
Hari demi hari Ella lalui dengan penuh kebahagiaan, pasalnya setelah lahirnya twins A, keluarganya menjadi sering berkumpul. Tidak seperti dahulu yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing, jadi mereka tidak punya waktu untuk bersama.
Usia twins A kini sudah menginjak dua minggu, Ella juga sudah bisa beraktipitas seperti biasanya walaupun belum boleh beraktipitas yang berat. Ray juga sudah kembali mengajar di kampus, untuk keluarga Ella, mereka memang sudah pulang kerumah, tetapi Rina hampir setiap hari datang untuk melihat perkembangan twins A.
"Aku bulan depan udah masuk kuliah lagi, Ell. Kamu kapan?" ucap Dela yang sedang menggendong Gala.
"Samain deh sama kamu, Del. Biar barengan," ujar Ella yang juga menggendong Zura, karena Zam sedang di mandikan oleh Wina.
"Ok, berati bulan depan kita masuk kuliah lagi," Dela mendudukan dirinya disopa karena pegal.
"Tapi gak tega ninggalin twins,"ucap Ella sembari menjawil lembut pipi Zura.
" Aku juga gak tega kalo harus ninggalin Gala, tapi kita harus cepet nyelesain kuliah supaya cepet lulus. Baby kita biar dijaga sama neneknya,"Dela terlihat menarik napas pelan.
Hari sudah mulai redup, menandakan waktu sudah sore hari. Dela sudah pulang kerumah dan Ella kini tengah merenung di kamar twins, dia masih bingung tentang kuliahnya. Apakah harus di lanjutkan dengan harus meninggalkan twins, atau berhenti tapa punya gelar.
"Kenapa, Ell?" tanya Wina saat melihat menantunya merenung.
"Aku gak tega, Mih. Kalo harus ninggalin twins pas nanti kuliah," ujar Ella.
"El, dengerin Mamah. Kamu jangan menghawatirkan twins, kamu fokus aja kuliah. Twins ada Mamah dan juga mamih kamu yang jagain. Mereka aman bersama kamu, jadi kamu jangan cemas, ya. Kan kuliahnya hanya sebentar ini," ucap Wina memberi pengertian.
"Iya, Mam." jawab Ella lesu.
"Mukanya jangan ditekuk gitu, jelek tau." Wina menjawil dagu Ella.
"Zam! Zura! kakek rindu!" teriak Samsul dari ambang pintu kamar.
"Jangan rindu, berat. Kakek gak akan kuat, biar aku saja," sahut Ella.
__ADS_1
"Mana nih, tampan dan cantiknya kakek? kakek gendong yuk, kakek kangen twins emes." Samsul mengambil Zam dari pangkuan Ella.
"Papah kangennya sama twins doang nih? sama Mamah enggak?" cemberut Wina.
"Em, kangen gak yah?" Samsul pura-pura berpikir.
"Fix, Papah gak bakalan dapet jatah malam ini," sarkas Wina mendelik.
"Eh, jangan dong, Mah. Papa kangen kok sama Mamah, cius deh," ucap Samsul cepat.
"Terlambat!"
Ella hanya tersenyum tipis melihat tingkah kedua pasutri itu yang masih saja suka berdebat dan menjahili di usia mereka yang sudah tidak muda lagi,
Zam terlihat begitu anteng dalam gendongan Samsul yang tengah bernyanyi dengan absurd, Samsul terus berceloteh untuk mengajak main Zam. Puas bermain dengan Zam, Samsul pun kini beralih menggendong Zura dan menyerahkan Zam kembali pada Wina.
"Hip hip, Zura Zura, Zura Zura, huuuu. Aku suka bakpia, bakpia. Huuu." Samsul kembali bernyanyi asal saat menggendong Zura.
"Bener tuh, Ell. Papah kamu emang mirip badut ancol,"tambah Wina.
" Terserah, Papah gak peduli mau dikatain apa juga. Yang penting Zura ceneng ya, tututu. Cantiknya kakek, nanti kalo udah gede jangan ngikutin sikap mereka, ya. Tidak baik, sesat."Samsul berceloteh sembari menciumi Zura.
"Pantes sepi, ternyata lagi pada ngumpul disini," ucap Ray yang baru saja pulang dari kampus dan memasuki kamar twins.
"Eh, Pipop twins udah pulang." Ella langsung beranjak lalu memeluk Ray dengan erat.
"Kenapa, hm? kangen ya?" Ray membalas pelukan sang istri.
"Bukan itu." Ella terlihat mengendus.
__ADS_1
"Lalu kenapa, hm? kamu juga kenapa ngendus kakak kayak gitu? udah kayak kucing ngendus ikan aja."Ray terlihat mengusak rambut Ella.
" Aku cuma mau mastiin kalo di badan kak Ray gak ada bau cewek,"ucap Ella.
"Mana ada bau cewek, kakak kan gak deket-deket sama cewek," ujar Ray.
"Ya, kali aja gitu. Kan gua aku lagi di perboden, aku takut diluaran sana kak Ray cari gua yang lain." Ella terlihat cemas.
"Ya ampun sayang, kamu kok sampe mikir kayak gitu, sih? kakak gak mungkin ngelakuin hal semenjijikan itu, kakak sangat mencintai kamu. Kakak tidak mungkin sampai tega melukai hati orang yang kakak cintai, itu sama saja kakak melukai diri sendiri," ucap Ray sembari menggenggam tangan Ella.
"Janji ya, kakak gak bakalan berpaling?" Ella menatap Ray serius.
"Janji." Ray membalas tatapan Ella dengan senyuman manisnya.
"Awas aja kalo sampe kak Ray ingkari, aku bakalan potong belalai kakak, terus aku cincang dan aku masak jadi belalai bumbu balado yang super pedas," ancam Ella dengan tatapan tajamnya sehingga membuat Ray bergidig saat membayangkan itu terjadi pada belalainya.
"Mending dibikin belalai geprek, Ell," celetuk Wina yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Lebih bagus di jadiin belalai bakar," tambah Samsul.
"Edi bagus, Pah." Ella terlihat mmengacungkan jempolnya kepada Samsul.
"Bagus kan ide, Papah." Samsul terlihat bangga.
"Bagus sekali, Pah. Nanti boleh di coba Mam ide Papah, jika Papah macem-macem," ucap Ella.
"Siap laksanakan, Siap-siap Pah, Mars mu akan Mamah jadiin belalai goreng kalo Papah macem-macem," Wina tersenyum menyeringai.
"Pah, istri kita jadi pisikopat belalai,"ucap Ray sembari melirik Samsul.
__ADS_1
"Kamu benar Ray, gaswat sekali ini. Bisa-bisa populasi belalai akan punah jika di biarkan seperti ini. Oh, no! Kita harus segera bertindak Ray!"pekik Samsul.
Minal Aidzin walpaidzin para readers, mohon maaf lahir dan batin ya, untuk kalian semua. Maafkan otor ya bila banyak perkataan otor yang menyakiti hati kalian,, 🙏🏻🙏🏻🙏🏻