ketus Ella dengan bibir yang mengerucut.
Cup!
Ray yang gemas langsung saja menyosor bibir yang mengerucut itu. "Ekhem." Suara deheman Bian membuat atensi Ray teralihkan padanya.
"Sorry bro, kelepasan," ujar Ray tanpa dosa.
"Ray, Kami pamit pulang dulu ya. Kasian twins di rumah sama bi Izah." Wina dan Rina datang menghampiri.
"Iya, Mah. Kasian twins di tinggal," ucap Ray.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun ya. Sekarang kalian nikmati waktu berdua. Jangan khawatir kan twins, ada kami di sini yang menjaga mereka," Sahut Rina.
"Makasih, Mih. Maaf merepotkan." Ray tersenyum ke arah sang mertua.
"Tidak ada yang repot, justru kami senang." Timpal Andi menghampiri.
"Kami pulang ya, ingat Ray, pelan-pelan." Goda Samsul yang berjalan di belakang Andi.
Ray mengangguk saja, meski dia tidak mengerti apanya yang pelan-pelan. Karena dia belum tau jika Ella telah menyiapkan kamar sepesial untuk mereka menginap.
Setelah para pasutri yang sudah tidak muda lagi itu pergi, kini tinggalah para muda-mudi yang akan merasakan pesta ulang tahun Ray. Di sana ada, Galang&Dela. Satria&Dalina. David, Ragil, Alvin, Rendi. Kia dan juga Diego yang turut Ella undang. Mereka memang sudah Ella beritahu jika dia dan Ray adalah pasangan suami istri, memang awalnya mereka kaget dan juga tidak menyangka. Tapi, mereka senang, ternyata dosen dingin itu adalah suami sahabat mereka.
"Guys, gimana kalau kita dansa. Mungpung suasananya cocok," usul Dalina, karena dia merasa suasananya begitu cocok, romantis, di tambah dengan alunan biola yang begitu merdu.
"Ok lah, hayuk," Seru Ella.
__ADS_1
"Gue dansa ama siapa?" David mendelik.
"Noh, ada Ragil. Dansa aja sama dia." Satria menunjuk Ragil.
"Ogah! Lo pikir gue udah gak normal apa?" Cebij David.
"Siapa juga yang mau dansa sama lo," ucap Ragil sengit.
"Jangan ribut, di sini kan ada satu cewek jomblo. Gimana kalo kalian ajuin diri jadi kandidat pasangannya?" Ella menatap ke arah Kiana.
"Em apasih, kok aku?" ucap Kiana malu-malu.
"Ya siapa lagi? Masa aku? Kan gak mungkin. Di sini cuma kamu doang yang jomblo."
"Jomblo nya jangan di perjelas juga kali."
"Kan emang lo jomblo. Sekarang pilih deh, lo mau dansa sama siapa?"
Kiana terlihat mengamati ke lima peria jomblo yang berada di hadapannya, entah kenapa atensinya tertuju pada salah satu pria yang sejak pertama kali dia melihatnya sudah mampu menggetarkan hatinya.
"Siapa?" tanya Ella tak sabaran.
Kiana enggan memilih, dia tampak malu-malu meski sudah punya pilihan. "Em, gak tau Ell." Mulut Kiana begitu susah mengucapkan nama yang baru saja dia ketahui tadi pas Ella mengenalkannya.
"Mending dia sama gue aja." Rendi langsung menghampiri Kiana.
"Gercep banget lo, Ren." Cibir Ray.
"Bosen jomblo mulu gue, sapa tau kita jodoh. Ya, gak cantik?" Rendi menatap Kiana sambil menaik turunkan alisnya.
"Em, apaan sih.." Kiana merasa jantungnya berdebar lebih kencang.
"Yok." Rendi mengulurkan tangannya.
"Kemana?" Kiana gagal konek.
"Dansa lah, emang mau kemana?"
"Ah, iya. Aku lupa." Kiana mendadak gugup.
"Mereka cocok, ya?" ucap Ella yang juga tengah berdansa dengan Ray.
"Hm, semoga saja mereka berjodoh." Cup, Ray mengecup bibir Ella.
"Heem, biar gak ada yang jomblo lagi."
"Ada, itu lima lagi." Ray menunjuk lima orang pria yang sedang berjoged tak karuan.
"Empat kali, Aa Bian kan udah punya pacar." Koreksi Ella.
"Oh, kakak pikir masih jomblo."
Cup!
Ray mengangkat dagu Ella kemudian dia mengecupnya yang perlahan menjadi ******n. Ray menyapu seluruh bibir Ella dengan lidah dan juga bibirnya tanpa memperdulikan orang sekitar. Ella juga membalas ciuman Ray dengan ganas dan juga menuntut lebih.
"Pulang yuk...." Ray berbisik dengan suara yang serak berkabut gairah.
"Kita kan nginep di sini, aku udah nyiapin kamar sepesial," ujar Ella.
"Oh, ya. Kalau begitu kita pemanasan di sini."
"Ta..."
Cup!.
Belum sempat Ella berucap, Ray sudah membungkam mulutnya dengan ciuman rakus. Dia menghis*p bibir ranum Ella, meluma*t dan juga meraupnya dengan tidak sabaran. Tangannya tidak tinggal diam, dia meremas bokong padat, berisi Ella.
"Em.. Kak, stop! Ini banyak orang." Ella menahan Ray yang hendak menciumnya lagi setelah mereka menghirup udara segar sejenak.
"Mereka juga gak liat kita."
__ADS_1
Ray kembali mencumbu istrinya, Ella pun terhanyut dalam buayan Ray, dia pasrah saat suaminya menjelajahi setiap rongga mulutnya. Tubuh Ella kini kian memanas, hasratnya sudah memburu ingin segera di tuntaskan. Begitu juga dengan Ray, matanya sudah memerah berkabut gairah.
"Pok amai-amai belalang kupu-kupu. Ini lagi ramai lo malah cumbu-cumbu." Suara lengkingan Satria seketika menghentikan aktipitas mereka.
"Di mana kamarnya, Sayang?" Ray langsung menggendonh Ella ala bridal style.
"Di sebelah ruangan ini." Ella yang kaget pun langsung menjawab.
"Astaga! Dasar pasangan omes!" Teriak Satria saat melihat Ray berlalu pergi dengan menggendong Ella.
"Bilang aja sirik," cibir Dalina.
"Tau aja kamu, Beb. Udah gak tahan ini, lama banget sih kita sah nya." Satria menarik Dalina ke dalam pelukannya.
"Tinggal beberapa hari lagi, sabar ya." Dalina mengedipkan sebelah matanya.
"Aku selalu sabar, beb. Tapi dia yang udah gak sabar." Satria menunjuk bagian bawahnya yang sudah sesak.
"Astaga! Terong idup!" Reflek Dalina menendang sesuatu yang menyembul itu dengan lututnya.
"Beb! Kamu jahat! Gimana kalo dia mati." Pekik Satria.
"Tinggal kubur aja," Cengir Dalina.
"Tega, kamu. Ini tuh yang bakal bikin kamu merem melek nanti," Cebik Satria.
"Lagian, dia gak sopan banget. Masa bangun di situasi begini," delik Dalina.
"Dia kan gak punya hati, mana bisa sopan."
"Sama kayak orangnya, Sama-sama gak punya hati."
"Beb....."
"Bekk!" Sahut Ragil.
"Sue, lu."
Jika mereka nampak berdebat, lain halnya dengan Rendi dan juga Kiana. Mereka terlihat begitu romantis, Rendi menatap lekat manik mata Kiana dengan begitu dalam sehingga membuat Kiana salah tingkah.
"Aku boleh kan minta nomor kamu?" Rendi menurunkan tangan Kiana dari pundaknya, kemudian dia genggam dengan lembut.
"Nomor apa?" Kiana begitu gugup.
"Nomor bh, dia kan mesum!" David yang tidak jauh dari mereka berteriak.
"Gak usah dengerin bisikan setan. Aku minta nomor HP kamu," ucap Rendi.
"U-ntuk apa?" Kiana masih gugup.
"Untuk di jadiin nomor togel, lu telmi amat si, Neng. Ya jelas buat nelepon lah." Lagi-lagi lengkingan David menyahuti obrolan mereka.
"Banyak setan ya, mungkin hotelnya kagak di do'ain dulunya." Rendi menuntun Kiana untuk duduk di kursi.
"Jangan mau di modusin sama demit, Neng. Ntar lu di bawa sesat."
"Jadi gimana? Boleh gak?" Rendi tidak memperdulikan ucapan David.
"Boleh apanya?" Kiana sepertinya terlalu gugup, jadi dia gagal konek.
"Untung stok sabar gue banyak," lirih Rendi.
"Kenapa? Ban mobil kak Rendi kempes ya?" tanya Kiana yang samar-samar mendengar lirihan Rendi.
"Enggak, siapa yang bilang kempes."
"Itu tadi, katanya untung stok ban gue banyak. Berati kempes dong ban mobilnya?"
"Maksud aku, sabar, bukan ban." Rendi tersenyum kaku.
"Oh, berarti hidup kak Rendi bayak banget ya cobaannya? Pasti banyak sih, apalagi kakak jomblo. Sabar nya harus ekstra."
__ADS_1
"Lu juga jomblo Markoneng!"
Jejak😘😘😘😗