
Tanpa memperdulikan ucapan Ella, Ray tetap saja melakukan aktipitas nya. Dia menumpu kakinya di antara kedua kaki istrinya yang kini terlentang. "Aku akan melakukannya dengan pelan." Mengecup lembut bibir istrinya.
Perlahan Ray menggesekan benda tumpul miliknya pada pintu gua yang nampak sedikit basah, sedikit demin sedikit benda tumpul itu dia dorong sampai akhirnya bisa masuk dengan sepenuhnya.
Ah!
Pekik Ella tertahan kala pusaka sang suami menerobos masuk kedalam gua miliknya, rasanya nikmat tetapi bercampur ngilu. Memang tiada rasa sakit seperti saat pertama mereka melakukannya, namun rasa ngilu itu cukup mengganggu bagunya.
"Apa sakit?" Ray tidak langsung bergerak, melainkan dia terdiam sejenak dengan menatap wajah istrinya.
"Hanya sedikit ngilu," jawab Ella yang berusaha untuk tersenyum walau tipis.
"Ngilu nya hanya sebentar, nanti akan tergantikan dengan kenikmatan." Ray mulai menggerakan pinggangnya.
Perlahan dia mulai bergerak menghujami gua istrinya dengan lembut dan juga hati-hati, dia membiarkan Ella merasa nyaman terlebih dahulu.
Eumhh!
Suara leguhan mulai terdengar dari mulut mungil Ella, dia mulai meracau kala pusaka milik suaminya menghujami gua miliknya dengan tempo agak cepat tapi masih lembut. Ella semakin menggila di saat Ray menghujam sembari bermain di kedua gunung Ella, sebelah tangannya meremass lembut sebelah gunung Ella sedangkan tangan yang lainnya mengelus lembut paha dan juga bokong Ella.
Mulutnya juga ikut bermain, dia memberikan lumataan kecil pada puncak gunung Ella yang satunya. Memberi rangsangan supaya gua milik Ella semakin basah, dengan seperti itu istrinya tidak akan merasakan ngilu dan akan tergantikan dengan kenikmatan.
"Ha-ah, le-bih cepat. Eu-gh," Racau Ella kala tubuhnya mulai memanas menandakan dia akan segera mencapai puncak.
Ray yang mendengar racauan sang istri langsung saja menambah ritme kecepetan gerakannya, dia menghujam dengan cepat dengan lidah yang berkelana menciumu seluruh badan Ella, dari mulai leher, dada hingga turun ke perut. Ray memberikan banyak jejak tanda kepemilikan disana.
Ah!
Ray juga meleguh saat tubuhnya ikut memanas. "Rasanya semakin sempit, Sayang. Ah! Ini sangat nikmat." Ray bergerak dengan mata terpejam menikmati sensani nikmat dari gesekan sesuatu yang menyatu di bawah sana.
Cup!
Mengecup bibir Ella, kemudian ********** cukup kasar tetapi Ella malah menikmatinya, dia justru membalas ciuman itu dengan rakus.
"A-aku akan segera sampai. Ah!" Erang Ella.
"Kita ke puncak bersama, eugh!" Ray mendekap erat tubuh Ella yang berada dalam kungkungannya.
Ahh!
Akhh!
Eughh!
Erangan demin erangan terus mengalun memenuhi ruangan itu, keringat terus bercucuran mengiringi penyatuan cinta mereka. Wajah Ella menelusup di bawah rahang Ray kala mereka mencapai puncak. Ella menggigit dan juga menghisapp leher bagian depan Ray sehingga meninggalkan bekas merah yang cukup jelas.
******""""""""
__ADS_1
"Huhh, ternyata udah pagi. Perasaan aku baru tidur sebentar," dumel Ella kala kakinya turun dari ranjang lalu berjalan ke dalam kamar mandi.
Dia memang hanya tertidur sebentar, karena setelah beristirahat sebentar sang suami kembali meminta ronde kedua. Alhasil tadi malam mereka bergadang menjelajah nirwana.
Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, rambutnya tampak basah dengan sedikit air yang bercucuran.
"Ternyata ngilu nya sama seperti pas habis malam pertama," Bergumam sembari memilih baju yang akan dia kenakan.
"Badanku rasanya seperti terlindas truk saja." Berjalan ke meja rias setelah memilih baju dan juga mengenakannya.
Selesai memoles tipis wajahnya dan juga menyisir rambut, dia pun berjalan ke kamar twins untuk menyusuinya seperti biasa. "Mamah udah bangun ternyata." Ella melihat Wina yang sedang memandangi kedua anaknya.
"Kan kita mau pergi shopping, jadi harus bangun pagi dan bersiap," ujar Wina.
"Hm, iya juga ya." Ella manggut-manggut.
"Papah masih tidur, Mam?" Ella melirik Samsul yang masih terbaring di ranjang yang berada di kamar twins.
Yups, Wina dan Samsul sekarang tidur di kamar twins. Mereka ingin selalu menjaga cucu kesayangannya. Bahkan mereka sampai mengangkut ranjang ke ruangan itu supaya bisa tidur di sana.
"Kita semalem gak bisa tidur, Ell. Kita baru terlelap pas menjelang pagi," ujar Wina.
"Loh, kenapa kalian gak bisa tidur? Twins rewel kah? Tapi kok aku gak denger mereka nangis?" ucap Ella.
"Emang semalam kita gak bisa tidur karena berisik, tapi bukan karena tangisan twins." Wina tampak mendelik.
"Semalam ada gempa lokal besar banget, Ell. Mana banyak suara aneh lagi," ucapan Wina seketika membuat Ella salah tingkah dan juga malu, dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Wina.
"Maaf." Ella tertunduk malu.
"Hahaha, lucu banget sih muka kamu Ell." Wina malah tertawa.
"Kok Mamah malah ketawa sih?" Cebik Ella.
"Lagian kamu kenapa minta maaf?" Wina menatap Ella heran.
"Bukannya.." Ella tak melanjutkan ucapannya karena dia bingung harus berkata apa.
"Bukannya apa? Semalam itu kita gak bisa tidur karena Papah kamu tuh, masa dia pulang kantor langsung nyerang Mamah, mana berkali-kali lagi sampai malem. Untung twins gak ke bangun karena gempa lokal buatan Papah kamu," jelas Wina prontal.
Astaga! Ella langsung melotot, dia pikir mertuanya tidak bisa tidur karena gempa buatan Ray, tapi ternyata.. Huhh! Ella nampak menghela napas panjang, dia baru teringat jika kamar mereka sudah Ray pasangi pengedap suara. Padahal dia sudah malu setengah mati.
"Berkali-kali, Mam?" Ella melohok tidak percaya.
"Iya, Papah kamu tuh tenaganya kayak kuda Ell. Bahkan niya, dia gak puas hanya lima ronde aja," tutur Wina.
Glek!
__ADS_1
Lima ronde? Ella menelan salivanya kasar. Terbuat dari apa tenaga kedua mertuanya ini, dirinya saja baru tiga ronde sudah tepar lemas lunglai tak berdaya.
Tapi tunggu!
Pantas saja Ray sudah bermain tiga ronde meminta nambah lagi seakan tidak merasa lelah. Ternyata orang tuanya begini, Marbot! Mesum! Pikir Ella.
"Eh tunggu, Mam. Apa tadi, kayak kuda?" Ella jadi teringat belalai buluk yang kemarin dia tebas. Apa belalai Papa mertunya juga seperti itu? Tapi kenapa punya Ray ber helm.
"Iya Ell, tenaga Papah kamu kayak tenaga kuda."
"Em, itunya juga kayak itu kuda dong?" Cengir Ella.
"Hah? Apanya yang kayak kuda?" Bingung Wina.
"Gak jadi." Ella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Oek! Oek! Oek!
Tangisan twins seketika menghentikan obrolan tak ber faedah mereka. "Susuin dulu, Ell. Setelah mereka kenyang jangan lupa nyetok asi, takutnya kita lama," ucap Wina.
"Ok, Mam." Ella berjalan menghampiri twins yang menangis bersamaan.
Wina juga ikut menghampiri untuk mengambil salah satu dari mereka sembari menunggu giliran menyusu.
"Shett!" Ella meringis kala zam mentedot sumber kehidupannya.
"Kenapa, Ell?" Wina yang sedang menggendong Zura pun menatapnya.
"Gak kok, Mam. Tadi zam gigit jadi ngilu," ucap Ella ngasal.
"Zam gigit? Memangnya dia sudah punya gigi?" Heran Wina.
Astaga! Kenapa dia jadi oon. Benar juga kata Wina, Zam kan belum punya gigi. Bagaimana caranya dia mengigit? Padahal Ella cuma mencari alasan saja, puncak gunungnya memang ngilu, tapi bukan karna Zam, tapi karena bekas permainan menggila Ray semalam.
"Ah, itu Mam. Aku di gigit semut, ya, semut." Ella malah semakin ngawur..
"Aneh kamu, mana ada semut di sini." Wina beranjak untuk memberikan Zura dan mengambil Zam yang sudah selesai menyusu.
"Oh, semut raksasa." Wina tak sengaja melihat sumber kehidupan twins di penuhi stempel kepemilikan Ray.
Ella mengikuti arah pandang Wina dan betapa malunya dia saat melihat dadanya yang ber penampakan seperti macan tutul.
Jejak ok!😍
Sambil nunggu otor punya rekomendasi novel bagus nih, di jamin lebih seru dan juga menarik dengan alur yang tidak membosankan 👇
__ADS_1