
"Engga, soalnya dianya malah pacaran sama sahabat aku sendiri."Jawab Ella.
"Kasiaan, berati cinta elu bertepuk sebelah kaki. Hahaha."ledek Satria.
"Sebelah tangan, ngab."koreksi Galang.
"Sama-sama sebelah ini."bela Satria.
"Abang mah jahat, kok akunya malah di ledekin sih."cemberut Ella.
"Uluh uluh, kasian Sayangnya abang. Sini abang peyuk."ucap Satria sambil merentangkan tangannya.
"Gak mau, abang bau asem, abangkan belum mandi."cebik Ella.
"Enak aja, gue wangi tau."ucap Satria.
"Emang lo beneran cinta, sama tu cowok?"sambungnya.
"Iya."jawab Ella.
"Apa yang lo rasain ke dia, dulu?"tanya Satria..
"Maksudnya?"
"Elo ngerasa deg degan saat berdekatan sama dia? merasa nyaman gitu?"
"Enggak, akunya biasa aja kok. Enggak deg degan kalau lagi sama dia. Kalau lagi sama kak Ray baru deg degan."ujar Ella.
"Kenapa lo sebut cinta? kalo elu kagak deg degan kalo berada di dekat dia?"tanya Satria heran.
"Karna akunya selalu terpesona, saat melihat wajah tampannya."Jawab Ella.
"Terpesona sama wajahnya doang?"Satria memastikan.
"Iya, abang."
"Itu bukan cinta, ogeb. Tapi itu kagum!"gemas Satria.
"Beda, yah?"
"Ya, beda dong Ell."Rendi yang menjawab.
"Oh, kirain sama. Hehe."Ella cengengesan.
"Aman bro, berati lo tetep cinta pertama dia."Rendi melirik kearah Ray.
"Yo'i, bro. Gak jadi galau nih."Satria menimpali.
"Hm."hanya itu yang keluar dari mulut Ray.
"Sekarang giliran aku yang putar, ya."Ella langsung memutar botolnya.
Dan botol itu berhenti di hadapan Rendi.
"Abang yang nanya ya, Ell."ucap Satria saat melihat botol itu berhenti di hadapan Rendi.
"Iya, deh. Abang aja yang nanya."ujar Ella.
"Ok, trut apa dare nih, Ren?"tanya Satria.
"Trut ajalah."Jawab Rendi.
"Lo, udah pernah making love belon?"Satria menaik turunkan alisnya.
"Wih, pertanyaan yang menjebak."ucap Galang.
"Hayo lo Ren, jawab jujur."timpal Ray.
"Ok, gue jujur. Gue pernah making love."Jawab Rendi enteng.
"Wis, sahabat gue udah gak perawan lagi nih."ledek Satria.
"Mana ada lakik perawan, perjaka ngab."koreksi Galang.
__ADS_1
"Sama aja."bela Satria.
"Serah, semuanya aja lo bilang sama."ucap Galang.
"Sama siapa lo, making love?"tanya Ray menatap Rendi.
"Sama mantan gue yang dulu."Jawab Rendi.
"Yang mana sih? kan mantan elu ada tiga."Satria juga penasaran.
"Yang kedua."jawab Rendi singkat.
"Wau, lo making love sama si Winda. Gak nyangka gue."ucap Galang.
"Si Winda kan anaknya pendiam, lugu pula. Wah parah lo Ren, anak orang lo pera..wa..nin. Mana kagak tanggung jawab lagi lu."hardik Satria.
"Bukan gue ya, yang me..ra..wanin dia. Orang pas gue masuk udah jebol."jelas Rendi.
"Serius lo, Ren?"Ray gak percaya.
"Hm."
"Kasian lo dapet bekas, kayak gue dong ori."bangga Ray.
"Dah, lah. Mau lanjut gak nih?"tanya Rendi.
"Lanjut dong."
"Gue puter, ya."Rendi memutar botolnya.
Dan berhenti di hadapan Galang.
"Trut or dare?"tanya Rendi.
"Dari tadi pada trut mulu, gue dare, dah."Jawab Galang.
"Ok, yakin dare, ya?"
"Yakin dong."
"Wau, sebuah keberuntungan ini mah. Untung kagak yang sebelah kiri."ucap Galang.
"Wah, lo parah Ren. Masa nyuruh nie curut cium bini gue."Ray gak terima.
"Eh, bini lo ya, Ray. Yang sebelah kiri, sorry gue salfok. Kirain elo."ucap Rendi.
"Nyicip dikit lah, Ray."ucap Galang sambil membalikan tubuhnya menghadap Ella, dia hendak mencium pipi Ella. Tapi sebelum bibirnya mengenai pipi Ella..
"Uhuk, uhuk. Njir parah lo, Ray. Gue sampai keselek gini."ucap Galang sambil menepuk-nepuk dadanya, karna tadi saat galang memajukan bibirnya Ray langsung memberikan Wine kepada Galang secara paksa supaya Galang meminumnya, hingga dia tersedak.
"Enak aja, lo mau cium bini gue. Gak bisa cuma gue yang boleh nyentuh dia."ketus Ray sambil menggeser tubuh Galang dan mendudukan dirinya disana.
"Pelit amat, lu."cibir Galang.
"Gue lanjut puter, ya."sambung Galang sambil memutarkan botolnya dan berhenti di hadapan Ray.
"Pas, banget. Gue bales lo Ray!"ucap Galang.
"Trut or dare?"Galang melirik Ray.
"Dare aja."Jawab Ray.
"Ok, tantangannya, lo harus nyium bini lo di depan kita semua. Berani gak lo? ciuman ya, bukan ngecup."ucap Galang menantang.
"Wah, parah lo lang, lo nyuruh kita nonton adegan kissing secara live?"ujar Rendi.
"Anggap aja nonton, Drakor. Kan ada tuh adegan kek begitu."tutur Galang.
"Hayok, Ray. Berani gak lo?"sambungnya menatap Ray.
"Siapa takut."Ray langsung menghadap kearah Ella.
"Jangan deh, kak Ray. Malu, ih."ucap Ella saat dirinya berhadapan dengan Ray.
__ADS_1
"Anggap aja mereka gaada."Ray mendekatkan kepada Ella..
"Tap..."
Sebelum Ella melanjutkan ucapannya, Ray langsung membungkam mulut Ella dengan bibirnya. Ray me..lu..mat bibir mungil itu dengan pelan tapi menuntut..
"An..jrit, mata suci gue ternodai."ucap Satria terbelak, dia gak percaya Ray akan melakukan ini.
"Alohu akbar, gue jadi kepengen."ujar Rendi.
"Gila, berani juga tu orang."ucap Galang yang entah kenapa dadanya mendadak gak enak begini, ada apa dengan dirinya kenapa jadi begini? padahal dia yang memberi tantangan itu.
Cukup lama mereka berciuman, Ray malah terbawa suasana. Bahkan kini Ray sudah menyelusuri rongga mulut Ella, semakin lama ciuman mereka semakin menuntut.
"Woy, udah, woy. Dimari masih ada orang. Gak tau apa gua jadi ngiler."teriak Satria.
Ella pun langsung mendorong dada Ray, sungguh malu sekali rasanya. Bahkan kini pipi Ella sudah memerah bak kepiting rebus, saking malunya.
"Kak Ray, akunya jadi malu, ih. Kak Ray sih, main sosor aja."cemberut Ella.
"Emang kamu mau, kakak meminum minuman itu?"ucap Ray sambil menunjuk botol Wine.
"Gak lah, kak Ray gak boleh minum itu."ujar Ella.
"Maka dari itu, kakak lebih memilih nyium kamu aja."Ray mengelap bibir Ella yang sedikit basah itu dengan ibu jarinya.
"Udah, woy. Mesra-mesraan mulu. Gak ngehargain banget gue yang jomblo ini."ucap Satria kesal.
"Itu, mah. Nasib lo. Makannya jangan jadi jones mulu, move on napa. Cari cewek yang lain."ujar Ray.
"Tidak semudah itu, Perguso."cebik Ray.
"Abang sama temennya aku aja, dia masih jomblo kok."sahut Ella.
"Temen yang mana, dek?"tanya Satria.
"Temen aku dikampus, dia baik kok orangnya. Cantik lagi."Jawab Ella.
"Males ah, abang gak mau sama bocah. Entar ribet kayak elu."ujar Satria.
"Dia bukan bocah ih, abang. Abangnya aja yang ketuaan."ledek Ella.
"Kalau gue tua, berati lakik lo juga. Kita kan seumuran."Satria melirik Ella.
"Emang kalian seumuran, ya?"tanya Ella.
"Iya, kita berempat emang seumuran."Ray yang menjawab.
"Kok abang keliatan, yang paling tua sih, disini."Ella menatap sang abang yang nampak marah.
"Elllaaa."dan benar saja, Satria terlihar murka.
"Mangap bang, aku juga herman. Kenapa wajah abang terlihat lebih tua, apa hidup abang ngenes banget ya selama ini? makannya abang tua sebelum waktunya."ledek Ella sambil melompat kepangkuan Ray.
Untung saja Ray sigap, jadi dia tidak terjengkang.
"Sini lo, kurang garem bener lu. Masa abang sendiri di katain tua."ucap Satria berapi-api.
"Emang kenyataannya tua."Ella menelusupkan wajahnya di dada bidang Ray, dia takut sang abang murka.
"Wah, beraninya ngumpet nie anak. Kalau bukan adek, gue jadiin karedok, lu."kesal Satria.
"Blee,"Ella menjulurkan lidahnya, lalu dia kembali bersembunyi.
"Sayang, gak boleh gitu. Diakan abang kamu."Ray membelai lembut pucuk kepala Ella.
"Emang dia abangnya aku, siapa bilang abangnya monyet."ucap Ella.
"Kalau dia abang kamu, gak boleh di ledekin lagi, ya."Ray mengecup kening Ella, lalu dia memeluk Ella yang sedang berada di pangkuannya itu.
"kenapa hati gue sakit, ya? saat melihat kemesraan mereka. perasaan apa ini? kenapa jadi kayak gini. Bahkan gue baru mengenalnya!"lirih batin seseorang.
Like๐๐and Comen juga ya๐
__ADS_1
Mampir juga ke Novel author yang baru launcing ya guys, I'm a wife not a maid. Mohon dukungannya untuk ikut event๐๐