
"Belum saatnya lu tau."Jawab Satria penuh teka teki.
"Hm,"
"Kalian berdua kalau mau pulang, pulang aja dah sono. Biar gua ama si Rendi yang jagain si Galang."ujar Satria.
"Ya sudah, kita balik."ucap Ray.
"Lo cepet sembuh Lang, biar kita bisa ngumpul lagi."lanjutnya sembari menatap Galang.
"Thank ya, kalian udah datang kesini."ujar Galang dan di balas anggukan oleh Ray.
"Kak Alang, akunya pamit pulang dulu, ya."ucap Ella yang hendak menghampiri Galang.
"Ayok,"Ray langsung menarik pergelangan tangan Ella.
"Ck, posesiv."cibir Satria.
Ray tidak mendengarkan omongan Satria, dia langsung saja membawa Ella keluar dari ruangan Galang.
"Gue tau, apa yang lo rasain saat ini Lang. Karna gue pernah berada di posisi itu, jadi lo sabar ya, semoga perasaan itu cepat tergantikan oleh cinta yang lain."Rendi menatap Galang iba.
"Jujur, rasanya sakit banget seperti tertikam ribuan belati. Tapi gue harus menahan rasa sakit itu, gue harus berusaha kuat. Gue gak boleh terlihat lemah, dulu gue pikir jatuh cinta itu indah, tapi ternyata jatuh cinta itu sesakit ini."ujar Galang.
"Jatuh cinta memang indah Lang, tapi jika itu terjadi pada orang yang tepat. Dan akan terasa sakit jika kita memiliki perasaan yang salah, perasaan yang seharusnya tak pernah ada."tutur Satria serius.
"Semoga lo secepatnya mendapatkan pengganti dia, jangan sampai lo terus terbelenggu dalam rasa yang salah."timpal Rendi.
"Ya,"Galang menghela nafas panjang.
Sementra itu kedua sejoli yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit, kini tengah berada di dalam mobil untuk segera meluncur pulang, tapi mendadak Ray mendapat telphone.
Ella sangat memperhatikan Ray yang sedang berbicara lewat telphone itu, entah dengan siapa.
__ADS_1
"Kenapa kak Ray?"tanya Ella saat melihat raut wajah Ray yang terlihat bingung.
"Kakak ada urusan mendadak, sayang. Dan harus segera pergi sekarang juga."Jawab Ray.
"Ya udah, kak Ray pergi aja."ujar Ella.
"Tapi kamu gimana?"
"Tenang aja, aku pulang di antar sama abang."
"Baiklah kalau begitu, kakak antar kedalam lagi ya, untuk menemui Satria."
"Gak usah kak Ray, aku bisa sendiri kok. Kak Ray pergi aja, katanya tadi lagi buru-buru."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya nanti pulangnya."
"Iya, kak Ray juga hati-hati ya di jalannya."
"Iya, sayang."
Saat Ella hendak melangkah kedalam rumah sakit, ponselnya berdering menandakan ada panggilan yang masuk, dia pun segera mengangkatnya.
Disisi lain.
Ray memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia begitu terburu-buru entah apa yang terjadi hingga membuatnya tergesa seperti itu.
Sesampainya dia tempat yang dia tuju, ternyata tempat itu sudah begitu kacau, orang-orang berbaju hitam berserakan tidak sadarkan diri mungkin juga sebagian sudah tewas.
Lalu Ray melangkah masuk kedalam bangunan itu, disana terlihat isi bangunan sudah porak poranda, dengan darah yang bersimpah dimana-mana. Anak buahnya banyak yang sudah tewas dengan sangat mengenaskan.
"Akhirnya, ketua payah ini datang juga."ucap seorang pria dengan tubuh tegap dan juga kekar, lengannya penuh dengan tato binatang buas.
"Beni."Ray menatap tajam pria yang tengah bersidekap dada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Aku sudah bilang kan, jika aku akan menuntut balas atas kematian saudara kembarku. Dan hari ini, kau akan mati ditangan ku."ucap Beni ketua Black Sky yang baru.
Karna ketua Black Sky yang lama, yaitu Beno telah terbunuh di saat pertempuran antara Taiger Dark dan juga Black Sky. Dan itu yang menimbulkan kesalah pahaman antara Ray dan juga Beni, Beni berpikir jika Ray lah yang telah membunuh Beno karna saat dirinya datang kala itu, Ray tengah terduduk di samping tubuh Beno yang sudah terbujur kaku sembari memegang belati.
"Sudah ku bilang, bukan aku yang membunuh Beno. Dia terbunuh oleh ketua Taiger Dark, aku berada disana karna ingin menolongnya."Ray berucap dengan bersungguh-sungguh.
"Semuanya sudah sangat jelas, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kau yang telah membunuhnya. Dan hari ini juga aku akan melenyapkan mu. Semua anak buah mu telah binasa, tangan kanan mu juga sudah terluka parah, tiada lagi yang akan membantumu."ucap Beno dengan seringai kemenangan.
Dan benar saja, semua anak buah Ray telah tergeletak dengan bersimpah darah. Begitu juga Ragil dia terkapar lemas di lantai dengan begitu banyak sayatan, sepertinya Ragil masih benafas. Ray mengarahkan pandangannya untuk mencari Rafly, tapi dia tidak menemukan keberadaan sosok itu.
"Binasa lah, ku sekarang Ray. Tiada lagi yang akan menolong mu."Beni mengeluarkan katana dari balik punggungnya lalu dia memainkan katana itu dengan memutar-mutarnya.
"Tidak semudah itu."Ray juga mengeluarkan katananya yang begitu runcing dan juga tajam.
Beni mulai mendekat kepada Ray, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang Ray, begitu juga dengan Ray dia menatap lekat pergerakan dari Beni, dia sangat fokus memperhatikan gerak tubuh Beni, sekarang Ray begitu berhati-hati untuk menghadapi serangan. Dia tidak mau ceroboh, karna dia sekarang sudah mempunyai istri yang menunggu kepulangannya.
Beni mulai menggerakan katananya dia menyerang Ray dengan begitu brutal kilatan amarah begitu terpancar di manik mata biru miliknya. Tapi Ray dengan lihai dan juga cekatan mampu menangkis semua serangan Beni yang tidak beraturan itu, makin lama Beni makin kehilangan banyak tenaga karna serangan berutalnya, dan semua itu di manfaatkan oleh Ray, sekarang giliran dia yang menyerang Beni dengan pasih, Ray mengayunkan katana itu dengan begitu lihainya hingga dia berhasil melukai tangan kanan Beni.
"SIALLAN."teriak Beni murka.
Hingga dia pun memanggil anak buahnya untuk menyerang Ray.
Awalnya Ray biasa saja menghadapi anak buah Beni yang berjumlah dua puluh orang itu, dia mampu mengalahkannya dengan sekejap mata. Dan itu membuat Beni semakin di sulut emosi, hingga dia mengerahkan seluruh anak buahnya yang berjumlah ratusan.
Sekarang Ray begitu kewalahan menghadapi ratusan anak buah Beni, dia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya dari mulai menerjang dengan brutal hingga menembakan timah panas tepat di jantung para anak buah Beni dengan tangan kirinya karna tangan kanannya ia gunakan untuk menyerang menggunakan katana.
Ray mulai kehabisan tenaga, dia tidak bisa lagi mengimbangi serangan Black Sky, saat ini dia sudah pasrah tidak ada lagi harapannya untuk pulang dengan selamat, di tengah perjuangan terahirnya Ray mengingat wajah cantik nan polos sang istri, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Ella jika mengetahui dirinya tidak selamat.
Setelah mengingat wajah cantik Ella, Ray seakan mempunyai kekuatan untuk bangkit. Di sisa-sisa tenaganya Ray berusaha untuk menyerang dengan berutal, tapi di tengah tengah penyerangannya ada salah satu anak buah Beni yang menodongkan pistolnya tepat ke arah kepala Ray, dan....
DORRR...........
Jejaknya ya guys๐
__ADS_1
Salam sayang dari author Kitty๐๐๐